Ceisya menutup panggilan telepon itu dan tentu saja mau tidak mau dia mendapatkan tatapan dari beberapa orang dan juga Zaki yang menahan tawa.
"Laki-laki itu?" Zaki bertanya perlahan.
"Mba nya kemarin bajunya yang pasangannya Mas ini ya?" Ceisya mengangguk setelah mendengar pertanyaan dari si perias.
"Ke ruang sebelah ya Mba, nanti ada yang bantu ganti bajunya." Ceisya bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Zaki dan juga pertanyaan yang tidak terjawab baru saja.
"Jadi kakak cintanya bertepuk sebelah tangan?" Zaki menatap adik perempuannya yang mengajukan sebuah pertanyaan menggelitik.
"Kamu masih juga tidak mengerti, sebaiknya jangan membahas atau bertanya sesuatu yang seperti itu lagi kepada Ceisya. Apa kamu benar-benar tidak merasa bersalah?" Zaki kali ini terlihat serius menegur adiknya karena tidak ada Ceisya di sana.
"Bukan begitu, aku hanya ingin tahu kenapa kalian sepertinya sangat dekat. Kalau kalian pacaran aku tidak masalah dengan itu. Kalau engga kenapa kakak gak mau aku kenalkan dengan temanku. Kalau kakak suka dengan Mba Ceisya dan butuh bantuanku maka aku akan bantu." Zaki terdiam, wajahnya kali ini seolah kesal dengan kalimat panjang yang baru dia dengar.
"Sudah aku katakan untuk tidak ikut campur, apa kamu masih tidak mengerti? Dan juga pikirkan baik-baik karena kamu harus lebih dewasa mulai saat ini. Pikirkan perasaan orang lain." Zaki berucap pelan tapi sedikit dalam membuat adik perempuannya itu sedikit tertegun. Dia menyadari satu hal saat itu
Zaki duduk di ruang tengah rumahnya yang tentu saja ramai orang sedang menyiapkan acara. Di luar sudah mulai ramai beberapa tamu yang memang masih merupakan saudara. Zaki terdiam memainkan game di ponsel pintarnya menunggu Ceisya berganti baju.
"Jadi setelah ini kita harus apa?" Ceisya keluar dari tempat ganti baju dan menghampiri Zaki yang masih duduk. Laki-laki itu hanya bergeser sedikit masih memperhatikan game di ponsel pintarnya.
"Woy... Kita keluar?" Ceisya kembali bertanya kepada temannya yang masih memperhatikan game di ponselnya.
"Bentar" Jawaban singkat Zaki membuat perempuan yang duduk di sebelahnya itu menepuk punggungnya sedikit keras supaya lebih memperhatikan apa yang Ceisya katakan.
"Iya." Zaki kemudian menekan tombol pause di ponselnya. Dia menoleh melihat Ceisya.
"Cakep girl." Zaki tersenyum memuji perempuan yang duduk di sampingnya itu.
"Hem... " Ceisya kali ini beralih memperhatikan ponsel pintar yang sedari tadi dia pegang.
"Sarapan dulu. Aku laper." Zaki dengan santai berdiri dan menunggu Ceisya berdiri tanpa berbicara apapun.
"Sarapan?" Ceisya akhirnya berdiri juga setelah beberapa menit.
"Mau foto dulu?" Seorang perias yang keluar dari kamar tempat ganti baju bertanya karena melihat Zaki dan Ceisya berdiri bersisian.
"Boleh minta tolong?" Zaki segera menjawab singkat dan kemudian menyerahkan ponselnya setelah menekan icon kamera. Ceisya menatap Zaki seolah sedang melakukan protes dengan pandangannya itu.
"Supaya terlihat wajar bukan?" Zaki berbisik ketika berbalik dan kemudian mendekatkan tubuhnya sedikit ke Ceisya. Mereka melakukan beberapa pose dan perias itu mengembalikan kembali ponsel milik Zaki.
"Yuk sarapan." Zaki bahkan tidak melihat hasil foto mereka dan langsung mengajak Ceisya menuju ke tempat tersedianya makanan. Setelah makan mereka segera menuju ke depan karena tamu sudah mulai berdatangan untuk menyaksikan akad nikah pagi itu.
"Kita di sini saja gak apa-apa?" Zaki menyapa seseorang yang sepertinya adalah saudaranya.
"Mas Zaki kan sebaiknya duduk di depan sana dulu, soalnya keluarga inti." Laki-laki itu sepertinta mengarahkan Zaki untuk masuk lagi menyaksikan akad nikah.
"Yaudah yuk masuk." Zaki mengajak Ceisya masuk kembali ke dalam.
"Apa gak masalah aku ikut duduk di sana?" Ceisya terlihat sedikit canggung dan juga khawatir dengan semua pandangan yang dia terima saat ini. Mereka berdua sampai di tempat duduk untuk keluarga inti di depan. Tentu saja Ceisya menjadi pusat perhatian. Semua orang apalagi saudara jauh Zaki pasti mengira jika mereka memiliki sebuah hubungan yang dekat.
"Ceisya boleh duduk di belakang."Ibu Zaki mencoba untuk lebih perhatian dengan apa yang terjadi. Ceisya mengangguk sedikit lega denga perkataa Ibu Zaki. Setelah menatap Zaki dan laki-laki itu mengangguk perlahan menandakan dia setuju. Ceisya berpindah berjalan pelan ke belakang. Dia kemudian duduk dan memeriksa ponsel pintarnya.
[Kita jadi nonton kan? Kamu sudah ada acara pagi seperti ini?] Ceisya hanya membaca pop up dari chat Daniel dan kemudian berusaha untuk fokua dengan acara yang sudah dimulai itu.
"Mba pacarnya Mas Zaki?" Seorang yang mengenakan baju dengan warna sama dengan Ceisya tersenyum setelah bertanya kepada Ceisya.
"Bukan, kami hanya berteman." Ceisya menjawab singkat dan pelan karena acara memang sudah di mulai.
"Masih teman, mungkin sebentar lagi Zaki nyusul juga." Wanita itu tersenyum sepertinya dia tahu jika apa yang dia pikirkan mungkin saja benar.
"Kami memang hanya teman kerja Bu." Ceisya kembali mengatakan sesuatu untuk menjelaskan kesalahpahaman yang baru saja diucapkan wanita itu.
"Mba kerja di kantor yang sama dengan Zaki?" Wanita di sampingnya itu sepertinya berusaha mencari tahu lebih lagi membuat Ceisya bersikap sedikit lebih hati-hati.
"Iya Bu." Ceisya menjawab singkat dan masih tersenyum. Dalam sebuah keluarga tentu ada beberapa orang yang selalu saja ingin tahu lebih banyak dari orang lain. Karena itulah Ceisya berhati-hati,
"Zaki sama sekali belum pernah mengenalkan perempuan katanya. Tapi dia pernah curhat atau cerita tentang perempuan atau engga Mba?" Wanita itu memberikan pertanyaan yang membuat Ceisya lebih berfikir keras lagi.
"Saya juga pernah berusaha mengenalkan ke Zaki, tapi sepertinya dia tidak tertarik. Bahkan sebelum ketemu dia sudah menolak. Saya pikir dia punya pacar atau calon istri gitu." Wanita itu memberikan pernyataan yang kurang lebih sama seperti adik Zaki.
"Saya tidak terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadi Zaki Bu." Ceisya menjawab dengan serius dan menatap wanita itu dengan seksama.
"Saya tidak bermaksud ikut campur, tapi Zaki kan juga sudah pantas nikah, pekerjaan sudah bagus. Mba nya juga belum menikah?" Ceisya mengangguk dan masih tersenyum meski dia tidak menyukai pertanyaan seperti itu.
"Kalau Mba cocok dengan Zaki kan mungkin bisa dipertimbangkan?" Ceisya masih tersenyum dengan apa yang baru saja dia dengar. Perempuan itu hanya mengangguk karena mengingat dia sedang berada di sebuah acara yang sakral.
Setelah ijab qobul selesai dilaksanakan Zaki langsung berdiri mencari Ceisya.
"Mari Mba mengucapkan selamat untuk pengantinnya." Wanita yang duduk di samping Ceisya sudah berdiri. Ceisya masih duduk dan hanya tersenyum mengangguk perlahan.
"Yuk ke depan." Ceisya berdiri setelah melihat Zaki di sampingnya.
"Zaki, ini pacar?" Wanita itu kembali bertanya ketika melihat Zaki menghampiri Ceisya.
"Bukan Bu Dhe, teman Zaki." Laki-laki itu menjawab singkat dan tersenyum seolah terpaksa. Ceisya tahu jika Zaki juga tidak terlalu suka dengan beberapa pernyataan dan pertanyaan seputar jodoh. Seperti Ceisya.
"Kalau aku gak di sini mereka pasti tidak akan punya banyak pertanyaan untuk kamu seperti itu." Zaki menoleh dan kemudia tersenyum.
"Pasti kamu yang risih dengan pertanyaan dan pandangan mereka." Zaki terdengar santai dan terus berjalan sampai naik ke panggung tempat mempelai berada. Mereka berdua mengucapkan selamat dan kemudian berfoto dengan kedua pengantin.
"Kamu juga kan risih? Karena ini pernikahan adikmu dan kamu belum menikah, pasti tidak mudah untukmu." Ceisya berbisik dan tersenyum menoleh sehingga mereka berdua bertatapan sebentar lalu mencari tempat duduk bagi mereka.
"Justru aku ngajak kamu supaya sama-sama risih." Zaki bahkan tertawa karena ucapannya sendiri itu. Ceisya memukul pelan lengan Zaki karena sedikit merasa kesal dengan apa yang Zaki katakan.
"Aku lebih nyaman bersama seseorang yang juga punya pandangan atau perasaan yang sama. Bukan masalah cinta ya, tapi kamu paham apa yang aku rasakan jadi untuk menghadapi hari yang berat seperti ini, aku butuh kamu." Ceisya bahkan terdiam karena apa yang Zaki katakan baru saja. Benar, orang hanya berbicara tanpa mengerti apa yang dirasaka oleh orang yang mendengar. Apalagi perihal jodoh yang tentu saja tidak mudah dibicarakan baik oleh Ceisya atau Zaki. Jodoh, pernikahan bukan perkara mudah. Jodoh dan pernikahan bisa jadi perkara yang mewah bagi beberapa orang.