Karen menelan ludah. Tidak siap menerima kenyataan pahit tersebut. Namun, sebagian dirinya ingin memastikan dengan benar. Sampai ia benar-benar yakin bahwa memang tadi malam ia dan Seth Kyler memang bercinta.
Jika benar kenyataannya demikian, mengapa Karen tidak sedikitpun mengingatnya sih?
Apa benar karena dia sangat mabuk? Seingat Karen sih, semalam ia hanya minum dua gelas wine saja saat pesta resepsi berlangsung dan segelas kecil ketika di bar. Itupun karena disodorkan Seth. Atau jangan-jangan, Seth menaruh obat tidur di minumannya?! Astaga, mengapa Karen benar-benar ceroboh!?
“Aku tidak tega menjahilimu jika wajahmu ketakutan begitu,” sergah Seth kemudian tertawa. “Kamu benar-benar hiburan buatku.” Seth mengelus lembut pipi Karen.
Lantas, Karen langsung menepis tangan Seth yang tengah mengelus pipinya.
“Jangan menyentuhku tanpa izin dariku!” pekik Karen.
“Baiklah, aku akan mengingatnya,” ujar Seth lalu tersenyum dan bersedekap kembali. “Semalam, aku memang menaruh obat tidur pada teh peppermint yang kamu minum. Bukan untuk tujuan yang tidak-tidak seperti yang kamu pikirkan. Wajahmu terlihat begitu letih, lingkaran hitam juga terlihat jelas sekalipun kamu menutupinya dengan make-up. Pasti gara-gara kamu susah tidur, kan?”
Karen menatap Seth masih dengan tatapan memicing penuh curiga. Mencoba mencerna setiap pengakuan Seth dan memilah mana yang harus wanita itu percayai. Ia juga menimbang-nimbang apakah saat ini sedang diperdaya oleh Seth?
“Coba kamu ingat-ingat lagi kalau nggak percaya dengan penjelasanku.” Seth berdiri kemudian berjalan menuju lemari baju yang terletak di dekat ruang tengah. “Oh ya, ini barang yang kamu ributkan dari semalam,” seru Seth mengambil sepasang heels hitam.
Seketika, Karen mengingat dengan jelas peristiwa apa tepatnya yang semalam ia alami. Perlahan, otaknya memutar kilas balik rentetan kejadian semalam. Sejurus kemudian, ia bernapas lega. Lalu Karen menyingkirkan selimut yang melingkupi tubuhnya dan menghampiri Seth.
“Aku pikir akan kehilangan sepatu ini…” seru Karen dengan mata berkaca-kaca sambil menatap sepasang heels hitam yang kini sudah berada dalam genggamannya.
“Demi sepatu itu, kamu lupa dengan kondisi kakimu. Apa sepatu itu pemberian dari orang yang kamu cintai?” sindir Seth.
Karen mengangguk, “Papaku yang membelikannya.”
“Untunglah aku berhasil menemukannya.”
“Terima kasih,” ujar Karen lalu tersenyum menatap Seth hingga membuat pria itu membeku dalam keterpanaaan. “Oh ya, aku masih ingat penawaranmu semalam. Bisa dibilang, semalam aku sudah menginap di kamarmu, kan? Setelah aku pikir-pikir, lebih baik kita sudahi saja semuanya. Urusan kita sampai di sini saja. Begitu kembali di Jakarta, anggaplah kita orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain,” seru Karen mengembalikan lagi kesadaran Seth.
“Kamu ingin menyelesaikan semuanya di Bali?”
Karen mengangguk antusias. “Aku nggak ingin terlibat lebih jauh lagi denganmu. Dan untuk yang semalam, kamu nggak perlu membayar apa-apa. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena kamu menemukan kembali sepatuku.”
“Tapi—“
“Aku akan memikirkan cara lain untuk menyelesaikan masalah finansialku,” potong Karen.
Seth tersenyum seraya mengerti. Pria itu tahu tidak boleh memaksa Karen terlalu jauh untuk saat ini. Seth nggak ingin membuat Karen merasa tidak nyaman. Mungkin, detik ini Karen belum siap terlibat sesuatu yang lebih besar.
Sayangnya, yang wanita itu tidak ketahui bahwa ia memang sudah terperangkap masuk ke dalam sebuah jebakan.
Seberapa besarpun Karen berkelit, mendorongnya sejauh mungkin, lalu berlari ke ujung dunia sekalipun, wanita itu sudah tidak pergi lagi dari hadapannya.
***
“Anda Ibu Karenina Hadinata?” sergap seseorang dengan setelan serba hitam dan kacamata serupa yang menghadang Karen ketika tengah menyeberang menuju halte bus di dekat terminal dua bandara Soekarno Hatta.
Karen tersentak sampai kopernya nyaris terhempas membentur kaki kanannya. Bukan hanya satu orang laki-laki berbadan tegap saja yang menghadangnya. Tapi ada tiga orang yang tengah menghadang tubuhnya yang mungil. Apakah mereka adalah penagih hutang utusan rentenir tempat mamanya meminjam uang?
“Ya, saya Karen. Ada apa ini?” tanya Karen.
“Atasan saya ingin segera bertemu anda. Silakan ikuti saya untuk langsung menuju tempat di mana atasan saya menunggu.”
“Apakah kalian penagih hutang? Saya bisa kasih seratus juta lagi, oke? Asalkan kita bicara baik-baik,” seru Karen kemudian mundur beberapa langkah.
Ketiga pria itu saling melihat satu sama lain seraya mengisyaratkan sesuatu.
“Ibu Karenina bisa menjelaskan pada atasan saya langsung. Lebih baik untuk saat ini mohon ikuti instruksi yang saya berikan,” seru pria itu lagi dengan nada tegas.
“Oke, baiklah,” ujar Karen mengangguk.
Pria plontos yang berdiri di belakangnya dengan cepat menyambar koper yang ditentengnya lalu mendorongnya. Pria satu lagi sedikit mendorong bahunya agar mengikuti pria tegap yang sejak tadi berbicara dengannya. Belum sampai semenit, sebuah mobil sedan hitam keluaran terbaru muncul.
Sebelum pria itu duduk di kursi sebelah kemudi, ia membukakan pintu untuk Karen lalu mengisyaratkan wanita itu untuk masuk. Karen menelan ludah beberapa saat. Apakah artinya dia sedang diculik? Bagaimana kalau nanti dia dibawa ke tempat terpencil dan disiksa pelan-pelan? Atau yang terburuk, dia dijual pada p****************g?!
“Kalian pasti menakutinya kan sampai dia gemetaran begitu?” seru seorang wanita.
Seketika, segala macam imajinasi liar Karen lenyap ketika menatap seorang wanita modis dengan setelah Gucci terbaru sambil memangku tas tangan kecil keluaran Channel. Wanita itu menghisap vape-nya lalu menghembuskan asapnya.
“Maaf, Nyonya. Saya terpaksa melakukannya supaya bisa segera masuk ke mobil,” seru pria tegap itu.
Wanita itu mengibaskan tangannya lalu menghadap kepada Karen, “Ah ya, di mana kesopananku? Maaf, atas segala kekacauan yang membingungkan ini. Perkenalkan, Jesslyn.”
Sekalipun masih bingung, Karen menjabat tangan kanan Jesslyn yang disodorkan di hadapannya.
“Karen—“
“Ya, aku tahu. Karenina Hadinata, kan? Fashion designer yang kariernya tengah cemerlang dan banyak dibicarakan orang-orang. Anak dari Kresna Hadinata, salah satu pebisnis top di Indonesia yang tengah koma di rumah sakit. Aku turut bersimpati, sayang,” seru Jesslyn sambil menatap penuh arti pada Karen.
Karen masih diam dengan kedua alisnya yang menaut tegang.
“Aku tahu bagaimana rasanya terperosok ke jurang terdalam tanpa siapapun yang bisa menolong. Tidak ada yang bisa kita andalkan selain diri sendiri, kan?” ujar Jesslyn lagi.
Karen mengangguk.
“Untuk itu, aku akan menawarkanmu bantuan. Oh, bukan bantuan lagi. Malah aku rasa kamu harus melakukannya supaya bisa menyelamatkanmu dan keluargamu,” sergah Jesslyn sambil menerima amplop cokelat yang baru saja disodorkan pria tegap tadi.
“Maksud Tante?”
“Jesslyn saja. Panggil saja namaku,” ralat Jesslyn.
“Maksudnya gimana, ya?” tanya Karen lagi.
“Berikan saja anak yang sedang kamu kandung padaku. Maka aku akan membereskan seluruh masalahmu.”
“Mengandung? Anak?!” tanya Karen tergeragap. Namun detik berikutnya, wanita itu menutup mulutnya dengan tangannya.
“Kamu habis bermalam dengan Seth Kyler, kan di residential suite di resort Sunshine? Kamu bisa hadir di pesta resepsi pernikahan keponakanku, karena kamu adalah perancang gaun pernikahan Tiffany Leksmana.”
“Tapi kami nggak melakukan apapun,” sambung Karen cepat dengan nada tegas.
Jesslyn tersenyum sarkastis, “Bukankah kita harus memeriksanya untuk mendapatkan kebenarannya?” ujar Jesslyn lalu bersedekap.
Karen mengerjap beberapa kali, “Setahuku hal seperti itu nggak bakal terjadi hanya karena one night stand?”
“Ah, ini kali pertama kamu tidur dengan pria, ya? Pantas saja,” seru Jesslyn kemudian terkekeh. “Rupanya selera wanita Seth tidak berubah.” Jesslyn kemudian menggelengkan kepalanya.
“Apakah anda memiliki hubungan khusus dengan Seth atau keluarga Kyler?”
“Bisa dibilang begitu. Aku adalah ibunya Seth tepatnya. Astaga, sudah lama aku nggak mengatakan kenyataan itu dengan lantang,” seru Jesslyn tersipu sesaat.
“Mama Seth?!”
“Aku langsung saja to the point supaya kamu nggak banyak memberiku pertanyaan lagi.” Jesslyn memutar bola matanya. “Jadilah ibu pengganti dan berikan aku seorang cucu laki-laki.”
Ada apa sih dengan keluarga Seth? Mengapa lagi-lagi menyinggung mengenai hal tersebut?
“Aku sedang diburu waktu dan bukankah kamu juga sama?” seru Jesslyn penuh arti. “Aku akan mengenalkanmu pada dokter yang akan menangani prosedur ini. Kamu tidak perlu berhubungan intim sehingga prosesnya tidak akan panjang dan melibatkan perasaan, bukan?”
“Maaf, tapi—“
“Oh, Karen, sayangnya kamu tidak bisa menolak. Kebetulan sekali, aku mengenal rentenir yang meminjamkan uang pada ibumu. Bisa kamu bayangkan apa yang akan aku perintahkan pada mereka kalau kamu nggak mau melakukan permintaanku?”
“Aku nggak takut dengan ancamanmu, Nona Jesslyn.” Karen menyahut pongah. Ia sendiri heran mengapa tiba-tiba bisa berubah lantang dan berani.
“Aku tidak sedang menggertak, Karen. Aku serius.” Jesslyn menatap nyalang pada Karen. “Aku mengenal dengan baik seluk-beluk dunia gelap ini. Rentenir, pemasok narkoba, pembunuh bayaran, aku akrab dengan hal seperti itu.”
“Tapi banyak wanita lain yang akan bersedia melakukan permintaanmu barusan, kan?”
“Memang banyak!” bentak Jesslyn. “Tapi hanya kamu yang dipilih putraku dari sekian banyak wanita. Bahkan sekalipun aku sudah menyodorkan pilihanku. Tadi aku sudah katakan bukan kalau sedang diburu waktu?!” geram Jesslyn kemudian bersedekap.
Sekarang Karen baru menyadari sebuah hal. Sandiwara one night stand itu semata-mata perangkap manis yang sudah disiapkan Seth untuknya.