Setelah berbelanja Daniel mengajak Ceisya untuk makan di depan mall dengan pemandangan alun-alun kota itu. Ceisya tidak bisa menolak meski dia sebenarnya merasa sedikit tidak nyaman. Daniel tidak mengetahui hal itu karena dulu Ceisya selalu bersemangat jika Daniel mengajaknya keluar untuk makan sesekali. Tidak banyak orang yang duduk di sana karena hari belum terlalu gelap.
“Kamu sering ke sini?” Daniel menatap perempuan yang duduk di sampingnya itu. Ceisya menggeleng sambil tersenyum.
“Kalau begitu nanti kamu harus sering ke sini, dengan aku.” Daniel tersenyum menatap perempuan disampingnya itu. Ceisya hanya mengangguk beberapa kali sambil tersenyum.
“Mba Ceisya tumben ke sini pas hari libur? Iya kan hari ini Mba Ceisya libur?” Seorang laki-laki yang mengantarkan makanan menyapa Ceisya sambil tersenyum. Ceisya hanya tersenyum balik tanpa berbicara apapun kepada laki-laki itu.
“Katanya gak pernah ke sini.” Daniel terlihat memasang wajah sedikit kesal.
“Kantorku di belakang situ.” Ceisya menunjuk arah depan di seberang alun-alun. Daniel mengangguk beberapa kali pertanda dia menerima alasan yang diberikan oleh perempuan di sampingnya itu.
“Ingat tidak ketika kita makan bareng sama yang lain dan kamu sama si siapa itu, beli makanan separuh-separuh?” Daniel membuat Ceisya tersenyum karena apa yang dia katakan.
“Permisi Mba Ceisya, ada menu baru bisa di coba, kami berikan gratis.” Laki-laki yang tadi mengantarkan makanan itu kembali datang ke meja Ceisya dan Daniel.
“Terimakasih.” Ceisya berucap lembut dan pelan. Daniel tersenyum melirik perempuan yang berucap lembut itu. Laki-laki yang mengantarkan makanan itu kemudian berbalik meninggalkan meja mereka.
“Sepertinya dia menyukai kamu.” Daniel berasumsi membuat Ceisya tersenyum lagi.
“Dulu kami makan separuh-separuh karena Rey sedang berhemat. Dia kan tulang punggung keluarga, jadi jangan terlalu menganggap dia seperti seseorang yang jauh dari kita. Bagaimanapun juga waktu itu hidupnya sulit.” Ceisya menjelaskan peristiwa yang sudah lama berlalu itu.
“Karena itulah dia nyaman berada di sekitar kamu bukan? Dia bahkan sering membantu kamu, sering ke kos?” Daniel kali ini bersikap seolah dia cemburu dengan kondisi yang sudah berlalu lima tahun, Ceisya kembali tersenyum mendengar apa yang Daniel keluhkan.
Perempuan itu menyuapkan potongan kecil roti bakarnya perlahan sambil menatap Daniel di sebelahnya. Daniel menggulung spageti carbonara dengan garpu dan kemudian menyuapkannya kepada Ceisya. Perempuan itu sama sekali tidak keberatan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Daniel di depan semua orang saat ini.
“Aku merasa kamu sedikit berubah.” Daniel tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat Ceisya tersenyum lagi sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
“Sepertinya sekarang kamu menyukai aku.” Daniel tersenyum sombong menoleh melihat Ceisya. Perempuan itu memukul pelan lengan Daniel.
“Tentu, aku senang kamu datang ke sini meski kita tidak sengaja bertemu.” Ceisya membalas godaan Daniel seperti biasa, tentu saja laki-laki itu tersenyum lagi.
“Serius, aku memang merasa kamu berubah. Jauh lebih merawat diri?” Daniel memuji Ceisya secara fisik. Perempuan itu menatap Daniel tanpa ragu dan masih tersenyum.
“Begitukah? Mungkin karena aku di kotaku sendiri.” Ceisya tersenyum lagi. Setelah makan selesai mereka kemudian menikmati keramaian sejenak.
“Kenapa kamu datang tugas malam minggu seperti ini?” Ceisya bertanya mencoba menggoda laki-laki yang sedang bersamanya itu.
“Karena aku harus survei minggu, ada tempat yang harus didatangi besok.” Daniel terlihat cukup serius dengan apa yang dia katakan.
“Survei tempat untuk pabrik? Perusahaan semakin berkembang, dan pada akhirnya kamu benar-benar menjadi bagian dari perkembangan perusahaan?” Ceisya kembali membuat Daniel tersenyum dan menoleh melihat perempuan yang terlihat memiliki pembawaan yang berbeda. Daniel melihat sesuatu yang masih dia ragukan.
“Kamu lebih menata sikapmu? Tidak sembrono seperti dulu.” Daniel membuat Ceisya terdiam meski dia kemudian sibuk sedikit dengan minumannya.
“Benar kan? Aku merasa kamu berubah seperti itu.” Daniel kembali mencoba mendapatkan pengakuan dari Ceisya.
“Memangnya dulu aku seperti apa?” Ceisya kali ini menyodorkan potongan makanan miliknya ke arah Daniel sambil bertanya. Laki-laki itu sedikit terkejut tapi kemudian tersenyum lagi, meski mereka berdua berusaha bersikap wajar. Nyatanya mereka canggung satu sama lainnya.
“Begitulah. Setelah ini kita langsung pulang?” Daniel kembali bertanya membuat Ceisya menatap laki-laki itu sambil tersenyum.
“Bukankah kamu lelah? Dan juga besok kamu harus bertemu dengan orang untuk melihat pabrik?” Ceisya kembali mengingatkan Daniel dengan senyum di wajahnya.
“Kamu benar, aku juga harus ingat tentang hal seperti itu.” Daniel memasukan gulungan terakhir makanan miliknya ke dalam mulut.
“Bisakah kamu ikut?” Daniel sepertinya tidak ingin pergi sendirian.
“Sepertinya tidak.” Ceisya menjawab cepat tanpa berfikir. Perempuan itu terlihat tenang dan tidak melihat ke arah Daniel.
“Mungkin memang sebaiknya begitu.” Daniel setuju dengan jawaban cepat Ceisya untuknya.
“Karena kamu akan bekerja besok, jadi lebih baik jika kamu pergi sendirian.” Ceisya mengingatkan Daniel lagi.
“Sebenarnya aku juga tidak akan pergi sendirian besok, ada beberapa orang yang datang besok pagi. Masalahnya meninjau lokasi dan hal lain tidak bisa aku lakukan sendiri.” Daniel kembali menjelaskan tentang pekerjaannya besok.
“Nah, itu kamu tahu jika memang besok ada pekerjaan yang sangat penting.” Ceisya dengan santai kembali setuju dengan apa yang dikatakan Daniel.
“Tapi aku hanya bekerja sebentar, sampai tengah hari. Mungkin kita bisa nonton setelahnya?” Ceisya menoleh dan bahkan hampir tertawa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Ya kan aku juga butuh hiburan. Lagi pula seminggu nanti kita tidak akan bertemu lagi. Bisa jadi nanti-nanti kita berdua akan sibuk bukan?” Daniel terlihat tersenyum karena apa yang dia katakan sendiri. Selain itu tatapan perempuan cantik yang duduk di sebelahnya itu juga membuat dia terpesona dan menunjukkan senyumnya.
“Kalau begitu kita bisa bertemu satu minggu lagi. Setidaknya kita tidak terlalu sering bertemu.” Ceisya membuat Daniel berhenti tersenyum karena apa yang dia dengar.
“Kamu takut jatuh cinta karena kita sering bertemu?” Daniel menggoda Ceisya tanpa menatap perempuan itu.
“Hem, akan sangat salah jika aku seperti itu.” Ceisya tersenyum melihat ke arah laki-laki yang sedang sibuk menghabiskan minumannya. Daniel kemudian terlihat mengambil ponsel pintar di tas kecilnya karena berdering cukup keras. Laki-laki itu tersenyum dan kemudian mengusap layar ponsel pintarnya itu. Ceisya berusaha mengabaikan sikap Daniel dan memeriksa ponsel pintarnya juga. Mereka tidak dalam sebuah hubungan, jadi sebaiknya mereka memang tidak membicarakan perihal kedekatan yang memang tidak mungkin terjadi. Daniel sejak dulu seperti punya dinding dan dunia lain yang berbeda dengan Ceisya.