"Bisakah aku memastikan jika dia tidak akan jatuh cinta kepadaku?" Ceisya masih saja berbicara dengan dirinya sendiri. Dia semakin gugup ketika jam makan siang hendak tiba. Sudah banyak orang yang keluar dari ruangan mereka sejak setengah jam yang lalu. Ceisya masih memeriksa dokumen dan berusaha melupakan jam makan siang.
"Kamu tidak istirahat makan siang?" Laki-laki yang bekerja dengan Ceisya itu beranjak dari tempat duduknya sembari bertanya kepada Ceisya.
"Aku tahu si kerjaan banyak, tapi kita dibayar bukan untuk kerja rodi juga. Santai lah Ceis." Laki-laki itu mendekati Ceisya yang sepertinya masih serius memeriksa dokumen yang ada di hadapannya itu.
"Aku nitip aja ya? Supaya kerjaan kita cepet selesai?" Ceisya tersenyum tentu saja membuat laki-laki di hadapannya mau tidak mau mengangguk perlahan.
"Nitip apa?"Laki-laki itu terlihat serius meski dia tahu Ceisya memang lebih suka berada di kantor ketika jam istirahat siang.
"Roti sama macaron. Bentar deh aku ambil hp." Ceisya kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke ruangannya yang berada di sebelah. Tidak lama kemudian dia kembali ke ruangan tempat dia memeriksa berkas tadi.
"Kamu chat aku aja ya, kelamaan. Istirahat siang kan juga cuma bentar." Laki-laki itu segera meninggalkan ruangan setelah Ceisya tiba di sana. Ceisya memeriksa ponsel pintarnya. Sudah ada pesan di aplikasi berwarna hijau yang umum digunakan oleh banyak orang di masa kini.
[Sepertinya kita tidak bisa makan siang sama-sama, kita ketemu ketika kamu pulang kantor?] Ceisya membaca pesan dari Daniel tentu saja. Perempuan itu memperhatikan waktu pesan tersebut di kirim. Dia sedikit lega karena tidak perlu bertemu dengan laki-laki itu ketika makan siang. Ceisya tidak membalas pesan dari Daniel. Dia hanya meletakkan ponsel pintarnya dan kemudian kembali memeriksa pekerjaan di hadapannya.
Tentu saja waktu makan siang berlalu cukup cepat, tapi tidak semua karyawan kembali tepat waktu. Ceisya masih asik dengan pekerjaannya.
"Ini Ceis, kamu gak bilang roti apa. Jadi aku pilihkan gitu aja." Laki-laki rekan kerja Ceisya masuk dan menyerahkan bungkusan yang berisi tiga buah kue yang tentu saja bentuknya Ceisya kenali.
"Thanks Ki, aku ganti nanti ya. Tanggung bentar lagi aku balik ke mejaku." Ceisya masih memperhatikan dokumen pekerjaannya. Dia bahkan hanya melirik sebentar kue yang dibawakan Zaki rekan kerjanya itu.
"Makan dulu, kamu gak lapar apa?" Laki-laki itu terlihat sedikit khawatir.
"Bentar lagi beres, nanggung. Kalau sudah begini kan bisa langsung kirim ke bidang lain lagi. Katanya semua mendesak kan?" Ceisya membuat Zaki tersenyum karena sindirannya. Laki-laki itu tahu benar jika Ceisya selalu kesal karena diburu pekerjaan dengan kepentingan tertentu. Tapi semakin cepat dia bekerja maka semakin cepat juga dia selesai.
"Nah kan ini sudah beres semua, tinggal kamu periksa ulang yah. Aku istirahat dulu." Ceisya membereskan dan mengurutkan pekerjaannya. Zaki dengan santai memeriksa pekerjaan Ceisya satu persatu. Ceisya sudah duduk lagi di mejanya dan membuka satu roti yang dibawakan Zaki. Dome keju kesukaannya dari toko kue yang juga memang dia suka. Ceisya tersenyum, membuka botol minumnya dan minum sedikit sebelum akhirnya menggigit roti dengan gigitan yang cukup besar.
Ceisya larut dengan makanan dan juga sesi istirahatnya itu. Dia bahkan tidak memperhatikan sekeliling karena sedang menikmati roti kesukaannya itu.
"Ada dokumen yang gak ada Ceis." Zaki berucap pelan di samping Ceisya seolah pembicaraan itu adalah sebuah rahasia besar.
"Masa?" Ceisya entah mengapa langsung tersadar dan kemudian menoleh melihat ke arah Zaki dengan ekspresi tidak percaya.
"Dokumen yang sabtu lengkap, semua juga sudah diperiksa. Dokumen yang datang hari ini kan tiga. Aku lihat di tanda terima. Ada satu yang gak ada." Zaki menunjukkan tanda terima dokumen kepada Ceisya. Perempuan itu langsung teringat dokumen yang dia serahkan kepada Daniel.
"Huh." Ceisya seolah sedang mengutuk dirinya dengan hela nafasnya ketika menyadari sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan.
"Kamu akan menyerahkan semuanya sekarang?" Ceisya bertanya dengan nada bicara yang serius. Zaki mengangguk perlahan.
"Lebih baik begitu si, soalnya besok pasti akan ada pekerjaan lagi." Zaki mengatakan sesuatu yang memang sudah Ceisya ketahui. Dia mengambil ponsel pintarnya.
"Tunggu sebentar ya, aku ambil dulu." Ceisya kemudian keluar dari ruangannya. Dia kembali memeriksa chat dengan Daniel di aplikasi berwarna hijau itu. Terakhir Daniel aktif di aplikasi itu tentu ketika dia mengirimkan pesan tidak bisa makan siang. Ceisya menduga laki-laki itu sedang sibuk dengan beberapa orang yang mungkin harus ditemui.
Ceisya gamang, tapi dia kemudian menekan tombol di layar ponsel pintarnya untuk melakukan panggilan suara kepada Daniel.
"Ya?" Ceisya sedikit terkejut karena panggilan terangkat bahkan ketika nada dering pertama belum selesai.
"Niel?" Ceisya terbata karena dia terkejut. Perempuan itu berjalan menuju ke sebuah tempat yang dirasa lebih sepi.
"Hem, kenapa?" Daniel kembali menjawab panggilan Ceisya.
"Dokumennya, bisakah diantarkan sekarang?" Ceisya ragu tapi dia bertanya karena memang harus segera mendapatkan dokumen itu.
"Tentu, aku akan ada di sana lima menit lagi." Daniel menjawab singkat dan kemudian menutup panggilan dari Ceisya. Perempuan itu terdiam karena tidak mengerti dengan apa yang Daniel katakan baru saja.
"Lima menit?" Ceisya bergumam dan kemudia berjalan menuju pintu gerbang kantornya yang tidak terlalu jauh.
"Mba Ceisya, tumben di sini? Sudah mau pulang Mba?" Pertanyaan dari penjaga keamanan membuat Ceisya tersenyum.
"Belum, mana mungkin bisa pupang sebelum jam kerja selesai?" Ceisya tersenyum lagi menjawab pertanyaan dari penjaga keamanan itu.
"Kirain Mba, siapa tau ada pekerjaan di luar. Mba Ceisya kan sering dapat kerjaan di luar." Ceisya kembali tersenyum dan kemudian dia mengangguk perlahan. Dia sebenarnya gugup memikirkan apa yang mungkin penjaga itu katakan ketika melihat Daniel menemui dia di depan seperti itu.
Ceisya masih dalam pikirannya sendiri ketika dia mendengar ponsel pintarnya berbunyi. Perempuan itu menatap layar dan kemudian menjauh dari penjaga keamanan untuk menerima panggilan suara itu.
"Aku di dekat ruangan tempat kita bertemu tadi." Suara Daniel membuat Ceisya segera berjalan masuk lagi ke kantornya.
"Kenapa kamu di sana? Kok aku gak liat kamu masuk? Kamu naik mobil?" Ceisya bertanya sambil menuju ke tempat yang Daniel maksud. Ada suara tawa pelan terdengar ketika Ceisya sedikit meluapkan kekesalannya. Ceisya sampai di tempat yang Daniel maksud dan menemukan laki-laki itu sedang duduk di tempat duduk semen di dekat ruangan tempat mereka tadi bertemu.
"Kenapa panik begitu?" Daniel tersenyum seolah sedang menggoda Ceisya dan kemudian memutuskan panggilan suara diantara mereka.
Ceisya berjalan mendekati Daniel dan kemudian mengambil dokumen yang Daniel serahkan padanya.
"Aku tunggu sampai kamu selesai kerja. Sebentar lagi kan?" Ceisya menatap Daniel sebentar tanpa mengatakan apa-apa.
"Aku hubungi kamu lagi nanti." Setelah mengucapkan kalimat itu Ceisya segera berlalu. Daniel sepertinya tidak terlalu terganggu dengan sikap dingin Ceisya.
Perempuan itu menuju ke ruangannya dan kemudian menyerahkan dokumen itu kepada Zaki untuk diperiksa. Setelahnya dia duduk di meja kerjanya dan kemudian memeriksa jam di ponsel pintarnya. Memang sebentar lagi waktu bekerjanya berakhir.
"Aku harus bicara serius dengan Daniel. Bisakah dia tidak bersikap seperti ini. Bisakah aku dan dia bersikap hangat tanpa perasaan yang hangat diantara kami?" Ceisya bergumam dan bertekad sendiri karena ketakutannya sendiri.