Perempuan itu mengerjapkan matanya dan kemudian duduk karena terkejut berada di sebuah ruangan yang sedikit asing, sampai beberapa detik kemudian dia mneyadari itu adalah kamar di rumahnya sendiri. Dia buru-buru membuka pintu dan keluar dari kamar. Perempuan itu tidak mendapati seseorang yang tadi tidur di kursi ruangan di rumah itu.
“Sudah bangun? Pules banget tidurnya?” Laki-laki itu terlihat sedikit mengejek Ceisya dengan membawa beberapa bungkusan makanan dari luar rumah itu. Ceisya tidak menjawab dan hanya duduk masih berusaha membuat dirinya benar-benar sadar dan merapihkan rambutnya yang terasa sedikit berantakan.
“Kamu kok tidur pules banget si? Kelihatan cape gitu.” Daniel bertanya sambil membuka plastik putih pembungkus makanan yang dia beli. Ceisya justru berdiri dan kemudian mengambil dua mangkuk yang ada di dekat tempat cucian piring dan mencucinya sebentar, kemudian mengeringkannya dengan tissu.
Dia kembali lagi berjalan membawa mangkuk dan membantu Daniel menuangkan mie ayam ke mangkuk. Ceisya menyadari jika tidak ada sendok di sana. Perempuan itu kembali menuju ke tempat dimana peralatan makan tersedia dan mencucinya sebentar, lalu mengeringkannya lagi dengan tissu.
“Minum dulu?”Daniel langsung memberikan botol berisi air mineral ukuran 600ml supaya perempuan itu tidak lagi beranjak dari tempat duduknya untuk mengambilkan air minum.
“Kamu tu.” Daniel hendak berkomentar.
“Makan dulu, bicaranya kalau makan sudah selesai.” Ceisya langsung memberikan nasehat dan tentu saja Daniel hanya terdiam mendengar perempuan itu memberikan saran. Mereka berdua terdiam ketika makan dan sama sekali tidak berbincang tentang apapun.
Daniel tersenyum dan membuka botol air mineralnya kemudian minum perlahan.
“Lumayan kan?” Daniel bertanya kepada Ceisya, perempuan ini mengangguk perlahan belum menghabiskan makanannya.
“Aku beli deket sini, aku lihat kamu masih tidur.” Daniel kembali mengatakan hal yang sama. Laki-laki itu kemudian menuju ke kamar sepertinya untuk mengambil sesuatu. Ceisya tidak mampu lagi menghabiskan mie nya dan kemudian membawa mangkuk miliknya dan juga milik Daniel ke tempat cuci piring.
“Cuci piring lagi?” Daniel terlihat sudah berganti kaos dan ke luar dari kamar. Laki-laki itu mendekati Ceisya yang baru saja selesai mencuci piring. Daniel memberikan tissu untuk tangan Ceisya yang basah. Perempuan itu tersenyum menatap laki-laki yang dia kenal sejak lama.
“Kita pergi sekarang?” Daniel tersenyum lagi dan berjalan menuju ke kursi di ruang depan. Ceisya mengambil tasnya dan menggunakan ponsel pintarnya untuk memeriksa penampilannya.
“Sekarang? Aku pinjam helm dulu ya.” Ceisya berdiri setelah membetulkan penampilannya.
“Aku tunggu di depan?” Daniel terlihat santai keluar dari rumah itu dan Ceisya langsung berbelok ke rumah seseorang yang dia kenal di area itu untuk meminjam helm, dia juga baru menyadari jika motornya masih berada di rumah Mba Ezra, wanita yang menjual rumah di ujung itu kepadanya.
“Mau ambil motor?” Mba Ezra segera keluar dari rumah bahkan sebelum Ceisya mengetuk pintu rumah itu.
“Boleh sekalian pinjem helm Mba?” Ceisya tersenyum mencoba meminjam helm kepada wanita itu.
“Boleh.” Wanita itu masuk ke dalam rumah dan mengambilkan helm. Tidak lama kemudian dia keluar dari rumahnya itu. Ceisya berterimakasih dan kemudian berbalik hendak mengendarai motornya. Daniel tersenyum menatapnya dari sebuah kendaraan yang terlihat cukup nyaman. Laki-laki itu tersenyum dan kemudian keluar dari mobil.
“Gak perlu pakai helm kan?” Daniel mendekati Ceisya dan berbisik.
“Maaf ya Mba, helmnya tidak jadi pinjam. Motorku dipindahkan atau di sini saja?” Ceisya kembali bertanya kepada wanita itu.
“Di sini saja gak apa-apa Sya.” Wanita tersenyum lagi. Ceisya kemudian berbalik dan mengikuti Daniel masuk ke dalam mobil.
“Mobil siapa?” Ceisya bertanya karena dia sedikit terkejut. Daniel tersenyum dan melihat Ceisya sebentar.
“Aku pakai map atau kamu mau jadi navigator?” Daniel terlihat cukup senang karena Ceisya terlihat terkejut dengan apa yang dia lakukan. Ceisya masih tidak menjawab menunggu Daniel bercerita. Laki-laki itu mengambil ponsel pintarnya dan kemudian menggunakan aplikasi untuk menentukan tujuannya. Hening karena Ceisya juga terdiam.
“Kantor memberikan fasilitas, sebenarnya aku juga memang butuh karena harus ke beberapa tempat nantinya. Mungkin sedikit lebih jauh dari sini, jadi aku tidak mungkin mengendarai motor karena musim hujan.” Daniel menjelaskan karena melihat Ceisya diam saja ketika dia tidak menjawab pertanyaan perempuan itu.
“Kamu apa punya banyak waktu beberapa hari ke depan?” Daniel bertanya sambil sedikit menoleh ketika mereka hendak memasuki satu-satunya mall di kota itu.
“Aku kerja, ini kan weekend jadi aku libur.” Ceisya menjawab dengan santai meski tidak tersenyum.
“Kerja dimana?” Daniel bertanya lagi ketika dia mendapati parkiran basement penuh.
“Weekend begini pasti penuh banget.” Ceisya berkomentar alih-alih menjawab pertanyaan dari Daniel.
“Kerja dimana pulang jam berapa?” Daniel menambahkan pertanyaan dari pertanyaan yang belum terjawab tadi.
“Ada deh, kamu memangnya tugas kemana?” Ceisya balik bertanya meski tidak menjawab pertanyaan Daniel. Laki-laki itu memperhatikan mobil di depannya dan beruntung karena mendapatkan tempat parkir untuk mobil.
“Sepertinya di daerah pinggiran, Bapak tu masih bingung mau bangun pabrik baru atau beli yang sudah ada bangunannya sekalian. Menurutku lebih baik bangun baru kalau gak sewa. Kan semua bangunan bisa dibuat sesuai design kalau baru.” Daniel memberikan pendapatnya sambil bercerita.
“Bapak katanya mau pensiun?” Ceisya bertanya tentang manager mereka yang dipanggil dengan sebutan Bapak oleh karyawan di divisi itu.
Daniel mematikan mesin mobil dan kemudian keluar dari mobil itu. Ceisya mengikuti laki-laki itu dan bertemu di depan mobil yang terparkir di belakang mereka. Daniel memegang tangan Ceisya ketika mereka berjalan bersisian masuk ke mall melalui pintu masuk basement.
“Bapak, pensiun. Tapi dia masih aktif sebagai penasihat gitu. Aku beberapa kali diskusi dulu sama Bapak sebelum lapor ke atas lagi. Soalnya bingung kan, manager yang baru kurang bisa diajak diskusi. Udah pengin aku gantiin aja.” Daniel terlihat kesal tapi dia juga terlihat menyombongkan dirinya sedikit. Ceisya hanya tersenyum dan kemudian menoleh sebentar ke arah Daniel.
Mereka berdua berjalan masuk menuju swalayan di mall itu. Ceisya akhirnya punya alasan untuk melepaskan genggaman tangan Daniel, perempuan itu sebenarnya sedikit tidak nyaman dengan sikap Daniel yang masih saja seperti itu. Ceisya ingat pernah dengan berani menggoda Daniel sebagai sebuah candaan di kantornya. Daniel juga memang bersikap sangat manis kepadanya seperti saat ini. Mereka selalu menjadi pasangan di setiap kesempatan. Karena Ceisya tidak punya beban ketika bersama dengan Daniel. Meski semua orang melihat mereka sebagai pasangan yang mesra dan menyukai satu sama lain, mereka berdua sama sekali tidak merasakan apapun selain sebuah pertemanan. Daniel sering sekali bercerita tentang perempuan-perempuan yang dia dekati di luar kantor, tentu saja Ceisya tidak salah jika menganggap Daniel tidak pernah tertarik kepadanya.