bundaku ternyata cukup kecewa dengan keputusan kami untuk menyembunyikan hubungan kami selama ini, beliau menganggap bahwa sandi bukanlah lelaki yang baik, namun aku tetap berusaha untuk meyakinkan bundaku bahwa sandi adalah lelaki yang baik dan lelaki yang pantas untuk menjadi suamiku.
"bunda sandi itu baik, dia sengaja tidak ingin mempublikasikan hubungan kami karena memang dia hanya ingin kalian mengetahui ketika dia sudah kejenjang yang serius" aku memperjelas keraguan bunda agar bunda mengijinkan ku menikah dengan sandi
"bunda hanya khawatir anak gadis yang selama ini bunda sayangi dan tidak pernah ayah bunda sakiti jatuh ke tangan orang yang salah" ungkap bundaku
"tenang aja bunda aku akan menjadi wanita yang paling bahagia didunia ini karena dinikahi oleh sandi" ucapku seolah percaya diri bahwa aku akan bahagia selamanya.
akhirnya setelah meyakinkan orang tuaku mereka pun setuju untuk menikahkan aku dengan sandi
****
"Bu Ida iring iringan lamaran sudah tiba bu" kata Bu marni sambil berlari lari kecil menghampiri bundaku yang sedang menyiapkan hidangan untuk calon besannya yang dibantu oleh Bu marni dan keluarga besarku.
ayahkupun yang mendengar teriakan Bu Marni langsung berlari kegarasi rumah untuk menyambut sandi dan keluarganya diikuti oleh paman dan sepupu sepupuku.
"ayo nak sandi kita langsung masuk kedalam" sambut ayahku dengan ramah kepada sandi dan keluarganya
sandi hanya mengangguk sambil mengikuti langkah ayah dan keluargaku.
setelah masuk kedalam rumah ibuku memperhatikan perempuan yang matanya sedari tadi bergerak kesana kemari seperti memperhatikan setiap sudut ruang tamuku dengan sesekali tersenyum kecil hanya dia dan tuhan yang mengerti apa maksud senyumannya itu.
"itu siapa" bisik bundaku kepadaku menanyakan wanita yang dilihatnya itu
"kalau tidak salah ibunya sandi karena aku pernah lihat fotonya di hpnya sandi" jawabku yang juga berbisik .
proses lamaran pun berlangsung karena ayahnya sandi sudah meninggal jadi pamannya sandi yang mewakili keluarganya untuk mengutarakan maksud dan tujuannya datang kemari. setelah berbincang bincang pasal pernikahan akhirnya kami memutuskan untuk menikah satu bulan lagi.
setelah selesai proses lamaran dan diskusi tentang kapan waktu pernikahan sandi dan keluarganya pun berpamitan untuk pulang, ayah ibuku mengantar mereka sampai mobil mereka berlalu meninggalkan rumah kami .
"kamu kok bisa dapat calon suami cakep gitu sih sal?" tanya sepupuku Merry, Merry adalah sepupuku yang berpasar cantik berbadan langsing dan berkulit putih glowing , hobi berdandan dan kesalon sangat berambisi namun egois, dia adalah anak dari pamanku yang juga pemilik restoran yang cukup terkenal di kota metropolitan ini, dan dia sejak kecil selalu menganggapku saingannya, dia tidak pernah mau kalah dariku tentang hal apapun itu .
"Alhamdulillah rezeki" jawabku singkat, karena aku sudah mengerti apa maksud dari ucapannya, mungkin dia merasa calon suamiku lebih tampan dan lebih modis dari pacarnya. karena setauku pacarnya memiliki paras biasa saja dan suka berpenampilan sederhana namun yang aku suka dari pacarnya adalah dia orang yang sangat sopan dan sabar menghadapi Merry.
"terus kapan kamu dilamar?" tanyaku padanya
"aku belum mau saja, ya kali aja bisa dapat calon suami yang lebih bagus lagi dari si Doni" jawabnya datar.
"ddrrrrt drrrrt" bunyi getar ponselku
"jahat banget kamu enggak ngabarin aku kalau kamu lamaran"isi pesan teks dari Rendi . iya aku sengaja tidak mengabarinya karena aku tau dia pasti sakit hati karena selama ini dia selalu menyukaiku
"keluar SEKARANG!!! aku tunggu dimobil!!!" sambungnya. dari gaya chatnya sepertinya dia sangat marah . ku masukkan ponselku kedalam kantong baju dan akupun pergi menghampiri Rendi. sesampainya aku didalam mobilnya di melaju ke sebuah kafe tanpa berkata sepatah katapun selama didalam mobil akupun tidak membuka percakapan karena merasa bersalah kepadanya.
sesampainya di cafe kami pun duduk dan memesan minuman disini dia belum mengucapkan sepatah katapun kepadaku
"aakuuu"
"kenapa kamu lakukan itu?" tanyanya, belum aku melanjutkan perkataanku dia sudah memotongnya, aku tidak pernah melihat Rendi menampakkan wajah seperti ini selama aku mengenalnya, terakhir aku melihat wajah seperti ini ketika kami SMA disaat itu ada siswa laki laki yang mendorongku hingga aku terjatuh kemudian Rendi marah dan memukul siswa itu dan ekspresi wajahnya sama seperti sekarang ini.
"maafkan aku" jawabku dengan tertunduk
"aku tidak marah jika kamu mau menikah dengan siapapun meskipun itu bukan aku, karena aku hanya ingin melihat kamu bahagia. aku hanya kecewa dan marah karena kamu tidak mengatakan apapun kepadaku tentang rencana pernikahanmu . apa aku sebegitunya tidak penting dimatamu ?" jelas Rendi dengan wajah memerah antara marah dan ingin menangis
"aku tau sejak dulu aku selalu mengejarmu, bahkan aku selalu menguntitmu kemanapun kamu pergi, begitu nampak jelas bahwa aku tergila gila sama kamu. tapi apakah selama ini aku memaksamu untuk menyukaiku ? " sambungnya dengan melanjutkan pertanyaan .
dan jawabanku hanya menggeleng , karena memang dia tidak pernah memaksaku untuk menyukainya
"dengar Salwa, kita adalah sahabat dan kamu tidak memiliki sahabat lain selain aku. aku ingin meskipun kamu sudah menikah kamu tetap sama seperti Salwa yang aku kenal, Salwa yang setiap punya masalah selalu mengadu kepada Rendi, Salwa yang setiap mendapatkan kebahagiaan selalu bercerita kepada Rendi. aku hanya ingin itu aku tidak butuh yang lain asal kamu bahagia itu sudah lebih dari cukup" jelas Rendi sambil menggenggam tanganku.
aku hanya bisa tertunduk dan menangis sesegukan karena merasa bersalah sudah menyakiti sahabat yang begitu tulus dan selalu ada disaat aku dalam kondisi apapun, sahabat yang selalu memiliki misi untuk membuatku bahagia.
"udah jangan nangis, ayo kita pulang, nanti ayah dan bunda bingung karena tiba tiba kamu menghilang" sambungnya sambil mengajakku pulang. akupun hanya pasrah mengikuti semua ucapannya dan diapun mengantarku pulang, biasanya dia langsung masuk dan bercanda dengan ayah bundaku tapi hari ini dia tidak ingin masuk kedalam rumahku.
"Salwa dengar" ucapnya ketika melihat aku membuka pintu mobil
"kenapa?" tanyaku sembari menutup pintu mobil yang sudah terlanjur aku buka
"aku tau kamu sebentar lagi akan menikah, aku tidak akan menghalangiku karena yang aku inginkan hanyalah kebahagiaanmu dengan siapapun yang kamu pilih asalkan itu membuat kamu bahagia aku juga pasti akan bahagia. tapi satu hal yang kamu harus ingat, kamu jangan terlalu mudah percaya dengan laki laki karena ku tau kamu adalah perempuan yang sangat polos . dan satu lagi, jika suatu saat dia membuat kamu menderita aku tidak akan pernah bisa mengampuninya, akan ku hancurian hari bahkan hidupnya!!!" jelas sandi, aku tau apa maksudnya, dia adalah seseorang yang sangat perduli dan sangat menjagaku setelah kedua orang tuaku . ucapannya membuat hatiku sedih karena aku sempat melupakan dia disaat hari lamaranku.