Kopi adalah minuman yang tidak bisa Ceisya lepaskan sejak dia memasuki tahun terakhir kuliahnya. Perempuan itu bekerja keras untuk selalu terjaga di malam hari untuk beberapa hari menyelesaikan revisi skripsinya. Ceisya berusaha keras untuk menyelesaikan kuliahnya tepat waktu saat itu. Sekarang kopi seperti sesuatu yang tidak mungkin Ceisya tinggalkan. Perempuan itu langsung membuatnya ketika dia terbangun. Setelah menjalankan ritual paginya dia kemudian duduk menyalakan televisi dan mulai minum kopi sebelum nanti dia mandi dan bersiap berangkat ke kantornya.
Daniel tidak lagi mengirimkan pesan kepada Ceisya setelah perempuan itu membatalkan pertemuan mereka. Perempuan itu kembali bersikap biasa saja dan tidak banyak memikirkan tentang Daniel setelahnya. Pagi ini, dia tidak lagi berfikir untuk menghubungi Daniel tentang uang sewa atau semacamnya. Dia juga tidak lagi berfikir jika mungkin takdir membuat mereka selali terkait. Bisa saja semua itu adalah sebuah kejadian yang wajar terjadi.
"Kamu pulang sama Zaki lagi?" Orang tua Ceisya bertanya ketika melihat perempuan itu keluar dari kamarnya hendak menuju ke kamar mandi.
"Iya, motornya di pakai adiknya. Jadi ya bareng pulangnya. Lagi pula kita deketan rumahnya." Ceisya menjawab dengan tenang sambil berlalu ke kamar mandi. Perempuan itu tahu benar apa yang akan Bapaknya bicarakan setelah itu, beruntungnya dia harus segera mandi dan tidak perlu membicarakannya.
Setelah mandi Ceisya langsung bersiap dan keluar tepat ketika dia mendengar deru mesin motornya mendekat ke halaman ramahnya. Ceisya buru-buru keluar dari rumahnya dan kemudian menuju ke halaman rumahnya dengan sepatu yang dia kenakan.
"Zaki ini juga belum punya calon?" Sedikit yang Ceisya dengar pertanyaan dari Bapaknya untuk Zaki tentu saja sudah membuat perempuan itu ngeri dan dengan cepat berada di sisi Zaki.
"Kita berangkat sekarang? Banyak kerjaan hari ini." Ceisya segera membuat alasan secara alami supaya mereka bisa segera pergi dari sana. Zaki kemudian tersenyum dan menganggum sedikit untuk meminta diri.
"Kenapa kamu langsung saja menyela seperti itu?" Zaki menegur Ceisya sedikit sambil berjalan menuju ke sepeda motor. Ceisya dan laki-laki itu mengenakan helm dan kemudian naik ke motor.
"Kalau tidak begitu nanti beliau akan membicarakan tentang jodoh terus, bisa-bisa dia minta kamu nikahin aku nanti." Ceisya tidak tertawa dengan apa yang dia katakan. Dia terdengar cukup serius meski membuat Zaki tertawa dengan pernyataannya.
"Bisa jadi si, kita sama-sama punya pekerjaan yang keren kan?" Zaki justru kembali melontarkan kalimat candaan kepada Ceisya.
"Ya si, tapi nikah kan gak segampang itu. Aku gak pernah ingin membuat beberapa orang memutuskan sesuatu karena desakan." Ceisya kembali berucap serius meski mereka berdua sedang berkendara.
"Ceis, apa kamu sama sekali tidak akan pernah bisa menerima jika kamu pantas untuk seseorang?" Zaki akhirnya berucap sedikit tajam. Perempuan yang berada dalam boncengannya itu terdiam setelahnya. Zaki menepi dalam perjalanan menuju ke kantor mereka.
"Kita beli sarapan sebentar, kamu mau?" Laki-laki itu sudah berdiri di depan penjual roti kukus dan bakar yang tidak terlalu ramai. Ceisya mengangguk berisyarat dia mau menerima tawaran Zaki.
"Giliran roti aja cepet jawabnya. Perkara nikah kenapa kamu bisa sampai sesusah itu?" Zaki membuat lengannya menjadi sasaran tinju Ceisya yang kesal. Penjual roti tertawa dengan lelucon yang Zaki ucapkan baru saja.
"Bukan cuma aku kan? Kamu juga." Ceisya kali ini membalas sambil tersenyum.
"Anak muda jaman sekarang lulus sekolah saja sudah pengin dilamar, dulu aku bahkan gak kepikiran mau ngelamar anak orang di usia itu. Masih mikir mo lanjut kemana, cari kerja atau usaha apa." Zaki tersenyum menjawab Ceisya pelan sambil menunggu pesana mereka siap.
"Jaman sekarang memang beda si mas, teman saya saja ada yang menerima jadi istri kedua asalkan hidupnya nyaman." Penjual roti ikut berkomentar membuat Zaki tersenyum. Jika dilihat dengan seksama penjual roti tersebut mungkin berusia di awal 20an.
"Jangan-jangan Mbanya juga?" Zaki membalas pernyataan si penjual dengan candaan.
"Gak lah Mas, mungkin saya tipe yang sama dengan Mas dan Mba ini. Masih harus mikirin sekolahnya adik-adik." Penjual roti tersenyum menjawab candaan Zaki dengan serius.
"Saran saya si Mba jangan begitu. Usaha jalan kehidupan pribadi juga jalan. Kalau seperti kita ini nanti bakalan jengah dengan pertanyaan kapan kawin." Zaki tersenyum sambil menerima pesanan yang sudah dalam kantong plastik. Dia membayar pesanan mereka berdua dan kemudian naik motor untuk melanjutkan perjalanan ke kantor mereka. Zaki langsung menuju tempat parkir ketika mereka berdua sampai.
"Gampang banget nasehatin orang lain." Ceisya langsung berkomentar ketika mereka sudah berjalan untuk menuju ke ruangan.
"Gak begitu juga si, cuma sebelum seperti kamu kan lebih baik di cegah." Zaki mengejek sedikit meski Ceisya juga menerimanya. Apa yang Zaki katakan sama sekali tidak salah. Mereka berdua menuju ke tempat duduk masing-masing yang tidak berdekatan. Ceisya duduk di mejanya dan kemudian menyimpan tasnya. Ada sesuatu yang membuatnya tertegun di meja kerjanya. Sebuah stereofoam dan ada kertas di atasnya.
"Semoga kamu suka, jangan melewatkan sarapan. Anggap saja aku sedang ingin bersikap manis." Tulisan yang terdapat pada kerta kecil itu membuat Ceisya membuka wadah stereofoam di hadapannya itu. Ada bubur ayam di dalamnya.
"Daniel?" Ceisya bergumam pelan dan kemudian terdiam lagi. Dia melihat ke sekeliling. Ponsel pintarnya kemudian berdering dan Ceisya segera menatap layar ponsel itu. Dia menggeser tombol hijau di layar keatas.
"Tetap saja urusan kantor tidak bisa menjadi keputusanku." Ceisya menjawab dengan tegas seolah dia menangkap maksud kiriman sarapan dari seseorang yang menghubunginya itu.
"Sebentar, maksudnya?" Suara Daniel terdengar bingung dengan apa yang baru saja Ceisya ucapkan.
"Sarapan ini?" Ceisya bertanya lagi karena merasa bingung juga dengan perkataan Daniel.
"Aa... Itu, aku tadi beli sarapan. Terus inget kamu kan jadilah aku beli. Kantor masih sepi tadi, terus aku juga gak bisa nunggu kamu datang karena belum mandi." Ada tawa kecil setelah penjelasan panjang yang diberikan oleh Daniel. Ceisya terdiam dan berusaha mencerna apa yang dia dengar.
"Lain kali jangan begitu." Sebuah kalimat penolakan dengan mudah meluncur dari bibirnya.
"Memangnya gak boleh? Aku hanya tidak sengaja memberikan sarapan? Lagi pula aku beli karena rasanya enak." Daniel berusaha menjelaskan lagi meski dia mendengar penolakan yang halus dari Ceisya.
"Aku sebenarnya hanya tidak enak dengan orang kantor. Nanti aku akan menjelaskan jika kita bertemu." Ceisya berusaha mengakhiri panggilan dengan Daniel saat itu.
"Gak perlu, nikmati saja sarapannya. Lagi pula ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan proyek. Perusahaan mengajukan sendiri dan bukan tugasku untuk follow up itu. Aku punya pekerjaan lain. Have a nice day. Jangan lupa kita ketemu weekend nanti." Daniel lah yang akhirnya mengakhiri panggilan dengan Ceisya. Perempuan itu menggeser pelan bubur ayam yang terlihat masih hangat.
"Benarkah ini hanya tentang sarapan? Tentang bubur ayam? Kenapa aku jadi terlalu sensitif?" Ceisya bergumam lagi dan kemudian menyantap bubur ayam yang dibelikan oleh Daniel itu. Terlepas dari apapun yang dia pikirkan, bubur ayam adalah makanan kesukaan Ceisya.