Fiona melempar bobotnya di atas sebuah kursi dengan tatapan penuh heran dari teman-teman sekantornya.
Hal ini karena tidak biasanya wanita yang selalu tampak ceria itu, kini terlihat begitu muram dengan ekspresi wajahnya yang menakutkan.
Tatapan mata Fiona yang begitu bengis ke arah layar komputernya semakin membuat auranya mencekam sehingga teman-temannya tidak berani mendekat.
"Dasar pria b******k. Awas saja nanti kalau dia bertingkah macam-macam!" makinya dalam hati.
Bagaimana mungkin Fiona tidak mengumpat ketika dia hendak mengambil dompetnya di dalam tas, lalu menemukan beberapa bungkus permen dewasa yang tentu saja diletakkan dengan sengaja oleh Lionel.
Siapa yang tidak tahu bagaimana keusilannya?
Dia menginginkan anak, tetapi memakai permen dewasa ini. Aneh? Ya, dialah Lionel!
Ingin sekali Fiona menggigit pria itu sampai dia menciut karena saking kesalnya. Sayangnya, Lionel berada pada lantai tertinggi di gedung ini, sementara Fiona hanyalah karyawan biasa di lantai menengah.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya seorang pria yang mengambil tempat di sebelah Fiona dan melihat ke arah wanita itu dengan tatapan sedikit takut.
Fiona yang sedang memegang pulpen kemudian mendelik ke arah pria itu. "Menurutmu sekarang aku sedang baik-baik saja, Justin?"
Pria bernama Justin itu kemudian menggelengkan kepala. "Ah, aku tidak tahu. Kalau begitu aku pergi dulu dan semoga harimu Senin terus!"
Justin kemudian pergi meninggalkan Fiona yang sepertinya hendak melempar pria itu dengan kertas yang sudah diremas olehnya.
"Menyebalkan! Si biang rusuh itu terus saja mengganggu!" omel Fiona.
Wanita ini kemudian kembali fokus pada komputer dengan laporannya yang masih berantakan karena kemarin dia lebih memilih untuk mabuk-mabukan dan menghabiskan malam dengan Lionel.
Ah, itu adalah sesuatu yang sangat dibenci oleh Fiona dan dia sangat ingin menghapus ingatan itu.
Fiona kemudian berusaha untuk melihat sekeliling dan mencari sosok dari kepala divisinya.
Pria yang telah membuat Fiona mabuk-mabukan kemarin rupanya tidak terlihat batang hidungnya hari ini.
"Ke mana perginya Pak William?" tanya Fiona pada Justin yang sekarang sedang duduk dengan rapi kembali setelah merasa kalau Fiona sudah lebih tenang.
Justin tampak berpikir sambil melihat kursi kosong di ruangan kepala divisi itu. Sejurus kemudian pria dengan kacamata tebal ini lantas melihat ke arah Fiona lagi. "Kamu berani bayar aku berapa untuk informasi penting itu?" guraunya.
Fiona mendelik.
Sebuah kode yang bisa dimengerti oleh Justin kalau dia sedang tidak ingin bercanda dengannya.
"Duh, hari ini kamu terlihat menyeramkan sekali. Bahkan aku ingin bercanda pun kamu tidak mau!" gerutu Justin. Pria itu kemudian memperbaiki posisi kacamatanya yang melorot. "Hari ini katanya dia ada rapat penting dan didampingi oleh Selena. Dari pagi aku juga belum melihat mereka sepertinya mereka langsung berangkat dari tempat masing-masing."
Fiona tertawa receh.
Mendengar bagaimana Justin memberikan informasi tentang dua orang yang kemarin telah membuat dia patah hati itu, rasanya membuat wanita ini ingin segera melemparkan bom atom ke apartemen William.
Bagaimana bisa pria itu mencari alasan kalau menghadiri rapat penting padahal semalam dia menghabiskan waktu dengan Selena?
Kebohongan yang menjijikkan!
Akan tetapi, tentu saja Fiona tidak mau menunjukkannya di hadapan Justin karena hubungannya dengan William sendiri adalah hubungan yang merupakan rahasia di antara mereka berdua.
Hanya Lionel yang mengetahui hubungan mereka dan semalam pria itulah yang menjadi pelampiasan Fiona sehingga secara tidak sengaja dia menghabiskan malam yang panas dengan pria itu.
"Kenapa sekarang kamu malah melamun?" tanya Justin.
"Kamu mau tahu? Bayar aku 200 dolar dan aku akan memberitahumu!" seru Fiona yang membuat Justin memalingkan wajah dan melambaikan tangan pada wanita itu.
***
Fiona meremas kaleng soda dengan begitu mudah karena sekarang dia sangat emosi. Dia tidak habis pikir bagaimana mungkin William bisa tidak datang ke kantor bersama dengan Selena setelah semalam mereka ketahuan berselingkuh.
Ya, walaupun perselingkuhan itu hanya diketahui oleh Fiona dan Lionel saja tanpa diketahui oleh William dan Selena, tetapi tetap saja Fiona merasa kalau dia ingin sekali memaki-maki dua orang itu.
"Selena tahu hubunganku dengannya, tapi bisa-bisanya wanita itu merebut William!" gerutu Fiona di rooftop tempat di mana biasanya sebagian karyawan menghabiskan makan siangnya.
Suasana sudah mulai sepi, bahkan jam makan siang sudah lewat, tetapi sepertinya Fiona masih ingin mencari udara segar dan menikmati angin di atas atap perusahaan ini.
Terlalu banyak hal yang membuatnya kesal, jadi Fiona memutuskan untuk diam di sini daripada dia harus memarahi Justin yang begitu cerewet dan bertanya banyak hal padanya nanti.
"Aw, dingin!" Fiona terkejut.
Dia melihat ke sebelahnya dan mendapati sosok pria paling menyebalkan di antariksa tengah tersenyum usil padanya.
"Kamu lagi," gerutu Fiona yang menghentakkan kakinya dan bersiap pergi.
Lionel menahan tangan wanita itu. "Hobimu ini marah-marah, ya? Dasar!"
"Daripada kamu, hobimu mengganggu orang, ya?" balas Fiona.
"Kamu tahu segala hal tentangku, ya!" balas Lionel lagi.
Fiona menggigit bibir bawahnya.
Sesuatu yang biasa dilakukan olehnya ketika dia begitu kesal, tetapi tidak bisa meluapkannya.
Lionel paling suka melihat sisi diri Fiona yang seperti sekarang. Sisi di mana Fiona menunjukkan dirinya apa adanya di hadapan dirinya dan tidak malu-malu sama sekali atau sekedar jaim sekali pun.
"Bicara denganmu hanya membuang-buang waktuku saja!" omel Fiona yang menghempaskan tangan Lionel dan hendak meninggalkan pria itu.
Lionel sekali lagi menarik tangan Fiona. "Sepertinya hari ini mood-mu sangat buruk. Aku yakin itu bukan karena semalam, tapi sepertinya karena ada yang tidak masuk kerja hari ini," tebaknya.
Fiona mendelik. "Jangan sok tahu!" serunya.
"Tentu saja aku tahu karena semalam kamu yang kesal meluapkan semua emosimu padaku. Memangnya kamu tidak lihat tanda merah ini?" Lionel yang percaya diri kemudian membuka kancing teratas kemeja dan menunjukkan sesuatu di balik sana.
Kedua mata Fiona membulat sempurna ketika dia melihat sebuah tanda merah yang bertengger dengan sangat indahnya di bagian bawah leher pria tampan yang senang menggodanya itu.
Wajah wanita ini kemudian memerah.
Bayang-bayang tentang pertempurannya semalam dengan Lionel terus saja menghantuinya sekarang.
Bahkan, Fiona sama sekali tidak segan menunjukkan ekspresi wajahnya yang meringis ketika mengingat bagaimana dia yang memaksa Lionel untuk membuka pakaiannya.
"Argh, berisik! Itu semua karena aku mabuk dan sama sekali tidak ada hubungan dengan perasaanku. Paham?" sanggah wanita cantik dengan rambut berwarna coklat bergelombang ini.
Lionel terkekeh. "Aku tidak masalah. Hanya saja ...." Pria ini kemudian bersiul sambil menggerakkan tangannya seakan sedang membayangkan bagaimana lekuk tubuh Fiona yang seperti gitar Spanyol itu.
Plak! Plak!
Wanita ini kemudian memberikan dua buah pukulan ringan pada lengan Lionel karena dia begitu kesal digoda terus oleh pria ini.
Lionel hanya tertawa melihat bagaimana Fiona yang gemas dan juga sangat kesal padanya.
"Kalau kamu begini lagi maka aku akan pastikan kalau aku akan segera pergi dari apartemenmu!" gertak Fiona yang kemudian menendang kaki Lionel sebelum dia berlalu pergi.
Lionel hanya meringis sembari tersenyum penuh arti. "Dasar wanita aneh! Lihat saja seberapa lama kamu bisa tahan menghindariku," gumamnya.
*****