“Malam-malam begini… mau ke mana dia?”
Gumaman itu lolos begitu saja dari belahan bibir Izora yang bergetar. Udara malam yang berhembus masuk melalui celah jendela lorong terasa membekukan tulang, namun pandangan Izora justru terpaku pada sebuah kejanggalan yang membuat darahnya berdesir aneh.
Dari balik pilar balkon, dahi Izora semakin mengernyit dalam. Ia menyipitkan mata, mengerjap beberapa kali hanya untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya di bawah sana bukanlah sebuah ilusi atau halusinasi akibat kurang tidur atau kecemasan yang sedang kambuh. Namun bayangan itu tetap nyata. Di tengah pekatnya malam dan temaramnya lampu taman, ia melihat Ranti berjalan menuju arah taman belakang.
Wanita itu mengenakan gaun malam berbahan satin gelap yang membalut tubuhnya, ditambah sebuah selendang sutra yang menutupi separuh wajah dan bahunya. Gerak-geriknya begitu waspada, terus menoleh ke kiri dan ke kanan seolah memastikan tak ada mata yang mengawasi. Ada ketergesaan yang ganjil dalam setiap langkahnya.
Rasa penasaran yang mematikan tiba-tiba mencekik akal sehat Izora. Tanpa sadar, kakinya melangkah maju. Izora berjalanseringan kapas, seolah rohnya sendiri yang menggerakkan tubuhnya. Ia membuka pintu kaca geser yang menghubungkan lorong dengan area taman, lalu melangkah ke luar.
Hawa dingin malam langsung menusuk kulit wajahnya, merayap masuk ke balik gaun tidurnya. Suara rintik air dari air mancur buatan di tengah taman menyamarkan bunyi langkah kakinya di atas rumput. Izora mengikuti Ranti dalam jarak yang aman, pelan, dan tanpa suara.
Langkah Izora membawanya ke ujung paling sunyi dari kediaman Sastrawidjaja. Di sana, berbatasan langsung dengan tembok tinggi yang memisahkan properti ini dari hutan pinus, berdirilah sebuah rumah kaca berukuran raksasa bergaya arsitektur Victoria kuno. Bangunan itu terbuat dari rangka besi tempa dan panel-panel kaca yang mengembun akibat perbedaan suhu, tempat di mana puluhan spesies anggrek dan tanaman eksotis dipelihara.
Izora melihat Ranti membuka pintu besi rumah kaca itu dan menyelinap masuk ke dalam, meninggalkannya sedikit terbuka sebelum akhirnya tertutup dengan bunyi klik yang tertahan.
Dengan nafas yang tertahan di tenggorokan, Izora merayap mendekat. Ia menyembunyikan tubuh kecilnya di balik pilar kayu besar yang menjadi penyangga teras rumah kaca tersebut. Perlahan, ia mencondongkan wajahnya, mengintip dari balik celah kaca yang sedikit buram oleh embun malam.
Di dalam sana, di antara rimbunnya dedaunan tropis dan bunga-bunga anggrek yang menjuntai dari langit-langit, Izora melihat siluet Ranti. Wanita itu membelakanginya, bahunya naik turun dengan nafas yang memburu.
Lalu, dari sudut tergelap rumah kaca, bayangan lain muncul.
Siluet seorang pria. Tinggi, tegap, dengan sepasang lengan yang memancarkan d******i. Cahaya bulan yang menembus atap kaca tidak cukup terang untuk menerangi wajah pria itu; wujudnya hanya terlihat samar, buram, dan sama sekali tidak jelas.
Izora membeku. Matanya membelalak lebar saat siluet pria itu menarik pinggang Ranti dengan kasar, merengkuh tubuh wanita itu hingga tak ada jarak yang tersisa. Ranti menengadahkan wajahnya, dan pria itu menunduk.
Pantulan siluet keduanya menyatu dalam sebuah ciuman yang liar, panas, dan sarat akan gairah yang lama terpendam. Ranti mengalungkan kedua lengannya ke leher pria itu, merespons pagutan tersebut dengan kelaparan yang sangat kontras dengan citra santunnya di siang hari. Suara decapan basah dan rintihan tertahan samar-samar terdengar menembus celah kaca, menyatu dengan suara jangkrik malam.
Deg!
Wajah Izora memucat seketika, namun detik berikutnya, kedua pipinya memanas hebat. Aliran darah berdesir cepat menuju kepalanya, membuatnya pusing. Ia malu sendiri. Dadanya sesak oleh campuran rasa terkejut dan rasa bersalah yang luar biasa karena telah mengintip aktivitas intim orang lain, terlebih lagi itu adalah ibu mertuanya sendiri.
Napas Izora memburu. Ia tidak sanggup melihat lebih jauh. Ia segera menarik tubuhnya mundur, berbalik arah, lalu berlari dengan langkah terhuyung-huyung meninggalkan area rumah kaca itu. Ia harus kembali ke kamarnya. Ia harus mengubur apa yang baru saja ia lihat dalam-dalam dan berpura-pura tidak pernah melihat apa pun.
Dengan sisa-sisa tenaga yang gemetar, Izora berhasil kembali ke dalam rumah melalui pintu sayap timur. Ia menyusuri lorong yang lantainya dilapisi karpet merah tebal. Kehangatan suhu ruangan mansion sedikit menenangkan syaraf-syarafnya yang menegang.
Namun, tepat saat ia melewati ruang duduk terbuka yang berbatasan dengan ruang baca utama, langkah Izora kembali terhenti seolah kakinya dipaku ke lantai marmer.
Di dalam ruangan benderang itu, di bawah pendaran lampu kristal yang mewah, duduklah dua orang pria yang tengah menghadapi papan catur kayu mahoni.
Itu adalah ayah mertuanya. Pria paruh baya itu duduk dengan tenang, menyesap cerutu di satu tangan sementara matanya fokus pada bidak-bidak catur. Dan di hadapannya, duduk pria yang merupakan kakak kandung Sastra. Keduanya terlihat sangat santai, menikmati permainan larut malam mereka dalam keheningan yang nyaman.
Napas Izora tercekat. Jantungnya serasa ditarik paksa dari rongga dadanya dan dijatuhkan ke dasar jurang es.
Otaknya berputar dengan kecepatan gila, menyusun potongan teka-teki yang baru saja menghancurkan nalarnya. Ayah mertuanya ada di sini.
Lalu… yang bersama Ranti di rumah kaca tadi siapa?
Siapa pria yang sedang berciuman panas dengan Ranti di tengah rimbunnya anggrek itu?!
Pikiran Izora menjadi kacau balau. Apakah Ranti memiliki pria simpanan di luar keluarga ini? Ataukah pria itu adalah bagian dari rumah ini? Asisten? Penjaga? Atau… pikiran liar yang lebih mengerikan mendadak terlintas di benak Izora, membuatnya mual. Tidak mungkin. Rahasia kotor macam apa yang sebenarnya bersarang di dalam dinding-dinding Sastrawidjaja ini?
Lamunan Izora yang dipenuhi teror itu buyar seketika saat sebuah suara berat menyapanya.
"Izora?"
Ayah mertuanya telah meletakkan bidak kudanya dan kini menoleh, menatap Izora yang berdiri mematung di ambang lorong dengan wajah sepucat mayat. Pria paruh baya itu mengerutkan kening, meletakkan cerutunya ke atas asbak kristal.
"Kenapa mematung di sana?" tanya sang ayah mertua, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu. "Terjadi sesuatu, Nak? Wajahmu pucat sekali."
Kakak Sastra ikut menoleh, menatap Izora dengan pandangan menyelidik yang tajam.
Mata Izora mengerjap cepat. Ia menatap ayahnya, lalu menatap kakak Sastra bergantian. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahinya. Lidahnya kelu. Mulutnya terasa penuh oleh kebohongan dan rahasia yang bahkan bukan miliknya.
"Ti—tidak…" Izora menggeleng lemah, suaranya keluar bergetar, terdengar seperti cicitan nyamuk yang menyedihkan di tengah ruangan raksasa itu. "Tidak ada apa-apa, Ayah. Maaf mengganggu… Aku… aku hanya haus dan ingin kembali. Aku pamit ke kamar dulu."
Tanpa menunggu balasan dari pria paruh baya itu, Izora menundukkan kepalanya dalam-dalam, berbalik, dan setengah berlari menuju tangga utama. Ia mendaki anak tangga dengan napas yang memburu, seolah iblis dari neraka tengah mengejar bayangannya.
Sementara itu, jauh di sudut tergelap mansion, di dalam sebuah ruang rahasia yang tersembunyi dengan sempurna di balik dinding panel rumah kaca raksasa itu, suhu udara terasa jauh lebih membakar daripada sekadar kelembaban tropis.
Aroma tanah basah, humus, dan wangi manis dari kelopak anggrek hitam berpadu pekat dengan aroma feromon, keringat, dan dosa. Di dalam ruangan kedap suara yang hanya diterangi oleh sebatang lilin lebah beraroma sandalwood itu, sepasang anak manusia tengah mereguk nikmat duniawi yang terlarang, membuang semua topeng kewarasan dan kesantunan yang mereka kenakan di bawah terik matahari.
Suara decitan meja kayu jati kuno yang menahan bobot dua tubuh manusia menggema berirama. Udara di dalam ruangan itu terasa tebal dan berat, diisi oleh nafas-nafas yang tersengal hebat dan rintihan yang tidak lagi ditahan-tahan.
Tubuh Ranti yang biasanya berbalut gaun sopan dan postur anggun, kini melengkung sempurna di atas permukaan meja kayu yang keras. Gaun malam berbahan satinnya telah jatuh tak berdaya menutupi lantai berbatu. Rambutnya yang selalu disanggul rapi kini berantakan, basah oleh peluh yang menetes, menempel pada leher angsanya yang jenjang.
"Ah… ahh…"
Napas si wanita tersengal hebat, memecah keheningan ruangan rahasia itu. Ranti mendongakkan wajahnya, memejamkan mata dengan raut yang menyiratkan ekstase sekaligus penderitaan yang memabukkan. Jemarinya yang dihiasi cincin zamrud mencengkeram erat tepi meja kayu hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha menahan guncangan demi guncangan yang menghantam pertahanannya.
Pria di belakangnya tidak memberikan ampun.
Tubuh pria itu yang kokoh dan basah oleh keringat, bergerak dengan ritme yang buas namun mematikan. Ia mendominasi, menguasai, dan menaklukkan wanita itu.
Pria itu menikmati hujaman demi hujaman yang diberikannya. Setiap kali pinggulnya beradu, tubuh Ranti bergetar hebat, mengirimkan gelombang kenikmatan yang menggetarkan jiwa raga wanita itu. Ini bukanlah sebuah percintaan yang lahir dari kelembutan; ini adalah sebuah pertempuran, d******i, dan gairah gelap yang dipicu oleh obsesi, rahasia, dan dendam yang berkarat.
Pria itu menunduk, menyusupkan wajahnya ke perpotongan leher Ranti. Ia menggigit kulit bahu wanita itu, meninggalkan ruam kemerahan yang esok hari harus ditutupi oleh Ranti dengan selendang mahal.
Ranti menjerit tertahan, sebuah jeritan yang sarat akan kepuasan puncak. Ia memutar kepalanya, membalas tatapan gelap pria itu dalam temaram. Di dalam ruang rahasia ini, ia bukanlah nyonya besar Sastrawidjaja. Ia hanyalah seorang pendosa yang menyerahkan tubuh dan jiwanya kepada iblis yang sama-sama tersesat.
***
Cklek.
Pintu kamar utama ditutup rapat. Terdengar bunyi klik dari pengunci mekanis yang diputar dengan kasar.
Sesampainya di dalam kamar, Izora luruh. Tenaganya benar-benar habis tak bersisa. Ia menjatuhkan diri, merosot perlahan dengan punggung bersandar pada panel pintu kayu jati yang kokoh. Tubuhnya melorot hingga ia berakhir duduk di atas lantai berkarpet, memeluk kedua lututnya dengan tubuh yang masih bergetar hebat.
Napasnya saling berburu, dadanya naik turun dengan ritme yang menyakitkan. Di dalam kepalanya yang berdenging, memori visual tentang apa yang baru saja ia lihat di rumah kaca tadi kembali berputar layaknya kaset rusak yang diputar paksa.
Siluet dua tubuh yang menyatu. Ciuman liar yang memabukkan. Ranti.
"Tidak! Tidak, tidak, tidak…" Izora menggelengkan kepalanya dengan kuat, mengubur wajahnya di antara lipatan lutut. "Itu bukan ilusiku. Aku tidak gila. Mereka ciuman! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!"
Air mata ketakutan dan kebingungan mulai menggenang di pelupuk matanya. Teka-teki ini terlalu berat untuk ditanggung oleh otaknya yang sudah hampir meledak.
"Tapi, siapa pria itu?" Izora bermonolog dalam kepanikan yang menyesakkan d**a. Ayah mertuanya ada di ruang catur. Kakak Sastra ada bersamanya. Lalu siapa pria bertubuh tegap di rumah kaca itu?
Sebuah kengerian psikologis mulai merayapi tengkuk Izora saat sebuah probabilitas gila melintas di kepalanya.
"Dan bagaimana Ranti bisa selingkuh?" bisik Izora dengan suara yang nyaris hilang, air mata akhirnya lolos membasahi pipinya yang dingin. "Ya Tuhan… apa ini? Rumah macam apa ini sebenarnya? Rahasia iblis apa yang sedang kumasuki ini?"
Izora meremas rambutnya sendiri, merintih dalam kebisuan kamarnya. "Kenapa harus aku yang tahu? Seharusnya aku tidak mengikutinya!”
Keputusasaan menguasai dirinya sepenuhnya. Izora memejamkan mata erat-erat, mencoba menghapus semua bayangan kotor dan mengerikan yang baru saja ia temukan.
Namun usahanya sia-sia. Bayangan itu malah tergantikan oleh ingatan lain. Ingatan yang jauh lebih awal. Ingatan tentang awal mula dari segala kehancurannya ini.
Pikiran Izora terlempar kembali ke masa lalu, tepat satu bulan yang lalu, saat ia dengan berani, dan sangat bodoh, menggali kuburannya sendiri.
Saat itu, di sebuah aula megah dengan pilar-pilar marmer yang dihiasi lampu kristal raksasa, tengah berlangsung sebuah acara perjamuan kaum cendekiawan elit.
Izora, yang baru saja menerima ancaman mengerikan dari Setya yang membuat jiwanya berada di ambang kegilaan, berjalan membelah kerumunan orang-orang berjas dan bergaun mewah. Pandangannya hanya terkunci pada satu sosok. Aksara Banyu Sastrawidjaja.
Pria itu berdiri di sudut ruangan, jauh dari keramaian, memegang sebuah gelas sampanye dengan wajah yang setenang danau hijau. Dia terlihat tak tersentuh. Sempurna. Seorang pangeran dari keluarga cendekiawan yang suci dan bebas dari skandal.
Tanpa basa-basi, tanpa peduli pada tata krama yang diagungkan oleh keluarganya, Izora melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan pria itu.
Sastra menoleh perlahan, menatap Izora dari balik kacamata berbingkai tipisnya dengan pandangan tanpa emosi. Tatapan yang sama tenangnya dengan palung laut yang mematikan.
Dengan napas yang sedikit tertahan dan keberanian yang dipaksakan, Izora mendongak menatap mata pria itu.
"Sepertinya kau sedang butuh seorang istri untuk membungkam perjodohan dari kakekmu," ucap Izora saat itu, suaranya mengalun datar, menutupi kepanikan yang mengoyak batinnya. "Aku bersedia."
Sastra tidak menjawab. Pria itu hanya diam, mendengarkan simfoni keputusasaan yang dimainkan oleh Izora.
"Situasiku saat ini sangat membutuhkan seorang suami yang memiliki kekuasaan lebih dari keluargaku," lanjut Izora, matanya berkilat memohon.
"Mungkin... kau berminat untuk bekerja sama denganku?"