Bunyi nyaring dan berulang-ulang dari ponsel yang ada di tempat tidur tidak kunjung berhenti karena si pemilik ponsel sepertnya belum tersadar dari mimpinya. Daniel mengeliat sedikit dan mencob membuka matanya. Gelap hampir bercampur dengan terang dan akhirnya dia meraih ponsel pintar untuk mematikan alarm yang dia pasang semalam. laki-laki itu masih berjuang membuka matanya. Daniel menyalakan lagi ponselnya dengan menekan ibu jari pada samping ponsel pintarnya. Setelah melihat lagi layar ponselnya dia kemudian duduk.
"Kalau saja si laki-laki itu gak buat masalah sama Ceisya mungkin aku gak perlu ribet untuk cari klien hari ini." Daniel menggerutu karena dia harus bangun pagi. Kemarin sebenarnya dia sudah fix akan bekerjasama dengan Anang, namun karena persoalan Anang dan Ceisya, Daniel memutuskan untuk membatalkan semuanya itu.
"Kenapa dia harus berbicara sekasar itu dengan Ceisya. Bahkan Ceisya juga sangat kesal dengan laki-laki itu." Daniel kembali menggerutu meski kali ini dia sudah berdiri dan mulai berjalan keluar dari kamarnya dia duduk di sofa ruang tamu. Ada sebuah pesan yang laki-laki itu baca karena terkejut melihat pop up pesannya.
"Masih aja si laki-laki gak jelas ini minta maaf dan mau tetap bekerjasama? Bikin kesel aja pagi-pagi." Daniel kembali menggerutu. Karena sudah terlanjur dibaca, kalimat permintaan itu membuat Daniel berfikir lagi.
"Ceisya pasti tidak masalah jika aku bekerjasama dengannya. Hanya saja aku juga kesal dan malas bekerja denganya." Daniel meletakkan ponsel pintarnya sambil berfikir sejenak.
"Kalau dia tidak terlalu kejam, aku mungkin bisa mempertimbangkannya. Tapi dia terdengar sangat kejam ketika membicarakan masa lalu Ceisya di tempat umum seperti itu. Bagaimana caranya aku bisa bertoleransi dengan orang yang begitu." Daniel masih bicara sendiri di pagi hari itu. Dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu dan setelahnya dia duduk di sofa lagi karena masih merasa terlalu dini untuk berangkat bekerja.
"Mungkin aku harus bertanya kepada Ceisya dulu?" Daniel kembali bertanya pada dirinya sendiri. Saat dia hendak menghubungi Ceisya untuk bertanya, Anang sudah lebih dahulu menghubungi Daniel. Laki-laki itu melewatkan panggilan pertama dan kedua. Panggilan ketiga terpaksa dia terima meski dia tidak terlalu ingin berbicara dengan laki-laki yang entah mengapa mmbuatnya meras bersalah.
"Selamat pagi?" Daniel menjawab panggilan telepon tersebut dengan bahasa yang cukup resmi karena memang sudah masuk jam kantor meski dia masih berada di rumah.
"Selamat pagi Pak Daniel. Mengenai kejadian kemarin bisakah saya memberikan penjelasan secara laangsung hari ini?" Anang sepertinya sedang meminta kesempatan lagi untuk bisa mendapatkan kontrak dengan perusahaan tempat Daniel bekerja.
"Maaf Pak, untuk sekarang ini, saya juga harus mengurus banyak hal lainnya. Jadi sepertinya tidak ada yang perlu saya dengar lagi dari anda." Daniel dengan tegas langsung menolak.
"Maaf ya Pak, bukannya saya ingin menggurui, tapi bukankah Bapak terlihat tidak profesional jika mengutarakan hal tersebut sebagai alasan kepada pihak perusahaan untuk tidak melakukan kerjasama dengan saya? Mungkn bisa dikatakan itu adalah masalah pribadi Bapak?" Anang sepertinya ingin mendesak Daniel yang tidak merasa terintimidasi.
"Mungkin sebaiknya ini jadi pembelajaran bagi Bapak supaya tidak seenaknya juga melakukan hal yang tidak pantas di tempat umum. Menurut saya itu bukanlah sekedar kepentingan pribadi." Daniel masih tidak menerima argumentasi dari Anang tentang kejadian di tempat makan siang kemarin.
"Biarkan saya meminta waktu Bapak dan menjelaskannya supaya bapak tidak langsung menolak seperti ini. Kita sudah sampai deal harga, bukankah akan menambah pekerjaan untuk Bapak jika harus melakukannya dari awal?" Anang masih saja tetap berusaha keras. Daniel terdiam karena dia tidak ingin lagi berdebat.
"Please Niel, tolong beri saya kesempatan." Kali ini Anang memohon dengan bahasa yang lebih casual. Daniel terdiam lagi meski dia sedang berfikir apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Tunggulah sebentar, nanti aku hubungi lagi." Daniel menutup penggilan itu dan kemudian berdiri. Dia mengambil laptopnya di kamar dan kemudian membuat kopi. Pagi ini di tidak merasa begitu lapar jadi dia tidak membuat atau membeli sarapan untuk dirinya sendiri. Daniel kemudian duduk lagi sambil membawa kopinya ke ruang tamu. Dia menyalakan laptopnya sembari memerksa beberapa pesan di ponsel pintarnya.
"Memang seharusnya deal hari ini, dan aku sudah melaporkan semuanya serta sudah acc. Dana akan turun sekitar satu atau dua minggu dan kemudian ita bisa melakukan rencana seperti yang aku buat. Jadi haruskah aku mendengarkan penjelasan dari Anang? Aku yakin Ceisya tidak akan keberatan. Tapi apa aku benar-benar harus begitu?" Daniel kembali merenungkan apa yang dikatakan oleh Anang baru saja. Dia bingung karena ketika memeriksa kembali dia sadar bahwa dia sudah melakukan banya filter untuk tender ini.
"Jika aku mengirimkan pesan pada Ceisya pagi ini pasti akan mengganggunya. Mungkin sebaiknya aku dengarkan dulu penjelasan dari Anang itu." Daniel kembali bergumam sendiri. Dia memegang ponselnya cukup lma dan berfikir.
"Oke, kita bisa ketemu di tempat biasa jam 11.00 nanti." Tanpa mendengarkan jawaban dari Anang, Daniel menutup panggilan telepon yang dia lakukan sebentar itu. Setelah menghubungi Anang, Daniel kemudian bersiap untuk keluar. Ketika dia sudah selesai bbersiap dan hendak keluar dari rumah, panggilan telepon masuk.
"Ya?" Daniel duduk kembali di ruang tamu untuk menerima panggilan telepon itu.
"Sibuk?" Suara seorang perempuan memberikan pertnyaan singkt kepada Daniel.
"Baru mau berangkat, ada sesuatu yang harus dibicarakan tentang proyek pembangunan pabrik." Daniel menjawab sambil menjelaskan.
"Nah itu juga yang ingin aku konfirmasi. Bapak minta kamu menghubungi dia perihal ini. Kalau kamu belum keluar, gimana kalau meeting sebentar?" Suara peremuan itu seolah memberikan saran yang tidak mungkin bisa Daniel tolak.
"Oke, bentar." Daniel kemudian menyalakan laptopnya dan tentu saja membuka aplikasi untuk mereka meeting. Orang yang Daniel lihat dilayar adalah orang yang masih sama. Sepertinya tidak semua orang berada di kantor, karena mereka memiliki latar belakang yang berbeda.
"Gimana Niel?" Bapak langsung bertanya dan membuat Daniel tersenyum. Dia kemudian melihat ke arah ponsel pintarnya untuk membuka sebuah file laporan.
"Sebenarnya harusnya sudah deal dan tanda tangan hari ini, tapi sepertinya ada sesuatu yang harus saya periksa dulu. Ada banyak hal yang menurut saya mungkin harus dikonfirmasi meski bukan dari segi pekerjaan." Daniel mencoba menjelaskan meski dia sebenarnya bingung dengan apa yang terjadi.
"Lho kok begitu? Ini kan pekerjaan? Dan juga sudah harus tepat waktu lho. Kita harus berpacu dengan waktu. Kenapa jadi bukan masalah pekerjaan?" Bapak kembali bertanya karena dia merasa Daniel mungkin bingung karena bekerja sendirian.
"Biasanya kita juga memeriksa sikap dari orang yang kita ajak kerjasama untuk melihat apa mungkin dia konsisten atau tidak dalam menjalankan proyek. jadii saya sedang mencari tahu perihal ini." Daniel kembali menjawab meski dia sedikit ragu dengan penjelasan yang dia berikan.
"Bagaimana bisa? Kamu baru menilai semuanya itu ketika akan tanda tangan kontrak?" Bapak terlihat kesal dan Daniel makin sering menunduk meski dia juga mencoba untuk tersenyum.
"Ini memang jadi kesalahan saya si Pak, karena itu, saya juga berusaha menyelesaikannya hari ini juga. jadi nanti sore saya bisa memberikan laporan." Daniel tterdengar serius dengan apa yang dia utarakan. Bapak terlihat cukup kecewa di layar laptop Daniel. Laki-laki itu hanya bisa menampakkan senyum supaya tidak di salahkan.
"Baiklah, tapi jangan sampai beda minggu ya. Minggu ini selesaikan konrak tentang proyek." Bapak terlihat serius dengan apa yang diikatakannya. Daniel mengangguk perlahan.
"Oh Iya Niel, soal nilai kontrak dan cara pembayaran juga tolong diperhatikan." Seorang perempuan dii kotak nomer 3 dari sebelah kanan memberikan peringatan kepada Daniel.
"Tentu, aku bahkan sudah menuliskan sesuai dengan bugdet kita, kemungkinan besar tidak ada perubahan." Daniel menjelaskan dengan baik lagi pekerjaannya. Mereka yang berada di ruang virtual bersama dengan Daniel mengangguk perlahan mengakui suksesnya Daniel mengurus proyek yang bahkan tidak mendapatkan bantuan dari pihak-pihak yang biasa melakukannya. Ruang meeting virtual kemudian ditinggalkan dan dia bergegas untuk ke tempat dimana dia janji bertemu dengan Anang. Daniel mengendarai mobilnya perlahan meski dia sudha telat 15 menit dari waktu dia berjanji akan bertemu dengan Anang. Laki-laki itu sebenarnya enggan, meski dia akhirnya setuju.
Daniel tiba di tempat perjanjian dengan Anang 30 menit setelah waktu janji temu yang seharusnya. Dia berjalan mencari dimana Anang berada.
"Jika dia sudah pergi itu lebih baik." Daniel bergumam pelan sambil berjalan. Tidak sesuai dengan dugaan Daniel Anang sudah berdiri dan melambaikan tangan. Daniel kemudian bergegas menemui orang tersebut.
"Setidaknya jika memang harus mendengarkan omong kosong, lebih cepat akan lebih baik." Daniel kembali bergumam sebelum akhirnya duduk di depan Anang yang tersenyum mengajaknya berjabat tangan.
"Jadi bagaimana?" Daniel langsung bertanya dengan nada bicaranya yang dingin dan hampir tidak tersenyum.
"Sebentar bagaimana kalau kita pesan dulu?" Anang seolah berusaha mencairkan suasana. Daniel terdiam dan kemudian mengangguk tanpa senyum. Anang menyebutkan beberapa pesanan yang dia inginkan.
"Silahkan anda mau pesan apa?" Anang menatap Daniel masih dengan senyum di wajahnya.
"Air putih dingin saja." Daniel seolah benar-benar menutup kesempatan yang mungkin diharapkan oleh Anang dari pertemuan ini dengan memesan minuman seperti itu. Pelayan kemudian memeriksa kembali pesanan mereka dan meninggalkan mereka berdua.
"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena kejadian kemarin itu. Sebenarnya saya hanya sedikit becanda dengan kolega saya itu. Saling sindir biasa lah. Lagi pula dia memang bersalah karena sikapnya begitu." Anang tidak tahu jika Daniel mengenal Ceisya bahkan lebih dari dirinya. Daniel tidak bereaksi dengan apa yang Anang katakan.
"Perempuan itu memang pantas mendapat kecaman seperti itu. Dia pergi dengan banyak laki-laki dan juga yah mempermainkan mereka. Wajar juga si jika dia belum menikah." Daniel mulai kesal dengan apa yang dia dengar. Apalagi Anang terus saja tersenyum seolah apa yang dia katakan adalah sesuatu yang pantas untuk ditertawakan. Daniel menatap tajam Anang yang tidak tahu apa-apa. Laki-laki itu tiba-tiba merasa terintimidasi dengan tatapan Daniel.
"Saya tidak bermaksud merendahkan perempuan. Dia memang berbeda, mungkin tampilannya polos dan sangat menarik tapi dia itu mengerikan dalam mempermainkan laki-laki." Kali ini Daniel sudah berdiri dan hampir pergi.
"Sebentar, please Niel, aku mengira kita sangat cocok dan juga semua sudah terencana dengan sangat matang. Dia memang perempuan sial!" Daniel hendak berbalik dan memukul Anang tetapi dia mengepalkan tangannya dan menahan diri. Daniel berbalik dan menatap tajam laki-laki yang baru saja mengatakan hal buruk tentang Ceisya itu.
"Saya rasa anda salah paham tentang kerjasama dan kedekatan kita." Daniel berbalik lagi dan sudah membelakangi Anang.
"Sebentar, saya tidak mengada-ada tentang semua ini. Perempuan itu memang mengerikan. Dia bahkan pernah berpacaran dengan dua orang yang saling kenal. Aku dengar juga dia mendekati dua orang yang masih saudara. Perempuan itu terkenal di kalangan kami." Ananh kembali memberikan pembelaan kepada dirinya sendiri.
"Ceisya Damayanti." Daniel menyebutkan sebuah nama perlahan dan kemudian berbalik. Anang terlihat kebingungan.
"Maksudnya?" Anang tidak terlalu mendengar apa yang Daniel katakan.
"Ceisya Damayanti, bahkan ketika dia masih bekerja bersama saya, saya selalu membela dia. Mungkin dia punya masa lalu, tapi dia sama sekali tidak murahan. Jadi tolong jaga ucapan dan sikap anda." Daniel kali ini memberikan peringatan yang cukup jelas. Anang terkejut karena mendengar apa yang dikatakan oleh Daniel.
"Anda kenal dengan Ceisya?" Anang terlihat gugup karena merasa Daniel pasti mengenal Ceisya.
"Setidaknya saya bisa tahu jika apa yang anda katakan itu tidak benar. Karena itu saya sama sekali tidak ingin meneruskan kerjasama yang sudah kita sepakati. Lagi pula saya belum menandatangani apapun." Daniel kembali menentukan jika dia tidak akan memikirkan ulang lagi keputusannya.
"Sebentar, biar saya luruskan." Anang berusaha menghentikan Daniel yang sudah berjalan meninggalkan meja mereka dengan mantap tanpa menoleh lagi.
"Pak Daniel!" Anang sedikit memekik dan dia berlari menyusul laki-laki yang terus berjalan lebih cepat keluar dari tempat makan itu karena merasa tidak enak membuat kehebohan dengan kejadian seperti itu di tempat umum.
"Pak Daniel!" Anang berhasil membuat Daniel berhenti karena dia menyusul Daniel dan sudah berada di depan laki-laki itu. Daniel menatap malas Anang yang ada di hadapannya.
"Kalau begitu saya minta maaf, saya sama sekali tidak berfikir jauh dan hanya mengandalkan emosi saya yang memang tidak terkendali." Daniel hanya tersenyum sinis saat melihat Anang memohon dengan maaf yang sama sekali tidak ingin dia ucapkan. Daniel menggeleng dan hendak berlalu lagi.
"Saya akan memperbaiki sikap saya." Anang kembali menghentikan Daniel.
"Minta maaf lah." Daniel berucap singkat sambil menatap tajam Anang yang tidak menyerah.
"Tentu, saya minta maaf atas sikap saya kemarin dan berjanji tidak akan mengulangi semuanya itu." Anang terlihat enggan, tapi dia berusaha menyingkirkan semuanya itu. Proyek ini juga penting baginya karena nilainya tidak main-main.
"Bahkan jika anda menginginkan saya untuk berlutut." Anang menghentikan kalimatnya dan hendak berlutut.
"Minta maaf ke Ceisya, jika perempuan itu memberikan maafnya maka kita akan menjalankan kerjasama ini. Jika tidak maka semuanya akan berakhir." Anang terdiam, dia merasa tidak terima jika harus mengucapkan maaf kepada Ceisya.
"B-baiklah... Tapi aku akan menemui Ceisya sendirian." Anang akhirnya membuat Daniel tersenyum dan kemudian dia meninggalkan laki-laki itu. Daniel membayangkan jika Ceisya akan senang karena orang yang membuatnya kesal kemarin akan meminta maaf kepadanya hari ini.