Pagi yang cerah menyambut seorang perempuan yang mengayuh sepedanya melewati jalanan yang masih sepi. Perempuan itu tersenyum menghirup udara pagi dan menghembuskannya perlahan.
“Hari berlalu dengan cepat.” Ucapnya sambil tersenyum menatap jalanan yang terbilang masih sepi. Meski sesekali ada kendaraan bermotor dan bahkan mobil yang melintas, tapi suasana terbilang masih cukup sepi. Di keranjang sepedanya ada botol minum dan juga tas yang berisi pakaian ganti. Ceisya hendak bersepeda dan langsung menuju ke pusat kebugaran tempat biasa dia latihan. Perempuan ini suka sekali bergerak dan membuat tubuhnya lelah supaya istirahatnya bisa optimal.
Ada beberapa jalan menanjak yang cukup sulit dia lewati, tapi perempuan ini tetap santai dan tersenyum meski terengah-engah. Hari libur yang mengesankan akan dilewatinya dengan santai. Sudah hampir pukul 07.00 dan dia segera mengayuh sepedanya ke sebuah tempat. Sampai di sana dia memarkirkan sepedanya dan kemudian masuk membawa tas yang dia letakkan di keranjang sepedanya.
“Pagi Mba?” Seseorang menyapanya ketika dia masuk ke pusat kebugaran itu. Ceisya menunduk dan tersenyum sedikit. Perempuan ini hanya lewat seperti itu karena dia enggan berinteraksi lebih banyak dengan orang lain. Ceisya bukanlah seorang pemurung, hanya saja dia juga bukan orang yang memperlihatkan dirinya begitu lugas kepada orang lain. Perjalanan hidup membuatnya berlaku demikian.
Ruangan itu terlihat sudah mulai ramai, Ceisya mengambil satu buah papan untuk olehraganya pagi ini. Step aerobic merupakan olahraga yang Ceisya lakukan di sela-sela kegiatannya yang lain. Perempuan itu menunggu instruktur sambil memeriksa ponsel pintarnya. Ada beberapa pesan dari rekan kerjanya yang bertanya. Ceisya hanya tersenyum dan bersyukur kehidupannya terasa kembali normal setelah beberapa lama.
“Ceisya rajin banget?” Seseorang menyapa dengan senyuman di wajahnya. Ceisya tersenyum juga tanpa menjawab apa yang wanita itu katakan. Setelahnya Ceisya menghabiskan satu jam untuk latihannya dan 30 menit untuk kembali ke rumah. Kedua orang tuanya sedang sibuk mengurus tanaman ketika perempuan itu tiba di rumah.
“Sudah pulang?” Ibunya bertanya ketika melihat Ceisya menampakkan wajahnya di pintu belakang rumah. Ceisya tinggal dengan kedua orang tuanya saat ini. Perempuan itu tersenyum lagi.
“Iya, sudah sarapan?” Ceisya terlihat sedikit lelah, tapi dia tersenyum karena telah menghabiskan paginya dengan sesuatu yang dia sukai.
“Sudah, kamu mau sarapan? Ibu cuma masak nasi goreng.” Ibu Ceisya menjawab sambil sibuk mengurus tanamannya. Memberikan pupuk alami dari sampah rumah tangga dan juga menyiramnya sedikit. Ceisya sesekali juga membantu kedua orang tua mereka dengan memindahkan tanaman ke tempat yang lebih besar jika tempat yang sekarang dirasa kurang cukup besar.
Perempuan itu kemudian menuju ke kamarnya, ruangan berwarna hijau toska yang sangat dia sukai. Kamar adalah dunianya. Dia sedang berusaha membangun dunianya yang lain di luar sana satu tahun terakhir ini. Perempuan itu bergegas mandi setelah keringatnya kering dan bersiap untuk pergi ke tempat lain.
“Kamu mau melihat rumah?” Laki-laki yang rambutnya sudah hampir berwarna abu semua itu tersenyum bertanya kepada putrinya.
“Iya, sekalian mau bertanya beberapa hal juga. Soal pembayaran dan angsuran. Aku masih belum sepakat karena kurang sedikit yang harus dibicarakan.” Ceisya terlihat tahu tentang apa yang akan dia lakukan. Laki-laki itu hanya tersenyum menatap anak perempuannya. Ceisya memang pintar, tapi perempuan yang pintar justru seringkali memiliki permasalahan dalam mendapatkan pasangan. Perkara jodoh kalau orang dulu bilang.
“Bapak ikut?” Laki-laki itu menawarkan bantuan untuk putrinya itu.
“Gak usah pak, Ceisya juga sebentar saja si. Lagi pula Bapak sudah bertemu dengan pemilik rumah ini kan?” Ceisya terdengar cukup positif menjawab. Perempuan itu tahu kekhawatiran orang tuanya tentang anak perempuan. Ceisya yang belum menikah dan akan membeli sebuah rumah bukanlah perkara yang tidak akan jadi pembicaraan nantinya. Tetangga tetap saja selalu boleh mengatakan apa saja sementara Ceisya terbiasa diam tidak bersuara untuk menjaga dirinya sendiri.
Perempuan itu mengendarai motornya menuju ke sebuah tempat yang cukup dia kenal, bukan kawasan pedesaan. Tapi sebuah rumah kecil di tengah kota. Ceisya menyukai rumah itu ketika pertama kali dia berkunjung ke sana. Suasana di sekitarnya sedikit lengang karena itu memang kawasan pemukiman meski bukan perumahan. Daerah itu dekat dengan beberapa tempat penting termasuk kantornya.
“Kak Ceisya?” Seorang gadis kecil menyapa perempuan itu ketika dia membuka helmnya. Ceisya turun dan memeluk gadis kecil itu.
“Sudah datang rupanya?” Seorang laki-laki keluar dari rumah itu dan tersenyum, setelahnya ada wanita yang juga keluar dari sana menyambut Ceisya.
“Kami sedang membersihkan rumah ini, kamu mau pindah kapan?” Wanita itu terdengar bertanya dengan ramah.
“Belum tahu Mba, kita sepakati dulu bagaimana pembayarannya. Aku tidak bisa membayar langsung, bagaimana jika uang muka dan kemudian angsuran perbulan?” Ceisya langsung bertanya ketika dia sudah duduk di ruang tamu rumah itu.
“Boleh, kami sudah buat perjanjian tertulis.” Perempuan itu tersenyum dan kemudian memberikan sebuah amplop kepada Ceisya. Perempuan itu membaca dengan seksama apa yang tertulis dalam kertas-kertas yang berada di amplop tersebut.
“Baiklah, aku setuju dengan semuanya ini.” Ceisya terlihat tersenyum dan kemudian mengeluarkan pena dari tas kecilnya. Pasangan yang duduk di hadapannya itu terlihat tersenyum dan menangguk.
“Permisi Bu.” Seseorang sudah berada di pintu ketika Ceisya selesai menandatangani perjanjian jual beli rumah itu. Perempuan di hadapan Ceisya berdiri karena orang yang berada di depan pintu rumah nya itu.
“Ada orang yang mau kontrak rumah yang diujung jalan sana.” Laki-laki yang terlihat seperti tetangga dari yang punya rumah itu menyampaikan sesuatu yang membuat wanita di depan pintu melihat ke arah Ceisya.
“Tapi rumahnya baru saja dibeli. Jadi sepertinya sudah tidak bisa di kontrak lagi.” Wanita pemilik rumah itu menjawab dengan sopan dan tersenyum.
“Sayang sekali.” Laki-laki itu kemudian mengangguk sedikit dan pamit.
“Atau rumah di sebelahnya sepertinya kosong juga.” Laki-laki yang duduk di hadapan Ceisya akhirnya berdiri karena ingat sesuatu.
“Iya pak sudah. Tapi sepertinya terlalu besar. Karena dia juga hanya kontrak sendiri untuk satu bulan ini saja. Jadi kepikiran rumah Bu Desi yang bisa kontrak bulanan.” Laki-laki itu tersenyum lagi. Ceisya akhirnya ikut berdiri dan keluar dari rumah itu seperti pemilik rumah.
“Ini Pak yang akan kontrak.” Laki-laki itu menunjuk seorang dengan jaket yang cukup trendi dengan celana jeans biru dongker dan menggenakan kacamata.
“Iya Pak, untuk satu bulan saja.” Laki-laki itu ikut bertanya kepada si pemilik rumah yang sudah menjual kepada Ceisya. Ceisya maju perlahan dan tersenyum. Perempuan itu mengenali orang asing yang hendak meminta ijin kontrak itu.
“Daniel?” Ceisya tersenyum di hadapan laki-laki itu, dia memanggil pelan karena takut salah mengenali laki-laki yang kini ada di hadapannya itu.
“Ceisya? Kamu?” Laki-laki itu tidak kalah terkejut meski perlahan senyuman merekah di wajahnya. Daniel tidak menyangka dia akan bertemu dengan seseorang yang dia kenali di kota yang sebenarnya tidak ingin dia datangi itu.