Mendung dan hampir gerimis seolah sedang menghalangi niat Ceisya untuk tetap pergi ke acara tersebut. Tapi perempuan itu tetap tenang melewati dinginnya sore berboncengn dengan Zaki menuju ke tempat acara karena letaknya tidak jauh dari kantor mereka. Hanya sepuluh menit dan mereka juga tidak terlalu asing dengan tempat makan tersebut.
"Mas Zaki?" Seseorang menyapa sambil tersenyum, pelayan yang bekerja di sana seolah sudah biasa menyambut mereka berdua.
"Hai Mba." Ceisya tersenyum menatap pelayan yang tentu saja mengenali mereka berdua.
"Berdua saja? Hayoo..." Zaki dan Ceisya tersenyum karena apa yang dibicarakan pelayan itu kepada mereka.
"Ada acara di sini ya Mba?" Ceisya bertanya masih sambil tersenyum berusaha mencari tahu terlebih dahulu.
"Iya, pakai garden Mba, Anniversary sama maternity?" Pelayan tersebut menunjukkan tempat acara dengan arahan tangannya.
"Sudah rame Mba?" Zaki kali ini bertanya untuk meminta keterangan yang lain.
"Lumayan, lumayan ribet." Seorang pelayan lain menjawab sambil berlalu dan kemudian tertawa.
"Ribet?" Zaki masih berekspresi biasa dan kembali bertanya.
"Bukan begitu si Mas, kami ya tetap melayan dengan profesional." Pelayan itu menjawab dengan nada bahasa yang terdengar resmi.
"Tapi?" Zaki membuat di pelayan perempuan itu tersenyum dan bahkan menahan tawa. Dia juga terdiam sebentar seolah sedang memikirkan dan menata kalimat untuk menjawab.
"Biasa si sebenarnya, tapi mereka sepertinya punya panitia tersendiri dari pihak keluarga, kami juga tidak masalah, hanya saja catering dan yang lainnya kan kami siapkan sesuai perjanjian awal. Tapi ya begitu, nambah-nambah di tengah sementara mereka sudah pesan paket." Pelayan tersebut seolah memang keberatan dengan perlakuan yang ditunjukkan seperti itu.
"Sabar ya Mba." Ceisya berusaha untuk menanggapi dengan bijak dan pelayan itu mengangguk. Mereka kemudian berlalu dan masuk ke tempat yang dimaksud oleh si pelayan itu. Ceisya berjalan sendiri-sendiri dengan Zaki tanpa bergandengan tangan.
"Ceisya?" Seseorang memekik untuk menyapa perempuan yang kemudian sedikit terkejut. Ceisya hanya mengangguk pelan dan tersenyum sedikit. Zaki bisa memperhatikan jika dia terpaksa tersenyum.
"Apa kabar? Sama siapa? Suami?" Seorang perempuan terlihat sedang tersenyum menyebutkan banyak pertanyaan kepada Ceisya. Zaki berdiri di sebelah Ceisya mencoba membuat perempuan itu lebih nyaman sedikit dengan keberadaannya.
"Ah... Mba, sudah lama gak ketemu." Ceisya membalas tanpa menjawab pertanyaan dari perempuan yang bertanya banyak hal kepada Ceisya.
"Ceisya?! Mba Ceisya?" Seorang perempuan lain memekik dan juga tersenyum memeluk Ceisya. Ceisya sendiri hanya terdiam ketika perempuan itu memeluknya. Zaki memperhatikan dengan seksama. Ceisya masih tidak bereaksi berlebihan selain hanya tersenyum dan bertanya balik kepada beberapa orang yang mengenalinya itu. Mereka kemudian mengarahkan Ceisya untuk duduk di sebuah meja bundar yang masih kosong. Zaki mengikuti Ceisya duduk di sana.
"Gak nyangka kamu datang, memangnya kamu kenal sama Anang?" Seorang perempuan bertanya kepadanya masih sambil tersenyum seolah dia benar-benar takjub ada Ceisya di sana.
"Iya Mba, kamu kenal sama Mas Anang? Kita datang karena ada undangan ke kantor." Perempuan satu lagi menjelaskan tentang kedatangan mereka.
"Anang yang memberikan undangan ke kantor." Ceisya menjawab singkat sambil tersenyum.
"Sekarang kamu ngantor dimana?" Perempuan pertama bertanya sambil memperhatikan seragam yang digunakan Ceisya.
"Oh... kantor di dekat sini Mba?" Perempuan itu kembali bertanya setelah selesai melihat seragam Ceisya. Ceisya hanya mengangguk pelan dan tersenyum.
"Enak ya jadi pegawai seperti kamu. Dari dulu kamu memang tidak pernah bisa diragukan masalah pekerjaan." Perempuan pertama itu memuji Ceisya sambil tersenyum.
"Engga juga kok Mba, tetap harus banyak belajar." Ceisya menjawab dengan bijak.
"Lho ada Mba Ceisya?" Seorang laki-laki mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Ceisya, di sampingnya ada laki-laki juga lebih tinggi menjabat tangan Ceisya setelah laki-laki yang lebih pendek selesai menjabat tangannya.
"Suami? Kamu diundang Anang?" Laki-laki pertama adalah Kepala kantor cabang wilayah I ketika Ceisya masih bekerja dengan mereka semua dan laki-laki yang lebih tinggi adalah Kepala kantor cabang wilayah II.
"Iya, Anang memberikan undangan, jadi tentu saja aku datang." Ceisya menjawab pertanyaan sambil tersenyum. Mereka berdua ikut duduk bersama dengan Ceisya dan yang lainnya di meja yang sama. Zaki mulai melihat Ceisya tidak nyaman dengan kondisi tersebut.
"Lagian Anang ada-ada juga, acara anniversary sama syukuran anak kok ya di tempat seperti ini." Kepala cabang wilayah II berkomentar sambil tersenyum.
"Kalau Mba Ceisya syukurannya gak kedengaran karena jauh ya Mba?" Kepala cabang wilayah pertama mulai membicarakan sesuatu yang membuat Ceisya mengeluarkan ponsel pintarnya dan hanya menatap tersenyum sebentar. Zaki tahu jika Ceisya melakukan hal seperti itu, dia pasti sangat ingin pergi dari sana.
"Kita ambil makanan dulu?" Zaki mengajak Ceisya dan tentu saja perempuan itu mengangguk dan berdiri.
"Permisi, mau ambil makanan terlebih dahulu." Ceisya berbicara dengan sopan meski dia enggan melakukan hal seperti itu. Perempuan itu menggandeng Zaki dan tersenyum menoleh melihat laki-laki di sampingnya itu.
"Kenapa? Aku sangat akurat?" Zaki berbisik ketika mereka mulai menjauhi meja dan menuju ke tempat makanan.
"Sangat-sangat akurat." Ceisya berbisik lirih. Mereka berdua kemudian sampai di meja tempat makanan.
"Hem... kalian di sini?" Daniel tersenyum menyapa Zaki dan Ceisya meski sedikit agak sinis.
"Anang mengundang kamu?" Ceisya terlihat sedikit bingung, tapi dia kemudian tersenyum mendekat ke arah Daniel.
"Dimohon perhatiannya dari semua yang datang di acara ini." Suara yang terdengar familiar membuat mereka bertiga mengurungkan niat untuk berbicara.
"Jadi, selain acara anniversary dan juga syukuran tujuh bulan kehamilan istri saya, hari ini saya juga memiliki satu lagi agenda, yaitu permintaan maaf yang saya tujukan untuk orang di sebelah sana. Apa semuanya bisa melihat seseorang yang sudah lama menghilang dari kita semua. Dia kembali juga dengan berita mengejutkan saya rasa." Anang benar-benar berbicara di depan microfon dengan lantang dan juga mengarahkan semua hadirin menyadari jika Ceisya ada di sana. Laki-lak itu kemudian memutarkan sebuah rekaman pembicaraan. Setelah rekaman selesai semua yang hadir di sana tentu berbicara satu sama lain. Ada beberapa orang yang Ceisya dengar mengingat dirinya.
"Ya, saya hanya mengingatkan sebuah kisah dimana perempuan yang menuntut permintaan maaf karena saya menjelekkan dia itu, memang melakukan sesuatu yang tidak baik dengan rekan kerjanya." Anang membuat suasana di ruangan itu lebih riuh.
"Jadi benar dia yang menganggu Rama ketika istrinya sedang hamil dulu?" Seseorang di dekat Ceisya menatapnya seolah dia adalah perempuan yang sangat hina. Ceisya menyadari sebuah situasi dan dia akhirnya berbalik dan berjalan perlahan untuk meninggalkan ruangan itu. Zaki ikut berbalik bersama dengan temannya itu.
"Kisah itu tentu saja tidak berakhir karena banyak sekali rekan kerjanya bahkan sampai sekarang juga terus digoda olehnya." Anang menambahkan sesuatu yang membuat Ceisya berhenti.
"Padahal dia juga bukan perempuan yang cantik, jadi mungkin bisa disimpulkan apa yang membuatnya bisa menggoda banyak laki-laki di luar sana?" Anang kembali mengatakan sesuatu yang membuat Ceisya kali ini berbalik.
"Kita pergi saja." Zaki sudah menggandeng perempuan yang datang bersamanya itu supaya mereka berdua pergi dari sana.
"Sebentar, mungkin anda semua akan salah paham dengan rekaman yang diputar tersebut. Karena saya juga salah paham ketika mendengarkannya." Ceisya menatap ke sudut ruangan. Sebuah tempat dimana sound sistem untuk memutar lagu berada.