Acara selesai pukul dua siang meski masih banyak tamu berdatangan. Perempuan itu memutuskan untuk duduk di sekitar makanan yang tersedia. Dia berusaha menjauh sedikit ketika ada kesempatan. Sedari tadi Zaki tidak membiarkan semua itu terjadi. Laki-laki itu sepertinya juga waspada dengan perjodoha yang mungkin terjadi. Atau itulah sebabnya dia mengajak Ceisya bersamanya di acara ini. Ceisya mengambil jajanan pasar yang sedikit tersedia dan duduk di kursi sebuah meja yang kosong. Dia meletakkan makanan dan minuman yang dia ambil. Setelahnya dia memeriksa ponsel pintarnya sambil mengamati sekeliling.
Tidak lama setelah dia memeriksa beberapa chat, ponsel pintarnya itu berdering perlahan melantunkan lagu yang tentu saja dia kenal.
"Hem?" Ceisya menjawab panggilan suara itu dengan singkat.
"Pindah video oke?" Suara seseorang yang tentu saja dia kenal. Belum sempat Ceisya menjawab layar ponselnya sudah berubah.
"Kamu kok pakai baju begitu? Lagi acara apa si?" Daniel terlihat sedikit berantakan dan sedang membetulkan rambutnya di layar ponsel milik Ceisya. Perempuan itu menempatkan ponselnya dengan di topang oleh tempat tissu yang ada di meja tempat dia duduk.
"Jadi nonton kan?" Daniel kembali bertanya karena Ceisya tidak menjawab pertanyaan yang diberikan olehnya.
"Jadi, kamu bisa jemput aku? Soalnya aku gak bawa motor ke sini." Ceisya memikirkan sebuah ide untuk menunjukkan Daniel kepada keluarga Zaki.
"Jemput dimana? Aku si oke aja. Share lokasi aja." Daniel dengan santai tersenyum di layar itu kepada Ceisya.
"Bentar lagi aku ganti baju dan hapus make up. Kamu siap-siap gih." Ceisya sepertinya serius dengan apa yang dia katakan karena perempuan itu tidak menunjukkan senyum di wajahnya.
"Oke, aku siap-siap bentar aja kok." Daniel menjawab singkat. Samar terdengar ketukan di pintu rumah tempat Daniel berada.
"Eh... Bentar ya." Daniel kemudian berdiri dan berjalan ke samping sepertinya hendak membuka pintu karena Ceisya mendengar suara pintu dibuka. Perempuan itu kembali melihat ke sekeliling. Zaki sepertinya masih terlibat obrolan santai dengan teman adiknya. Ceisya berhasil membuat mereka sibuk dengan obrolan mereka berdua.
"Kak Daniel, aku bawain kue. Kebetulan aku buat terus inget Kak Daniel." Sebuah suara membuat Ceisya penasaran dan kembali mengamati layar ponsel. Tentu saja tidak terlihat apapun di sana karena pembicaraan terjadi di luar kamera ponsel milik Daniel.
"Terimakasih, masuk dulu." Daniel terdengar mempersilahkan tamu yang hanya terdengar suaranya itu. Ceisya tidak bisa menebak siapa yang datang. Tapi suaranya seperti seseorang yang tidak dia kenal. Ada derap langkah perlahan masuk ke rumah itu. Tapi di layar Ceisya ponsel pintar Daniel segera diraih oleh sebuah tangan. Layar ponsel Ceisya kali ini berubah lagi.
"Sya, nanti aku jemput. Kamu tunggu aja ya. Kalauudah selesai kabarin." Daniel kemudian menutup panggilan suara dengan Ceisya. Perempuan itu terdiam dan kemudian tersenyum sendiri.
"Dasar laki-laki, pasti akan begitu jika tamunya perempuan." Ceisya bergumam menebak apa yang terjadi di sana.
"Kenapa? Laki-laki siapa?" Zaki tiba-tiba sudah berada di sisi Ceisya dan menarik kursi untuk duduk. Ceisya hanya menoleh dan tidak menjawab pertanyaan dari laki-laki di sebelahnya itu.
"Kita masuk yuk, kamu juga pasti sudah lelah ingin ganti baju." Zaki mengajak Ceisya masuk ke dalam rumah karena acara sudah selesai. Tamu yang masig berdatangan tentu tidak ada hubungannya dengan mereka berdua.
"Kalian berdua pasti lelah. Sudah bisa ganti baju dan istirahat." Ibu dari Zaki menyapa putranya dan Ceisya ketika melihat keduanya masuk ke dalam rumah.
"Zaki mau antar pulang Ceisya setelah ini ya Bu." Ceisya terdiam dan tidak bisa menyela pembicaraan diantara ibu dan anak itu.
"Iya, nanti sekalian bawa beberapa kue dan makanan. Ibu akan siapkan." Ibu Zaki sepertinya sangat setuju dengan apa yang akan dilakukan anaknya itu.
"Terimakasih ya Ceisya sudah membantu kami." Sekalipun Ceisya tidak mengerti dia sudah membantu apa, perempuan itu hanya mengangguk pelan dan tersenyum sebagai sebuah jawaban.
"Ya sudah, kita ganti baju dulh Bu." Zaki kemudian berjalan masuk melewati Ibunya. Ceisya menuju ke tempat terpisah untuk berganti baju sendiri. Setelah selesai berganti baju Ceisya keluar masih dengan riasan lengkap yang cukup tebal,
"Ada yang punya pembersih make up gak?" Perempuan itu bertanya kepada Zaki yang sudah duduk di sofa ruang tengah rumah dengan santai.
"Aku cariin bentar." Zaki berdiri hendak mencari pembersih make up untuk Ceisya.
"Aku ada kok." Sebuah suara terdengar familiar dan lembut. Ceisya menoleh pada sumber suara. Raya, perempuan yang baru saja dikenalkan kepada Zaki menunjukkan botol pembersih make up yang dia punya.
"Apa gak masalah kalau Ceisya pakai?" Zaki bertanya dengan nada bicara yang datar seolah dia tidak peduli dengan kebaikan perempuan di hadapannya itu.
"Gak apa, aku juga kebetulan mau membersihkan make up, bareng aja hayuh." Raya mendekati Ceisya dan duduk di sofa. Zaki menarik kursi lain dan sudab duduk di hadapan Ceisya.
"Ngapain?" Ceisya bertanya karena menurutnya sikap Zaki sedikit aneh.
"Mau bantu bersihin." Zaki kemudian mengambil kapas milik Raya dan juga pembersih make up. Dia menuangkan sedikit ke kapas tersebut dan kemudian menyapukan kapas ke wajah Ceisya perlahan. Raya tanpa sepengetahuan mereka berdua memperhatikan apa yang sedang terjadi.
"Make up tebel bener nih?" Zaki berkomentar karena hanya beberapa usapan dia harus berganti kapas lain.
"Biar aku sendiri saja." Ceisya mulai merasa jika Raya memperhatikan mereka berdua.
"Gak ada cermin, nanti lama bersihinnya." Zaki tetap tidak menuruti apa yang Ceisya katakan. Perempuan itu menatap Zaki memberikan kode jika Raya mungkin memperhatikan mereka berdua.
"Bisa pakai Hp." Ceisya berusaha menepis tangan Zaki yang masih mencoba membersihkan wajahnya dengan teliti.
"Sekali ini saja kamu nurut. Aku juga bisa kok bantu kamu. Anggap saja karena kamu di sini hari ini maka aku harus membayar." Zaki membuat Ceisya tidak ingin meneruskan perdebatan mereka berdua. Jika diteruskan, maka Raya mungkin tidak akan berusaha untuk dekat dengan Zaki lagi.
Selesai membersihkan make up Ceisya menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Dia tidak sengaja bertemu dengan Ibu Zaki ketika dia keluar dari kamar mandi.
"Ceisya oleh-olehnya dibawa ya." Ibu Zaki kemudian meminta Ceisya mengikutinya dan memberikan tas berukuran sedang kepada Ceisya.
"Terimakasih menemani Zaki hari ini. Ibu harap Ceisya bisa tetap jadi teman untuk Zaki, meskipun dia terlihat mudah bergaul tapi tidak banyak perempuan yang tahan dengan sikapnya." Ibu Zaki tersenyum meraih tangan Ceisya dan menatap perempuan itu. Ceisya tidak mengatakan apapun dan lagi-lagi hanya tersenyum menatap Ibu dari rekan kerjanya itu. Mereka berdua kemudian keluar menuju ruang tengah rumah itu dan mendapati Zaki sedang sibuk dengan ponsel pintarnya. Ceisya duduk di samping Zaki yang masih tidak menghiraukannya. Perempuan itu mengenakan sunscreen dan lipstik ke wajahnya.
"Aku di jemput saja ya?" Ceisya menghadap Zaki ketika mulai berbicara.
"Dijemput siapa? Aku antar sajalah." Zaki masih sibuk dengan game di ponselnya meski dia menjawab dengan jelas.
"Daniel, aku ada janji sama dia." Ceisya menjawab dengan jujur tanpa menutupi apapun.
"Daniel?" Zaki mengalihkan pandangannya dari ponsel pintar ke wajah Ceisya.
"He em. Aku mau nonton." Ceisya menjawab tanpa ragu membuat Zaki kali ini menatap perempuan itu.
"Aku antar ke tempat nontonnya." Zaki tersenyum dan kemudian beralih ke ponsel pintarnya lagi.
"Gak usah lah, aku sudah bilang dia bisa jemput di sini." Ceisya menolak apa yang Zaki sarankan.
"Aku antar aja, gak enak kalau dia yang jemput kamu di sini." Zaki kembali mencoba membujuk Ceisya. Perempuan itu diam sejenak dan kemudian menatap Zaki yang sepertinya juga bermaksud baik.
"Kalau begitu antar aku ke rumah aja, sekalian kamu jadi tahu rumahku." Ceisya tersenyum juga menemukan solusi yang sedikit bagus. Dia juga bisa mengejutkan Daniel dan mencari tahu apakah tamu tadi masih ada di sana atau tidak.
"Setuju, yuk sekarang." Zaki berdiri dan Ceisya juga ikut berdiri melangkah keluar dari rumah itu.
"Mas Zaki mau kemana?" Suara adik perempuan Zaki membuat laki-laki itu berhenti dan menoleh melihat adiknya.
"Nganterin Ceisya." Zaki menjawab singkat.
"Sekalian anterin Raya ya Mas." Di sebelah adik perempuan Zaki itu Raya sudah berdiri dan tersenyum pada Zaki.
"Dimana rumahnya?" Zaki bertanya singkat lagi-lagi benar-benar terlihat tidak peduli.
"Daerah kota." Raya menjawab singkat dan masih tersenyum.
"Kalau bagitu bisa, kami juga mau ke arah sana." Ceisya langsung menjawab sehingga Zaki mau tidak mau menerima Raya ikut bersama dengan mereka.
"Raya duduk di depan saja." Ceisya langsung menuju ke pintu belakang mobil.
"No, lu depan." Zaki yang sudah berada di kursi kemudi masih belum membuka kunci general mobil. Raya juga masih terdiam di depan pintu mobil.
"Zaki, please." Ceisya kembali meminta Zaki untuk sedikit lebih ramah.
"Bukan begitu caranya. Cepet duduk depan." Zaki seolah memberikan perintah yang tidak bisa ditolak oleh Ceisya. Jika bukan karena ada Raya di sana, Ceisya pasti akan melawan. Perempuan itu tidak tega jika perdebatan mereka akan menyakiti Raya secara tidak langsung. Ceisya menuruti dengan berjalan menuju kursi penumpang di sebelah kursi kemudi di depan. Raya tersenyum dan membuka pintu kursi belakang mobil.
"Raya bisa share lokasi?" Zaki langsung bertanya kepada Raya ketika mereka bertiga sudah berada di dalam mobil.
"Antar aku dulu saja, aku buru-buru." Ceisya berusaha membantu agar Raya dan Zaki menjadi lebih dekat.
"Raya dulu, sebentar lagi malam gak enak sama keluarganya." Zaki benar-benar punya alasan yang sangat bagus dan sulit untuk di perdebatkan. Mereka bertiga akhirnya menuju rumah Raya terlebih dahulu. Setelahnya mereka menuju ke rumah Ceisya.
"Sepertinya sedang ada tamu?" Zaki berucap asal karena melihat pintu rumah terbuka. Mereka berdua kemudian turun dari mobil. Ceisya berjalan perlahan agak ragu, dia takut mendapati sesuatu yang mungkin tidak baik untuk dilihat.
Tok... Tok... Tok...
Zaki mengetuk pintu yang terbuka meski dia melihat ada dua orang sedang berbicara di ruang tamu rumah itu. Daniel berbalik karena dia duduk membelakangi pintu rumah.
"Kamu Sya?" Daniel berdiri dan kemudian mendekati Ceisya yang sudah masuk di depan pintu rumah itu.
"Ada tamu rupanya, kalau silahkan dilanjutkan." Ceisya dengan santai masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur untuk meletakkan oleh-oleh yang di berikan oleh Ibu Zaki tadi.
"Sebentar." Daniel mengikuti Ceisya masuk ke dapur yang tidak jauh dari ruang tamu.
"Katanya mau dijemput?" Daniel bertanya ketika Ceisya sedang memasukkan makanan ke dalam lemari pendingin.
"Sepertinya kamu sibuk, jika kita tidak jadi nonton aku akan langsung pulang sekarang." Ceisya tersenyum dan kemudian hendak meninggalkan dapur tanpa mendengar jawaban dari Daniel.
"Kok gitu by, jadilah. Aku kenalkan." Daniel tersenyum dan kemudian menggandeng Ceisya menuju ke ruang tamu. Perempuan itu mengibaskan tangan Daniel meski dia tetap mengikuti ke ruang tamu.
"Ini Clara, dia pemilik toko kue di ujung jalan sana." Daniel memperkenalkan seorang perempuan dengan rambut di warnai pastel di ujung-ujung rambutnya yang terurai rapi. Perempuan itu mengulurkan tangannya. Terlihat kuku-kuku tangan yang terawat dan bahkan di warnai.
"Ini Ceisya, dia pemilik rumah ini dan orang yang paling dekat dengan aku." Zaki melihat ke arah Ceisya yang sepertinya tidak terkejut dengan apa yang Daniel katakan.
"Aku Zaki, teman kerjanya Ceisya." Zaki memecah suasana canggung yang baru saja terjadi di ruangan itu. Daniel dan Clara bergantian berjabat tangan dengan Zaki.
"Kebetulan aku ada acara dengan Ceisya, jadi mungkin kita lanjutkan obrolannya di lain waktu?" Daniel langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Clara meninggalkan rumah. Perempuan itu kemudian berdiri dan tidak berapa lama langsung pamit seperti dugaan Daniel.
"Bisa aja bro, cewe cantik begitu kenapa di tolak? Atau sedang tarik ulur?" Zaki langsung menyatakan komentarnya setelah Clara meninggalkan rumah itu.
"Jangan ngaco, aku kan sedang dekat dengan Ceisya." Daniel seolah membenarkan hubungan diantara dirinya dan Ceisya di hadapan Zaki.
"I know Ceisya, dan aku bisa liat jika kalian berdua tidak punya hubungan seperti itu." Zaki langsung memberikan penilaiannya.
"Sekarang mungkin belum, nanti kan siapa yang tahu." Daniel seolah bertahan pada apa yang menjadi pendapatnya.
"Jadi kamu mau ikut kita nonton?" Ceisya bertanya kepada Zaki untuk mengalihkan pembicaraan diantara dua laki-laki yang merupakan temannya itu.
"Gak deh, aku mau pulang. Cape. Tahu kamu pergi sana dia si aku lega. Aku balik dulu ya." Zaki berdiri dan kemudian segera meninggalkan rumah itu.
"Aku siap-siap dulu ya, kamu order tiket pakai hpku aja." Daniel menyerahkan ponselnya dan membuka aplikasi pemesanan tiket. Ceisya fokus dengan pilihan dan jam tayang film di bioskop.
"Kita nonton jam berapa? Jam delapan?" Ceisya bertanya denhan suara yang sedikir keras kepada Daniel yang berada di kamar depan.
"Hem, boleh." Daniel sudah keluar dari sana dan menjawab singkat. Ceisya kembali fokus memilih film.
"Selesai." Ceisya tersenyum dan mencari dimana Daniel berada. Laki-laki itu muncul dari arah belakang rumah.
"Yuk berangkat."Daniel tersenyum menerima ponsel pintar dari Ceisya. Mereka berdua kemudian mengunci pintu dan masuk ke dalam mobil.