2 JAM lalu mereka sudah tiba di mansion milik keluarganya devin itu, semua sudah beres koper sudah di angkat ke kamar, dan mereka sekamar devin dan alina
awalnya devin menentang pada alina karna tak ingin tidur bersama, tapi karna kayla dan suaminya arnould selalu memperhatikan mereka layaknya cctv berjalan nope mungkin spy jadi terpaksa lah devin sekamar dengan istrinya itu.
PLAK
devin membuang sebuah kertas putih itu pada alina yang sedang mengemas pakaian nya, "apa ini tuan?" devin hanya diam, dia mengambil handuk dan duduk di sofa tepi kasur itu
'surat perjanjian?' ucap perlahan alina kemudian meneruskan membaca, "baiklah" dia menarik nafas panjang lalu menghembusnya, mencapai pen dan menekan surat perjanjian itu. "aku tau memang begini akhirnya" batinnya lalu segera dia membereskan pakaiannya
setelah menyegarkan diri dengan ritual mandi juga memakai pakaian, alina keluar dari kamarnya niatnya mau mencari sang suami sudah tertulis dalam perjanjian itu 3.jangan ikut campur masalah" dari pihak lelaki
dia menutup pintu dan keluar menuju menuju lift untuk ke tingkat niatnya lebih baik di gantikan dengan memasak di dapur.
"ehh udah mandi aja, devin mana?? kok dia nggak turun sekali??" penasaran mami kayla,
yang mengenakan apron sambil memegang sudip di tangan kanan nya itu
"ahhh itu, dia lagi ketemu sama temannya malam nanti dia pulang" jelas alina walau yang sebenarnya bukan begitu, "ohh mau pamer udah punya istri baru kayaknya eheh, kamu mau ngapain??"
kaget mami kayla begitu alina mengambil satu lagi apron di balik kulkas itu, "mau bantu mami masak" ucapnya memperlihatkan senyuman manisnya itu
"nggak usah kamu itu pengantin baru udah istirahat aja biar mami yang masak" alina hanya tersenyum melihat mertuanya itu
dia melepaskan apron seperti apa yang di katakan mertua nya tadi lalu pergi untuk mencari udara segar di halaman rumah
dia berjalan keluar dari dapur itu belok ke kiri melewati gym lalu kolam renang, kemudian terlihat lah halaman depan yang luas itu rumput nya rata sempurna
di tambah sunset yang indah juga menarik perhatian alina dia berlari keluar ke halaman itu mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto sunset, "Ya tuhan... indahnya" serunya lalu berteriak kesenangan.
memang sunset di saat sore hari itu indah, terlebih lagi jika di pantai. Alina yang asyik mengambil foto itu justru kaget ketika melihat suaminya devin, di peluk oleh wanita yang ia tak kenal,
rasa bahagianya dia melihat sunset itu berubah menjadi sedih, dia mengalih kan dari memandang suaminya itu dengan wanita lain justru dia memandnag lama sunset nan indah itu, perlahan lahan air matanya mengalir jatuh ke pipi
tanpa ia sadar, penglihatannya mulai gelap, tubuh nya seperti melayang di udara BRAK dia jatuh ke rumput rata itu, keberadaan nya tak di liat oleh sesiapa, hampir 20 menit dia terbaring di halaman depan itu, seorang pelayan berlari ke arah majikan nya berkata kalau nona alina
pingsan di halaman depan, panik, panik sudah kayla dia mematikan kompor nya melepaskan apron lalu berlari menuju halaman depan
"alina!, astaga ya tuhan, lin??, alina nak? sadar nak.. pak tolong bawa masuk ke ruang tamu" suruhnya pada seorang pengawal di mansion itu, awalnya ia enggan karna alina sudah menikah namun melihatnya terbaring tak sedarkan diri
dia terpaksa melakukannya.
"gimana dok?? apa menantu saya baik baik saja?" tanya kayla dengan khawatir meski alina hanya menantu, tapi bagi kayla dia sudah seperti anak gadis nya sendiri
"kondisinya baik, dia terlalu lelah jadi butuh istirahat, makanya dia pingsan," jelas dokter itu.
Gelap..malam sudah tiba, alina membuka perlahan matanya hal pertama yang ia lihat adalah langit langit berwarna putih dia memandang ke kanan dan kekiri, tidak ada sesiapa
yang dia tau itu berada di kamar,
saat hendak bangun kepala nya berdenyut, seperti akan pecah, rasanya sakit sekali apalagi badannya yang sudah pegal semua
"arghh" jeritnya kesakitan saat mencoba duduk dengan seimbang, "ini udah jam berapa??" gumamnya sendiri mencapai ponselnya
"udah jam 11? Tuan devin belum pulang?...argh" dia memegang kepalanya mencoba untuk berdiri penglihatannya hitam sebentar,
lalu kembali jernih, DRTT... DRRTTT
"halo??, lin ini mami, kamu udah baikan?? udah nggak sakit kepala?? itu ada obat di meja samping kasurmu, ada air juga jangan lupa di minum yah" ujar mami kayla dari dalam panggilan telpon itu, alina sampai senyum senyum sendiri mendengarnya
"iya mi mami kok telpon alin? emang sekarang mami di mana??" tanya alina sembari duduk di dekat tepi kasur mengambil obatnya, "ini papi ha malah pakai acara mabuk segala!, ceritanya lagi di jemput ke acaranya teman papi ehh malah papi mabuk gajelas dianya" alina tertawa mendengarkan apa yang di katakan eh sang mertuanya itu
"yaudah mi kalau dia buat masalah mami hajar aja hahaha...udah dulu yah mi alin mau istirahat dulu da" panggilan berakhir, alina kembali menatap jam di ponselnya
sudah jam 11 hampir 12, setelah makan obat tadi kepala sudah berhenti sakit, dia berjalan ke arah pintu lalu keluar dari kamar itu.
tadinya dia mau pakai lif5 buat turun ke bawa,
tapi, katanya "tangga deh biar olahraga dikit" lalu dia menuruni anak tangga itu satu demi satu. "lho lampu nyala??" kagetnya melihat lampu ruang tamu menyala,
dia turun dan turun, dia shok tak bisa berkata kata, rasanya badan nya mau lepas tinggal jiwanya, "T-tuan devin??!" dia melihat devin dengan wanita tadi sore ia lihat itu sedang melakukan hubungan intim di ruang tamu
alina kembali ke ekspresi datar, dia sedar diri siapa dirinya, tanpa dia pikirkan dia langsung melangkah ke dapur, antara ruang tamu dan dapur lumayan jauh hanya saja ruang tamu dan tangga turun dekat jadi bisa kelihatan apa di lakukan orang di ruang tamu
sementara di ruang tamu ada selang yang tidak bisa melihat ke belakang, tangga.
"ini yang namanya keindahan pernikahan??"
iya sangking indahnya air mata anak gadis itu menitis perlahan ke pipi sakit di kepalanya mulai terasa lagi, dia memegang meja kompor itu
kepalanya
seperti akan pecah "ssshhh arghh" meringisnya kesakitan,"ngapain lu disitu?" diam alina tak menjawab pertanyaan dari suaminya itu, "gua tanya ngapain lu disitu?!" BRUKK.. alina kembali pingsan jatuh ke lantai
"?!!" devin yang melihat alina pingsan dia perhatikan dulu lama di lihat, tiada penggerakan dia segera mengangkat alina
tubuhnya yang kekar itu dan besar kuat mengangkat tubuh alina yang mungil itu
setiba nya di kamar alina di baringkan di kasur,
lalu devin turun kembali ke bawa, "kau pulang dulu" ucapnya pada wanita itu, "ck, yaudah dah sayang" wanita itu pergi setelah mengambil tasnya, lalu devin kembali naik ke atas
ingin memastikan keadaan istrinya itu, setibanya di atas pintu kamar di kunci
"buka" ucapnya, namun tak ada respon, namun beberapa detik kemudian, alina membuka pintu itu, wajahnya pucat
"kenapa di kunci?!" tanya sang suami, namun alina hanya diam, dia menunduk, "maaf," ucapnya lalu membuka jalan untuk suaminya masuk, "kau pingsan tadi" kata devin yang sudah duduk di kasur
"iya, maaf" uca alina lagi sembari berjalan ke arah kasur, lalu dia berbaring, menarik selimut yang ia ambil di lemari tadi, kemudian dia memakainya, "hari yang melelahkan" batinnya lalu memejamkan mata, dan tertidur
devin mengerut dahi melihat alina, seperti tidak terjadi apa apa, namun ia tak peduli dia pun tidur membelakangi alina, dan pagi nanti dia ada rapat penting, dia memejamkan mata lalu tertidur.
Pagi menjelma, alina terlebih dulu bangun, dia melakukan tugas nya sebagai seorang istri, menyiapkan pakaian sang suami, memasak
"udah bangun?, udah sembuh??" tanya kayla memegang lengan alina
"udah mi, mami mau kemana?" tanya alina dengan senyuman nya, "nggak kemana mana" jawab kayla, "ohh, yaudah alina naik ke atas dulu mau bangunin tuan devin" ucap alina, "tuan??, kok tuan? apa nama panggilan suami istri baru??," hairan kayla
sebenarnya alina hanya tak ingin di anggap sok akrab dengan devin, karna pria itu menyadarkannya bahwa alina harus sedar posisinya, "haahaha iya iya, yaudah mi naik dulu yah."