"Nanti sore kita fitting ya?" Zaki berbisik saat jam makan siang tiba.
"Fitting?" Ceisya menoleh dan berucap pelan tidak mengerti dengan apa yang Zaki katakan. Laki-laki itu tersenyum membuat Ceisya tiba-tiba teringat janjinya kepada Zaki.
"Ah... Kenapa kita harus fitting segala?" Ceisya berbisik lagi menyatakan keberatannya.
"Aku anak tertua, jadi meski aku dilangkahi jika aku punya kekasih maka kekasihku akan punya seragam keluarga." Zaki menjelaskan setelah menarik kursi kosong di meja samping Ceisya. Ruangan itu memang sudah sangat kosong karena orang-orang cenderung menghabiskan istirahat siangnya di luar kantor.
"Tapi keluargamu juga tahu kita hanya berteman bukan? Kenapa harus seragam keluarga juga?" Ceisya sedikit memprotes apa yang Zaki minta. Laki-laki di sampingnya itu terdiam sebentar seolah ingin memberikan jeda perdebatan mereka.
"Tentu, hanya saja ketika aku mengatakan kamu akan menemani aku nanti mereka memasukkanmu ke daftar orang yang akan memakai seragam keluarga dan dirias. Hanya di hari itu, apa masalahnya?" Zaki kembali membujuk rekan kerja sekaligus kawannya itu. Ceisya menatap sebal ke arah Zaki.
"Masalahnya panjang nanti, aku jadi merasa di jebak nantinya." Ceisya kali ini membuat Zaki tersenyum bahkan hampir tertawa tapi laki-laki itu kemudian membuang muka dan tersenyum sebentar.
"Tenang saja, aku akan membuatnya singkat dan tidak panjang. Aku memilih kamu karena kamu lah yang paling aman. Kita berdua saling tahu satu sama lain." Zaki kembali memberikan alasan. Ceisya terdiam sebentar melihat Zaki.
"Iya si, kamu juga yang paling aman untukku. Kita berdua gak mungkin terlibat sesuatu yang lebay dan alay nantinya." Penjelasan Ceisya membuat Zaki mengangguk dan tersenyum lagi.
"Kalau begitu aku makan siang dulu." Zaki berdiri dan kemudian meninggalkan Ceisya di ruangan itu sendirian. Perempuan itu sepertinya tidak tertarik untuk makan siang, ada kopi dan beberapa cemilan sudah dia sediakan di meja. Dia membuka ponsel pintarnya dan kemudian memeriksa media sosial.
"Kamu gak makan Ceis?" Seseorang bertanya sambil berjalan menuju meja di belakang Ceisya.
"Makan, ini." Perempuan itu tersenyum menunjukkan kesopanannya kepada seseorang yang bertanya.
"Anak sekarang memang beda, makannya gak banyak ya? Diet?" Ceisya hanya tersenyum tipis kepada orang yang saat ini sudah duduk di mejanya sendiri.
"Ngirit lebih tepatnya Bu." Ceisya tersenyum menjawab pertanyaan itu dengan candaan. Beberapa orang yang kembali bersama baru saja langsung tertawa mendengar apa yang Ceisya katakan.
"Iya si, anakku juga yang remaja begitu jarang makan kalau pengin beli sesuatu terutama yang berbau K-pop gitu. Saya kurang suka jadi jarang saya turuti." Wanita yang duduk di belakang meja kerja Ceisya kembali bercerita. Ceisya sendiri masih hanya tersenyum dan tidak terganggu sama sekali.
"Memang jamannya, tapi yang paling meresahkan kalau mereka ikut-ikutan gaya pacarannya yang di drama itu. Hati-hati Bu diawasi anaknya." Seseorang yang juga berada di ruangan itu berkomentar.
"Lebih serem cerita tentang pelakor si Bu, jaman sekarang jadi banyak yang pikirannya sempit bahkan remaja begitu juga. Pengin nikah atau jadi apalah gitu karena cape gak mau sekolah dan gak mau ribet kerja." Ceisya masih hanya mendengarkan obrolan di ruangan itu yang sepertinya mulai memanas.
"Tapi jujur si anak sekarang memang lebih cepat dewasa dibandingkan anak dulu." Ceisya mendengarkan komentar lain di ruangan itu. Perempuan itu tersenyum mendengarkan obrolan pegawai lain yang lebih senior darinya.
"Tapi susah juga kalau tidak mengikuti jaman, nanti kalau susah jodohnya bagaimana kan?" Ceisya melirik sedikit sumber suara yang berkomentar seperti itu. Perempuan itu sebenarnya sudah menduga siapa yang berbicara seperti itu dan dia masih hanya diam saja.
"Iya juga si, tapi secara etika dan kultur budaya bahkan agama banyak yang bertentangan. Orang tua sekarang bener-bener harus ekstra pintar untuk mendidik anak-anaknya." Ceisya masih tidak bersuara, baginya pembicaraan seperti ini bisa berakhir menyudutkan dia jika nantinya dia ikut berkomentar. Lagipula dia merasa belum ingin berbagi tentang rumah tangga karena memang tidak ada yang bisa dia bagikan.
Pembicaraan itu berlalu begitu saja, dan hari bahkan hampir sore. Ceisya sudah bersiap untuk pulang karena hari ini tidak terlalu padat pekerjaan, selain itu dia juga ingat janjinya kepada Zaki. Tepat pukul 16.00 Ceisya berdiri dan meninggalkan meja kerjanya. Perempuan itu berjalan menuju ke tempat parkir. Dari jauh dia sudah melihat Zaki di parkiran.
"Sya... " Sebuah suara membuat Ceisya menghentikan langkahnya yang sudah hampir sampai ke tempat dimana Zaki sedang menunggunya. Perempuan itu menoleh dan mendapati sosok yang dia kenal di dekatnya.
"Kamu baru pulang? Aku ada perlu baru saja dan gak sengaja liat kamu di sini." Daniel berucap santai dan tersenyum menjelaskan bahkan sebelum Ceisya bertanya apa-apa.
"Iya, kamu sendiri?" Ceisya bertanya tanpa senyum di wajahnya, dia memperhatikan sekeliling karena sedikit takut jika ada yang memperhatikan mereka.
"Umm... Ada beberapa orang tadi. Menanggapi pengajuan sewa sementara. Tapi mungkin sambil bangun karena kami sudah menemukan tempat." Daniel menjelaskan tanpa terlihat gugup. Ceisya tentu berusaha bersikap sewajar mungkin dengan tersenyum dan mengangguk sedikit.
"So, sabtu besok bisa kita nge-date?" Daniel bersuara sedikit keras, Zaki berjalan mendekat ke arah Ceisya dan Daniel berdiri.
"Temanmu Ceis?" Zaki bertanya sambil melempar senyum kepada Daniel.
"Ah.. Rekan kerja? Saya Daniel, rekan kerja Ceisya dulu." Daniel sama sekali tidak berucap berlebihan dan bersalaman dengan Zaki.
"Begitu, tapi maaf sebenarnya kami berdua sedang ada perlu. Bagaimana jika ngobrolnya lain kali saja. Saya bukan bermaksud tidak sopan tapi, kami benar-benar buru-buru." Zaki terlihat sedikit memaksakan meski ucapannya masih terbilang sopan.
"Ah... Kalau begitu, saya yang meminta maaf. Aku hubungi nanti malam saja ya?" Daniel terdengar tidak mau kalah dengan ucapannya meski dia kemudian tersenyum, mengangguk sedikit dan berbalik menjauh untuk menuju ke mobilnya.
"Mantan pacar atau calon pacar?" Zaki hampir tidak kuat menahan tawa ketika bertanya kepada Ceisya. Perempuan itu tidak menjawab dan kemudian meminta Zaki untuk segera menjalankan motor dengan menupuk punggung laki-laki yang merupakan rekan kerjanya itu.
"Cakep juga, kelihatannya pekerjaannya bagus dan juga sudah mapan. Tapi sepertinya lebih muda sedikit dari kamu?" Zaki kembali berusaha membuat Ceisya berbicara tentang apa yang baru saja terjadi. Perempuan itu masih terdiam sampai mereka berdua tiba di tempat fitting baju dan juga make up untuk besok. Ceisya langsung diminta untuk mencoba beberapa baju yang mungkin dikenakan untuk besok.
"Ini calonnya Mas nya?" Sambil tersenyum pemilik tempat fitting itu bertanya kepada Zaki.
"Calonnya orang Mba." Zaki menjawab singkat membuat pemilik itu tertawa karena lelucon yang Zaki katakan.
"Barusan juga ada yang nyamperin dia di depan saya Mba, mana tahan punya calon begitu." Zaki kembali membuat si pemilik tersenyum dan Ceisya menatap tajam kepadanya.
"Kalau bukan calon, tapi seragaman pasangan terus datangnya bareng." Si pemilik kembali berusaha mengobrol santai dengan mereka berdua.
"Pas aja Mba, saling bantu lah sesama jomblo." Zaki membuat orang lain yang mendengar ucapannya itu tertawa. Sekali lagi Ceisya menoleh dan menatap tajam Zaki yang berada di sampingnya.
"FWB? Masih muda soalnya jadi begitu." Si pemilik kembali menjawab apa yang Zaki katakan.
"Berarti kita terlihat lebih muda dari umur kita gak si?" Zaki menatap Ceisya sambil tersenyum. Ceisya masih terdiam hanya bertukar pandang dengan Zaki.
"Temen kok Mba, benefitnya entah apa dekat sama dia ini. Hampir mirip pajangan yang kadang dibawa-bawa." Ceisya membuat semua orang terlihat canggung setelah mendengar apa yang dia ucapkan. Zaki menoleh tidak percaya dengan apa yang Ceisya ucapkan baru saja.