Ceisya masih duduk di ruangannya. Sebenarnya bukan hal yang aneh ketika rekan satu ruangannya sudah hampir habis dan Ceisya masih di sana. Perempuan itu sedikit gugup karena Daniel mengatakan dia akan datang ke kantor Ceisya untuk berbicara. Perempuan itu sebenarnya juga merasa perlu membicarakan banyak hal yang sedikit membuatnya tidak nyaman akhir-akhir ini.
"Kamu langsung pulang?" Zaki sudah ada di depan meja kerja Ceisya tanpa perempua itu sadari. Ceisya hanya mengangguk pelan tanpa berbicara.
"Aku boleh bareng gak? Soalnya motorku di bawa sama adikku." Zaki tersenyum meminta bantua kepada Ceisya. Perempuan itu terlihat mengangguk cepat.
"Kalau begitu kita pulang sekarang?" Zaki langsung mengajak Ceisya untuk segera meninggalkan kantor.
"Kamu bawa helm?" Ceisya bertanya kepada Zaki sambil membereskan mejanya dan juga tasnya.
"Tentu, sudah aku titip di motor kamu." Ceisya mengangguk pelan dan segera berdiri menyerahkan kunci motornya kepada Zaki.
"Mau langsung pulang atau kamu harus kemana dulu?" Zaki bertanya ketika mereka berdua sudah berjalan bersisian menuju ke tempat parkir.
"Ketemu temen si sebentar, tapi mungkin gak jadi lah. Aku juga pengin pulang cepat kok." Ceisya terlihat mantap untuk tidak bertemu dengan Daniel. Perempuan itu sudah mengirimkan pesan kepada Daniel sambil berjalan tadi. Ceisya sedikit lega karena tidak melihat sosok Daniel di sekitar kantornya ketika dia dan Zaki meninggalkan kantor mereka.
"Kamu kenapa si Ceis, hari ini sepertinya kamu terlalu gugup dan juga terlihat tidak santai?" Zaki bertanya ketika mereka berdua mulai melewati jalanan yang sudah sedikit ramai.
"Gak kenapa-kenapa, cuma inget tanggal gajian masih lama." Ceisya berusaha mengalihkan pembicaraan agar lebih santai. Dia sudah mulai merasakan tenang karena tidak harua berinteraksi dengan Daniel.
"Tapi kamu aneh si Ceis, sepertinya kamu banyak mikirin sesuatu di luar pekerjaan. Habis ditembak cowo?" Zaki dengan santai bertanya meski dia kemudian tertawa kecil di balik helmnya.
"Mana mungkin lah, aku gak cocok kalau harus ditembak begitu." Ceisya terdengar lebih bisa santai berbicara di atas kendaraan bersama dengan Zaki.
"Kamu cantik Ceis, pasti banyak yang mau lah. Buka hati aja." Zaki membuat Ceisya terdiam dan tidak menanggapi apa yang baru saja dia ucapkan.
"Memangnya kamu gak pengin nikah gitu Ceis?" Zaki kembali bertanya meski kali ini Ceisya berusaha mengabaikannya dengan berpura-pura tidak mendengarkan apa yang dikatakan laki-laki yang mengendarai motornya itu.
"Ayolah Ceis, kamu akan selalu mengabaikan ketika aku membicarakan jodoh?" Zaki kembali bertanya kepada rekan kerjanya itu. Sejatinya Ceisya tahu jika Zaki hanya bermaksud baik. Setiap orang yang mungkin bertanya kepada Ceisya perihal jodoh mereka mungkin saja memang peduli dengan perempuan itu. Tapi bagi Ceisya itu menjadi hal yang sangat sensitif ketika usianya memasuki 35 tahun.
"Kamu sendiri kenapa gak punya pacar? Kenapa juga gak menikah? Kamu juga sudah cukup umur meski lebih muda dari aku." Ceisya langsung meluncurkan serangan balik karena pertanyaan Zaki tadi. Laki-laki itu sepertinya ingin berbicara dengan Ceisya lebih banyak sehingga dia berhwnti di sebuah tempat minum kopi yang kini hits di kota kecil ini.
"Kenapa kita berhenti di sini?" Ceisya bertanya kepada Zaki yang hanya tersenyu. Dan kemudian masuk ke cafe kecil itu. Perempuan itu sedikit kesal dengan perilaku random yang dilakukan oleh Zaki itu. Ceisya mengikuti Zaki masuk ke cafe kecil itu dan kemudian berdiri di sebelah Zaki yang sedang memesan.
"Cewe lu?" Seseorang yang sedang mencatat pesanan Zaki bertanya ketika melihat Ceisya berdiri di samping Zaki.
"Dia gak mau sama aku." Zaki tertawa sambil menjawab singkat. Ceisya hanya menoleh sebentar dan tersenyum sedikit.
"Aku pesan, umm..." Ceisya melihat daftar menu perlahan.
"Ice americano dengan sedikit es?" Ceisya menatap seseorang yang seolah sedang menebak apa yang ingin dia pesan.
"Zaki sudah memesankan tadi. Apa mau diganti?" Penerima pesanan di kasir itu tersenyum mengalihkan pandangan ke arah Zaki.
"Aku hafal karena sering pergi bareng kan? Lagi pula kamu memang lebih sering pesan itu." Zaki kembali tersenyum dan kemudian memberikan ponsel pintar miliknya kepada kasir dihadapannya itu. Setelahnya mereka berdua memilih tempat duduk yang jauh dari pintu masuk.
"Kenapa tiba-tiba belok?" Ceisya masih saja ingin tahu kenapa tiba-tiba rekannya itu memutuskan untuk minum kopi alih-alih pulang.
"Kamu gak masalah kan kalau kita mampir seperti ini?" Zaki dengan santai memeriksa ponsel pintarnya sambil bertanya kepada Ceisya. Perempuan itu menggeleng pelan.
"Kamu ada acara akhir pekan ini?" Zaki kembali bersikap random membuat Ceisya menatapnya.
"Kenapa? Mau ngajak nonton spiderman?" Ceisya tersenyum sedikit meski dia sebenarnya merasa kesal dengan apa yang terjadi sekarang.
"Adikku mau nikah, bisakah kamu nemenin aku?" Ceisya menatap rekan kerjanya itu sedikit lebih lama. Perempuan itu tertegun dan hampir tertawa tidak percaya, tapi dia sungguh menahannya.
"Adikmu yang mana? Kenapa terdengar tiba-tiba sekali?" Ceisya membuat Zaki tertawa kecil dan kemudian segera menusukkan sedota ke dalam cup minumannya ketika pesanannya sudah datang.
"Entahlah, tiba-tiba ada yang ngajak dia nikah. Padahal aku gak pernah liat dia pacaran. Gak pernah ngenalin siapapu tapi begitulah jadi mau gimana?" Zaki sepertinta terlihat sedikit kesal, tapi dia juga tidak ingin menghalangi kebahagiaan adiknya itu.
"Apa sudah benar-benar diperiksa jika calonnya adikmu itu benar-benar baik?" Ceisya kembali bertanya kepada Zaki karena dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini.
"Sudah, bukan itu masalahnya. Aku hanya ingin kamu membantu aku kali ini. Aku tidak tahu harus minta tolong siapa. Lagi pula ibuku sudah kenal dekat dengan kamu" Zaki kembali memberikan bermacam-macam alasan supaya Ceisya setuju.
"Sebenarnya aku oke aja si, lagipula aku juga pasti akan ke sana jika memang adikmu yang menikah bukan? Aku pasti akan bantu kamu." Ceisya dengan santai menjawab permintaan Zaki.
"Kamu harus ada di sana sebagai pendampingnya aku. Sebenarnya aku gak ingin pura-pura juga si, tapi mantanku pasti datang. Aku tidak ingin dia melihat aku single." Zaki membuat Ceisya tertawa kali ini. Laki-laki itu juga ikut tertawa bersama dengan Ceisya.
"Padahal tadi kamu bicarakan pernikahan kan? Ternyata karena ini?" Ceisya tersenyum lagi kali ini meneguk sedikit ice americanonya.
"Rasanya sulit melewati fase dimana aku sebenarnya sudah tidak terlalu ingin, tapi sepertinya itu adalah keharusan bagi manusia." Zaki tidak terlihat sedih, hanya nada bicaranya saja yang sedikit mulai samar.
"Jodoh memang beda si. Pekerjaan dan pendidikan bisa diusahakan. Tapi jodoh rasanya tidak begitu. Sekeras apapun aku berusaha jika bukan jodohnya maka kami tidak berjodoh dan begitu juga sebaliknya. Karena itulah, bagiku juga sulit." Ceisya terlihat serius dengan apa yang dia katakan itu.
"Menurutku jodoh mudah saja asalkan kita semua bisa saling menerima." Zaki masih membuat perempuan itu tertawa sedikit sepulang kerja.
"Tapi diusahakannya itu sulit, masa harus pakai cara-cara ghoib?" Ceisya kembali menentang apa yang Zaki katakan.
"Pokoknya kamu datang akhir pekan nanti dan bersama aku sepanjang acara." Zaki kembali meminta kepada Ceisya. Perempuan itu mengangguk perlahan.