(Jesenn Gunawan : Rindu Mantan)
Kala waktu terus berlalu
Hampa hidup tanpa senyummu
Kuingin kau tahu kumenunggumu
Kuingin kau tahu jiwaku rapuh
Mengingatmu menunggumu
Walau kutahu tak kan mampu
Masihkah kau rindu aku
Yang dulu setia di sampingmu
Masihkah kau ingat aku
Walau pun kutahu cintamu bukan milikku...
Di dekatmu kumerasa tenang
Di dekatmu itu yang kumau
Setiap waktu setiap napasku
Merindumu, menginginkanmu
Dipelukmu, dimanjamu
Walau kutahu tak kan mungkin
Masihkah kau rindu aku
Yang dulu pernah di sampingmu
Masihkah kau ingat aku
Walau pun kutahu cintamu bukan milikku
Tuhan kembalikan dia untukku...
___
... Zoya.
Zoya...
Zoya...
Abrisam tak bisa berhenti sedetik saja untuk tidak memikirkan nama itu. Bahkan ketika seharusnya ia sudah tertidur malam ini. Ia belum juga beranjak meski pun putrinya Val sudah tidur nyenyak sejak tadi. Matanya terus saja memandang prakarya rumah kardus buatan tangan Zoya tanpa kedip. Dia memang arsitek yang hebat.
"Kamu sudah mendapatkan apa yang telah menjadi impian kamu, Yaya. Kamu sibuk membangun rumah-rumah impian. Kamu mengabaikan rumah impianku--itu kamu. Pada akhirnya aku yang harus melepaskan impian aku untuk memiliki kamu, Zoya." Kali ini ia memandang putrinya yang terlelap di sampingnya.
"Val, apa yang harus Ayah lakukan padanya demi dirimu, Nak? Kamu menyayanginya, begitu pun juga dengan Ayahmu ini Nak, sangat mencintai dia. Tapi kita ... tidak bisa memiliki dia. Dia adalah miliknya sendiri--impiannya adalah dirinya. Tidak, dia tidak bisa bersama kita. Karena kita bukanlah impiannya."
Abrisam teringat sesuatu. Zoya menjemput Val kira-kira pukul 14. 05, kemudian ia pulang pukul 16. 00 dan sudah mendapati Zoya berada di rumahnya. Itu artinya Zoya cukup lama berada di rumahnya bersama Val.
"CCTV," gumamnya, dia begitu bersemangat ketika bisa menyadari kamera perekam itu. Segera beranjak ke ruangan kamera CCTV untuk melihat apa saja yang telah dilakukan oleh Zoya di rumahnya. Melihatnya, tentu saja itu tujuan yang utama. Dia yang sangat Abrisam rindukan. Dia...
Ia sudah duduk dan memutar rekaman siang tadi.
Semua yang Zoya lakukan di rumahnya terekam oleh kamera pengintai, ia dapat melihat pujaan hatinya di sana. Di rumahnya. Bersama putrinya. Mereka sangat akrab.
Hal pertama yang wanita itu lakukan adalah memasuki rumah bersama Val. Selanjutnya ia membuka sepatu, blazernya, dan mengikat tinggi rambutnya, hingga kemudian memasak di dapur rumahnya. Dia, Zoya, melakukannya.
Perlakuan manis Zoya terhadap Val membuat Abrisam selalu ingin memutar ulang. Ketika mereka makan bersama. Ketika membuat prakarya bersama. Kemudian ketika Val tertawa dengan begitu lepas layaknya anak kecil polos seusianya yang tak menyimpan kesedihan apa pun.
"Val..., Ayah sudah sangat lama tidak melihat tawa kamu seperti itu sejak ibumu sakit sayang, bahkan setelah dia pergi meninggalkan kamu, juga ayah."
Tapi kemudian tiba-tiba saja ia termenung. Wajahnya berubah menjadi marah. Sesuatu telah mengingatkan dirinya.
"Tolong jangan melakukannya pada putriku Zoya. Jangan mengulanginya lagi. Dia sudah ditinggalkan oleh ibunya. Tolong jangan..."
Jangan pergi lagi...
__
"Valery Zaidan, ayolah Nak jangan lama-lama Ayah sangat sibuk hari ini," kata Abrisam ketika menunggu Val sarapan bersamanya. Hal paling rutin yang selalu ia lakukan untuk putrinya sesibuk apa pun dirinya adalah menemaninya sarapan, dan mengantar juga menjemputnya dari sekolah. Tangannya terjulur merapikan rambut panjang putrinya.
"Ayah bukan hanya sangat sibuk hari ini, tapi setiap hari." Val turun dari kursi membawa potongan terakhir rotinya. "Ayo Ayah, akan aku habiskan sisa sarapan ini di mobil aja, sebelum aku dengar Ayah mengatakan yang sama."
"Oke, anak Ayah yang paling pintar."
"Jelas aja aku paling pintar, cuma aku anak Ayah!"
Abrisam terkekeh mendengar perkataan putrinya yang selalu di luar pikirannya. "Val tunggu Ayah!" serunya ketika Val sudah lebih dulu naik dan Ibrahim satpam penjaga rumah sudah membukakan pintu untuk mereka. Pagi ini Ibrahim terlihat begitu gagah dengan safari hitam dan kaca mata hitam yang ia kenakan.
"Aku hampir lupa!" Val menepuk jidatnya. "Ayah bisa bantu aku bawa prakarya."
"Oh, ya, tentu saja princess. Sebentar Ayah ambil."
Val menggendong tas sekolahnya, berjalan ke tengah sementara ia menunggu Ayahnya.
"Thank's Ayah. Baguskan?" mereka berjalan keluar.
"Bahkan terlalu bagus untuk disebut prakarya kamu, sayang."
"Mm..., aku dibantuin loh, Ayah." Val mengatakan seolah itu adalah berita paling penting.
"Siapa yang membantu?" dia berpura-pura tidak tahu. "Apakah..., kemarin ada ibu peri yang membantu kamu dengan tongkat bintang ajaibnya?"
"Ehem, iya, namanya ibu peri Zoya!" dia sangat bersemangat saat menjawab.
Si kecil Val sangat ingin ayahnya mengenal tante Zoya. Jangan khawatir Val, ayah kamu sudah sangat mengenal wanita itu. Sangat.
Abrisam meletakkan prakarya di kursi penumpang, sedangkan Val sudah duduk di kursi depan.
"Pakai sabuk pengamanmu, sayang." Abrisam tetap memasangkannya karena tak yakin Val akan memasang dengan benar. Menyalakan mesin mobil sambil menunggu Val menyelesaikan mengunyah rotinya, kemudian minum. Abrisam mengambil tisu untuk membersihkan mulut Val. "Ayo kita berangkat Tuan Putri."
"Ayah hari ini akan pulang malam atau sore, atau besok?"
Abrisam mengerutkan kening kemudian memakai kaca mata hitam. "Mungkin sore. Apa kamu ingin tidur sama Kevin malam ini? Besok hari Minggu kalian bisa jalan-jalan."
"Oke, aku mau."
"Kalau begitu nanti Tante Moza yang akan jemput kamu dari sekolah."
"Oke." Val berpikir sejenak kemudian berkata, "apalagi ya, cara aku untuk ketemu Tante Zoya?"
"Sayang, jangan membuatnya repot. Dia juga sibuk seperti Ayah."
"Baik, Ayah."
Di dalam hatinya Abrisam pun ingin bertemu Zoya lagi. Tapi ia tak punya alasana untuk bisa bertemu.
__
Sampai di ruangannya yang megah dan nyaman dengan dinding-dinding kaca yang menampakkan hampir seluruh isi kota Jakarta. Abrisam sang CEO menatap keluar dinding kaca. Kedua tangannya diletakkan di belakang punggung tegapnya.
Zoya, apa yang harus aku perbuat agar aku bisa bersamamu tanpa harus menyakiti kamu?
Pintu ruangannya diketuk dengan sangat sopan.
"Masuk."
"Permisi Pak, Pak Mario Abdilah dari Abdi Jaya Development sudah menunggu Anda di luar.
"Suruh dia masuk." Abrisam berjalan ke tengah.
"Selamat pagi Pak Abrisam. Akhirnya aku bisa meminta waktumu yang sangat berharga," pria berusia lima puluh tahunan itu menjabat tangan Abrisam dengan semangat dan percaya diri.
"Selamat pagi, senang juga bisa bertemu Anda," Abrisam menyambutnya dengan hangat.
Mario Abdilah sangat tahu Abrisam Zaidan Faeyza adalah tipe orang yang tidak ingin menghabiskan waktunya untuk bicara panjang lebar. Ia hanya bicara sedikit kemudian segera menyampaikan maksudnya. Tepatnya, ia tak ingin membuat kecewa di awal.
Abrisam meneliti proposal kerjasama yang ditawarkan kepadanya untuk membuat proyek perumahan dengan skala besar. Bibirnya menyunggingkan senyum ketika membayangkan gadis si pemilik ide mega proyek yang sedang diajukan kepadanya.
"Apa keutungan buatku?" tanya Abrisam setelahnya. Tidak ingin berbasa-basi, yang selalu diharapkan dari sebuah bisniss adalah keuntungan.
"Kau sangat tau apa keutungan kamu Pak Abrisam. Aku harap kamu bisa menjadi investor untuk mega proyek ini. Perusahaan milikku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan milikmu, Zaidan Faeyza Land. Itu sebabnya aku meminta bantuan kepada kamu, Nak Abrisam."
"Baik, tapi setelah aku melihat desain arsitektur bangunannya. Dan arsitek Anda harus bisa membuat aku jatuh hati pada... presentasinya. Ingat, ini adalah mega proyek pertama perusahaan Anda, Paman."
Ketika mendapat penawaran kerja sama, Abrisam sudah mencari tahu semua tentang Abdi Jaya Development dan tentang pemiliknya yaitu Mario Abdilah Habsyi. Dari nama belakang Habsyi tersebut Abrisam semakin penasaran hingga mengutus pengacaranya untuk menyelidiki siapa Mario Abdilah Habsyi. Dan ternyata seperti kecurigaannya. Arsitek bernama Zoya Aidan Habsyi adalah keponakan dari Mario Abdilah. Dan akan melakukan kerja sama dengan perusahaan miliknya.
Dia akan selalu membuatku jatuh hati...
"Jangan khawatir. Arsitek andalanku adalah lulusan S2 Arsitektur Swiss." Ia berkata dengan percaya diri.
"Baik. Hadirkan dia besok." Abrisam sudah sangat tidak sabar ketika mengucapkan itu kepada Mario Abdilah yang ternyata adalah paman Zoya, mantan kekasihnya yang menghilang.
"Baiklah Pak Abrisam, terima kasih banyak atas waktu Anda pagi ini. Aku sangat yakin kamu tidak akan kecewa dengan arsitekku yang satu ini. Dia sangat ... istimewa bagiku." Mario Abdilah, meski tidak menjelaskan bahwa arsitek tersebut adalah keponakannya, ia tetap selalu membanggakannya kepada siapa saja. Dan tanpa ia sadari bahwa ia telah membanggakan siapa keponakannya itu di hadapan mantan kekasihnya yang tak ia ketahui.
Abrisam tersenyum hangat dan mengantar tamunya keluar.
Membayangkan akan selalu bertemu saja ia sudah tak tahan untuk selalu melihat mata dan wajah arsitek wanita itu. Dia Zoya Aidan Habsyi, pujaan hatinya yang telah lama menghilang.
Abrisam menjadi salah tingkah sendiri di ruangannya. Ia sampai menggigit bibir sendiri karena tak kuasa menghapus senyum yang entah apa artinya. Ia mengepalkan tangan untuk menahan rasa ingin teriak saking senang akan selalu bertemu dengan Zoya untuk mengurus masalah proyek.
Tanpa ia sadari semua yang hilang sudah kembali, dia menemukan cinta yang telah lama pergi. Dan kini ia seperti kembali jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dan hanya kepada satu wanita pilihan hatinya, Zoya. Zoya Aidan Habsyi. Si keras kepala.
... Selamat datang si keras kepala, kamu akan merasakan bagaimana berhadapan denganku, mantan terindahmu...
___
Hari ini, Abrisam menjemput putri kesayangannya seperti biasa. Ia ingin benar-benar menjalankan tugas sebagai seorang ayah hingga sebisanya ia sendiri yang mengantar dan menjemput putrinya sekolah tanpa bantuan siapa pun.
Di tengah perjalanan menuju sekolah Val, ia melihat seorang wanita di sisi jalan. Wanita itu tampak sedang membuka bagian depan mobilnya. Mobil itu sepertinya sudah beberapa kali ia lihat belakangan ini. Abrisam lalu menepi, kemudian keluar dari mobilnya. Ia sudah tahu wanita itu siapa hanya dengan melihat bagian belakang dari seluruh tubuhnya. Pinggul yang langsing dan kaki yang jenjang itu milik Zoya Aidan Habsyi yang sangat ia kenali. Abrisam memilih untuk menikmati pemandangan sambil bersandar malas di sisi depan mobilnya. Ia kini melipat kedua tangannya di d**a.
Zoya merasa ada yang janggal di belakang dirinya, tapi ia tidak menoleh atau pun berbalik badan. Ia bersikap biasa saja, seolah tak terjadi sesuatu di belakang. Menutup kap mobilnya pelan-pelan. Dari bayangan yang terpantul di kaca depan mobilnya ia dapat mengenali siapa laki-laki yang sedang berdiri di belakang punggungnya memandanginya seenaknya. Zoya kemudian melihat laki-laki itu berjalan sembari membuka kaca mata ke arah dirinya. Zoya berusaha tak peduli, kemudian menegakkan punggungnya, melipat kedua tangannya di d**a.
"Perlu bantuan?" ia berbasa-basi.
"Untuk apa ada laki-laki di dunia ini, kalau urusan mesin seperti ini masih saja wanita yang menangani sendiri?" kata Zoya tanpa berbalik dan masih menatap bayangan laki-laki itu.
Abrisam membuang pandangan matanya sesaat ke satu sisi. "Dan untuk apa ... ada wanita di dunia ini jika... dia justru pergi saat dicintai?" seperti menuntut sesuatu dari kata-katanya.
"Apa kau sedang menyinggungku?"
"Ya. Tentu, karena kau adalah satu-satunya wanita yang--meninggalkan laki-laki seperti aku ini." Dia tampak menghubungi seseorang dari ponselnya.
"Moza, aku tidak bisa menjemput Val..."
"Jemputlah anak kamu, aku akan menghubungi montir." Kata-kata Zoya seperti tak didengar.
"Bisa tolong kamu bawa dia pulang," katanya lalu mengantungi kembali ponselnya di saku celana.
Zoya tak lagi ingin meladeninya. Ia lalu membuka kembali kap mobilnya dengan kasar hingga hampir menimpa kepalanya. Zoya tak tahu bahwa ia hampir saja celaka dengan kecerobohannya sendiri sampai ia menyadari bahwa tepat di atas kepalanya dua tangan kokoh laki-laki itu sedang menahan kap mobilnya. Aroma khas maskulin laki-laki yang sudah ia kenali itu membuat terbuai sesaat hingga matanya terpejam nikmat, kemudian ia membuka mata dan melirik di kanan dan kirinya. Perlahan tubuh di belakangnya bergeser ke samping. Berada begitu dekat dengan laki-laki di sampingnya membuat Zoya mundur satu langkah kaki. Ia tak ingin berkata apa-apa. Ia hanya bisa membiarkan laki-laki yang sudah ia kenali itu mengatasi mesin mobilnya yang mati tiba-tiba.
Entah apa yang dia lakukan pada mesin mobil Zoya hingga dia hanya butuh waktu tak lebih dari lima menit saja untuk bisa membuat mesin itu kembali menyala. Wajahnya tampak puas ketika berhasil membuat mesin mobil berbunyi, kemudian ia menutup kembali pintu mobil setelah menyalakan mesinnya.
Zoya tersenyum tipis lalu cepat-cepat menghapus senyum di bibirnya karena dia, laki-laki itu akan berbalik badan. Dia menutup kap mobil lalu berbalik ke arah Zoya. Menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya, kemudian berkacak pinggang dengan sombongnya.
"Hal yang mudah bagi laki-laki. Dan kamu akan semakin SADAR, bahwa wanita akan sangat membutuhkan seorang LAKI-LAKI."
Zoya hanya ternganga di tempatnya. Tak mampu bicara, atau mungkin tak ingin bicara dan memperpanjang masalah. Laki-laki itu melangkah ke arahnya lalu Zoya mengucapkan, "terim..."
"Tidak perlu berterima kasih," sergahnya, tepat di samping Zoya.
"Aku hanya ingin..."
"Aku hanya membantu kamu sebagai laki-laki sejati kepada seorang wanita malang yang sedang membutuhkan pertolongan." Lalu kemudian dia pergi seenaknya saja, meninggalkan Zoya yang mematung di tempatnya dengan rahang yang semakin kaku. Mulutnya membuka lebar dan matanya mengerjap.
Zoya mendengus kesal. "Abrisam tetaplah seorang Abrisam!" gumamnya dengan gigi yang mengatub rapat. Dia membunyikan klaksonnya dengan begitu keras sebelum meninggalkan Zoya yang memandang kepergiannya. Kemudian Zoya melangkahkan kedua kaki jenjangnya dengan kesal menuju mobilnya. Menyesal telah mendapat pertolongan dari Abrisam Zaidan Faeyza, laki-laki yang tidak pernah tahu bagaimana memilih kata-kata kepada seorang wanita. Khususnya kepada Zoya.
"ABI...!" dengusnya kesal. "Abrisam Zaidan Faeyza, tidak akan pernah berubah!" geram Zoya.
____