setelah mendengar kabar bahwa aku mengandung wajah suamiku wajahnya langsung berumah menjadi badmood .
hatiku merasa sangat sakit melihat sikap suamiku ini. bukan kah anak adalah anugerah, entahlah aku tidak mengerti jalan pikirannya
"apa alasanmu hingga belum siap memiliki anak?" tanyaku penasaran
"kamu tau sendiri kita baru menikah sebulan kamu langsung hamil . kenapa tidak ditunda dulu sih sampai dua tahun baru punya anak" kelasnya kepadaku, alasan yang menurutku tidak bisa untuk ku terima. dia pun keluar dari kamar dengan wajah kesal, terdengar suara ibunya di luar kamar.
"kenapa wajahmu kesal begitu?" tegur ibunya
" aku kesal" jawabnya
"ada apa?" tanya ibunya lagi
"Salwa hamil" jawabnya singkat. aku berharap ibunya akan menasehati anaknya bahwa kehamilan bukanlah sesuatu yang harus sesali, namun sesuatu yang harus disyukuri dan disambut dengan suka cita.
"cepat banget sudah punya anak" ucap ibunya dengan ketus
"seharusnya dia jangan punya anak dulu dong , mama juga belum siap kalau dirumah ini nantinya mulai ribut dengan suara bayi, ketenangan mama bisa lenyap kalau sampai itu terjadi, belum lagi kalau Salwa bekerja , mama gak mau urus bayinya" jelas ibunya mengomel
"deg" hatiku sesak terasa ditusuk tusuk oleh jarum kenapa perkataan mereka begitu menyakitkan padahal bayi dalam kandunganku ini bukanlah sebuah aib untuk keluarga. aku hanya bisa menangis sambil mengelus elus perutku aku yakinkan pada diriku bahwa semuanya akan baik baik saja. suka ataupun tidak mereka dengan bayi ini aku tidak perduli. sepanjang malam suamiku diam seribu bahasa tidak menegurku, kenapa dia begitu sangat kesal denganku padahal ini bukanlah kesalahanku kalau memang dia tidak mau mempunyai anak kenapa setiap kali kita berhubungan suami istri dia harus membuangnya didalam ? bukankah itu kesalahannya ? namun bagiku anakku adalah anugerah terindah dari Tuhan untukku.
"sayang bangun ayo sholat subuh" bisikku seperti biasa sambil mengecup pipinya aku membangunkannya namun dia menepis tanganku dan memalingkan badannya
aku hanya dapat mengehela nafas karena sikap suamiku ini.
pagi ini dia berkemas kekantor lebih pagi dari biasanya, setelah selesai dia langsung berangkat tanpa berpamitan kepadaku, biasanya sebelum kekantor dia selalu memelukku dan mencium keningku namun hari ini hal itu tidak dilakukannya.
setelah dia berangkat selang beberapa saat kemudian akupun berangkat kekantor hari ini perjalanan sedikit macet akupun memutar musik menikmati lagu untuk sekedar menghibur hatiku dan juga menikmati perjalananku ketika aku menoleh aku terkejut melihat mobil suamiku tepat berada di sebelahku, ketika aku berniat untuk menurunkan kaca mobilku niatku aku hentikan karena aku melihat didalam mobil suamiku ada seorang wanita yang sedang bersandar dibahu suamiku sambil memainkan ponselnya. ku ambil ponselku untuk menghubungi suamiku namun dia selalu mematikan panggilanku. ya Allah siapa perempuan itu ? apa suamiku telah berselingkuh dariku ? seketika aku teringat dengan perkataan Rendi waktu itu apakah Rendi mengetahui sesuatu tentang suamiku ? akupun segera melajukan mobilku agar cepat sampai dikantor dan aku sangat ingin bertemu Rendi untuk mendengar penjelasannya sesampainya dikantor aku langsung melangkahkan kakiku keruangan nya namun sayangnya dia belum tiba di kantor dan akupun menelponnya untuk memastikan apakah hari ini dia tidak akan datang kekantor
"halo" ucap Rendi dari seberang telepon
"kamu kekantor tidak? tanyaku
"ini lagi dijalan, aku terjebak macet" jawabnya
"oke aku tunggu dikantor, tolong langsung temui aku ketika sudah sampai dikantor" jelasku
"oke" jawabnya kemudian panggilan kamipun terputus
setelah tiba dikantor diapun langsung menghampiriku
"ada apa?" ucapnya sambil duduk kursi diruanganku
"apakah kamu tahu sesuatu tentang suamiku?" tanyaku penasaran
mendengar pertanyaanku dia terdiam dan mengerutkan keningnya seakannsedang memikirkan sesuatu
"tunggu ...tunggu.. kenapa tiba tiba kamu bertanya seperti itu? bukan nya menjawab pertanyaanku justru dia kembali melontarkan pertanyaan kepadaku
"apa yang terjadi? " sambungnya dengan tetap melontarkan pertanyaan kepadaku
"sudah dua kali aku melihat sandi sedang bersama seorang wanita" jelasku dengan tertunduk
"kamu tau siapa perempuan itu?" tanya Rendi lagi, aku hanya menggeleng sebagai tanda bahwa aku memang tidak sempat melihat wajah wanita itu
"apakah yang kamu katakan dimalam pernikahanku itu adalah benar ?" tanyaku penasaran
"bukankah sudah ku katakan bahwa cepat atau lambat kamu pasti akan mengetahuinya . tidak ku sangka ternyata secepat ini" jelasnya sambil memegang tanganku karena dia tahu pasti apa yang aku rasakan saat ini.
"katakan, apa yang harus aku lakukan?" tanya Rendi kepadaku sambil mengangkat daguku.
mendengar pertanyaan Rendi aku hanya menangis tersedu sedu mengingat betapa jahatnya aku waktu itu karena telah menamparnya didepan umum padahal apa yang dia ucapkan adalah sebuah kebenaran dan justru sandi lah yang saat itu berbohong kepadaku.
"maafkan aku Rend, aku sudah jahat sama kamu" ucapku meminta maaf atas perbuatanku kepadanya
"hey, its ok. seandainya aku jadi kamu pun mungkin aku akan melakukan hal yang sama" jawabnya sambil menenangkan ku.
"tolong jangan ceritakan apapun kepada ayah bunda, aku tidak ingin mereka sedih dengan keadaanku" pintaku kepada Rendi sambil menghapus air mataku yang sedari tadi telah mengalir
"ok, pasti" jawabnya
"jangan terlalu banyak pikiran, ingat kamu sedang hamil" tegurnya mengingatkan ku bahwa sekarang aku bukanlah satu melainkan sudah berbadan dua. kenapa malah Rendi yang perduli dengan kehamilanku seharusnya yang bersikap seperti ini adalah sandi karena ini adalah anaknya.
****
setelah seharian bekerja dikantor akupun pulang kerumah
"assalamualaikum" sapaku kepada ibu mertuaku
"wa Alaikum salam" jawabnya .
"kak Salwa minta uang dong" ucap Risma sambil mengacungkan tangan kepadaku. ada apa dengan mereka ini, setiap kali aku pulang kerja yang bereka lakukan selalu meminta uang kepadaku, tidak perduli apakah aku lelah , ataukah aku belum makan yang mereka perdulikan hanyalah uang dan uang. membuatku sangat kesal dengan mereka
"gak ada" jawabku ketus sambil berlalu meninggalkan mereka
"punya menantu pelitnya bukan main! menyesal aku menikahkan anakku dengan dia" tutur ibuku sengaja membuat nada keras supaya aku yang didalam kamar mendengarnya , baru sekali aku menolak permintaan Risma tapi ucapan ibunya begitu sangat menyakitkan hatiku semakin jelas bahwa dia hanya menyukai uangku bukan diriku .
" awas saja, kalau sampai anak itu lahir jangan harap aku mau direpotkan dengan dia" sambungnya dengan terus mengomel.
"ddrrrt...drrrrt" bunyi getar ponselku perhatikan layar ponselku dan ternyata itu adalah WA dari suamiku
"malam ini aku lembur" isi dari pesan yang dikirimnya. aku tidak membalasnya ku lemparkan ponselku keatas kasur dan aku merebahkan diri hingga aku tertidur . lama aku tertidur ketika terbangun ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam , aku penasaran apakah benar sandi sedang lembur, hatiku gelisah dan seperti ada sesuatu yang sedang terjadi. aku teringat bahwa aku pernah menyimpan nomer hp sahabatnya dan akupun menelponnya
"halo" suara dari seberang telepon
"Wawan sorry ganggu, kamu lagi sama sandi gak?" tanyaku kepadanya
"loh bukannya dia sudah pulang dari tadi sore ya?" jawabnya kaget mendengar pertanyaanku . aku terkejut mendengar jawaban dari Wawan ternyata benar feelingku bahwa sandi tidak sedang lembur.