“Jadi kamu membeli rumah ini?” Daniel tersenyum ketika mereka berdua sudah duduk di ruang tamu rumah yang dibeli oleh Ceisya. Perempuan itu masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Dia masih tersenyum karena terkejut, senyum yang jarang sekali dia tampilkan beberapa tahun ini.
“Aku masih mencicilnya, hanya membayar uang muka.” Ceisya tersenyum lagi.
“Tapi dia akan segera pindah, jadi kami akan mencarikan rumah jika masnya ingin kontrak rumah, atau lebih baik kos satu kamar? Kalau kos kami bisa menunjukkannya sekarang.” Wanita pemilik rumah masuk dari belakang membawakan teh hangat dan beberapa cemilan sederhana.
“Sebenarnya kos juga tidak masalah si, hanya saja khawatir jika tidak ada karena itu lebih baik rumah.” Daniel tersenyum kepada wanita pemilik rumah itu.
“Atau kamu bisa tinggal dulu satu bulan disini.” Ceisya menawarkan sesuatu yang membuat wanita pemilik rumah itu tersenyum.
“Sebenarnya kontrak atau kos mungkin sama saja, hanya kalau kontrak aku bisa membicarakan pekerjaan dengan beberapa orang di rumah.” Daniel menjelaskan apa yang hendak dia lakukan di kota ini.
“Kamu datang untuk pekerjaan? Aku kira untuk berlibur.” Ceisya berkomentar ketika Daniel selesai menjelaskan.
“Bukan, untuk pekerjaan. Mereka ingin mendirikan pabrik di kota ini untuk memudahkan wilayah distribusi.” Daniel menjelaskan kepada Ceisya.
“Kalau begitu kamu tidak mungkin hanya satu bulan di sini.” Ceisya terlihat membuat Daniel sedikit khawatir. Laki-laki itu sebenarnya memang tidak menginginkan tugas yang dianggapnya cukup berat itu.
“Begitukah? Aku hanya membicarakan dan kemudian survei tempat dimana akan dibangung atau survei bangunan siap jadi yang akan dibeli.” Daniel menjelaskan kepada Ceisya dengan wajahnya yang serius. Ceisya masih tersenyum mendengar apa yang Daniel katakan.
“Aku tidak menduga kamu sudah naik seperti ini.” Ceisya terlihat sedikit mengejek Daniel, membuat laki-laki itu tersenyum sedikit merasa bangga kepada dirinya.
“Masalahnya gak ada yang mau dengan posisi ini, harus dinas luar sebulan. Mereka lebih baik duduk manis di kantor.” Daniel terlihat tersenyum dan mengamati Ceisya lagi.
“Kalau begitu saya tinggal dulu ya? Sepertinya kalian ingin bertukar kabar lebih banyak.” Wanita pemilik rumah meminta diri.
Hening sebentar mengantar mengantar kepergian si pemilik beberapa rumah di sekitar tempat itu.
“Jadi kamu beli rumah? Mau nikah?” Daniel bertanya dengan wajah yang serius. Ceisya terbiasa dengan guyonan Daniel yang berubah-ubah seperti itu. Dia selalu saja bisa mengimbangi laki-laki itu dalam hal candaan.
“Mau lah.” Ceisya tersenyum menatap laki-laki yang langsung berubah lagi raut wajahnya.
“Maksudku kamu udah nikah atau baru mau nikah?” Daniel bertanya lagi dengan wajah yang sedikit kesal meski Ceisya yakin laki-laki itu tidak kesal dengan jawabannya.
“Kamu udah nikah?” Ceisya bertanya kepada laki-laki itu sambil tersenyum. Daniel menatapnya sebentar dan kemudian tersenyum.
“Gak berubah ya? Ditanya terus malah balik nanya?” Daniel terdengar menaikkan nada bicaranya sedangkan Ceisya justru terlihat santai dan tersenyum.
“Aku belum, tau sendiri kan aku gak ada yang mau.” Daniel dengan wajah seriusnya menjawab seolah apa yang dia katakan memang benar.
“Paling juga kamu pilih-pilih, bukannya dulu ada bu dokter itu? Dipacarin doank?” Ceisya terdengar sangat santai mengejek Daniel. Perempuan ini sudah lama sekali tidak bersikap seperti ini kepada orang lain. Daniel tersenyum mendengar apa yang Ceisya katakan.
“Aku lega, di sini ketemu kamu. Setidaknya ada yang aku kenal.” Daniel tersenyum lagi mengalihkan pembicaraan tentang pasangan tadi.
“Jadi kamu mau tinggal di sini atau mau cari kosan? Jika kamu mau tinggal di sini satu bulan dulu gak masalah, aku juga tidak buru-buru pindah.” Ceisya tersenyum mencoba mengembalikan pembicaraan mereka ke awal.
“Boleh lah, lagi pula aku lelah dari tadi kan setelah dari stasiun aku ketemu orang dan diantarkan ke sini. Bingung juga kalau harus cari tempat lagi.” Daniel melepas kacamatanya dan kemudian membersihkannya sebentar dengan tissu.
“Ya sudah, kamu butuh bantuanku apalagi? Kalau tidak aku akan pulang dulu.” Ceisya dengan santai berdiri, dan Daniel pun ikut berdiri.
“Kamu sudah mau pergi? Bisa tidak di sini dulu?” Kali ini laki-laki itu bersikap sedikit manja kepada Ceisya. Perempuan itu tersenyum karena Daniel terlihat seperti dulu.
“Kamu juga gak berubah, masih saja seperti itu.” Ceisya terlihat tersenyum meski mengejek Daniel.
“Aku tidur sebentar, terus kamu temenin aku cari makanan? Sepertinya peralatan di sini lumayan lengkap, aku bisa masak nasi atau mie.” Daniel membuat Ceisya tersenyum lagi kali ini.
“Aku tidak tahu kalau kamu seperti itu.” Ceisya tersenyum lagi dan kemudian duduk.
“Apa?” Daniel tersenyum dan dia duduk kembali. Dia merebahkan diri di kursi dengan pinggiran kayu meski alas duduknya empuk.
“Tidurlah di kamar, dan juga kamu bisa menyimpan barang-barangmu kan?” Ceisya melihat dua koper yang ada di dekat pintu belum masuk ke ruangan.
“Cape, tidur di sini saja.” Daniel menjawab asal dan memejamkan matanya. Ceisya kemudian berdiri dan memasukkan koper ke kamar yang hendak di tempati Daniel. Kamar itu tentu saja terlihat baru, pemiliknya baru saja mengisi rumah itu meski tidak dengan perabotan baru. Tapi tempat tidur dan kasur yang ada di sana baru. Ceisya duduk di tepian tempat tidur itu. Dia memandang ruangan yang hendak menjadi kamarnya.
Perempuan itu tersenyum dan berkaca-kaca. Dia sebenarnya hampir menangis karena perkara membeli rumah. Tentu dia tidak ingin meninggalkan kedua orang tuanya, bahkan dia belum menikah. Tapi, sekali lagi ada banyak pikiran yang berkecamuk di dalam hatinya. Perasaannya tidak lagi seperti ketika dia muda dahulu. Kini semua hal terasa sensitif baginya. Perempuan itu meletakkan koper di sudut ruangan di sebelah tempat tidur. Tidak ada apapun selain tempat tidur baru di ruangan itu. Ceisya kemudian berdiri dan keluar dari kamar setelah menutup pintunya. Dia melihat Daniel sepertinya terlelap meski berada di kursi itu. Dia kemudian berjalan menuju ke belakang, ada dapur sederhana dan pintu belakang. Dia membuka pelan pintu tersebut dan melihat hal yang paling dia sukai dari rumah itu. Ada halaman belakang sedikit tempat dia bisa menjemur pakaian atau menyimpan motornya.
“Jadi gimana Sya?” Pemilik rumah itu bertanya kepada Ceisya dengan bahasa yang akrab.
“Saya menunda kepindahan, mungkin untuk sebulan karena teman saya itu akan tinggal di sini untuk sementara waktu.” Ceisya tersenyum dan menjelaskan.
“Begitu?” Wanita pemilik rumah itu juga tersenyum.
“Dia tinggal sendiri?” Wanita itu kembali bertanya kepada Ceisya.
“Iya Mba, sebulan ini dia sepertinya ada pekerjaan dari kantornya. Saya juga tidak menyangka akan bertemu dia seperti ini. Dulu kami pernah kerja sama-sama.” Ceisya bercerita sedikit.
“Pantas saja tadi terlihat akrab sekali.” Wanita pemilik rumah itu berkomentar sambil tersenyum.
“Tapi dia juga banyak berubah, posisinya sekarang pasti sudah tinggi. Dia bisa bersikap profesional juga dan memiliki tanggungjawab yang sepertinya tidak lagi ringan.” Ceisya tanpa sadar bercerita. Wanita pemilik rumah itu hanya tersenyum sedikit.
“Saya akan tinggal sebentar karena dia ingin saya menemani dia untuk berbelanja kebutuhannya nanti. Apa boleh kami tinggal di sini bersama, maksud saya kami tidak melakukan apapun. Saya ijin supaya Mba tidak curiga.” Ceisya mengatakan semuanya secara jujur.
“Iya aku juga paham Sya, aku tahu kamu seperti apa. Lagi pula kalian juga sudah dewasa. Sudah tahu harus bagaimana.” Wanita itu kemudian mengangguk dan tersenyum sedikit. Setelahnya dia berbalik dan pergi.
Ceisya masuk ke dalam rumah, meski sedari tadi dia berbicara dengan Daniel dan mengatakan jika dia tidak berubah. Ceisya tentu merasakan perubahan, dia juga kini sudah tidak sama seperti perempuan yang dulu bertemu dengan Daniel untuk pertama kali. Ceisya sudah tidak terlalu berani seperti ketika mereka banyak menghabiskan waktu bersama dulu. Keadaan kini sudah berbeda.