Zaki terdiam dan berjanji kepada dirinya sendori bahwa dia tidak akan mengatakan apapun tentang undangan yang diberikan oleh Anang kepada Ceisya. Laki-laki itu menahan amarah, tapi berusaha menyembunyikannya. Dia kemudian kembali ke meja kerjanya tapi dia terlihat tidak bisa fokus dengan apa yang dia kerjakan.
"Hari ini kamu pendiam sekali? Tidak ada pekerjaan yang kita kerjakan bersama?" Ceisya tiba-tiba mengejutkan Zaki. Laki-laki itu berharap tidak bertemu dengan Ceisya supaya tidak terlihat jika dia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Gak ada." Zaki menjawab singkat seolah tidak mengalami kejadian apapun.
"Baguslah, sepertinya hari ini aku punya jam pulang yang normal." Ceisya kemudia berbalik. Zaki sedikit terkejut karena ketika dia menoleh melihat Ceisya berjalan pelan di tangan perempuan itu ada sebuah amplop yang cukup di kenal. Zaki segera beranjak dari tempat duduknya dan mengejar Ceisya. Perempuan itu masuk ke ruangannya lebih cepat dan di sana banyak sekali yang sedang duduk di meja kerja masing-masing. Zaki berhenti di pintu masuk. Dia sedikit bingung, tapi dia meneruskan langkahnya dan menuju ke meja kerja Ceisya.
"Ada berkas yang datang atau tidak?" Zaki langsung bertanya dan melirik melihat undangan diletakkan Ceisya di meja dengan beberapa berkas yang tersusun rapi.
"Gak ada, yang kemarin sudah selesai juga. Karena itu tadi aku tanya ke kamu. Siapa tahu kan dikirim ke sana." Ceisya menjelaskan sambil tersenyum. Zaki masih melirik undangan yang hendak dia ambil.
"Pulang cepat langsung ke rumah? Bukannya kemarin kamu pergi sama Daniel?" Zaki bertanya mencoba memberikan bahasan yang membuat Ceiisya mungkin akan melupakan undangan yang ada di mejanya itu.
"Entahlah, aku juga tidak berharap pergi dengan dia. Hanya saja kalau dia tiba-tiba datang dia tidak bisa ditolak." Ceisya menjawab dengan suara yang pelan. Perempuan itu terlihat menunduk dan tidak lagi berbicara.
"Waktu di tempat makan itu, Dia datang dengan Daniel bukan?" Zaki bertanya kepada Ceisya kembali berharap itu akan mengalihkan perhatiannya.
"Ah... Iya, mereka berdua punya hubungan kerja." Ceisya menjawab pelan lagi dan menatap layar laptop yang dan di meja kerjanya saat itu. Zaki bergeser dan hendak mencapai undangan dengan tangan kanannya.
"Daniel mempertimbangkan ulang kerjasamanya karena kejadian kemarin." Ceisya membuat Zaki berhenti bergerak karena perempuan itu menoleh melihatnya.
"Begitukah?" Zaki bertanya singkat karena dia terlihat berkonsentrasi ingin mengambil undangan tersebut.
"Iya, baru saja aku bertemu dengan Anang, dia meminta maaf dan juga mengundang aku ke sebuah acara." Zaki mematung mendengar apa yang Ceisya katakan. Dia sungguh terdiam karena merasa sepertinya perempuan itu tidak banyak bereaksi meski apa yang dia katakan bagi Zaki adalah sebuah masalah yang cukup besar.
"Undangan?" Zaki bertanya untuk memastikan apa yang dia pikirkan. Ceisya dengan santai mengambil undangan yang tidak sempat diambil oleh Zaki. Dia mengeluarkan kertas dari amplop yang sangat Zaki kenal tadi.
"Acara Anniversary dan syukuran katanya." Ceisya menunjukkan undangan kepada Zaki yang sudah membacanya lebih dulu.
"Jadi kamu bertemu dengan laki-laki itu?" Zaki terlihat gugup karena tidak ingin Ceisya mengetahui perihal undangan itu.
"Iya, dia menunggu di tempat parkir. kebetulan aku memang habis dari luar. Ya begitulah." Zaki terdiam dan menatap Ceisya dengan khawatir.
"Tenang saja, aku juga tidak terganggu jika kamu mengkhawatrkan aku seperti itu. Lagi pula dia bukanlah orang yang bisa menjatuhkan aku cuma dengan undangan seperti ini." Ceisya kembali memberikan penjelasan kepada Zaki. Laki-laki itu masih saja hanya menatap Ceisya tidak mengatakan apapun.
"Kamu mau menemani aku pergi ke sana? Sebenarnya aku agak malas pergi. Tapi aku ingin membuktikan jika semuanya baik-baik saja." Ceisya menjelaskan kembali sambil tersenyum.
"Untuk apa?!" Zaki berseru karena dia gugup. Dia hanya tahu jika bisa jadi ini bukan acara anniversary atau syukuran biasa.
"Woahh... Lagi berantem?" Seseorang tersenyum dan berkomentar membuat yang lain juga tertawa. Zaki dan Ceisya memang tidak pernah mengambil hati komentar seperti itu di kantor meski mereka dua juga sebenarnya berusaha untuk selalu berhati-hati.
"Kamu kenapa si? Gak usah khawtir." Ceisya berusaha untuk menenangkan Zaki yang terlihat gugup dan sedikit menunjukkan emosi.
"Kamu bertemu dengan dia?" Ceisya bertanya lagi karena tidak biasanya dia melihat Zaki sepert itu. Panik dan juga khawatir berlebihan.
"Iya, menurutku kamu harus berhati-hati, atau lebih baik jika kamu tidak datang ke sana. Aku hanya tidak suka jika kamu beralasan ingin mencoba berbuat baik." Zaki kembali membujuk Ceisya untuk tidak datang. Kali ini suara Zaki terdengr lebih pelan dari sebelumnya. Ceisya berdiri dan kemudian dia berjalan keluar dari ruangan itu dan Zaki mengikuti di belakangnya. Mereka berdua kemudian berhenti di tempat yang agak tenang dengan tempat duduk.
"Apa yang kamu khawatirkan? Dia mengatakan apa?" Ceisya bertanya kepada laki-laki yang duduk di sampingnya itu.
"Entahlah, aku merasa dia punya niat yang tidak baik. Pikirkan jika dia mungkin sakit hati tentang masa lalu kalian. Dan sekarang dia mungkin kehilangan kontrak karena perbuatannya kepada kamu. Apa kamu tidak berfikir sampai sana?" Zaki terlihat serus dengan apa yang dia bicarakan.
"Siapa aku bisa membuatnya menderita seperti itu. Dulu dia hanya main-main saja denganku jadi kami berpisah. Kami tidak berhubungan lama, jadi kenapa dia sakit hati. Dan Daniel tidak akan membatalkan kontrak hany karena aku. Pasti Dia hanya menggertak dan Anang sudah minta maaf Daniel pasti mengurungkan niatnya untuk membatalkan kontrak. Tidak mudah membuat sebuah proyek yang besar yang sudah di susun dan harus ganti klien. Sedangkan Daniel di desak untuk segera mengajukan anggaran agar proyeknya bisa cepat dimulai." Ceisya menjelaskan panjang meski Zaki tetap saja merasa tidak nyaman dengan semuanya itu.
"Sudah hampir sore, aku harus segera menyelesaikan pekerjaan hari ini supaya bisa datang ke acara itu. Jika kamu tidak mau menemani aku gak apa-apa. Aku bisa datang sendiri." Ceisya berdiri dan kemudian berbalik. Zaki tidak menahannya, laki-laki itu masih khawatir tetapi dia juga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ceisya seolah sudah dengan keputusannya, tidak ingin membatalkan apa yang dia katakan.
"Kenapa dia selalu percaya pada orang yang mungkin salah? Apa dia sama sekali tidak berfikir sesuatu yang buruk?" Zaki bergumam dan menatap ke sekeliling. Dia menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang baru saja dia perdebatkan dengan Ceisya.
"Maksudku benar-benar baik, aku benar-benar ingin dia baik-baik saja. Aku takut laki-laki itu benar-benar punya niatan yang jahat. Bahkan aku masih bisa mengingat kalimat jahatnya. Apa Ceisya benar-benar tidak waspada?" Zaki bergumam sambil berjalan pelan menuju ke ruangannya. Tentu saja dia tidak bisa membiarkan Ceisya datang ke acara itu sendirian. Zaki lebih khawatir saat ini.