Di tengah hingar-bingar musik disko di sebuah klub malam, tersembunyi sebuah ruangan mewah yang dipenuhi puluhan wanita cantik berpakaian seksi. Di antara mereka yang asyik merokok dan tertawa riang, ada seorang perempuan paruh baya yang akrab dipanggil Mami oleh para wanita itu.
Di sampingnya duduk seorang wanita cantik dengan rambut hitam terurai indah, bernama Laras, yang dijuluki Si Permata. Jika dibandingkan dengan wanita lain, pakaiannya justru lebih sopan dan terlihat jauh lebih mahal. Laras memang bisa dibilang anak kesayangan Mami, benar-benar permata malam di tempat itu.
"Permata, kamu benar-benar anak Mami yang paling bisa diandalkan. Sejak ada kamu, pelanggan di tempat ini jadi semakin banyak," puji si Mami.
"Ehh, kalian dengar ya?! Contoh Permata ini, pandai melayani pelanggan dan pintar mencari pelanggan baru. Semakin puas pelayanan kalian, semakin tinggi bayaran yang kalian dapat, dan tentu saja bonusnya juga akan bertambah," seru si Mami.
"Ya, Mami" Jawab mereka kompak.
"Mami, jangan begitu. Kami di sini juga sama-sama berusaha. Mungkin saat ini aku yang sedang beruntung mendapatkan pelanggan dengan kantong cukup dalam." Ucap Laras dengan lembut.
"Tidak, Permata. Banyak pelanggan yang memujimu. Kamu cantik, selain itu mereka juga puas dengan pelayanan yang kamu berikan" Puji Mami dengan penuh kebanggaan.
"Mami terlalu memuji, ku. Ohhh ya Mami, aku boleh minta sesuatu?" ucap Laras, alias Permata.
"Apa, sayang? Katakan saja. Asal Mami bisa, akan Mami kabulkan," jawab si Mami dengan lembut.
Perhatian dan pujian Mami kepada Laras membuat hati seseorang di antara mereka terasa panas. Dialah Intan, panggilan akrabnya di tempat itu. Dulu, Intan pernah berada di posisi Laras, menjadi anak kesayangan Mami. Namun sejak kedatangan Laras, Intan merasa tersingkirkan. Banyak pelanggan beralih ke Laras, sehingga penghasilannya menurun drastis. Bahkan dulu banyak yang datang mencarinya, kini justru dialah yang harus mengejar pelanggan.
Sebenarnya, bukan tanpa alasan banyak pelanggan yang lebih memilih Laras daripada Intan. Selain karena performanya, penampilan Laras memang terlihat lebih segar. Usianya yang masih muda membuatnya lebih menarik dibandingkan Intan, yang kini sudah memasuki kepala tiga. Inilah yang membuat para p****************g lebih tertarik pada Laras.
"Mami, boleh ya? Aku ingin setiap malam hanya melayani satu tamu saja. Aku janji, Mami, aku akan meningkatkan kualitas pelayanan agar mereka mau membayar lebih mahal. Aku takut kalau harus melayani banyak tamu dalam satu malam, performaku untuk tamu kedua atau ketiga akan menurun dan mereka jadi tidak puas, Mami..." pinta Laras dengan suara penuh harap.
Si Mami tampak diam, mencoba mempertimbangkan permintaan anak kesayangannya itu. Dia menimbang alasan dan keuntungan yang akan didapat. Saat ini, memang Laras-lah yang paling banyak dicari oleh pelanggan-pelanggan kelas atasnya.
"Mami, aku mohon... Ini demi kepuasan para pelanggan Mami. Toh selama ini aku melayani mereka bukan hanya satu atau dua jam. Mereka bahkan sering minta ditemani aku sampai pagi. Aku mohon, Mi," bujuk Laras.
Si Mami masih ragu sejenak, lalu akhirnya mengangguk setuju.
"Baiklah, untuk kamu. Lakukan yang terbaik, asal jangan sampai kamu mengecewakan Mami. Buat mereka bertekuk lutut dengan pelayananmu, sampai rela merogoh kantong lebih dalam lagi," kata Si Mami setuju dengan sebuah syarat.
"Ok, Mami. Aku janji, tidak akan mengecewakanmu" Angguk Laras tersenyum puas.
"Ya, sudah. Kalian segera mulai lah bekerja. Dan, Permata. Malam ini ada seorang Dewan ingin menghabiskan malam bersamamu. Katanya dia sangat penasaran dengan mu. Layani dia, oke..." instruksi si Mami.
"Oke, Mami..." jawab Laras.
Para wanita muda itu satu per satu beranjak dari tempat mereka, melanjutkan pekerjaan masing-masing, termasuk Laras. Ia meninggalkan ruangan itu, keluar dari klub, lalu menuju mobil yang akan mengantarnya ke tempat di mana ia akan bertemu tamu yang dimaksud oleh si Mami.
"Permata, kapan kamu bisa bersamaku?” tanya pria bernama Dika.
“Memangnya kamu berani membayarku berapa?” jawab Laras dengan suara dingin, tanpa menatap Dika.
"Bayar? Eh, aku ini putra satu-satunya Mami, dan kamu cuma pekerja, bawahan Mami. Jadi, kenapa aku harus membayarmu untuk memuaskanku?” jawab Dika kesal.
"Hahaha, maaf ya mas Dika. Aku tidak mau membuang tenagaku dengan percuma. Setiap tetesan peluh yang aku kucurkan adalah uang bagi Mami kamu. Aku rasa, Mami kamu tidak akan membiarkan aku terpakai dengan sia-sia" ucap Laras dengan penuh percaya diri.
"Kamu..." kesal Dika..
Mereka pun tiba di hotel, tempat di mana Laras harus melayani tamunya. Laras turun dari mobil dan langsung menuju ke kamar yang sudah disiapkan. Di sanalah ia akan melakukan pekerjaannya.
Ia berjalan menuju kamar yang dituju. Sikapnya tenang dan sangat anggun. Laras dengan penuh rasa percaya diri mengetuk pintu kamar.
Tok... Tok... Tok...
Tak berselang lama, muncul pria paruh baya yang gemuk dan botak. Melihatnya saja sebenarnya Laras sangat malas. Tapi di berusaha profesional, mengabaikan rasa kesal dan jijik di dalam hatinya.
Pria itu tanpa sungkan langsung merangkul pinggang Laras dan mengusap pipi Laras.
"Pak, tahan dulu. Nanti di lihat orang tak enak loh. Apalagi status anda yang sangat terhormat" kata Laras di buat manja.
"Haahh, kamu benar juga. Ayo cepat masuk, aku sudah tidak sabar lagi" kata Pria tambun itu.
Laras segera masuk, diikuti pria tersebut. Keduanya kinia berada di dalam kamar. Tanpa rasa sabar, Laras di dorong dari belakang hingga ia terjatuh telentang di atas tempat tidur yang empuk.
Tanpa segan-segan lagi, pria itu menindih tubuh Laras.
"Hemmmm kamu sangat wangi sayang. Aku tak sabar lagi" kata pria itu dengan suara serak.
"Pak, ijinkan saya berganti pakaian dulu, ya..." Ijin Laras.
"Kenapa? Bukannya sama saja nanti juga akan dilepas juga" jawab pria itu yang sudah memerah wajahnya karena nafsunya.
"Berbeda dong, jika anda ingin puas. Maka anda harus ikuti permainan saya" kata Laras selembut mungkin cukup menggoda.
"Haaahh, baiklah. Tapi jangan lama-lama, oke.. Aku sudah tak sabar" sahut pria itu ingin mengecup bibir Laras, namun ia berhasil menghindari kecupan itu.
Laras segera beranjak dari tempat tidur dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian cukup seksi.
Tangannya merogoh ke dalam tas miliknya, lalu ia meraih sebuah botol obat. Laras mengeluarkan beberapa butir obat tersebut dan menggenggamnya.
Sesaat dia bercermin, memperhatikan pantulan dirinya.
Setelah di rasa cukup, Laras keluar dari sana. Langkahnya ia buat semenggoda mungkin, berusaha profesional. Tidak ada takut, tidak ada lagi ragu. Hampir lima tahun ia jalani pekerjaan ini. Satu yang ia pegang, mempertahankan kesuciannya sekalipun itu terdengar mustahil.
Meski pada awalnya Laras takut, tapi dia terus menguatkan hatinya mencari berbagai cara untuk menjaga apa yang saat ini ia miliki satu-satunya. Hingga pada akhirnya, ia menemukan cara yang sangat efektif. Yaitu memberikan obat tidur dengan dosis tinggi ke semua para pelanggannya.
Itu yang akan Laras lakukan saat ini. Ia berjalan menuju ke salah satu meja yang terdapat whisky, diam-diam Laras memasukan empat butir obat yang ia genggam dan menuangkan whisky tersebut. Sikapnya begitu tenang dan jelas sangat terlatih membuat pelanggarannya tak menaruh curiga jika minumannya telah tercampur obat tidur.
"Ayo, sayang..." Ucap pria itu tak sabaran.
"Jangan terburu-buru, pak... Apa anda tak ingin berlama-lama dengan ku. Nikmati permainan yang aku buat, agar anda puas dengan pelayananku" ucap Laras menyerahkan gelas itu.
Laras bersikap manja pada pria itu, mengusap d**a pria tersebut dengan lembut sambil menyandarkan kepalanya di pundaknya. Perlakuannya membuat pria itu tanpa sadar menenggak habis isi gelas di tangannya.
Setelah gelas kosong, Laras mendorong pria itu hingga terlentang di atas tempat tidur. Seolah memulai permainannya, Laras naik ke atas tubuh pria itu dan mulai memijat dengan sentuhan yang membuat pria tersebut menikmati momen itu, sejenak melupakan tujuan utama mereka.
Laras terus mengulur waktu hingga efek obat mulai bekerja pada pria itu. Tak lama kemudian, terdengar dengkuran halus yang membuat Laras merasa lega. Namun, bukan hanya sampai disitu saja yang dilakukan Laras. Ia mulai membuka satu per satu pakaian pria itu hingga benar-benar tanpa sehelai benangpun. Melihat tubuh pria bukanlah hal yang asing baginya, namun tak seorang pun pernah menyentuh atau melihat dirinya yang sesungguhnya.
Laras sengaja membuat tempat tidurnya berantakan, dengan beberapa bercak cairan kental yang ia buat agar semakin meyakinkan apa yang sebenarnya terjadi. Ia juga menandai bagian tubuh pria itu dengan caranya sendiri, tanpa perlu menggunakan bibirnya.
Setelah tugasnya selesai, Laras kembali ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya, melepas pakaian dalam yang ia kenakan, lalu menggantinya dengan yang baru. Pakaian dalam yang lama ia lemparkan sembarangan di sekitar tempat tidur sebagai bukti bahwa mereka benar-benar telah melakukan sesuatu.
Laras hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk keluar dari kamar itu, tak ingin terburu-buru agar tidak menimbulkan kecurigaan. Namun, ia juga tak ingin terlalu lama karena takut efek obat yang diberikan sudah habis terlebih dahulu.
Seperti biasa, transaksi yang Laras minta selalu menggunakan uang muka. Jadi, setiap kali ia menjalankan rencananya, uang sudah pasti telah disiapkan oleh pelanggannya di sebuah amplop coklat, sebuah syarat mutlak darinya jika ingin menyewa jasanya. Karena dengan begitu, dirinya hanya tinggal mengambilnya lalu pergi meninggalkan kamar itu tanpa jejak.