Fiona menarik napasnya dalam-dalam.
Kali ini sepertinya dia harus menenangkan diri karena menghadapi Lionel yang sekarang sudah jauh dari kata baik, harus menggunakan kesabaran yang ekstra banyak.
Wanita yang sudah mengenakan pakaian kerjanya ini kemudian mematut dirinya di depan cermin dan melihat sebuah tanda merah yang dengan sangat indahnya bertengger di leher mulusnya.
"Hah, Lionel sialan!" desis Fiona. Wanita ini tidak dapat mengikat rambutnya kalau dalam kondisi seperti sekarang.
Biar bagaimanapun Fiona tidak ingin jika ada orang yang mengetahui kalau dia sudah menghabiskan malam dengan Lionel.
Terlebih lagi pria itu pasti akan dengan sangat mudah mengejeknya kalau dia juga melihat tanda merah yang ditinggalkan olehnya akibat pertarungan semalam.
"Alkohol sialan. Seharusnya aku tidak mabuk dan menghabiskan malam dengan pria super menyebalkan itu!" maki Fiona pada dirinya sendiri.
"Sudahlah, menyesal sekarang juga tidak akan menghasilkan apa-apa untukku!" Wanita ini kemudian kembali menarik napasnya dalam-dalam.
Sekarang dia sedang memastikan kalau dia sudah terlihat cantik agar bisa lebih percaya diri lagi untuk berangkat ke kantor.
Setidaknya di kamar ini dia akan merasa lebih aman dibandingkan tadi ketika dia masih sekamar dengan Lionel yang dengan begitu percaya dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun.
"Baby, cepatlah keluar kalau tidak kamu akan terlambat!" Sebuah teriakan yang terdengar begitu nyaring membuat Fiona harus mengepalkan tangannya karena itu adalah suara Lionel.
Wanita ini menghentakkan kakinya kemudian dengan cepat mengambil tasnya untuk bisa segera keluar dan membungkam pria itu.
Ketika membuka pintu, Fiona harus dikejutkan dengan sebuah senyuman yang begitu ceria dari wajah Lionel.
"Baby, jangan cemberut seperti itu di hari yang indah seperti ini. Bukankah sudah kukatakan berkali-kali padamu kalau semakin kamu cemberut maka kamu akan semakin jelek?" Lalu, dengan senyumnya yang terlihat usil, lagi-lagi Lionel merusak mood yang dengan susah payah telah dibangun oleh Fiona.
Fiona memutar bola matanya dengan malas. "Bisa diam?"
Lionel menggelengkan kepalanya. "Kalau aku diam nanti kamu jadi kangen!" sahutnya dengan wajah sok imut.
Fiona dengan cepat kemudian menabrak tubuh pria itu agar dia segera pergi dari hadapannya.
Namun, sayang seribu sayang, sepertinya Fiona tidak bisa mengusir pria yang selalu membuatnya kesal itu karena sekarang tangannya sedang digandeng dengan begitu mesra dan juga begitu erat seakan Lionel tidak akan melepaskan Fiona.
"Oh, my! Lionel, tolong kamu lepaskan tanganku!" suruh Fiona dengan wajahnya yang terlihat sangat geram.
"Tidak mau!" sahut Lionel sambil bersiul.
Fiona menggertakkan giginya berkali-kali. "Ih, menyebalkan! Jangan bertingkah seperti ini karena aku harus segera ke kantor. Aku tidak mau terlambat karena ini menyangkut masa depanku!"
Lionel kemudian tertawa dan segera mencium punggung tangan istri tercintanya itu. "Kamu tidak usah takut seperti itu kalau bosnya sendiri masih sedang memegang tanganmu di sini."
Fiona menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya dengan cara meniup poninya. "Aku sungguh membenci pria bernama Lionel Abraham!"
"Sayangnya pria bernama Lionel Abraham itu sangat mencintai Nyonya Fiona Samantha Abraham!" balas Lionel dengan senyum usilnya.
Sementara Fiona hanya bisa menggerutu dalam hati karena dia tidak menyangka pria ini benar-benar telah membuatnya sangat ingin memakan sate dan lontong di waktu bersamaan.
***
Lionel saat ini sedang mengemudikan mobilnya. Mereka yang dalam perjalanan ke kantor hanya bisa diam karena sepertinya Fiona tidak ingin banyak bicara pada pria yang sedang sibuk dengan laju beberapa kendaraan yang terus saja memepetnya sejak tadi.
Pikiran Fiona sebenarnya sedang menerawang pada masa di mana beberapa tahun yang lalu ketika dia memutuskan untuk bercerai dari pria di sebelahnya ini.
"Tidak akan pernah ada cinta di antara kita berdua, Fiona. Berhenti bersikap seakan kamu sangat ingin menjadi istriku yang seutuhnya."
Kalimat itu terus saja dilontarkan oleh Lionel ketika Fiona yang menjadi istrinya selalu berjuang agar bisa memberikan yang terbaik baginya.
Fiona yang ketika itu masih berusia sangat muda, masih dipenuhi dengan angan-angan pernikahan yang indah, dan masih berharap kalau Lionel akan membalas cintanya, ternyata harus merasakan pahitnya sebuah akhir dari pernikahan.
Pria dengan sifat dingin dan juga kekakuan yang ada dalam seluruh saraf di tubuhnya, telah berhasil menyiksa Fiona sehingga dia tidak tahan dan memilih untuk mengakhiri pernikahan mereka.
"Aku tidak tahan denganmu lagi dan jangan pernah berharap kalau aku akan menerimamu jika kamu menginginkan aku kembali, Lionel. Sepertinya aku sudah memberimu banyak waktu selama beberapa tahun agar kamu bisa mencintaiku, tapi ternyata semuanya hanyalah kesia-siaan dan aku telah menyia-nyiakan masa mudaku. Perceraian adalah kunci. Kita berdua akan hidup masing-masing mulai sekarang. Selamat tinggal, Lionel Abraham!"
Fiona masih teringat dengan jelas bagaimana dia mengucapkan salam perpisahan pada Lionel kala itu.
Dia juga masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi datar pria itu yang seakan tidak merasakan penyesalan sama sekali atas perceraian mereka.
Lalu, sekarang pria ini kembali hadir dalam hidupnya dan mereka telah menikah lagi.
Mereka rujuk!
Ya, sebuah pernikahan yang terjadi karena adanya perjanjian yang mau tidak mau harus ditandatangani oleh Fiona karena dia tidak ingin terlilit hutang.
Jika dulu dia dan Lionel menikah karena mereka berdua dijodohkan. Maka, pernikahan yang sekarang mereka jalani adalah sebuah pernikahan yang didasari atas sebuah keterpaksaan yang harus dirasakan oleh Fiona.
"Bantu aku untuk melunasi semua hutang-hutang ayahku dan juga bantu aku agar ayahku tidak dipenjara, Lionel. Karena hanya kamu yang bisa aku mintai tolong."
Kalimat itu adalah kalimat yang penuh dengan rasa keterpaksaan yang diucapkan oleh Fiona ketika dia memohon dengan sangat pada mantan suaminya itu.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau hanya dengan satu permohonan itu saja Lionel yang tanpa banyak berpikir dan tidak membuatnya menunggu berhari-hari, langsung menyerahkan sebuah perjanjian pernikahan padanya yang mengharuskan dia menjadi istri Lionel kembali.
"Mau kamu berlari ke ujung dunia sekali pun, kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku, Fiona. Sekarang kita berdua akan mengikat janji lagi dan pernikahan ini tidak akan bisa dipisahkan sebelum kamu menghasilkan anak untukku!" bisik Lionel ketika untuk sekali lagi mereka mengucapkan janji suci pernikahan, tetapi ini adalah sebuah pernikahan rahasia.
Ya, Fiona mau menikah dengan Lionel, dia mau menandatangani surat perjanjian itu, tetapi pernikahan ini tidak boleh diketahui oleh siapa pun kecuali keluarganya.
"Cih, seharusnya aku berpikir ulang ketika mau menikah dengan pria ini lagi!" batin Fional yang mendesis kesal.
Bayangan akan bagaimana sikap Lionel yang sangat jauh berbeda dengan pernikahan mereka terdahulu, sekarang terus saja membuat Fiona merasa sangat menyesal.
Dia beranggapan kalau lebih baik menghadapi Lionel yang bersikap dingin seperti raja es dibandingkan dengan Lionel yang bertingkah konyol dan selalu saja menggodanya seperti sekarang.
"Hey, Cantik, kalau kamu terus melamun seperti itu maka kamu tidak akan bisa sampai di kantor tepat waktu!" Suara Lionel kemudian mengejutkan lamunan Fiona.
Pria tampan itu kini sedang tersenyum sembari menatapnya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan dengan kata-kata.
"Jangan berisik dan terus saja mengemudi!" suruh Fiona ketus.
"Kenapa kamu menyuruhku mengemudi? Memangnya kamu mau kuantar sampai di depan kantor?" tantang Lionel.
Fiona tertegun.
Dia kemudian melihat sekeliling dan sepertinya dia tersadar sekarang kalau mereka sudah sampai di tempat biasa Lionel harus menurunkannya.
"Cih, diam di sini dan jangan mengejekku lagi!" Setelah mengatakan hal itu Fiona kemudian keluar dari mobil dan membanting pintu.
Sungguh sesuatu yang membuat Lionel merasa gemas pada wanita itu setiap hari.
"Aku pasti akan bisa membuatmu jatuh cinta padaku meski sekarang perasaanmu tidak seperti dulu, Fiona," gumam Lionel sembari tersenyum dan mengamati bagaimana punggung wanita itu menghilang.
*****