Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka sampai di depan kamar suite residential yang terletak di ujung barat resort. Seth sengaja memilih kamar yang jauh dari keluarga besar Kyler. Terutama, yang paling amat dihindari adalah kamar pengantin baru.
Buru-buru Seth masuk ke dalam kamarnya, meletakkan Karen di sofa dan mengunci pintu kamarnya seraya mengantisipasi wanita itu berubah pikiran. Seth bersedekap, memasang wajah seriusnya. Tapi sesaat kemudian ekspresinya melunak kala melihat Karen tengah kebingungan, mencari sesuatu entah apa.
“Kamu mencari apa?” tanya Seth ketika Karen malah duduk berlutut di sekitar sofa masih mencari-cari sesuatu.
“Sepatuku. Tadi sepertinya aku menentengnya. Atau aku ngggak membawanya? Aku harus kembali lagi ke sana dan mencarinya,” seru Karen lalu berdiri dengan cepat tak mempedulikan kondisi kaki kanannya yang masih cidera.
“Kalau nanti cowok berengsek itu masih berada di sekitar situ dan melecehkanmu gimana?” tanya Seth.
“Aku nggak peduli. Aku harus mencari sepatuku!” sergah Karen lagi sambil tertatih-tatih menuju pintu kamar.
Seth terkekeh menyaksikan Karen. Pria itu menggeleng. Astaga, wanita ini benar-benar tidak punya pikiran? Bagaimana bisa sih dia mengkhawatirkan sepatunya melebihi dirinya sendiri?
“Nanti aku akan belikan yang sama persis. Kamu sebutkan saja ukuran dan mereknya,” ujar Seth sambil berdiri di belakang Karen.
Karen menggeleng dengan frustrasi, “Makasih. Tapi aku lebih suka sepatu lamaku.”
“Kenapa memang dengan sepatumu? Apa kamu semacam Cinderella yang meninggalkan sebelah sepatumu dan berharap ditemukan pangeran?” tanya Seth dengan nada bercanda.
“Tolong buka pintunya, Seth. Aku harus mencari sepatuku,” pinta Karen sambil menggoyang-goyangkan handle pintu yang tidak terbuka juga.
“Kan sudah aku bilang—“
“Aku cuma ingin sepatuku!” sela Karen dengan keras sambil masih menggoyang-goyangkan handle pintu dengan beringas.
Kontan, Seth menghentikan aksi Karen dengan menahan handle pintu tersebut, “Sepatu itu nggak sebanding dengan kondisi kakimu yang baru saja terkilir!” hardik Seth dengan keras.
“Tentu saja sebanding!” balas Karen kemudian menggeram kesal. “Mungkin aku dikutuk Tuhan jadi Putri Sial.”
Sejurus kemudian terdengar isak tangis yang keluar dari bibir Karen. Bagaimanapun Karen bertahan untuk tidak menangis, namun akhirnya beragam kejadian terus mendesaknya hingga air matanya melesak keluar. Karen merasa amat lelah. Entah sudah berapa malam ia habiskan dengan terjaga tanpa bisa tertidur lelap. Hari-hari berjalan lambat tidak seperi biasanya. Apapun yang Karen lakukan tidak pernah membuahkan hasil.
Karen membenturkan kepalanya beberapa kali di pintu. Ia merasa jadi orang paling menyedihkan saat ini. Tiba-tiba tangan kanan Seth menahan kepala Karen lalu mendekap erat wanita itu. Seth seraya memberi kekuatan pada Karen untuk tetap tegar. Selama beberapa menit, Seth terus mendekap Karen ditemani keheningan yang menyergap. Hanya terdengar deru napas mereka.
Sampai akhirnya tidak lagi terdengar isak-tangis dari Karen barulah Seth melepaskan pelukannya.
“Berbaringlah di ranjang. Biar aku yang mencari sepatumu,” sergah Seth.
Karen segera berbalik dan menatap Seth, “Kamu serius?”
Seth mengangguk, “Ya, asalkan kamu mau berbaring dan beristirahat di kamarku. Tenang aja, aku nggak bakal menyentuhmu. Aku akan tidur di sofa.”
“Tapi kamu harus janji bisa menemukan heels hitamku. Dan kalau sampai kamu menggantinya dengan yang baru, aku akan langsung tahu!” ancam Karen.
“Nggak, Karen. Aku akan mencari sepatumu sampai ketemu. Sekarang, kamu istirahat saja.”
Kontan, Karen melangkah menuju ranjang Seth tanpa sedikitpun ragu. Mungkin karena migrain yang mendadak menyerangnya hingga ia merasa perlu berbaring sejenak. Kemudian Karen merapatkan selimutnya. Ia merasa suhu penyejuk ruangan mulai dingin.
Tak lama kemudian Seth menghampirinya sambil menyodorkan secangkir teh hangat. Seth sendiri memegang cangkir lagi.
“Minumlah. Supaya kamu merasa lebih rileks. Kalau khawatir aku mencampurkan obat tidur, aku juga minum teh yang sama,” seru Seth.
Karen mengambil cangkir tersebut lalu meneguknya. Sejenak, wangi peppermint yang menenangkan menguar di hidungnya. Karen tersenyum seraya mengucapkan terima kasih lalu berbaring kembali di ranjang.
Sayangnya, di dalam cangkir tersebut memang sudah dibubuhkan obat tidur oleh seseorang yang diperintahkan Seth. Tidak sampai sepuluh menit, Karen sudah tertidur dengan pulas.
“Apakah ada hal lain yang harus saya lakukan Tuan Seth?” tanya orang suruhan tersebut.
“Tolong cari heels hitam milik perempuan ini. Mungkin masih tertinggal di ruangan dekat pesta resepsi,” seru Seth sambil melepaskan blazernya.
“Baik, akan saya cari di sofa yang tadi menjadi tempat singgah Tuan Seth dan perempuan ini,” ujarnya lagi.
“Kalau kau berhasil menemukannya, taruh saja di lemari. Aku mau beristirahat,” perintah Seth sambil menunjuk lemari pakaian.
Orang itu mengangguk dan hendak berbalik menuju pintu.
“Grey,” panggil Seth yang langsung membuat Grey berbalik. “Apakah dia sudah melihat wanita ini masuk ke kamarku?”
Grey mengangguk, “Pengintainya sudah mengikuti Tuan Seth sejak di bandara. Apapun yang Tuan Seth lakukan, selalu didokumentasikan oleh mereka.”
Seth tersenyum puas, “Baguslah. Aku tidak perlu berusaha terlalu keras.”
“Ada lagi yang bisa saya bantu?”
“Berjagalah di sekitar kamarku. Aku tak ingin melonggarkan kewaspadaan,” seru Seth penuh arti dengan ekspresi tegas.
Sekali lagi Grey mengangguk dengan mantap kemudian berlalu pergi. Seth sempatkan untuk menatap Karen yang tertidur pulas dengan damai. Ia membelai lembut kening wanita itu, lalu mengecup singkat bibirnya beberapa saat. Seth tidak ingin mengecupnya kelewat lama lantaran takut terbawa suasana.
“Untuk keberuntungan,” seru Seth setelah melepaskan bibirnya dari bibir Karen yang ranum dan tebal itu.
Seth lalu berbaring di sofanya. Setelah capek memainkan ponselnya, pria itu kemudian ikut terlelap.
***
Saat Karen berusaha mengerjapkan matanya, ia merasa rasa pening seketika menyerang kepalanya. Rasanya ada serangga yang menggigiti setiap syaraf di kepalanya. Karen tidak menyerah. Perlahan-lahan ia mulai berusaha membuka kedua matanya. Sinar matahari yang menyengat seketika menyambutnya. Samar-samar Karen juga melihat sosok seorang pria yang tengah berdiri dekat jendela.
Kontan, Karen langsung menatap tubuhnya. Wanita itu segera membuka selimut yang melingkupi tubuhnya. Karen bernapas lega saat menyadari gaunnya masih melekat erat di tubuhnya.
“Good morning, Cinderella,” sapa Seth yang kini memakai jubah handuk tanpa mengikatkan simpulnya hingga menampakkan dengan jelas perut six packnya.
Astaga, apa pria ini sedang memamerkan tubuhnya yang indah dan seksi itu?! Padahal kan suhu di ruangan ini menggigil bukan main! Buat apa coba pria itu nggak mengikatkan simpul di jubah handuknya?
“Tadinya aku berniat ingin langsung berenang. Tapi melihatmu bangun, aku tunda dulu,” sergah Seth ketika menyadari arah tatapan Karen barusan.
Karen berdeham karena merasa suaranya hilang. Namun sedetik kemudian ia merasa tenggorokannya seperti terbakar. Seth langsung mengambil sebotol air mineral di meja sebelah kanan ranjang. Ia merobek kemasan plastik botol tersebut lalu membuka segelnya. Kemudian, ia menyodorkannya pada Karen.
“Apa semalam aku mabuk berat?” tanya Karen setelah meneguknya sedikit.
Seth menggeleng lalu tersenyum.
“Atau aku melakukan hal gila semalam dan tidak sedikitpun aku mengingatnya?” seru Karen menatap Seth dengan tegang.
“Kamu sangat manis sekali semalam,” ujar Seth sambil mengelus dagu Karen sebentar lalu mengambil botol air mineral yang dipegang wanita itu.
Kontan, Karen langsung melakukan tindakan defensif dengan menarik selimutnya dan mendekap erat selimut tersebut dengan kedua tangannya. Setelah itu, Karen memundurkan tubuhnya hingga tak ada lagi ruang yang tersisa. Lalu Karen menatap galak pada Seth yang duduk di pinggir sisi ranjangnya.
“Apa yang sudah kamu lakukan padaku?!” pekik Karen galak.
“Kita, tepatnya,” ralat Seth sambil tersenyum jail.