Karen kembali merutuki heels sialan yang lagi-lagi menambah daftar panjang kesialan dalam hidupnya. Kenapa sih belakangan ini hidupnya tidak bisa berjalan sesuai keinginannya? Banyak sekali yang mengkhianatinya dengan mudah. Bahkan, tubuhnya sendiri melakukan hal demikian.
Yang lebih menyebalkan, jantungnya tidak juga berhenti berdebar-debar!
“Aku ingin membicarakan ini secara baik-baik sebagai seorang pria bermartabat,” seru Seth sambil memapah Karen menuju sofa rotan two seater.
Lantaran tidak memiliki pilihan lain, Karen hanya bisa pasrah saja mengikuti Seth. Ia merasakan nyeri yang bersumber dari kaki kanannya. Setelah duduk, Karen segera melepas Loubutine heels berwarna hitam tersebut. Kemudian wanita itu memjit-mijit sumber nyerinya dengan tangan kanannya.
Hingga tiba-tiba Seth melepaskan jasnya lalu menaruhnya di pundak Karen. Pria itu lalu berjongkok dan ikut memijit kaki kanan Karen yang keseleo. Sejenak, kedua tangan mereka bertumpu pada sisi yang sama. Karen terpaku tanpa bisa bergerak sedikitpun. Sampai tiba-tiba Seth dengan sengaja memencet sumber nyeri tersebut hingga membuat Karen memekik sakit.
Hal tersebut membuat Karen seketika sadar kalau sebelumnya ia sedang menghindari pria yang memaksanya tidur dengannya.
“Gimana bisa sih ngomong baik-baik kalau kamu ngajakkin aku tidur bareng? Kamu pikir, ini kayak ajakan minum kopi biasa?!” omel Karen.
“Makanya, dengarkan aku baik-baik,” seru Seth kembali memijit kaki Karen hingga wanita itu menjadi rileks beberapa saat. “Aku mengajakmu tidur bersama bukan sepenuhnya seperti itu.”
“Hah? Maksudnya?” seru Karen mengerling bingung.
“Jadi begini, kalau kamu memang nggak mau melakukannya, baiklah kita akan tidur sekamar saja tanpa melakukan apapun. Aku hanya ingin terlihat semalaman sekamar berdua dengan wanita. Selanjutnya, aku akan memintamu hal lain yang sangat besar.”
“Apa itu tepatnya?” Karen kemudian bersedekap ketika Seth kini selesai memijit kakinya dan duduk di sebelahnya.
“Aku ingin kamu melahirkan anakku.”
Detik pertama, Karen menanggapinya dengan tertawa remeh.
“Tepatnya, aku ingin kamu menjadi ibu pengganti. Kita nggak akan berhubungan badan, kalau itu yang kamu takutkan. Ada metode lain yang nanti akan kita coba.”
Detik berikutnya, Karen bungkam ketika menemukan Seth menatapnya dengan kedua mata kelamnya begitu tajam. Tidak ada sedikitpun ekspresi jail di sana. Yang tersisa hanya jejak-jejak keseriusan.
“Kalau kamu menyetujuinya, seluruh masalah keuanganmu akan aku selesaikan semuanya. Sebagai pembayaran awal, aku akan mentransfer setengah dari hutangmu. Sisanya akan aku berikan berikut bonus setelah seluruh urusan kita selesai.”
“Kenapa kamu memilihku?” tanya Karen setelah mendengar penjelasan-penjelasan Seth yang terdengar tidak masuk akal.
“Aku akan menjawabnya setelah kamu menyetujui permintaanku barusan,” ujar Seth masih menatap Karen dengan lamat-lamat.
“Perlukah aku mabuk dulu supaya bisa menjawab permintaamu itu?” seru Karen lalu terkekeh dengan frustrasi. “Kita belum lama mengenal, Seth. Yang sudah sekian tahun mengenal saja masih belum bisa mempercayai seutuhnya. Apa coba yang mendasarimu memberiku permintaan itu?”
Seth kemudian menggenggam kedua tangan Karen, “Karena sejujurnya, kamu sedikit-banyak mengingatkanku pada seseorang. Dan aku rasa, orang itu yang menyeretku bersama denganmu dalam takdir ini.”
“Aku nggak bakal terenyuh dengan gombalanmu barusan,” sahut Karen sarkastis.
Seth mendecih kesal dalam hati. Rupanya Karen tidak seperti dugaannya yang mudah ditaklukan begitu saja. Seth pikir, Karen adalah wanita yang rapuh dan mudah dibujuk. Apalagi jika berada di ujung tanduk. Tapi ternyata, wanita ini lumayan tangguh.
“Karena kamu wanita yang tepat.”
“Masih terdengar gombal.”
“Karena aku tidak punya cukup banyak teman wanita yang bisa aku mintai tolong seperti ini.”
“Terang saja, kamu meminta hal mustahil! Melahirkan anakmu pula!”
Seth menghela napas pelan-pelan seraya mengumpulkan kesabarannya. Pengalaman hidup yang berat banyak mengajarkan Seth untuk dapat mengendalikan diri dengan mudah. Pria itu lalu menatap Karen dengan lembut.
“Karen, aku tahu permintaan yang barusan itu terdengar begitu berat. Aku nggak memintamu menjawabnya sekarang juga. Kamu ambil waktumu untuk berpikir,” seru Seth lalu melepaskan genggaman tangannya dan kini mengelus pipi Karen. “Mengenai permintaanku sebelumnya, aku benar-benar butuh bantuanmu. Aku janji nggak akan menyentuhmu. Setidaknya, biar kita kelihatan tidur sekamar saja.”
“Astaga, Karenina?! Aku pikir salah lihat!” sergah seseorang dengan nada mengejek yang familiar.
Karen tersentak di tempatnya duduk sekarang. Ia tidak mau berbalik dan menoleh untuk sekadar memastikan seseorang yang baru saja memanggilnya barusan. Tapi sialnya, orang itu masih berupaya keras. Bahkan tanpa merasa kurang ajar, ia melangkah mendekat ke tempat Karen duduk, menjawil pundak wanita itu hingga menoleh padanya.
“Benar dugaanku! Wah, sekarang pekerjaanmu menggoda pria kaya? Nggak main-main pula, Seth Kyler!” sergah Adrian lalu bersiul nyaring. “Padahal, kamu bisa loh, merengek padaku untuk kembali padamu jika masih mencintaiku kok.”
Karen mengepalkan tangan kanannya dengan kencang. Sementara Seth menatap Adrian dari atas lalu ke bawah dengan tatapan sinis. Sepertinya wajah sengak Adrian itu terasa familiar. Rasanya Seth pernah melihat pria cecunguk tersebut belum lama ini… Tunggu sebentar, bukankah ia pernah memergoki pria ini berkencan dengan Jesslyn beberapa minggu lalu?!
Ya ampun, apa kesialan nggak bakal berhenti menyerang Karen? Apa sih kesalahan yang pernah Karen buat di masa lalu hingga harus bertemu dengan pria j*****m yang pernah menjadi pacarnya itu?!
Namun Karen nggak boleh sedikitpun menunjukkan dirinya tengah terpojok. Tidak, di saat Adrian sudah menghancurkan hidup dan hatinya sampai berkeping-keping berkali-kali. Ia harus menunjukkan pada Adrian bahwa kondisinya sangat baik. Terlepas dari segala hal yang telah terjadi di masa lalu.
“Kehadiranmu sangat mengangguku yang sedang bermesraan dengan pacarku tahu nggak?” dengus Karen kemudian berdiri dan menatap Adrian dengan lantang.
“Kamu wanitanya Seth Kyler, sekarang?!” seru Adrian dengan tatapan tidak percaya.
Seth yang berusaha mengikuti permainan ini kemudian berdiri di sebelah Karen yang tengah berhadapan dengan Adrian.
“Kamu bisa melihatnya sendiri tanpa perlu aku jawab, kan? Setelah lepas dari pria pecundang sepertimu, aku belajar banyak hal,” ujar Karen dengan sarkastis.
“Sayang, gimana kalau kita bermesraan di tempat lain tanpa pengganggu?” tanya Seth sambil merangkul Karen.
“Baru saja aku mau mengusulkan itu,” sahut Karen lalu tersenyum pada Seth dan memberinya ciuman singkat di pipi. “Kalau begitu, sampai jumpa, Adrian.”
Karen dan Seth kemudian berbalik. Seth masih mendekap erat Karen. Sekalipun wanita itu menyembunyikannya, Seth dapat melihat tangan kanan Karen yang bergetar. Pasti Karen nggak ingin Adrian melihatnya. Untungnya Seth cepat menyadari situasi tersebut dan segera menggenggam erat tangan kanannya.
“Aktingmu luar biasa,” seru Seth.
“Kamu bisa melepaskan genggamanmu,” seru Karen singkat.
“Aku khawatir dia masih mengikuti kita.”
Karen menghela napas berat. Tidak mungkin jika dia menoleh ke belakang saat ini juga seraya memastikan kebenaran kata-kata Seth. Lagipula, Karen merasa energinya sudah terkuras habis.
Seth cemas melihat Karen berjalan dengan tertatih-tatih. Pasti kaki kanannya masih nyeri akibat keseleo beberapa saat lalu. Kini, Seth melepaskan genggamannya pada tangan kanan Karen lalu sekali lagi menggendong Karen. Namun kali ini, posisi Karen bukan lagi di pundaknya.
Mungkin karena malam itu Karen sudah sangat letih. Sehingga akhirnya ia memasrahkan dirinya. Ia melingkarkan kedua tangannya pada leher Seth, lalu menyenderkan keningnya pada d**a pria itu. Ia nggak memperhatikan jalan juga tak protes pada Seth yang entah menggendongnya ke mana.
Yang kini Karen rasakan adalah ketenangan.
Belakangan, hidupnya ramai sekali. Sampai tidak membiarkan Karen bernapas sesaat dan merasakan ketenangan untuk berpikir. Dan sekarang, anehnya Karen merasakan ketenangan itu walau hanya memeluk Seth dalam gendongan pria itu.