Setiba nya alina di mansion, begitu masuk bi jira menyuruh alina untuk segera berberes kan diri supaya bisa ikut makan malam bersama sama, alina segera naik ke lift menuju kamarnya, karna ruanh makan keluarga dengaj lift tidak lah dekat, juga tidak lah jauh.
setelah tiba di kamar alina masih ingin bersantai merebakan dirinya di kasur empuk itu, tapi dia tidak suka membuat orang menunggunya apalagi inikan makan malam keluarga jadi ya sudah pasti ada devin
alina langsung melakukan ritual mandinya, lalu berpakaian, dan skin care an, setelah itu dia turun ke bawa menggunakan lift, setelah sampai di bawa alina terus menuju ruang makan keluarga dia agak malu sebenarnya
tapi mau gimana ya sudah lah, "kirain bakalan ramai" batin melihat orang di meja makan itu hanya ada beberapa, "telat nggak aku mi?" tanya alina pada mertuanya yang duduk di hadapannya
"nggak kok tepat malahan, gimana acaranya lancar?? kamu udah ngasih hadiah mami??" ujar kayla dengan penasaran, "iya udah, senang dianya katanya ucapin makasih ke nek kayla yang cantik" ucap alina
sementara itu ada mata yang memandangnya dengan tatapan julid dan jijik ya, benar tak lain itu adalah fia, wanita yang kayla tak sukai
"duhh jadi merah pipi mami, yaudah yuk makan bi bawain makanannya" titah kayla lalu satu persatu pelayan membawa makanan, wangi makanan itu membuat alina jadi ngiler
dia teringat makanan di desa saat bersama keluarga angkatnya dulu, "sayang... aku kan nggak suka makanan ini" merengek fia yang duduk di sebelah devin itu, "makan tinggal makan, nggak suka ya sana pulang" celah kayla sambil senyum senyum ke arah alina
"ishh! sialan!!" batin fia, lalu perlahan dia mengaut nasi sendiri, dan mengambil beberapa lauk. lauk makan malam itu ada daun singkong di santan dengan kacang ijo, juga ada kangkung tumis pedas, ada ayam masak kecap, ada rendang dan ikan masin juga ada kueh kueh tradisional indonesia.
devin, memang biasa makan makanan begitu karna nenek nya dulu tinggal di desa yang indah tanpa polusi, mereka semua makan dengan lahap, kecuali fia, dia memandang jijik lauk lauk itu, padahal lauk lauk di hadapannya semua enak fresh segar, bikin ngiler ada sambal terasi lagi
"nggak makan?" tanya alina yang duduk di samping fia itu, alina sudah lebih dulu selesai makan, dia meminum air mengambil kueh, yang di bungkus daun itu, "siapa lo ngatur ngatue gue" ucap fia dengan kasar, lalu menjeling alina, dan mendorong piringnya
alina diam, dia bisa saja menjawab apa yang di katakan fia, namun dia sadar sekali lagi tentang posisinya, "Dia istrinya devin, kamu yang siapa?! berani banget ngomong begitu ke nyonya herson!" bentak kayla yang sudah emosi dengan fia
bagai mana tidak dari tadi makan wanita itu terus menerus merengek meminta ganti makanan, katanya tak highenis lah, tak enak lah, bukan seleranya lah, kayla sampai sampai ingin mengumban sendok garpunya ke muka fia
"Istrinya?!!, what?!, haa, seriusly? bentukan kayak gembel jadi nyonya herson?!" hina fia, tanpa dia sedari kini semua mata tertuju padanya kecuali alina yang masih datar menikmati kuehnya itu, dia sudah menyiapkan mentalnya untuk semua itu
"cantikan kak alina, ya nggak kak??" ucap darwina, yang duduk di samping kakak iparnya alina itu, alina hanya senyum, nyatanya kedua adik iparnya itu tidak suka dengan fia apalagi ibunya mereka
"huu!" dengus kesal fia lalu menyandarkan dirinya di belakang bangku, dia menatap semua orang di meja itu yang tertawa riang berbicara pada alina, sedang devin hanya diam menikmati kueh nya, fia makin kesal lagi dari tadi dia tidak makan hanya memakan sedikit itupun dua butir nasi masuk ke mulutnya.
setelah selesai makan mereka semua bersantai di ruang tamu, darwina dan danish mereka bermain hp di dekat sofa tv, devin dia ada di ruang kerja, ayah ibunya devin pula mereka menonton tv, fia dia di hujung sofa tidak ada sesiapa yang ingin mengobrol dengannya
alina dia berada di kamar istirahat. "hmph awas aja lu!" batin fia lalu berdiri dari duduk nya dan berjalan menuju lift, dia memencet tombol 2
begitu tiba di atas dia terus jalan menuju ruang kerja devin, melewati kamar, yang ada isinya alina tidur, dia senyum sinis menatap sekilas pintu kamar alina, lalu terus berjalan menuju ruang kerja devin.
____
"alina...ibu di sini nak..maafkan ibu dan ayah....jalani hidup mu sepuasnya jika sudah tiba waktunya.....kau pasti akan bertemu ibu dan ayah......" alina terbangun dalam kondisi berkeringat, dia memegang kepalanya, lalu menyipitkan matanya
dia barusan mendengar suara kedua orang tuanya.. lalu perlahan suara itu hilang dan dia terbangun, "Ibu...ayah..." ucapnya lalu mengambil obat penahan sakit di laci, dia memasukkan obat itu ke dalam mulut lalu meminum air, "hiks...ibu ayah..."
dia kembali berbaring sembari memanggil ibu dan ayahnya, air matanya jatuh, dia menatap langit langit kamar itu, mengingat semua memori tentang ibu dan ayahnya, dia kembali menangis
hingga lah 30 menit, dia tertidur.
____
"Sayang....." genit fia berjalan menuju meja devin dengan pakaian seksi transparan jaring jaring hitam itu yang sudah ia tukar dari kamar mandi tadi, "keluar" ucap devin dingin, sembari mengetik ngetik keyboardnya "ishh" kesalnya lalu keluar dari ruangan itu.
_____
"Pagi mi" Ucap alina sembari berjalan duduk di ruang tamu itu, malam tadi tiba tiba saja dia pingsan untungnya hanya beberapa menit lalu dia tersadar kembali, entah penyakit apa yang di hadapi nya saat ini
"pagi lin, udah sarapan?" tanya kayla meletakkan hpnya di meja bulat itu, "udah kok, papi mana? kok nggak kelihatan?" ujar alina lalu melihat sekeliling ruangan itu, "ke rumah nenek, alasannya sih gtu tpi yah pasti ngegolf bareng temannya" jawap kayla, alina hanya tertawa kecil dan menggeleng kepala
papi mertua nya itu memang suka berlasan.
kebesokkan harinya, seperti yang di katakan devin alina mengemas pakaian nya dan peralatan make up skin carenya tak banyak ada sedikit dia tinggalkan di mansion itu
kali kali dia pulang kesitu lagi, setelah mengemas pakaian untuk pulang ke rumah devin, Pagi itu dia sudah siap, wajahnya yang alami cantik sempurna itu dengan rambut yang di lerai menaikkan seri wajahnya di restukan sinaran matahari
disini lah dia di depan mansion menunggu mobil devin untuk datang, dia berdiri di samping kayla, dan kedua adik devin ada di samping alina, mereka menyukai alina dan sudah tentu selalu berpihak ke alina karna jika ada si ulet gatel itu di mansion
ada saja yang terjadi yang tak lain akan di tujukan pada alina. lama mereka menunggu sekitar 2 jam, darwina, yang mengeluh dan mengeluh dari tadi terus menerus menyepam call kakaknya, namun tak ada balasan.
"mana sih kak devin, udah 2 jam lho ini!" kesal darwina menghempaskan tangannya ke meja, "sabar wina nanti pasti datang itu" ujar alina menenangkan adik iparnya itu.
tak lama setelah itu terdengar lah bunyi hon mobil dari luar, mereka smua bernafas lega dan tersenyum lalu mengantar alina ke luar.
tiba tiba saja muka mereka yang tadi ada senyuman indah kini hilang di gantikan tatapan mematikan, dan kemarahan, "devin! apa apaan ini! kenapa bawa wanita lain ke mobil mu?!" marah kayla pada anak sulung nya itu
Namun devin hanya diam membisu, dia langsung tak perduli, alina hanya membuang nafas kecil dan memandang langit yang di kelilingin awan indah putih itu
"awal dari perjalanan kehidupan, apakah akan terus begini?" batinnya lalu mulai memandang ke depan kayla yang tak habis habis memarahi anaknya sedang fia hanya berpura pura takut lalu memegang lengan devin
"mi nggak papa alina jalan dulu yah nanti sampai alina call, masuk gih panas ini ntr kulit terbakar" koper alina di masukkan di ke garasi oleh supir, alina pamit dengan adik iparnya juga papi maminya
awalnya kayla ingin mencadangkan biar danish
dan darwina untuk mengantar namun alina berkata tidak usah, lalu tersenyum kayla faham maksud itu, dia menghela nafa berat begitu alina sudah masuk ke dalam mobil
sudah seperti alina jadi sekertaris kenapa harus dia duduk di depan bersama supir, sedang devin dan fia di bekalang layaknya nyonya muda dan tuan muda yang akan berbulan madu.
20 menit perjalanan kedua orang di belakang itu tak henti melakukan perbuatan intim, dan selama 20 menit perjalanan itu alina memakai earphone nya, lalu memasang lagu dengan volume keras, hatinya sakit mendengar suara kedua orang di belakang, supir juga, seperti itu memakai earphone
dia tau betul perasaan nyonya nya itu, meski sebagai lelaki, dia dapat melihat air mata alina yang keluar, walau sudah cepat si hapis alina
40 menit perjalanan masih juga belum tiba untuk 30 menit lalu yang di belakang itu sudah berhenti
Alina melepaskan earphonenya, lalu memandang keluar jendela mobil, dia melihat ke arah taman yang disunyi, dan terjaga juga terawat yang indah itu
tak lama kemudian, penglihatannya sedikit menghitam sepertinya dia akan pingsan lagi, dia segera mengambil obat di tasnya, tak akan yang perasaan apa yang dia lakukan kedua orang di belakang itu sibuk dengan dunia sendiri
alina tau supir itu melihatnya, dia memberi isyarat untuk diam diam saja yah dari jari pada supir itu, dan di balas anggukan.
1jam perjalanan mereka akhirnya tiba di sebuah villa, dan di pastikan itu milik devin, kalau bukan miliknya yah milik siapa dong orang area sekelilingnya aja sunyi, penuh hutan yang terjaga dan hanya ada satu villa d kawasan itu dan villa itu milik devin
alina tak heran, orang kaya memang begitu, jika ada uang apapun bisa di lakukan.