Hari paling berat bagi seorang pegawai adalah hari senin. Tapi bagi Ceisya hari senin membuatnya bersemangat. Baginya awal minggu adalah sebuah awal yang harus dijalani dengan sempurna. Selain itu, dua hari di rumah sudah cukup untuknya. Impiannya untuk segera pindah harus dia urungkan sementara karena dia ingin menolong koleganya.
“Jadi sebenarnya kamu sudah beli rumah itu? Tapi kemudian di kontrakan?” Bapak dari Ceisya itu kembali bertanya membuat perempuan itu sedikit jengah. Ceisya tahu keinginannya untuk pindah bukanlah tanpa alasan. Kesendiriannya di usia yang cukup dewasa membuatnya harus melakukan hal itu.
“Iya, mungkin sebulan atau dua bulan. Tapi lumayan juga untuk bantu cicilan beberapa bulan.” Ceisya menjawab dengan santai pertanyaan dari Bapaknya.
“Siapa yang kontrak rumah itu?” Bapak kembali bertanya kepada Ceisya anak perempuannya.
“Kamu yakin dia akan bayar kontrakan itu setiap bulannya? Apa kamu sudah punya perjanjian tertulis?” Bapak Ceisya kembali bertanya kepada anak perempuannya itu. Ceisya terdiam karena dia memang belum memiliki perjanjian dengan Daniel sebagai pihak penyewa rumah miliknya itu. Ceisya percaya jika Daniel akan membayar tentu saja sesuai apa yang dia ucapkan kepada Ceisya.
“Ceisya akan usahakan untuk buat perjanjiannya Pak.” Perempuan itu kemudian berdiri dan menutup pintu kamarnya. Dia sebenarnya sedikit kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Bapaknya itu. Ceisya juga akhirnya ragu sendiri, dia mulai meragukan Daniel karena bisa saja dia berkelit nanti.
“Tentu, meski terdengar tidak menyenangkan apa yang Bapak katakan ada benarnya juga.” Ceisya bergumam sendiri. Dia kemudian mengenakan pakaian hari senin dan melihat dirinya sendiri di cermin ketika dia bersiap.
“Benar, aku juga bukanlah orang yang akan mudah di tipu. Meski dasarnya pertemanan. Aku juga harus menegaskan dengan perjanjian.” Perempuan itu teralihkan dan kemudian mencari ponsel pintarnya. Dia hendak menghubungi Daniel untuk bertanya. Tapi dia kemudian terdiam sendiri lagi.
“Hanya satu bulan, nanti apa yang akan dia pikirkan jika aku mengajukan perjanjian hanya untuk sewa rumah satu bulan? Sepertinya terlalu berlebihan.” Perempuan itu meletakkan ponsel pintar di meja riasnya dan kemudian menatap dirinya di cermin. Dia mengoleskan sunscreen di wajahnya dan kemudian menambahkan lipstik berwarna pink pucat. Dia puas dengan penampilannya dan kemudian berdiri meraih ponsel pintar dan juga tas yang sudah dia siapkan di tempat tidurnya. Ceisya kemudian keluar dari kamarnya dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
“Belum sarapan?” Ibu Ceisya bertanya kepada anak perempuannya yang sudah bersiap keluar dari rumah.
“Sudah minum kopi tadi Bu.” Ceisya tersenyum menjawab singkat dan kemudian segera meninggalkan ibunya menuju ke garasi. Kali ini Ceisya mengendarai motornya lagi. Perempuan itu piawai mengeluarkan kendaraan keluar dari garasi di samping rumah. Perempuan itu bisa saja mengendarai mobil milik ayahnya yang terbilang cukup tua. Tapi Ceisya kurang bisa mengendarai mobil. Perempuan itu memikirkan apa saja yang akan dia kerjakan sesampainya di kantor nanti. Ceisya terbiasa seperti itu.
Tidak sampai 15 menit dia sudah berada di sebuah bangunan yang baru namun masih terlihat cukup lama. Begitulah bangunan perkantoran untuk seorang seperti Ceisya. Bukan bangunan modern, tapi banyak juga perusahaa swasta yang memiliki konsep tata ruang yang tidak jauh berbeda dengan kantornya. Ceisya berjalan menuju mejanya yang terletak di dekat jendela tengah ruangan itu. Pemandangan di luar jendela juga bukan hal yang menakjubkan atau memanjakan mata bagi karyawan seperti Ceisya. Jendela itu hanya berfungsi sebagai pertukaran udara saja. Ceisya menyalakan komputernya dan mulai memeriksa beberapa pekerjaan yang sudah berada dalam pikirannya sepanjang perjalanan berangkat ke kantor tadi.
Ada beberapa orang yang masuk ke ruangan yang sama dengan Ceisya, mereka hanya tersenyum melihat ke arah Ceisya.
"Pagi Mba Ceisya, ini ada kiriman. " Seseorang terdengar ceria menyampaikan beberapa amplop coklat besar kepada Ceisya. Perempuan itu menerima amplop coklat dan membubuhkan tanda tangan sebagai tanda terima dokumen. Dia hanya tersenyum saja tanpa berbicara lagi.
"Dokumen dari bidang pengadaan?" Seseorang mendekati Ceisya seolah ingin juga melihat dokumen yang sedang Ceisya keluarkan dari amplop coklat itu.
"Sepertinya iya, apa ada proyek atau pengajuan penggunaan bangunan? Yang mana lagi?" Tanpa mendengarkan jawaban Ceisya perempuan di samping Ceisya itu sudah ikut memperhatikan dokumen bersama dengan Ceisya.
"Kerjaan gak habis-habis ya Ceis." Perempuan itu kemudian tersenyum dan meninggalkan Ceisya di tempat duduknya.
"Apel dulu Ceis" Seseorang mengingatkan perempuan yang sudah mulai tenggelam dalam pekerjaannya itu. Ceisya beranjak dari tempat duduknya dan kemudian keluar menuju ke lapangan kecil di tengah bangunan kantor itu. Ceisya mengikuti apel pagi setiap hari senin, atau setiap ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh kepala kantor tersebut.
Apel selesai setelah 30 menit dan semua orang kembali ke ruangan mereka masing-masing. Ceisya kembali memeriksa dokumen tadi. Pengajuan pemanfaatan bangunan yang harus dia buatkan surat pengantarnya dan dia harus memeriksa orang atau perusahaan yang mengajukan itu. Perempuan itu terlihat sedikit kesal meski hanya ada 3 dokumen pengajuan yang cukup tebal. Dia harus memeriksa dokumen dan juga berbicara dengan perwakilan dari pihak yang mengajukan itu.
"Sibuk?" Seorang laki-laki terlihat tersenyum ketika Ceisya menoleh ke samping. Perempuan itu kemudian mengambil kertas dari tempat printernya dan menggabungkan dengan dokumen dari amplop coklat tadi.
"Setidaknya bagi dua lah." Laki-laki itu mengembalika satu buah dokumen kepada Ceisya.
"Kalau begitu, lakukan sama-sama." Kali ini laki-laki itu tersenyum menatap Ceisya lagi. Perempuan itu menunjukkan dokumen lainnya yang membuat laki-laki itu tersenyum lagi.
"Kita lakukan sama-sama." Laki-laki itu kemudian mengambil semua berkas dan mengajak Ceisya menuju ke ruangan yang lebih luas di dekat ruangan mereka. Ceisya mengikuti laki-laki itu menuju ke ruang sebelah.
"Kerjakan yang terlihat mendesak dulu?" Laki-laki itu memberikan sebuah dokumen ke hadapan Ceisya yang sudah duduk. Perempuan itu menurut dan kemudian memeriksa satu bendel dokumen. Ceisya mulai terkejut sedikit karena apa yang dia baca. Perempuan itu membalikkan halaman demi halaman dengan lebih cepat.
"Kalian sedang memeriksa dokumen pengajuan? Ada yang minta follow up dan sedang di sini." Seseorang masuk ke ruanga tempat Ceisya dan rekannya sedang memeriksa dokumen.
"Pengajuan yang mana?" Laki-laki yang bekerja dengan Ceisya segera bertanya karena dia sedikit kesal karena mereka baru saja mulai. Dan semua dokumen juga baru mereka terima. Perempuan itu kemudia melihat sebentar.
"Yang sedang kamu baca, ada tulisan rekomendasi cepat bukan?" Perempuan itu tersenyum menatap Ceisya.
"Dokumen itu baru diterima, sesuai prosedur paling tidak satu dua minggu karena harus diperiksa, rekomendasi cepat tetap saja harus menunggu satu minggu." Laki-laki yang bekerja dengan Ceisya menjelaskan dengan nada bicara yang terdengar kesal.
"Dimana perwakilannya?" Ceisya sudah berdiri dan menganggkat dokumen tersebut.
"Sabar Ceis, biar aku saja." Laki-laki itu terlihat khawatir karena Ceisya terlihat tidak memasang ekspresi apapun.
"Aku saja, sepertinya ini memang mendesak." Perkataan Ceisya yang terdengar tenang membuat laki-laki itu kemudian duduk dan tidak mencegah Ceisya lagi pergi menemui seseorang yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu yang cukup penting.
"Bukankah kita tidak boleh emosi ketika memberikan pelayanan kepada masyarakat?" Perempuan itu terlihat tersenyum di depan Ceisya ketika mereka sampai di sebuah ruangan. Ceisya tentu melihat Daniel duduk di sana. Ceisya tahu dia akan berada di sana.
"Tentu saja, aku bisa membicarakan dan menyampaikan prosedur dengan baik meski aku mungkin tergolong baru." Ceisya melewati perempuan yang masih berdiri di pintu ruangan itu, meski dia sedikit ragu dan tentu saja terkejut ketika Daniel terlihat terkejut juga melihatnya. Ceisya berusaha tenang dan berjalan menuju ke arah Daniel, laki-laki itu juga bersikap seolah mereka tidak saling kenal. Ceisya mengulurkan tangan ke arah Daniel dan tentu saja mereka berjabat tangan dengan sedikit canggung.
"Silahkan duduk." Ceisya mempersilahkan Daniel dengan nada bicara yang cukup datar tanpa senyum. Daniel duduk meski dia sedikit canggung. Ceisya menatap Daniel sebentar dan kemudian melirik sedikit untuk memeriksa apakah teman kerjanya sudah pergi dari pintu.
"Aku tidak mengira kamu bekerja di sini, temanmu itu sudah pergi." Daniel berusaha berbicara masih dengan bahasa yang diatur.
"Jadi bukankah kamu akan membangun atau membeli tanah untuk perusahaan? Lalu kenapa jadi melakukan ini?" Ceisya menunjukkan dokumen yang baru dia baca sedikit.
"Aku juga datang hanya karena mendapatkan perintah, bukan aku yang membuat pengajuan itu." Daniel terdengar cukup serius dengan apa yang dia katakan.
"Begitukah? Kalau begitu kamu harus melihat tempat yang bisa kami sarankan." Ceisya masih menggunakan nada bicara yang resmi.
"Aku kemari sebenarnya hanya ingin meminta salinan dari dokumen itu. Bisakah?" Daniel tersenyum melihat ke arah Ceisya.
"Kalau begitu kamu bisa membuat salinannya sendiri. Kembalikan setelah selesai." Ceisya melihat sekeliling dan kemudian menemukan amplop coklat untuk dokumen itu.
"Aku kembalikan sekalian makan siang?" Daniel tersenyum melihat Ceisya seolah dia sedang menggoda perempuan itu tanpa ragu.
"Aku tidak bisa." Ceisya menjawab singkat tanpa senyum dan kemudian berbalik meninggalkan ruangan itu dengan segera. Perempuan itu berjalan dengan ceoat supaya bisa sampai ke ruangan lagi. Dia menyambar dokumen lain segera sebelum dia duduk.
Ada perasaan aneh yang menganggunya meski saat ini dia berpura-pura sibuk dengan dokumen di hadapannya itu. Kenapa laki-laki itu muncul bahkan di kantornya, ketika mereka berdua berjanji untuk tidak saling bertemu. Mungkinkah ini takdir? Ceisya terhenyak dengan pemikirannya sendiri.
"Takdir?" Ceisya terdiam lagi, masih menatap kosong dokumen di hadapannya.
"Bagaimana mungkin aku bisa berfikir seperti ini." Perempuan itu terdiam lagi dan mulai berusaha untuk berfikir lebih jernih tentang apa yang terjadi.