"Aku dan bibimu sering berbincang. Hanya saja, kami tidak pernah melakukannya di depan umum, termasuk di hadapan keluarga besar."
Suara Sastra yang berat dan teratur memecah keheningan yang sempat membeku di ruang makan itu. Pria itu menatap lurus ke arah keponakannya yang berusia tujuh tahun dengan raut wajah yang sama sekali tidak berubah, tetap tenang, tanpa riak emosi, namun memancarkan otoritas yang tak bisa dibantah oleh siapapun di ruangan tersebut.
Sastra meraih serbet putih dari pangkuannya, menyeka sudut bibirnya dengan gerakan lambat yang memancarkan keanggunan seorang aristokrat berdarah dingin. "Alasannya cukup masuk akal. Kami berdua sama-sama tidak suka menampilkan interaksi atau mengumbar hanya untuk dipertontonkan."
Usai mengucapkan kalimat itu, Sastra menoleh perlahan. Sudut pandangnya yang tajam di balik lensa kacamata kini bergeser menatap Izora yang duduk mematung di sebelahnya. Tatapan pria itu seolah memiliki gravitasi sendiri, menarik paksa kesadaran Izora dari kepanikan yang nyaris menenggelamkannya. Di mata Sastra, ada perintah bisu yang menuntut validasi.
Izora menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdetak liar, memukul-mukul rongga dadanya saat beberapa pasang mata di meja panjang itu kembali menyorotnya.
Ia membalas tatapan Sastra selama sepersekian detik, mencoba menyelami mata suaminya, sebelum akhirnya memaksakan otot-otot wajahnya untuk membentuk seulas senyum kaku yang terlihat anggun.
Izora menoleh ke arah Pandu, menganggukkan kepalanya dengan lembut. "Benar, sayang. Kami berdua sepakat untuk tidak berinteraksi berlebihan di depan umum, dan sejujurnya... itu sangat melegakan bagi kami berdua."
Suara Izora sedikit bergetar di ujung kalimat, namun cukup meyakinkan untuk ukuran seorang wanita yang sedang berada di bawah tekanan psikologis yang hebat. Semua mata anggota keluarga masih menatap mereka berdua, tepatnya, menatap lekat ke arah Izora, mencoba mencari celah kebohongan dari bibir kemerahannya.
Pandu, bocah tujuh tahun yang menjadi pemicu badai kecanggungan ini, tampak mengerutkan kening mungilnya. Ia mengetukkan telunjuknya ke dagu, seolah tengah mencerna informasi tersebut dengan otak kecilnya yang kritis. Beberapa detik kemudian, bocah itu mengangguk paham.
"Hm... baguslah kalau begitu," sahut Pandu dengan nada polos yang menggema jenaka di ruangan luas itu. "Kupikir Paman dan Bibi benar-benar tidak bicara sama sekali. Soalnya, kalian sama sekali tidak terlihat seperti sepasang suami istri pada umumnya. Lihat saja ayah dan ibuku, mereka bicara terus sepanjang waktu, seolah-olah tidak ada manusia lain di sekitar mereka!"
Pernyataan lugas nan tak berdosa dari Pandu seketika memecah ketegangan.
Tawa serak dan menggelegar dari Kakek Sastrawidjaja meledak dari ujung meja, mengambil alih seluruh atensi ruangan. Pria sepuh itu menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap cucu buyutnya dengan sorot mata geli.
"Kau harus belajar banyak tentang kehidupan orang dewasa, Boy," ucap Kakek dengan suara tuanya yang berwibawa, sengaja menetralisir atmosfer yang sempat menipis. "Setiap pasangan memiliki cara dan bahasa mereka sendiri untuk berkomunikasi. Apa yang tidak kau lihat, bukan berarti tidak terjadi, bukan begitu?"
Beberapa anggota keluarga ikut tertawa pelan, mengangguk setuju dan mulai kembali meraih alat makan mereka. Suasana yang tadinya terasa seperti di ambang eksekusi hukuman mati kini berangsur mencair. Izora menghembuskan napas lega yang sedari tadi tertahan di kerongkongannya. Ia baru saja bersiap menyuapkan sepotong daging bebek ke mulutnya ketika sebuah suara mengalun memotong udara.
"Ayah benar."
Itu suara Ranti.
Dentang garpu Izora yang bergesekan dengan piring porselen terdengar nyaring saat ia kembali mematung. Ranti, meletakkan pisau dagingnya dengan gerakan yang terlalu anggun untuk sebuah ketidaksengajaan. Senyum keibuan terukir di bibir wanita itu, namun sorot matanya berkilat memancarkan racun yang mematikan.
"Setiap pasangan memang memiliki cara komunikasi yang berbeda," lanjut Ranti, suaranya mengalun lembut, sehalus beludru yang menyembunyikan silet tajam di baliknya. "Tapi... rasanya cukup unik juga kalau di hadapan keluarga sendiri pun mereka masih terlihat begitu asing."
Ranti memiringkan wajahnya, menatap lurus ke arah Sastra dengan keberanian yang hanya dimiliki oleh seseorang yang menyimpan rahasia kelam.
"Lagipula, ada garis batas yang sangat jelas, Sastra," ujar Ranti perlahan, mengeja setiap kata agar menancap tepat di ulu hati. "Memilih untuk tidak berinteraksi dengan memang tidak ada interaksi sama sekali... itu adalah dua hal yang sangat berbeda, bukan?"
Hening kembali merengkuh ruang makan itu. Kali ini, keheningannya terasa jauh lebih pekat dan berbahaya. Tawa kakek menguap tak berbekas. Udara mendadak terasa bertambah dingin belasan derajat. Kalimat Ranti bukanlah sebuah observasi; itu adalah sebuah provokasi terang-terangan. Sebuah tantangan terbuka yang dilemparkan ke tengah arena.
Sastra menatap Ranti. Sangat dalam.
Pria itu tidak sedikit pun memalingkan wajahnya. Matanya yang dihalangi oleh lensa tipis itu menelanjangi niat terselubung Ranti, menguliti rasa cemburu dan obsesi gila yang disembunyikan wanita itu di balik topeng kesantunannya. Ketegangan psikologis antara dua orang yang pernah berbagi masa lalu itu menguar, menyengat siapa saja yang berada di meja tersebut tanpa mereka sadari apa akar sesungguhnya.
Sastra mencondongkan tubuh tegapnya sedikit ke depan. Ketenangannya tak tergoyahkan, namun aura predatornya menguar tanpa ampun.
"Kalau aku memperlakukan istriku sesuai dengan keinginan dan ekspektasi visual kalian..." Suara Sastra merendah, berubah menjadi bisikan tajam yang menggema di setiap sudut ruang makan. Ia memberi jeda satu ketukan yang mematikan. "...aku sangat yakin, kalian semua akan gemetar melihatnya."
Banyak orang di meja itu tanpa sadar menahan napas. Kalimat Sastra berdengung layaknya ancaman memabukkan.
"Selain karena pemandangannya akan mengundang hasrat yang tidak pantas untuk dipertontonkan..." Sastra memutar pandangannya perlahan, menyapu wajah setiap anggota keluarga sebelum akhirnya kembali mengunci tatapan Ranti dengan seringai tipis yang menakutkan. "...keintiman kami, jauh lebih liar dari apa pun yang bisa otak kalian bayangkan. Dan aku tidak berniat membagi pemandangan itu kepada siapapun."
Skakmat.
Ranti membalas tatapan Sastra dengan mata yang membelalak samar. Wanita itu kalah telak. Mulutnya terbungkam oleh kalimat Sastra yang tidak hanya menohok, namun sengaja dirancang untuk menghancurkan harga diri dan ekspektasinya ke dasar neraka.
Jemari Ranti yang dihiasi berlian meremas gagang sendok peraknya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi, sementara bibirnya bergetar menahan amarah, mati-matian mempertahankan sisa senyuman yang kini terlihat sangat menyedihkan.
Di sebelah Sastra, Izora menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Wajah pucat wanita itu kini bersemu merah padam, menjalar panas hingga ke puncak telinganya. Rasa malu yang luar biasa hebat menghantam dadanya layaknya godam. Jantungnya berdegup gila. Ucapan Sastra membuatnya ingin hilang sekarang juga.
'Tidak perlu berkata sememalukan itu di hadapan semua orang!' jerit Izora dalam hatinya yang kelimpungan. Ia meremas kain bajunya, tak berani mengangkat wajah. 'Lagipula, keintiman apa? Hasrat apa? Nyatanya kita berdua memang tidak pernah bicara sama sekali! Jelas saja wajar kalau orang lain melihat kita seperti dua orang asing yang tersesat di satu ruangan!'
Semakin Izora memikirkan kebohongan besar yang diucapkan Sastra dengan wajah tanpa dosanya, semakin perasaannya bercampur aduk antara malu, panik, dan kesal. Tanpa sadar, bibir bawah Izora mengerucut maju, manyun mengutuki kelakuan Sastra yang seenaknya membangun narasi gila di hadapan keluarga cendekiawan yang kaku ini.
Di tengah situasi yang masih dipenuhi ketegangan dan keterkejutan itu, suara derit kaki kursi kayu yang bergesekan dengan lantai marmer memecah kebisuan.
Sastra bangkit berdiri. Posturnya menjulang tinggi, mendominasi ruangan dengan bayangannya. Ia merapikan lipatan kemejanya dengan satu tangan, lalu menoleh ke arah ujung meja.
"Aku sudah selesai, Kek," ucap Sastra singkat, memberikan anggukan hormat yang kaku.
Tanpa menunggu persetujuan atau menoleh sedikitpun ke arah istrinya yang masih menunduk dengan wajah semerah tomat, Sastra berbalik. Pria itu melangkah pergi.
Tidak ada yang berani bersuara sampai punggung Sastra benar-benar menghilang di balik pintu ganda.
Perlahan, ayah Sastra menoleh ke arah wanita yang masih mematung menahan amarah di sebelahnya itu. Pria paruh baya yang selalu terlihat tidak acuh itu mencondongkan wajahnya, mendekat ke telinga Ranti, dan berbisik dengan nada yang sangat rendah namun mengisyaratkan peringatan keras.
"Seharusnya kau tahu batasanmu. Kau tidak seharusnya berkata seperti itu pada Sastra. Jaga batasanmu, jangan membuatku malu di depan Ayah.”
Ranti tersenyum kaku, mengangguk samar. Tapi hatinya berkecamuk hebat.