Fiona merapatkan kedua telapak tangannya lalu dengan cepat dia meraup wajahnya dengan kasar.
Wanita cantik ini sama sekali tidak peduli kalau misalnya make up yang dikenakan olehnya akan rusak karena ulahnya ini.
"Walau di mataku kamu tetap terlihat cantik, tapi kalau kamu melakukan hal bodoh seperti ini, rasanya aku tidak akan memujimu lagi, Fi." Justin yang melihat tingkah laku Fiona hanya bisa menasehati sambil menggelengkan kepalanya.
Fiona mendelik ke arah pria itu. "Aku tidak peduli pada apa itu make up, Justin. Lagi pula walaupun aku cantik kamu tidak akan pernah menaruh hati padaku!" selorohnya.
Justin hampir tersedak mendengar apa yang dikatakan oleh Fiona.
Wanita ini benar-benar tidak pernah memiliki filter ketika berbicara dengannya dan sepertinya dia tidak pernah menganggap kalau Justin adalah seorang pria.
Pria ini kemudian membuang napasnya secara kasar dan kembali fokus pada layar komputer di depannya.
Hal yang sama dilakukan oleh Fiona karena dia merasa lega melihat Justin yang tidak banyak bertanya lagi ataupun protes pada apa pun yang dilakukan olehnya.
"b******k. Sepertinya aku tidak tahan berlama-lama di kantor!" Fiona yang sama sekali tidak fokus kemudian mengepalkan tangannya. Dia lantas mematikan komputernya dan mengambil tasnya untuk segera pergi dari kantor ini.
"Hey, hey, Nona. Kenapa kamu sangat lancang pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun?" cegat Justin yang menarik tas Fiona sehingga membuat langkah wanita ini terhenti.
Fiona menarik napas dalam-dalam dan dia melirik sekitar di mana saat ini banyak karyawan lainnya yang melihat ke arahnya.
Sebuah pemandangan yang sangat menyebalkan dan tidak pernah disukai olehnya!
"Jangan ganggu aku sekarang karena aku sudah tidak tahan lagi berada di kantor, Justin. Aku ijin kerja setengah hari dan tolong kamu sampaikan pada kepala divisi kalau nanti dia masuk kerja!" ujar Fiona yang kemudian menarik tasnya sehingga terlepas dari tangan Justin dan berlalu pergi tanpa kata lagi.
Sepertinya wanita ini sangat enggan untuk berbasa-basi tidak penting dengan siapa pun sekarang.
Di lift dia pun terus saja mengomel dalam hati karena sedang membayangkan apa yang dilakukan oleh Selena dan William sekarang.
Ingin sekali dia membalaskan rasa sakit hatinya dengan cara merebut kembali perhatian William dari Selena dan membuat wanita itu kalah darinya. Namun, Fiona kembali teringat bagaimana desahan William yang menunggangi Selena sehingga rasa malas itu kembali menjalari dirinya.
"Sial, kenapa aku seperti orang bodoh dan tidak bisa melakukan apa-apa?" gerutu Fiona, masih di dalam hatinya.
Ekspresi wajah Fiona rupanya memberikan aura kelam dan mencekam pada orang-orang yang ada di lift dengannya.
Benar-benar Fiona yang cantik berubah menjadi seperti seorang monster di saat seperti ini.
"Are you okay?" Tiba-tiba suara yang begitu khas terdengar sehingga membuat Fiona sontak menoleh ke arahnya.
"Wow, Mr. Jacob?" sahut Fiona dengan jantung yang sedikit berdebar karena dia tidak menyangka kalau bisa bertemu dengan salah satu petinggi perusahaan. "I'm okay, tidak apa-apa."
Pria bernama Jacob itu kemudian berusaha untuk melihat dengan lebih jelas bagaimana ekspresi wajah Fiona yang saat ini sepertinya tidak baik seperti apa yang dikatakan olehnya.
Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Fiona!
Tiba-tiba saja tubuh pria tampan ini seperti ada yang menarik dan sosok pria di belakangnya benar-benar membuat Fiona terbelalak.
'Dia lagi, dia lagi,' batin Fiona.
Jacob yang tadi akan memeriksa kondisi Fiona, secara tiba-tiba terlihat tersenyum canggung dan sepertinya pria yang menarik tubuhnya itu membuat dia tidak bisa berkutik dan mundur perlahan.
"Bagaimana bisa kamu menaiki lift khusus untuk para petinggi perusahaan?" tanya pria pemilik suara bariton itu.
Fiona menggigit bibirnya. Dia menaikkan sebelah alisnya untuk mencerna apa maksud dari pria itu.
"Hm, kamu dari divisi apa? Sepertinya aku harus menegur kepala divisimu karena sudah lalai dan membiarkan bawahannya menaiki lift khusus ini," hardik pria tampan itu.
Fiona mencebikkan bibirnya, kalau saja ini tidak di tempat umum dan tidak ada orang lain, dia pasti sudah menendang Lionel yang bersikap sok keras padanya.
Wanita ini mencoba untuk menenangkan dirinya dan mengatur napasnya. Dia tidak boleh memperlihatkan bagaimana kekesalannya pada sosok Lionel apalagi ada Mr. Jacob dalam lift yang sama.
"Saya benar-benar minta maaf, Tuan Lionel. Saya tidak sengaja menaiki lift ini karena saya melamun," jawab Fiona yang menahan gemuruh di hatinya.
"Oh, ya?" Lionel mengedipkan matanya. Hal yang membuat Fiona sebenarnya geli.
"Jangan menggodanya, Tuan Lionel," tegur Mr. Jacob yang benar-benar menjadi penyelamat Fiona. Tidak heran pria ini digilai juga oleh para wanita di perusahaan.
Lionel mengangguk dan memberi jeda pada hati Fiona untuk bernapas sejenak. Berada dalam lift yang sama dengan manusia ini adalah hal terburuk dalam hidup Fiona saat ini. Dia kesal setengah mati pada sosok Lionel.
Lift berhenti, Fiona menjadi semakin salah tingkah apalagi ketika Lionel mengulurkan tangan dan mempersilakan wanita ini untuk keluar terlebih dahulu.
Fiona kemudian membungkuk dan memberi hormat pada Mr. Jacob. Tidak lupa wanita ini juga harus mempertahankan kesopanannya di hadapan para petinggi perusahaan lalu dia membungkuk pada orang yang sebenarnya paling membuat dia kesal.
Ya, mau tidak mau Fiona harus membungkuk memberi hormat pada Lionel yang saat ini sedang tersenyum menyeringai ke arahnya.
Kalau saja Mr. Jacob tidak meminta Lionel untuk tidak mempermasalahkan hal yang terjadi di lift saat ini, mungkin apa yang dikatakan oleh Lionel tentang memanggil kepala divisi tempat dia bekerja akan terwujud dan tentu saja William pasti akan memarahinya karena hal ini.
Ah, iya, William.
Wiliiam yang tidak masuk kerja hari ini bersama sekretaris tersayangnya.
Pria yang entah mengapa sudah membuat hari Fiona terasa begitu buruk.
Bahkan saat ini Fiona sendiri tidak tahu ke mana perginya pria itu bersama dengan Selena yang menjadi sekretarisnya.
"Tunggu aku di apartemen, sepertinya aku punya terapi yang bagus untuk membuatmu kembali tenang dan tersenyum, Baby," bisik Lionel yang sepertinya memang sengaja ingin membuat Fiona salah tingkah di depan semua orang.
Fiona hanya bisa mengepalkan tangannya dan menahan emosi karena dia tidak mungkin akan bisa menang kalau melawan sosok Lionel yang merupakan orang nomor satu di perusahaan ini.
Hah, di saat seperti ini dia yang tadinya ingin kabur sepertinya benar-benar harus segera pergi dari perusahaan ini untuk menenangkan dirinya dan mencari sesuatu yang bisa menghiburnya.
"Kamu kira aku akan menuruti permintaanmu untuk menunggu di apartemen? Oh, tidak bisa, Tuan Lionel. Amit-amit kalau aku harus jadi penurut!" gerutu Fiona yang kemudian berjalan meninggalkan gedung perusahaan dan memesan sebuah taksi karena dia tidak mungkin meminta Lionel mengantarnya yang bolos kerja setengah hari.
*****