"Kalau ponsel ini dinyalakan... teror dari b******n itu pasti akan langsung merobek kewarasanku."
Suara Izora terdengar serak, menyerupai bisikan putus asa di tengah sunyinya kamar utama yang luas. Gigi serinya menggigit bibir bawahnya terlalu kuat, menancap pada daging yang kemerahan, tetapi anehnya ia sama sekali tidak merasakan sakit. Rasa kebas di bibirnya tak sebanding dengan kekacauan psikologis yang tengah menggerogoti ulu hatinya tanpa ampun.
Di atas telapak tangannya yang bergetar hebat, tergeletak sebuah ponsel lama dengan layar hitam pekat. Benda persegi itu tidak pernah dinyalakannya lagi sejak malam pertama ia resmi menyandang nama Nyonya Sastrawidjaja. Sebagai gantinya, Sastra telah memberikannya sebuah ponsel keluaran terbaru dengan nomor yang sepenuhnya baru.
Ponsel dari suaminya itu layaknya sebuah cangkang isolasi yang sempurna; di dalam daftar kontaknya hanya ada nomor Aksara Banyu Sastrawidjaja, serta nomor kedua orang tua Izora. Dan Izora sengaja tidak memberikan nomor barunya kepada siapapun agar Setya kehilangan jejaknya secara permanen.
"Tapi jika layarnya tidak dinyalakan... rasa penasaran ini akan membunuhku pelan-pelan," gumam Izora lagi, napasnya tersengal menatap pantulan matanya yang nanar di atas layar gelap ponsel lamanya. "Ketenangan ini justru jauh lebih menakutkan. Bagaimana kalau Setya tiba-tiba melakukan hal gila di luar sana? Bagaimana kalau diamnya b******n sosiopat itu adalah sebuah persiapan untuk menghancurkan keluargaku? Ya Tuhan... aku hanya ingin hidup tenang!"
Izora tidak tahan lagi. Kakinya seketika melemas, tak mampu menopang bobot tubuh dan beban pikirannya. Ia menjatuhkan diri, berjongkok di atas karpet Persia tebal yang melapisi lantai kamarnya. Jari-jarinya meremas rambutnya sendiri dengan kasar, menarik helaian-helaian panjang itu dalam frustrasi yang memuncak.
Mimpi buruk tentang Setya yang menindihnya, napas busuk pria itu di tengkuknya, dan tawa gilanya yang bergema saat mencoba menodainya... memori laknat itu benar-benar telah menghancurkan pondasi mentalnya hingga menjadi debu. Jantung Izora terus berdebar tak karuan, berdetak dengan ritme abnormal yang membuat telinganya berdengung menyakitkan.
Tok. Tok.
Ketukan pelan dari balik pintu mahoni itu terdengar, namun cukup untuk membuat tubuh Izora tersentak hebat seolah baru saja disengat aliran listrik. Ponsel lamanya terlepas dari genggaman, jatuh berdebum ke atas karpet.
Ia memejamkan mata, menarik napas panjang melalui hidung dan menghembuskannya perlahan dari mulut. Memaksa dirinya menetralkan sisa-sisa kepanikan sebelum orang lain melihat seberapa hancur dirinya di dalam. Setelah merasa tangannya tak lagi gemetar, Izora bangkit berdiri, merapikan gaunnya, dan melangkah membuka pintu kamarnya.
Seorang pelayan paruh baya berseragam rapi menunduk hormat dengan postur kaku yang menjadi standar keluarga ini.
"Tuan meminta Anda untuk segera bersiap, Nyonya," ucap pelayan itu tanpa mengangkat pandangannya sama sekali. "Malam ini adalah jadwal makan malam rutin keluarga besar. Seluruh anggota keluarga sudah menanti."
Izora menelan ludah, memaksakan seulas senyum tipis yang terasa perih di bibirnya. "Baik. Aku segera bersiap."
Ia mengangguk lemah, lalu menutup pintu perlahan. Sekali lagi, ia harus mengenakan topeng Nyonya Sastrawidjaja yang sempurna.
***
Dua jam kemudian, ruang makan utama yang didesain layaknya balai perjamuan kerajaan telah dipenuhi oleh pilar-pilar penting keluarga Sastrawidjaja. Lampu gantung kristal raksasa memendarkan cahaya keemasan, menyoroti meja makan panjang berbahan kayu pualam yang ditata dengan perkakas perak dan porselen kualitas tinggi.
Izora duduk dengan punggung tegak di kursinya, mengenakan gaun sutra berlengan panjang berwarna sapphire blue yang elegan. Ia memaksakan senyum santun setiap kali pandangannya tak sengaja bertabrakan dengan paman, bibi, atau sepupu Sastra di seberang meja.
Satu-satunya kursi yang masih kosong di ruangan itu adalah kursi di sebelah kanan Izora.
Suara derap langkah sepatu kulit yang teratur dari arah pintu utama seketika menghentikan dengungan obrolan di meja itu. Yang terakhir bergabung adalah Sastra. Pria itu masuk dengan mengenakan kemeja gelap yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan aura maskulinitas yang tenang, dingin, namun mendominasi. Tanpa membuang waktu, Sastra menarik kursi di sebelah Izora dan mendaratkan tubuh tegapnya di sana.
Sastra menoleh perlahan, menatap Izora dari balik kacamata tipisnya. Pandangan pria itu menyapu dari ujung rambut hingga ke kerah gaun Izora dalam satu detik yang terasa sangat melambat.
"Pilihan warna yang bagus."
Suara Sastra yang rendah mengalun memecah sisa keheningan di sekitar mereka.
Izora langsung menoleh, menatap Sastra dengan bola mata yang sedikit membesar. Terkejut. Bukan hanya karena Sastra tiba-tiba bicara, tetapi yang jauh lebih mengejutkan adalah... pria super tenang ini baru saja memujinya di hadapan semua orang.
Pujian sederhana itu bagaikan batu yang dilemparkan ke tengah kolam tenang. Izora bisa merasakan seketika, belasan pasang mata dari seluruh anggota keluarga besar Sastrawidjaja langsung terfokus ke arahnya. Tatapan tenang Ranti dari seberang meja, pandangan menyelidik dari para bibi, semuanya mengunci pergerakan Izora.
Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian yang tiba-tiba, Izora buru-buru menyunggingkan senyum canggung, berusaha terlihat tersipu layaknya istri pada umumnya. "Terima kasih," balasnya dengan suara pelan.
Dari ujung utama meja, Kakek Sastrawidjaja meletakkan serbet kain di atas pangkuannya. Senyum berwibawa menghiasi wajah sepuhnya, memecah ketegangan yang sempat mengudara.
"Sepertinya makan malam kali ini berlangsung sangat hangat," ujar Kakek dengan suara seraknya yang bergemuruh di ruangan itu. Pandangan pria tua itu beralih menatap Izora dengan sorot mata yang teduh. "Aku sengaja meminta kepala juru masak untuk memasak makanan kesukaanmu malam ini, Sayang."
Mata Izora mengikuti arah pandang Kakek menuju piring saji perak di hadapannya. Berbagai olahan bebek panggang dan udang karang mentega, dua menu favorit yang selalu menjadi kelemahannya, tersaji dengan kepulan uap yang menggugah selera. Rasa haru mendadak menyumbat tenggorokan Izora. Di tengah dinginnya dinding keluarga ini, sang Kakek memberikan kehangatan yang tak ia duga.
"Terima kasih, Kek," ucap Izora tulus, matanya sedikit berkaca-kaca menatap pria sepuh itu. "Rasanya... serasa makan di rumah sendiri."
Kakek mengangguk pelan penuh kepuasan. "Karena itu, kau harus makan yang banyak."
Izora mengangguk hormat, mulai meraih alat makannya perlahan saat para pelayan mulai menyajikan hidangan.
Makan malam pun dimulai dengan denting pelan sendok garpu yang beradu elegan dengan porselen. Izora memotong daging bebeknya, namun dari sudut matanya, perhatiannya tanpa sadar tersita oleh piring Sastra.
Pria yang duduk di sebelahnya itu mengambil menu yang sepenuhnya berbeda dari hidangan mewah di meja. Sastra tidak menyentuh irisan daging bebek maupun udang. Di atas piring suaminya hanya ada salad sayuran, tahu sutra, dan sup kaldu jamur jernih. Pria itu tidak makan daging atau seafood sama sekali. Sastra mengiris jamurnya dengan ketenangan seorang aristokrat yang tidak tersentuh nafsu duniawi. Begitulah kira-kira perumpamaannya.
Izora mengerjap lambat, otaknya memproses informasi kecil ini. Aksara Banyu Sastrawidjaja benar-benar teka-teki yang sulit diraba.
Di tengah keharmonisan palsu yang dibangun di atas denting garpu tersebut, tiba-tiba terdengar suara cempreng khas anak kecil merobek keheningan yang tertata rapi.
"Paman Sastra dan Bibi Izora..."
Semua pergerakan di meja makan terhenti seketika. Izora mengangkat wajahnya, menatap ke arah keponakan Sastra. Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang kini sedang menatap mereka berdua dengan sorot mata polos tanpa dosa.
"Paman dan Bibi... kenapa tidak saling bicara seperti ayah dan ibuku?" tanya bocah tujuh tahun itu, telunjuk mungilnya mengarah pada kedua orang tuanya sendiri yang kini mematung pucat, lalu kembali menunjuk Sastra dan Izora bergantian.
"Kalian kan suami istri juga. Tapi kulihat-lihat... kalian justru terlihat seperti orang asing."
Deg.
Pisau dan garpu di tangan Izora terhenti mengambang di udara.
Keheningan yang tadi diisi oleh obrolan pelan kini berubah menjadi kematian yang pekat. Hening kembali. Bahkan jauh lebih hening dari sebelumnya. Tidak ada satupun dari keluarga besar itu yang berani menarik napas lebih keras. Udara di ruang makan itu seolah tersedot habis ke langit-langit, meninggalkan ketegangan yang mencekik leher.
Tidak ada yang menyela. Bahkan Kakek l pun tak mengucapkan sepatah kata untuk meredam kecanggungan itu.
Di sebelah Izora, Sastra perlahan meletakkan pisaunya di atas tepi piring porselen. Bunyi logam perak yang beradu dengan keramik itu terdengar pelan, namun bergema ke seluruh ruangan bagai dentang jam kematian yang tak terhindarkan.
Izora memperhatikan ekspresi Sastra.