"Bukankah ini sangat tidak masuk akal? Tapi bagaimana perempuan seperti itu mengenal orang yang cukup penting?" Anang sedang menggerutu di ruang kantornya. Dia kemudian menyandarkan kepalanya sebentar ke sandaran kursi meja kerjanya. Laki-laki itu terdiam dan kemudian meeraih ponsel pintarnya. Dia memikirkan bagaimana harus menemui Ceisya. Dia sendiri tidak yakin jika perempuan itu mau bertemu dengannya. Padahal sore jug belum datang tapi Anang hampir merasakan kegelapan. Ponsel pintarnya berbunyi. Laki-laki itu menatap langit-langit ruangannya yang lengang. Dia menghela nafas cukup panjang sampai akhirnya memutuskan untuk menatap layar ponselnya dan menggeser gambar telepon berwarna hijau di sana.
"Sudah kamu tanggani?" Suara berat seseorang terdengar dan seketika membuat Anang terlihat terintimidasi.
"Iya Yah, besok pasti orang itu sudah tanda tangan perjanjian proyek." Anang menjawab dengan berhati-hati.
"Kamu tahu ini nilainya besar, jangan sembarangan lagi. Bukankah istrimu juga sedang mengandung? Pikirkan biaya yang kamu butuhkan. Jangan seenaknya melepaskan kesmpatan." Suara berat itu lagi-lagi memberikan nasehat kepada Anang. Meski laki-laki itu tidak terlihat senang dengan apa yang dia dengar, dia menerima apa yang dikatakan lawan bicaranya di panggilan suara itu.
"Apa Ayah yakin dengan proyek ini bisa menganggkat nama perusahaan kita? Ada banyak juga proyek dengan beberapa pihak dari luar kota bukan? Dan perusahaan ini juga tidak terlalu besar." Anang kembali mencoba beberapa peluang yang mungkin bisa dia dapatkan. Dia sebenarnya ingin orang lain yang menanggani kontrak ini.
"Bukankah kamu yang kemarin dengan yakin bisa mendapatkan proyek ini? Apa kamu benar-benar tidak ingat jika kamu sendiri yang mengatakan jika kamu sanggup?" Kali ini terdengar suara dengan anada bicara yang meningkat.
"Baik Yah." Anang hanya bisa menjawb singkat karena tidak ingin menambah masalahnya sendiri.
"Ya sudah." Suara di telepon itu menghilang dengan kalimat singkat di akhir percakapan. Anang kembali terlihat kesal. Dia hampir saja melemparkan ponsel pintarnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa kau harus menemui perempuan itu secara pribadi?" Anang kemudian bangkit dari tempat duduknya setelah memutuskan. Bagaimanapun juga dia memang berniat menghadapi semuanya itu. Dia harus bisa menyelesaikan persoalan yang memang tidak mudah ini.
"Permisi Pak." Sekretarisnya memina ijin masuk ketika Anang hendak keluar dari kantornya.
"Iya, ada berkass?" Anang bertanya karena dia buru-buru mengejar waktu.
"Bukan Pak, ini Ibu bertanya apakah Bapak bisa melungkan waktu tentang syukuran tujuh bulanan?Dan juga ada daftar orang-orang yang hendak diundang." Sekretarisnya itu kemudian memberikan map berisi tentang acara dan juga daftar undangan. Anang melihat isi map dengan enggan. Tentu saja acara seperti ini memberikan beban kepadanya. Dia sama sekali tidak pernah suka mengumpulkan orang.
"Apa aku boleh menambahkan beberapa orang yang akan diundang? Dan juga, bisakah kamu menyiapkan undangannya dalam waktu singkat saat ini?" Anang entah mengapa tiba-tiba terfikirkan sebuah ide yang menurutnya mungkin sangat menarik.
"Sepertinya masih bisa, Ibu hanya mengatakan ini adalah orang-orang yang mungkin akan diundang, dan dia juga menambahkan jika Bapak punya kolega yang mungkin akan diundang." Sekretarisnya menjawab dengan menjelaskan apa yang dikatakan oleh istri dari Anang kepadanya.
"Baiklah aku akan menambahkan beberapa orang dan kemudian segera buatkan undangannya."Anang memberikan perintah dan segera sekretarisnya meninggalkan ruangan untuk mlaukan perintah ketika Anang selesai menambahkan beberapa orang yang akan dia undang.
"Menurutku ini akan sangat seru, dan juga Daniel bisa melihat sendiri jika apa yang aku katakan adalah hal yang benar dan tidak mengada-ada." Anang tersenyum puas dengan apa yang dia rencanakan hari itu. Laki-laki itu kemudian memutar kursi kerjanya ke kanan dan ke kiri. Dia tersenyum seolah sudah memenangkan sesuatu. Tidak berapa lama kemudian dia bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Sudah selesai?" Anang bertanya dengan wajah yang ceria ke sekretarisnya. Sekretarisnya itu kemudian memberikan kertas yanh dibungkus dengan amplop berwarna putih. Anang menerima undangan itu dengan senyum di wajahnya. Dia kemudian berjalan perlahan menuju ke tempat parkir dan masuk ke dalam mobil sedang model lama yang menurutnya terkesan antik. Dia tersenyum membetulkan spion tengah dan kemudian dia menyalakan mesin mobil.
"Aku benar-benar menunggu ini terjadi. Tentu saja aku akan minta maaf, tapi aku tidak boleh mengucapkannya dengan menundukkan kepala apalagi merendahkan diri di hadapan perempuan itu bukan? Dia juga bukan orang yang harus diperlakukan dengan hormat." Anang tersenyum bergumam sedikit. Laki-laki itu kemudian mengendarai mobilnya melewati jalanan yang sedikit asing baginya. Setelah sampai di sebuah kantor dia juga masih sedikit ragu.
"Permisi pak, kalau ruangannya Ibu Ceisya di sebelah mana?" Anang terkesan santun bertanya kepada satpam yang berjaga di pos tersebut.
"Mba Ceisya?" Satpam tersebut seolah sedang mengkoreksi perkataan Anang baru saja. Anang hanya menganguk mengerti dengan apa yang satpam tersebut maksud.
"Ruangannya dari sini bisa lurus nanti belok ke kanan. Sampai sana nanti coba Bapak tanya kembali." Satpam tersebut memberikan arahan. Anang mengangguk pelan mengucapkan terimakasih kepada satpam tersebut.
"Lagian bisa juga dia kerja di kantor seperti ini? Tapi belum nikah? Luar biasa gak tahu diri kan?" Anang bergumam sendiri sambil berjalan menuju tempat yang dimaksud satpam tadi.
"Mau ketemu siapa Mas?" Seseorang menyapanya karena melihat Anang seolah sedang mencari sesuatu.
"Saya cari Ibu Ceisya, apa bisa ketemu?" Anang kembali bertanya kepada laki-laki itu.
"Tapi mas siapa ya?" Zaki yang mengenal Ceisya dan tidak mengenal sosok dihadapannya yang mencari Ceisya itu langsung mencari tahu.
"Saya temannya." Anang menjawab dengan santai sambil tersenyum. Zaki mengamati Anang dari atas sampai bawah dan kemudian teringat akan sesuatu.
"Ceisya biasanya tidak bisa diganggu di kantor karena pekerjaannya. Jadi mungkin sebaiknya Bapak menghubungi dia dulu secara pribadi." Kali ini Zaki jelas menghalangi Anang bertemu dengan Ceisya.
"Kalai begitu bisakah saya menitipkan sesuatu saja?" Anang terlihat cukup santai dan masih tersenyum.
"Boleh, tentu saja boleh." Sepertinya Anang sama sekali tidak mengenali Zaki sebagai teman kerja Ceisya. Anang memberikan undangan yang tadi dibuatkan oleh sekretarisnya itu. Zaki melihat sekilas dan tersenyum.
"Rupanya memang benar ini anda." Zaki tersenyum dan kemudian membuka amplop undangan itu tanpa ragu.
"Kenapa anda sangat tidak sopan? Saya kan menitipkan." Anang terlihat kesal karena undangannya itu dibuka dan dibaca oleh Zaki.
"Ah... Anniversary dan syukuran kehamilan? Ternyata memang anda sekecil itu." Zaki kemudian menarik kertas itu berlawanan arah dengan kedua tangannya.
"Saya pastikan dia tidak akan datang." Zaki langsung menjawab dan hendak berbalik meninggalkan Anang yang bingung melihat apa yang Zaki lakukan.
"Acaranya malam nanti, dan juga tempatnya di dekat sini. Mungkin Ceisya memang diajarkan menjadi seorang pengecut oleh anda." Anang tersenyum sinis kepada Zaki.
"Pengecut? Sepertinya anda yang pengecut. Berani menyakiti dan mempermalukan perempuan adalah perbuatan laki-laki yang pengecut." Zaki membalas karena dia sudah sangat kesal melihat dan mendengar apa yang Anang bicarakan.
"Fine, aku pengecut. Dan jika kamu pemberani, kamu akan membawa Ceisya ke acara ini bukan? Aku hanya ingin minta maaf dengan undangan ini. Lagipula, aku juga mengenal Ceisya dengan baik." Anang kemudian berbalik dan melambaikan tangan seolah memberikan ejekan yang pasti untuk Zaki.