Ingatan masa lalu yang berkelebat liar di benak Izora seketika hancur lebur menjadi serpihan debu saat telinganya menangkap sebuah bunyi.
Gagang pintu kamarnya ditekan ke bawah dengan gerakan terukur, disusul oleh dorongan pelan dari luar yang tertahan oleh pelat kunci pengaman.
Seseorang mencoba masuk.
Jantung Izora melonjak hebat hingga rasanya menghantam pangkal tenggorokan. Ia segera bangkit dari posisinya yang merosot di lantai, bertumpu pada lututnya yang gemetar, lalu dengan gerakan tergesa ia memutar kunci selot pintu hingga terdengar bunyi klik yang nyaring. Pintu bergeser terbuka. Izora mematung sejenak, aliran darah di sekujur tubuhnya seolah membeku seketika.
Di ambang pintu, berdiri Sastra.
Pria itu menjulang tinggi dengan postur lurus yang memancarkan d******i, menutupi sebagian besar cahaya dari lorong. Sejak malam pertama mereka mengikat kesepakatan laknat itu, Sastra tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya melampaui batas ambang pintu kamar ini. Kamar ini adalah zona netral, satu-satunya ruang kedap suara tempat Izora bisa bernafas tanpa harus mengenakan topeng Nyonya Sastrawidjaja.
"Berapa lama aku harus menunggumu mematung begini?"
Suara Sastra mengalun rendah, memecah keheningan yang mencekik. Nada bicaranya sangat tenang, datar, dan sama sekali tidak menyiratkan emosi apapun, namun cukup tajam untuk mengiris sisa-sisa kewarasan Izora.
Mata Izora mengerjap cepat, ditarik paksa dari keterkejutannya. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam, tak sanggup membalas tatapan gelap suaminya yang bersembunyi di balik lensa kacamata.
Dengan gerakan refleks, tubuh mungil Izora bergeser mundur, melangkah menepi dengan ketakutan yang kentara untuk memberikan jalan.
Sastra melangkah masuk ke dalam kamar.
Saat pria itu berjalan melewatinya, sebuah aroma maskulin yang pekat menyerbak ke dalam indra penciuman Izora, aroma sandalwood, lembaran kertas tua, dan… entah mengapa, indra Izora yang tengah dilanda paranoia menangkap sebersit samar aroma kelopak anggrek dan kelembaban malam.
Dada Izora berdesir ngeri. Pikiran liarnya kembali membawanya pada siluet pria di rumah kaca tadi. Apakah benar pria di hadapannya ini yang baru saja menemui Ranti di rumah kaca?
Sastra terlihat begitu bersih, tanpa cacat, kemejanya rapi tanpa satu lipatan pun yang keliru. Mustahil seorang pria yang baru saja melakukan dosa sebesar itu bisa terlihat begitu tak tersentuh oleh nafsu duniawi. Namun, di rumah ini, kewarasan adalah sebuah ilusi. Itulah yang ia simpulkan.
Sastra sama sekali tidak memperdulikan Izora yang bergetar di dekat pintu. Pria itu terus melangkah melewati ranjang king-size yang belum tersentuh, mengarahkan tujuannya langsung menuju pintu kaca walk-in closet pribadi yang berada di sudut ruangan.
Begitu pintu closet tertutup di belakang tubuh suaminya, Izora menghela nafas pelan yang sedari tadi disanderanya di kerongkongan. Bahunya yang menegang sedikit mengendur. Ada pergolakan emosi yang aneh di dalam dadanya; ia merasa takut hingga nyaris pingsan, namun di saat yang bersamaan, ia merasa lega.
Lega karena kedatangan Sastra ternyata bukan untuk mengkonfrontasikan perihal rumah kaca. Pria itu tidak tahu bahwa ia baru saja menyelinap keluar dan menjadi saksi mata atas aib keluarga ini.
Izora masih berdiri di tempatnya, menautkan jari-jarinya yang dingin ke depan perut, mendengarkan suara laci kayu yang dibuka dan ditutup dari dalam walk-in closet. Waktu terasa berjalan sangat lambat, meregangkan saraf-sarafnya hingga batas maksimal.
Tidak lama berselang, Sastra kembali keluar.
Di tangan kanannya, pria itu membawa sehelai dasi sutra berwarna hitam pekat. Sastra berhenti di tengah ruangan, tatapannya menyapu interior kamar sebelum akhirnya terkunci kembali pada sosok istrinya yang terlihat sekecil burung gereja yang terperangkap dalam sangkar elang.
Izora menelan ludah. Keputusasaan dan rasa rindu pada rumah orang tuanya tiba-tiba menekan rasa takutnya. Ia harus mencoba sekali lagi. Ia tidak bisa terus-terusan menjadi tawanan bisu di rumah gila ini. Mengumpulkan serpihan keberanian yang tersisa, Izora mengangkat wajahnya sedikit, menatap ujung kerah kemeja Sastra.
"Bisakah… bisakah kau izinkan aku ke rumah orang tuaku?"
Kalimat itu meluncur dari bibir Izora, bergetar, namun didorong oleh keputusasaan yang nyata. Ia meremas kain gaun tidurnya. "Aku sangat rindu mereka. Aku hanya butuh waktu satu hari… dari video call saja tidak—"
"Tama kurang jelas menjawab pertanyaanmu?"
Sastra menyela. Kalimatnya meluncur mulus tanpa intonasi tinggi, namun memiliki daya hancur yang setara dengan peluru tajam.
Napas Izora tercekat. Ruangan itu mendadak terasa hampa udara.
Izora menggeleng lemah, merundukkan kepalanya lagi. Gigi serinya menggigit bibir bawahnya sendiri terlalu kuat hingga rasa anyir darah mulai mengecap di lidahnya, berusaha menahan agar isak tangisnya tidak pecah di hadapan pria arogan ini.
"Sangat jelas," jawab Izora dengan suara parau yang menyedihkan.
Sastra tidak membiarkan percakapan itu berhenti pada kepatuhan yang pasrah. Pria itu mengangkat kakinya, maju satu langkah perlahan, memangkas jarak di antara mereka.
Seketika itu juga Izora mundur, punggungnya nyaris menabrak panel pintu kayu di belakangnya. Ada energi gelap yang menguar dari tubuh Sastra, sebuah d******i teritorial yang memaksa Izora untuk menyadari betapa kecil dan tak berdayanya dirinya di hadapan sang pewaris Sastrawidjaja.
Sastra berhenti tepat di luar jangkauan lengan Izora, namun cukup dekat hingga Izora bisa merasakan radiasi kehangatan dari tubuh pria itu, sebuah keintiman yang dipaksakan dan terasa sangat mengancam. Sastra menatap wanita di hadapannya dengan sorot mata yang menggelap, menjebak Izora dalam jaring laba-laba yang tak kasat mata.
"Ingat kesepakatan kita?"
Suara Sastra merendah menjadi bisikan serak yang menggema di setiap sudut kewarasan Izora. Pria itu memutar dasi hitam di tangannya dengan gerakan lambat yang hipnotis.
"Tidak saling bicara, apalagi di dalam ruangan ini, kecuali dalam kondisi yang sangat mendesak atau situasi yang memang mengharuskan adanya interaksi." Sastra memiringkan wajahnya sedikit, membiarkan pantulan cahaya lampu gantung menari di atas lensa kacamatanya yang jernih. "Jangan membuat pernikahan ini menjadi sesuatu yang menjemukan untukku, Nona."
Peringatan itu begitu lugas. Sastra secara terang-terangan mengingatkan Izora tentang hierarki tak terlihat di antara mereka. Izora bukanlah istri yang memiliki hak untuk merengek, ia adalah bagian dari transaksi yang harus tahu diri dan tahu tempatnya.
Namun, alih-alih semakin menunduk dan menerima penindasan psikologis itu, sebuah dorongan gila tiba-tiba merasuki Izora. Harga dirinya yang selama ini diinjak-injak oleh Setya di masa lalu, dan kini dikurung oleh Sastra, berontak untuk sesaat.
Izora mengangkat kepalanya secara impulsif, menantang gravitasi ketakutannya sendiri, dan langsung beradu tatap dengan sepasang mata dibalik kacamata itu.
Untuk sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, Izora justru terpana. Kemarahan dan ketakutannya menguap, digantikan oleh kekaguman visual yang mengkhianati logikanya sendiri. Sastra berada pada jarak yang sangat dekat, dan pria itu… sangat tampan.
Menawan dalam definisi yang paling mematikan. Garis rahangnya yang tegas bak pahatan seniman renaisans, hidungnya mancung tegas, dan kacamata berbingkai tipis yang bertengger di sana memancarkan aura kecerdasan yang luar biasa kental. Semua elemen itu berpadu, menyempurnakan pesona kelamnya menjadi sebuah mahakarya iblis yang tak bisa ditolak oleh mata wanita mana pun.
Tubuh Izora membeku, terperangkap dalam jaring pesona yang membingungkan. Ia menatap wajah suaminya seperti seseorang yang tersesat di padang pasir dan menemukan oasis beracun. Ia tahu air itu mematikan, tetapi ia tidak bisa berhenti menatapnya. Ketegangan di antara mereka berubah wujud; dari rasa ngeri menjadi sebuah intimasi yang mencekam dan menyesakkan d**a.
Dengan kedua mata yang sedikit berkaca-kaca menahan luapan emosi dan keputusasaan, Izora membuka bibirnya yang sedikit membengkak akibat gigitannya sendiri. Ia menjatuhkan sisa-sisa pertahanannya, menelanjangi kerapuhannya di hadapan predator ini.
"Tapi… sekali ini saja, kumohon."
Suara Izora keluar sangat lirih, nyaris menyerupai cicitan nyamuk yang kehilangan sayapnya. "Aku hanya butuh satu hari. Kumohon."
Udara di dalam kamar itu mendadak statis. Tidak ada desau angin, tidak ada bunyi detak jam. Waktu seolah dihentikan oleh otoritas Sastra.
Sastra menatap dalam ke dalam sepasang manik mata Izora yang memohon. Ketenangan di wajah pria itu sama sekali tidak retak, namun ada sesuatu yang bergeser di kedalaman matanya. Sebuah badai kelam yang tengah menimbang-nimbang nilai dari sebuah keputusasaan. Pria itu tidak bergeser satu inci pun, mempertahankan posisi dominannya yang mengurung Izora di antara dirinya dan pintu.
Tangan Sastra yang memegang dasi hitam perlahan terangkat, jari-jarinya yang panjang dan kokoh menyentuh ujung dasi tersebut, membelainya dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh perhitungan.
Ujung bibir Sastra terangkat, menciptakan sebuah seringai tipis yang tidak mencapai matanya, seringai yang sangat halus, menawan, namun sanggup membekukan aliran darah Izora hingga ke jantungnya.
"Permintaanmu tidak gratis," bisik Sastra dengan nada serendah palungan laut, menyapu wajah pucat Izora dengan nafasnya yang dingin dan memabukkan. "Apa imbalannya?"