“Apa yang kau inginkan sebagai imbalan?”
Pertanyaan itu meluncur dari belahan bibir Izora, rapuh dan bergetar, menyerupai cicitan nyamuk yang terjebak di dalam toples kaca. Suaranya nyaris tertelan oleh kesunyian kamar yang mendadak terasa begitu luas dan kedap udara.
Sastra tidak langsung menjawab. Pria itu berdiri hanya satu jengkal dari tubuh Izora, menjulang dengan postur yang memancarkan otoritas. Dari balik lensa kacamata berbingkai tipisnya, sepasang netra kelam Sastra menatap lurus ke dalam mata Izora.
Tatapan itu tidak mengandung amarah, tidak pula memancarkan simpati. Sastra menelanjangi setiap lapis keputusasaan yang Izora sembunyikan, mengupasnya perlahan tanpa perlu menyentuh kulit wanita itu.
Izora semakin sulit bernafas.
Keheningan yang membentang di antara mereka terasa sangat menyiksa. Izora tidak hanya takut untuk menarik napas, ia bahkan merasa terlalu gentar untuk sekadar menelan ludahnya sendiri.
Udara di sekitarnya seolah berubah wujud menjadi pilar-pilar es yang menghimpit d**a. Di balik gaun tidur suteranya, sebulir keringat dingin mulai merayap turun di sepanjang tulang punggungnya, meninggalkan sensasi beku yang membuat bulu kuduknya meremang.
Setelah detik-detik yang terasa seperti simulasi neraka, Sastra akhirnya memecah keheningan.
“Pikirkan sendiri apa yang sepadan dengan permintaanmu, Nona.”
Suara itu mengalun rendah, sangat tenang dan datar. Tidak ada intonasi penekanan, namun setiap suku kata yang keluar dari bibir pria itu jatuh bagaikan titah seorang tiran yang tak terbantahkan.
Izora menggeleng pelan. Kepalanya terasa pening oleh keputusasaan yang mencekik. Ia mencengkeram kain gaunnya semakin erat, buku-buku jarinya memutih pasi.
“Aku tidak tahu yang sepadan menurutmu apa,” balas Izora dengan suara parau. Ia benar-benar tidak tahu. Apa yang bisa ia tawarkan kepada pria yang telah memiliki segalanya? Kekuasaan, harta, kehormatan, Sastra adalah pewaris dinasti yang tak tersentuh.
Setidaknya itulah yang Izora pikirkan saat ini.
Sastra menganggukkan kepalanya dengan gerakan lambat yang sangat terukur. Ketenangan di wajahnya sama sekali tidak retak, justru semakin mengeras menyerupai patung pualam.
“Jika tahu tidak ada yang sepadan, jangan berani meminta.”
Kalimat itu menampar kewarasan Izora. Sebuah penolakan tak berdarah yang menutup seluruh akses jalan keluarnya. Rasa sesak di d**a Izora memuncak, mendesak pertahanan air matanya hingga runtuh. Mata bulatnya seketika berkaca-kaca, memantulkan pendaran lampu kristal di atas mereka.
“Tapi aku ingin bertemu orang tuaku…” Izora merintih, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Ia menatap wajah suaminya, memohon belas kasihan sekecil biji sesawi dari pria tenang tapi mengerikan ini.
Sastra menatapnya, masih dengan ketenangan yang mematikan. Namun kali ini, ada sebuah kilat gelap yang melintas di kedalaman matanya, sebuah bayangan posesif yang bersembunyi di balik topeng cendekiawan yang rasional.
“Atau bukan orang tuamu tujuanmu.”
Dahi Izora langsung mengernyit dalam. Air mata yang tadinya menggenang seolah terhenti oleh kebingungan yang tiba-tiba menyengat otaknya. Apa maksud Sastra? Apakah pria itu menuduhnya menggunakan alasan orang tua hanya untuk menemui pria lain di luar sana? Apakah Sastra menuduhnya ingin menemui Setya?
Tidak! Sastra tidak tahu apapun tentang Setya.
Namun, sebelum Izora sempat bereaksi, sebelum bibirnya sempat terbuka untuk melontarkan pembelaan atas tuduhan keji tersebut, Sastra mencondongkan wajahnya sedikit. Hawa dingin dari napas pria itu menyapu permukaan kulit wajah Izora.
“Bercinta.”
Satu kata itu dijatuhkan Sastra tanpa beban.
“Imbalan yang sepadan.”
Waktu berhenti berdetak. Logika Izora hancur lebur di udara.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Izora untuk mencerna kalimat gila tersebut, Sastra menegakkan kembali tubuhnya. Pria itu memutar tumitnya dengan keanggunan seorang bangsawan, berbalik, dan melangkah keluar dari kamar utama tersebut, meninggalkan Izora begitu saja tanpa menoleh lagi. Suara pintu kayu jati yang ditutup rapat menjadi dentang akhir dari eksekusi mental malam itu.
Di tengah ruangan yang kembali bisu, Izora mematung. Tubuhnya gemetar hebat, bagaikan daun kering yang dihantam badai. Lututnya akhirnya menyerah pada gravitasi. Ia merosot jatuh ke atas karpet tebal, memeluk dirinya sendiri sementara kata bercinta terus bergema, berulang-ulang di dalam tengkoraknya, mengutuk sisa malamnya dengan teror dan ketidakberdayaan yang menakutkan.
***
Keesokan paginya, matahari bersinar pucat, menembus tirai beludru kamar utama kediaman Sastrawidjaja. Cahaya itu sama sekali tidak membawa kehangatan bagi Izora. Ia melewati malam tanpa memejamkan mata sedetik pun, terjebak dalam labirin pikiran tentang imbalan yang Sastra minta.
Wajah Izora terlihat sayu, kantung matanya menghitam, dan bibirnya sepucat kertas. Ia duduk di tepi ranjang dengan nafas yang terasa berat. Ketenangan palsu di dalam mansion ini pelan-pelan mulai menggerogoti kewarasannya. Ia merasa buta dan tuli.
Rasa penasaran yang bercampur dengan paranoia akut akhirnya mendorong Izora menuju meja nakas. Tangannya yang dingin dan sedikit gemetar menarik laci kayu berukir itu, meraih benda persegi panjang berwarna hitam legam yang tergeletak pasrah di sudut laci.
Ponsel lamanya.
Izora menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Ia tahu ini adalah sebuah kesalahan. Menyalakan ponsel ini sama saja dengan membuka kotak Pandora yang telah ia segel rapat-rapat.
Seharusnya ia membuang benda laknat itu tapi tidak pernah dilakukannya. Namun, keputusasaan manusia selalu memiliki cara untuk membungkam logika. Ia hanya ingin tahu apakah Setya benar-benar sedang merencanakan sesuatu yang gila untuk menghancurkan keluarganya atau sudah berhenti menerornya.
Dengan ibu jari yang bergetar hebat, Izora menekan tombol daya.
Layar hitam itu perlahan menyala, menampilkan logo pabrikan, lalu masuk ke tampilan layar utama. Izora menahan napasnya, matanya terpaku pada deretan ikon yang mulai muncul. Otaknya sudah mempersiapkan diri untuk menerima rentetan bunyi notifikasi, puluhan panggilan tak terjawab, ratusan pesan ancaman dari Setya yang mengutuk pernikahannya.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Hening.
Tidak ada pesan singkat yang masuk. Tidak ada satupun panggilan tak terjawab dari nomor Setya. Layar berandanya sepi, nyaris statis, seolah nomor ini telah mati dan dilupakan oleh semesta.
Satu detik. Dua detik. Izora menghembuskan napas yang tertahan. Bahunya sedikit mengendur. Apakah Setya benar-benar sudah menyerah? Apakah pria sosiopat itu akhirnya mundur? Sebuah ilusi kelegaan sempat singgah di d**a Izora selama beberapa ketukan jantung.
Ting.
Sebuah bunyi notifikasi tunggal yang sangat pelan memecah kesunyian kamar.
Tubuh Izora tersentak kaku. Matanya langsung membelalak menatap layar. Bukan pesan singkat, bukan pula panggilan telepon. Melainkan sebuah notifikasi email dari alamat pengirim yang sama sekali tidak dikenalnya. Deretan huruf dan angka acak yang tidak membentuk nama apa pun.
Tangan Izora bergetar semakin hebat saat ia mengusap layar, membuka kotak masuk email tersebut. Udara di sekitarnya mendadak terasa menyusut, mencekik paru-parunya.
Begitu pesan elektronik itu terbuka, layar ponselnya memuat sebuah lampiran gambar. Perlahan, resolusi gambar itu menjadi tajam, dan saat itulah dunia Izora benar-benar hancur berkeping-keping.
Izora menutup mulutnya dengan kedua tangan, membekap sebuah jeritan pilu yang merobek tenggorokannya. Matanya memerah seketika, urat-urat kemerahan menjalar di area putih matanya yang membelalak dipenuhi teror murni.
Gambar di layar itu adalah sebuah foto. Foto dirinya sendiri.
Di dalam foto tersebut, Izora terlihat duduk di atas tepi sebuah ranjang dengan tatapan kosong yang dihiasi sisa air mata. Ia mengenakan sehelai lingerie sutra berwarna merah marun yang sangat seksi, mengekspos lekuk tubuhnya dengan cara yang paling vulgar dan merendahkan martabatnya.
Latar belakang foto itu sangat tak asing bagi Izora, dinding abu-abu gelap, lukisan abstrak, dan lampu gantung minimalis. Itu adalah kamar di apartemen pribadi Setya Pramudia.
Memori malam laknat itu kembali menghantam Izora bagai godam baja. Malam di mana Setya menyanderanya secara psikologis, memaksanya mengenakan pakaian haram itu dengan ancaman akan menghancurkan karir ayahnya jika ia menolak.
Setya tidak menyentuhnya secara fisik malam itu, melainkan menghancurkan kehormatannya melalui lensa kamera, mengabadikan kelemahan dan rasa malunya sebagai trofi kemenangan sang sosiopat.
Air mata Izora luruh dengan deras, jatuh membasahi punggung tangannya yang masih membekap mulut. Ia merasa mual. Perutnya bergejolak hebat, menolak realitas bahwa gambar menjijikkan itu masih eksis dan kini berada tepat di depan matanya.
Dengan nafas yang tersengal dan pandangan yang mengabur oleh air mata, Izora memaksakan dirinya untuk menggulir layar ke bawah, membaca teks pendek yang menyertai gambar laknat tersebut.
‘Jangan coba menghindariku, Sayang. Bagaimana kalau foto ini sampai ke tangan suamimu? Temui aku di apartement kesayangan kita, hari ini jam tiga sore. Aku merindukanmu, Izora-ku.’
Ponsel di tangan Izora nyaris terjatuh. Kalimat itu menamparnya bolak-balik tanpa ampun. Setya tidak menyerah; pria itu justru sedang menantang maut.
Kepanikan menyergap Izora. Otaknya menciptakan skenario-skenario mengerikan yang berlarian tak terkendali. Bagaimana jika Sastra melihat foto ini? Sastra, pria yang semalam baru saja memintanya untuk "bercinta" sebagai imbalan.
Sastra, pewaris Sastrawidjaja yang memuja kesempurnaan dan nama baik. Jika pria berdarah dingin itu mengetahui masa lalu kotornya, jika Sastra melihat foto vulgar ini... Izora yakin, dirinya tidak hanya akan diceraikan dengan cara yang paling hina, tetapi keluarga Prawiro juga akan ikut terseret dalam badai skandal yang akan menghancurkan segalanya.
Sastra tidak akan pernah sudi menerima seorang wanita yang memiliki jejak masa lalu semurah ini. Dan Sastra akan menyadari kenapa ia membuat kesepakatan untuk menikah. Sastra akan merasa dimanfaatkan lebih dari yang seharusnya. GAWAT!!!
Izora menangis terisak, bahunya berguncang hebat. Ia menarik rambutnya sendiri, merasa gila dan tak berdaya. Ia tidak bisa menemui Setya. Ia tidak boleh melangkah keluar dari mansion ini. Namun jika ia mengabaikan pesan itu, Setya benar-benar akan mengirimkannya kepada Sastra atau, lebih buruk lagi, menyebarkannya ke publik.
Logika Izora benar-benar lumpuh di bawah tekanan teror. Akal sehatnya tidak lagi mampu berpikir panjang tentang konsekuensi fatal dari merespons ancaman seorang sosiopat. Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah dorongan primitif untuk menghentikan ancaman tersebut sebelum terlambat.
Dengan jemari yang bergetar begitu parah hingga ia salah mengetik beberapa kali, Izora membalas email tersebut. Nafasnya terengah-engah, air matanya menetes jatuh mengenai layar kaca ponselnya saat ia memaksakan diri merangkai balasan singkat yang penuh dengan keputusasaan.
‘Tolong berhenti menggangguku, Setya!’
***
“A—aku terima tawaranmu. Ayo… Bercinta.”