Laras meninggalkan kamar itu dipagi buta, saat matahari belum benar-benar muncul ke permukaan. Ia menyimpan amplop coklat berisi tumpukan uang ke dalam tasnya, lalu melangkah cepat meninggalkan hotel sebelum pelanggannya terbangun dari tidur.
Sejauh ini, memang tak ada satu pun pelanggan yang mengeluh atas apa yang Laras lakukan. Justru beberapa dari mereka merasa puas dengan pelayanan yang diberikannya, tanpa tahu bahwa Laras sebenarnya hanya memberikan pijatan agar mereka merasa rileks setelah bangun tidur.
"Halo, Sari. Bisa jemput aku?" pinta Laras.
"Kamu di mana?" tanya Sari dari seberang telepon.
"Di Hotel Megah. Jemput aku di supermarket seberang hotel."
"Oke, tunggu di sana dulu," sahut Sari.
Panggilan pun berakhir. Laras segera masuk ke dalam supermarket dan berjalan menuju area minuman, di mana deretan rak berisi berbagai macam kopi tersusun rapi. Ia memilih satu, lalu menyeduhnya sebelum menuju kasir untuk membayar.
Sambil menunggu sahabatnya datang menjemput, Laras duduk di sebuah bangku yang menurutnya cukup tersembunyi, sehingga dia bisa bebas mengamati sekitar. Ia menyeruput kopinya, tiba-tiba kenangan lama kembali berputar di benaknya.
Dimana dia harus menderita hidup bersama keluarga angkatnya. Ia berfikir mendapatkan keluarga yang mau mengadopsinya, hidupnya akan lebih bahagia karena telah memiliki keluarga yang utuh. Ada Ayah dan Ibu, tapi pada kenyataannya semua salah.
Penderitaannya justru bermula dari sana. Terkadang Laras merasa lebih baik dari dulu ia tinggal di panti asuhan bersama Sari dan teman-temannya yang lain. Di sana hidupnya justru jauh lebih bahagia.
Keluarga angkat yang mengadopsi Laras ternyata hanya menjadikannya sapi perah. Ia dipaksa bekerja keras mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sejak kecil, Laras harus menahan lapar dan memaksakan tubuhnya yang lemah karena sakit.
Dan yang paling menyakitkan adalah ketika kedua orang tua angkatnya tega menjual Laras kepada Mami demi melunasi hutang-hutang ayah angkatnya yang gemar berjudi. Beruntung, saat disekap, Laras bertemu dengan seseorang yang baik hati, seorang pekerja lama di tempat itu. Sosok itu memberinya kekuatan dan keberanian untuk melawan. Laras pun memilih jalannya sendiri, dia tak akan membiarkan tubuhnya benar-benar terjual. Dengan kekuatan yang dimilikinya, dia bertekad mengendalikan kedua orang tuanya.
"Laras..." Panggil seseorang.
Laras menoleh dan melihat Sari yang masih duduk di atas motornya. Tanpa menunggu lama, Laras segera menghampiri Sari dan meninggalkan tempat itu bersama. Keduanya menuju ke rumah kontrakan Sari, tempat paling nyaman bagi Laras sebelum ia kembali ke rumah kedua orang tuanya. Sesampainya di sana, Laras langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Sari.
"Kamu mau sampai kapan begini, La? Tidak akan selamanya rencana mu itu tetap aman..." Ucap Sari seraya melepas jaketnya dan meletakkannya disebuah paku yang ada di balik pintu kamarnya.
"Sampai ada pangeran yang datang menjemputku" jawab Laras asal seraya memejamkan mata.
Bukan karena tak ingin pergi dari sana, tapi sampai saat ini Laras belum tahu bagaimana caranya bisa lepas dari tempat kelam itu. Dia tahu betul betapa kejamnya Mami, dan sudah berapa banyak korban yang jatuh. Mereka adalah orang-orang yang berusaha melarikan diri, namun berakhir di dalam gundukan tanah.
"Kamu gak takut jika semuanya terbongkar?" Tanya Sari terdengar khawatir.
Mendengar pertanyaan Sari, Laras membuka matanya lalu duduk.
"Takut, Sar. Aku takut, tapi aku gak tahu harus bagaimana? Pergi pun aku harus bertaruh nyawa. Lebih baik aku bertahan menjadi anak emas Mami dan menunggu kesempatan itu datang" jawab Laras menundukkan kepalanya.
Sari menghela nafasnya, merasa prihatin dengan sahabatnya ini. Siapa yang akan menyangka, dia diadopsi oleh sebuah keluarga malah berujung dengan penyiksaan seperti ini.
"Aku gak habis pikir, kenapa mereka mau mengadopsimu jika pada akhirnya mereka memperlakukanmu seperti ini?" Heran Sari.
"Karena mereka tak ingin capek untuk memenuhi keinginan mereka, Ri. Aku hanya sebagai alat untuk mencetak uang untuk mereka" ucap Laras sedih.
"Ohh iya, titip uang dulu. Seperti biasa nanti malam aku ambil. Gak mungkin aku membawa uang ini kembali pulang. Yang ada akan langsung habis oleh mereka berdua" Laras menyerahkan amplop itu dan mengambil beberapa lembar uang yang memang untuknya.
"Aku simpan di lemari, nanti kamu ambil sendiri jika aku belum pulang" jawab Sari seraya menyimpan uang itu.
"Sory ya, Ri. Aku selalu merepotkan kamu" ucap Laras.
"Heiii, udah berapa kali kamu mengatakan itu? Aku bosan kamu terus mengatakannya. Keluarlah dari sana, hidup bahagialah jika kamu tak ingin terus merepotkan aku" jawab Sari dengan nada kesal.
Namun, sebenarnya kekesalannya bukan karena merasa terganggu oleh Laras, melainkan karena prihatin melihat kehidupan sahabatnya yang seperti itu.
"Entah sampai kapan aku akan bisa terbebas dari semua ini..." Gumam Laras lalu menghela nafasnya.
"Aku mengerti, yang terpenting kamu harus tetap berhati-hati dan selalu jaga diri" ucap Sari.
"Kamu tidurlah, istirahatlah. Aku mau siap-siap berangkat kerja." Sari meraih handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Laras kembali merebahkan tubuhnya, memejamkan mata yang sudah terasa berat. Sementara itu, Sari membiarkan Laras beristirahat di dalam kamarnya dan dia pergi berangkat kerja.
Mata Laras berkedip pelan, lalu perlahan ia membuka matanya dan meregangkan tubuh. Suasana di sekitar terasa sepi, namun hal itu sudah biasa baginya ditinggal sahabatnya pergi bekerja.
Laras mencuci wajah, merapikan riasan dan rambutnya, lalu menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya. Setelah semuanya siap, ia meninggalkan rumah kontrakan Sari untuk kembali pulang. Ia memesan ojek online yang mengantarkannya ke rumah. Namun, sesampainya di sana, bukan sambutan hangat yang ia terima, melainkan pertanyaan tajam yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
"Mana uangnya?" Tanya Sumiati sang ibu dengan nada memaksa.
"Tidak bisakah kamu memintaku nanti saja, setelah aku beristirahat sejenak?" keluh Laras dengan nada kesal.
Rasa segan maupun hormat yang dulu pernah ada padanya kini menghilang, terkikis oleh perlakuan mereka yang tak pernah adil selama ini.
"Heehh jaga sopan santun kamu, ya! Dia ibumu!" Sahut Karsono, sang ayah dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Sopan? Apakah kalian pantas?" Jawab Laras dengan tersenyum sinis.
"Bagaimanapun juga selama ini kamilah yang merawatmu sejak kecil!! Jaga sikapmu!" Seru Karsono merasa tak di hargai.
"Hahaha kalian merawatku? Bukankah seharusnya aku yang merawat kalian? Anak kecil yang mencarikan uang untuk kalian makan dan berjudi" jawab Laras dengan nada penuh penekanan.
"Kamu..." Kesal Karsono mendekati Laras dan mengangkat tangannya.
"Apa?! Kamu mau menamparku?" Tantang Laras memberikan pipinya kehadapan Karsono.
"Tampar saja, jika aku terluka aku bisa mengadu ke Mami karena kamu telah merusak barang miliknya" ancam Laras.
Laras benar-benar memanfaatkan kekuatan yang ia miliki sekaligus kelemahan kedua orang tuanya. Pernah suatu waktu, Laras dihajar habis-habisan oleh Karsono karena berani menentangnya. Wajah dan tubuhnya babak belur akibat tendangan dan pukulan Karsono.
Kejadian itu membuat kondisi Laras saat bekerja di tempat sang Mami menjadi sangat memprihatinkan. Ia pun mencoba mengadukan dan menceritakan apa yang terjadi kepada Mami. Karena Laras adalah barang termahalnya, melihat kondisi seperti itu membuat Mami merasa rugi sekaligus kesal.
Tanpa menunggu lama, Mami segera mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mencari Karsono, yang kebetulan sedang berjudi di tempat milik Mami. Di sanalah Karsono akhirnya dihajar habis-habisan.
"Ampun... Mami... Ampun... Apa salahku?" teriak Karsono sambil menahan sakit.
"Ini peringatan untukmu karena sudah merusak barang mahalku!" bentak Mami kesal.
"Merusak barang? Aku tidak menyentuh apapun apalagi merusaknya..." jawab Karsono bingung, tubuhnya masih menahan sakit.
Mami menarik Laras dan menunjukkannya.
"Lihat ini... Permata yang kamu hancurkan sampai membuat pelangganku batal pesan. Hari ini aku rugi ratusan juta karena ulahmu, paham?!"
"Ma... maafkan saya, Mami. Ini salahnya sendiri, kalau dia nurut sama saya, saya tak mungkin menghajarnya. Dia malah membantah dan memancing emosiku," Karsono berusaha membela diri.
"Aku tak peduli urusan kalian berdua. Yang penting permata itu tetap utuh! Kalau sekali lagi kamu berani membuat kerusakan seperti ini, aku pastikan tangan dan kakimu akan hilang!" ancam Mami dengan suara dingin.
"Ayo, Permata. Kamu sementara ikut Mami. Kamu harus segera di obati, aku tidak mau merugi terlalu lama" ajak Mami kembali meninggalkan tempat itu.
Semenjak itu, Laras mulai menggunakan nama Mami sebagai ancaman kepada kedua orang tuanya agar mereka tak lagi memukulinya. Meski hatinya terasa hancur karena diperlakukan seperti barang, setidaknya dengan cara itu, kedua orang tua angkatnya bisa menahan diri dan berhenti menyakitinya.
Melihat itu, Sumiati berusaha menahan suaminya agar tak lagi menyakiti Laras. Apalagi membuatnya babak belur. Karena Sumiati sendiri juga takut akan kehilangan Laras sebagai satu-satunya sumber uang mereka selama ini."
"Sudah-sudah" ucap Sumiati menahan suaminya.
Karsono menjauh dan memilih melanjutkan makannya seraya menatap ke arah Laras dengan bengis.
"Kalau begitu, mana uangnya. Jangan semakin membuat ayahmu semakin marah" ucap Sumiati memaksa Laras segera memberikan uang.
Tak ingin kembali ribut, Laras mengeluarkan sejumlah uang.
"Niihh" Laras menyerahkan uang itu dengan kasar.
Sumiati menghitung uang yang Laras berikan, namun wajahnya tak menunjukkan kepuasan saat menghitung uang tersebut.
"Kenapa hanya segini?" Tanya Sumiati seraya memegang uang itu ke hadapan Laras.
"Kenapa? Gak mau? Ya sudah, sini kembalikan. Jika kurang, ya kalian cari sendirilah. Kalian pikir mudah nyari uang. Atau ibu mau seperti aku jual diri?" Tawar Laras dengan berbisik.
"Kamu..." Kesal Sumiati...
Laras tersenyum sinis dan meninggalkan tempat itu masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu lalu merebahkan dirinya di atas dipan. Di sana dia menghela nafasnya dalam-dalam. Rasa sakit itu masih terasa, tapi dia harus terus bertahan dan melawan mereka.
"Andai aku memiliki ayah dan ibu kandung..." Gumam Laras.
"Apakah aku akan bernasib seperti ini? Dan kenapa aku dibuang oleh mereka? Kenapa aku begitu tak diinginkan seperti ini. Lalu untuk apa aku dilahirkan jika mereka tak menginginkanku" bisik Laras.
Dadanya sesak, Laras memiringkan tubuhnya. Tetesan air mata mengalir, dia memejamkan matanya hingga pada akhirnya ia terpejam dan sejenak melupakan rasa sakit itu.