Siapa yang menyangka jika sebuah gaun pengantin dan pesta resepsi pernikahan menuntun Karen pada seorang pria tampan yang membuat jantungnya berdebar-debar?
Bukan hanya sekali saja di kali pertama mereka bertemu. Debar tersebut tak lantas berhenti di pertemuan pertama. Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, debar tersebut masih terasa nyata. Padahal interaksi antara Karen dan Seth terbilang hanya sebentar. Malah tidak sampai satu jam.
Namun, wanita itu masih meingat jelas bagaimana hangatnya sikap Seth yang melindunginya di lift gedung kantornya. Bagaimana lengan Seth yang kekar dengan ototnya yang menonjol pada lengan kemejanya, nampak nyata juga jelas di hadapan Karen. Dan bagaimana tatapan Seth yang terpancar dari kedua bola matanya yang hitam pekat itu menenangkannya
Karen selalu menebak-nebak jika Seth Kyler masih memiliki hubungan saudara dengan Vincent Kyler, kliennya yang memesan gaun pernikahan untuk calon istrinya, Tiffany. Begitu Karen mencari tahu di internet, benar saja Seth adalah sepupu Vincent.
***
Karen mendapatkan empat ratus juta dari hasil pekerjaannya mendesain gaun pernikahan untuk Vincent dan Tifa. Begitu acara resepsi tiba, pihak WO yang mengurus pernikahan tersebut membayar lunas segala biayanya. Yang lebih mencengangkan, Karen diundang ke pesta resepsi tersebut yang berlokasi di Bali.
Sebelum berangkat, Karen sudah memasukkan dua ratus juta ke dalam depositonya untuk membayar uang kuliah Karra di semester depan. Seratus juta sudah ia depositkan juga pada rumah sakit, dan sisanya akan ia transfer pada ibunya. Setidaknya sedikit saja bebannya telah berkurang. Meski sebenarnya masih banyak yang harus Karen lunasi.
Pukul sebelas malam tepat, ketika Karen tengah bersantai di lounge setelah mengikuti sederet pesta resepsi pernikahan Vincent dan Tifa yang membuatnya jengah, tiba-tiba mamanya meneleponnya.
“Karen, kita butuh delapan ratus juta paling lambat besok malam,” sergah Kimmy dengan nada cemas.
“HAH? APA KAU GILA? BAGAIMANA AKU MENDAPATKAN UANG SEBANYAK ITU?” teriak Karen dengan keras.
“Mereka mengancam akan menghabisi nyawaku dan ayahmu jika aku tidak bisa melunasinya dalam tempo waktu yang mereka berikan,” terang Kimmy lagi.
Karen menghela napas sebentar seraya mengumpulkan kesabarannya, “Ma, beberapa jam lalu Karen sudah mentransfer seratus lima puluh juta, loh! Lima puluh juta itu uang tabungan Karen! Harusnya Mama nggak mengandalkan Karen aja dan berusaha juga melunasinya!”
“Asal kamu tahu, seratus lima puluh juta baru cukup untuk melunasi bunganya saja!” pekik Kimmy frustrasi. “Kamu pikir Mama nggak berusaha?! Mama berusaha mencari sisa-sisa dana milik papamu ataupun dana simpanan darurat. Tapi semuanya ludes karena telah diakses oleh kakakmu! Jangan kamu pikir mama nggak memutar otak. Nggak seperti kamu yang sekarang bisa dengan mudahnya bersenang-senang di Bali! Kamu mau kabur, kan?” sergah Kimmy panjang-lebar. “Ya sudah, sekalian saja kita mati bersama!” ancam Kimmy lagi.
Karen segera mematikan sambungan telepon tersebut. Kemudian, dengan sigap juga cepat ia mematikan ponselnya. Wanita itu memijit pelipisnya. Sepertinya kesialan nggak juga pergi dari hidupnya.
“Delapan ratus juta paling sedikit? Astaga, wanita itu benar-benar tidak punya pikiran! Dia pikir aku ke sini untuk bersenang-senang dan melupakan persoalan! Berengsek!” maki Karen sambil melirik ponsel yang ditaruh di meja.
“Bisakah kau menutup mulutmu dengan alkohol ini?” pekik seseorang.
Barulah saat Karen menoleh dengan ekspresi judes dan hendak menghardiknya, seketika ekspresi wanita itu melunak. “Seth Kyler?” tanya Karen sekali lagi seraya meyakinkan penglihatannya tidak salah. “Ah ya, benar juga. Selama ini kau memiliki nama belakang yang sama dengan klienku,” seru Karen kemudian.
“Jadi, sepupuku yang baru menikah itu sering memintamu tidur dengannya?” tanya Seth.
“Bukan jenis klien yang seperti itu, Seth. Aku bukan wanita yang mencari uang dengan cara demikian,” seru Karen tanpa terdengar tersinggung lalu menegak gelas yang disodorkan Seth. “Aku hampir saja tidak mengenalimu karena penampilanmu sekarang.”
Seth terkekeh, “Penampilan itu bisa menipu. Seperti melihatmu sekarang ini, mengenakan gaun dengan belahan d**a rendah, di atas lutut dan berwarna hitam. Membuatku b*******h saja.”
Karen menghela napas, “Kau sedang mabuk. Lebih baik kau berhenti minum sebelum kesadaranmu menghilang di sini,” sergah Karen kemudian berdiri dari bangkunya dan menjauhkan gelas alkohol Seth dari jangkauannya.
“Dari jarak sedekat ini aku baru bisa melihatmu sangat seksi dan cantik,” seru Seth sambil memegang dagu Karen.
“Aku akan memanggilkan seseorang untuk membantumu kembali ke kamarmu,” ujar Karen sambil menyentakkan tangan kanan Seth yang memegang dagunya.
“Setelah melihatmu, aku rasa, aku telah menemukan jawaban yang selama ini aku cari,” racau Seth sambil berusaha merangkul pinggang Karen.
Karen tidak menanggapinya karena sedang berusaha memanggil bartender yang tengah sibuk melayani para tamu.
“Aku akan menyelesaikan seluruh masalahmu, asalkan kamu mau tidur denganku,” sergah Seth.
Pria itu mendadak seperti mendapat kekuatan besar. Sehingga akhirnya ia bisa berdiri dengan tegak kemudian mendekap Karen dengan erat. Karen masih terkejut dan mengerjap-ngerjap bingung, memahami situasi.
“Kamu gila, Seth Kyler!” pekik Karen. “Kamu sedang mabuk tahu nggak?” Karen kemudian memukul pelan pipi Seth.
“Tidak, aku sedang sepenuhnya sadar. Beberapa gelas wine tidak akan membuatku kehilangan kesadaran.”
Karen kembali menarik napasnya lagi dan hendak melepaskan dekapan Seth. Namun, tenaga pria itu jelas tidak sebanding dengan tenaganya.
“Lihat sekelilingmu baik-baik kalau begitu. Banyak sekali wanita yang akan menyodorkan dirinya untuk tidur denganmu.”
“Tapi mereka tidak mempunyai masalah keuangan sepertimu.”
Kontan, Karen menampar pipi Seth. “Aku bukan w************n yang bisa kamu ajak tidur dengan alasan sedangkal itu!”
Tapi tidak sedikitpun Seth mengendurkan dekapannya. Tamparan Karen barusan tidak membuat Seth terluka. Pria itu malah memberi tatapan menantang pada Karen.
“Baiklah, Karenina Hadinata. Aku akan memberimu alasan masuk akal untuk menyetujui ajakanku barusan.”
Detik itu, Karen terkesiap. Wanita itu tahu, takdir sial yang menerpa kehidupannya beberapa bulan belakangan belum benar-benar berakhir.
“Aku akan membereskan seluruh masalah hutangmu, asal kamu juga membantuku membereskan masalahku,” sambung Seth lagi.
“Masalahku nggak akan bisa selesai kalaupun aku tidur denganmu,” seru Karen dengan nada remeh dan berhenti meronta-ronta dalam pelukan Seth.
“Aku akan membuat kontrak perjanjian yang jelas kalau begitu.”
“Seth, aku tidak tertarik. Tolong, lepaskan aku.”
“Sepertinya suasana kelab yang gelap ini membuatmu tidak percaya dengan kata-kataku. Baiklah, kalau begitu,” seru Seth meneguk lagi segelas wine lalu tiba-tiba menggendong Karen di pundaknya.
Terang saja Karen terkejut bukan main! Namun, Karen menahan diri agar tidak memekik kencang-kencang supaya tidak terlalu menarik perhatian banyak orang. Dalam hati, Karen memaki-maki Seth dengan tenaganya yang super kuat. Bagaimana bisa pria itu bisa menggendong Karen sampai keluar pintu kelab?
Bahkan Seth membawanya menjauh dari keramaian. Beberapa meter di sudut lantai tersebut yang jauh dari orang yang lalu-lalang.
“Kita lanjutkan pembicaraan di sini,” sergah Seth setelah menurunkan Karen lalu bersedekap.
Karen segera mengambil kesempatan tersebut untuk kabur. Dia tidak ingin berurusan dengan pria gila yang anehnya membuat jantungnya terus berdebar. Karen merutuki jantungnya sendiri yang sudah berkhianat padanya.
Seth tersenyum sesaat lalu menyusul Karen yang sudah bergegas melangkah di depannya. Heels yang dikenakan Karen menghambat misi pelarian wanita itu. Saking buru-burunya, Karen nggak memperhatikan jalan. Ia tidak melihat undakan tangga di hadapannya. Nyaris saja ia tergelincir jatuh dan membentur lantai marmer.
Sampai tiba-tiba sepasang tangan yang gagah itu menarik tubuhnya dan kembali mendekapnya erat hingga Karen tidak terjungkal jatuh.
“Lari tidak akan menyelesaikan masalahmu, Nona Karenina.” seru Seth sambil menatap jail padanya.