ku pejamkan mata ku memasrahkan semuanya kepada Allah karena aku yakin aku pasti mati . setelah beberapa saat aku terjatuh tiba tiba ada yang menangkapku.
"ada yang menangkapku?" tanyaku dalam hati, siapa yang bisa menangkapku yang telah terjatuh dari tempat yang begitu tinggi ini ? ku buka mata ku dan aku terkejut bahwa ternyata orang itu adalah Rendi. kenapa disaat aku berada dalam masalah besar dia selalu ada untukku.
"deggg" aku terbangun dari tidurku, ternyata kejadian yang sudah aku alami hanyalah mimpi . mungkinkah hanya bunga tidur atau sebuah pertanda buruk ? entahlah, kuperhatikan wajah tampan suamiku yang sedang tertidur pulas, akankah dia mampu melakukan kekejaman terhadapku seperti yang terjadi dalam mimpiku ? sepertinya itu mustahil karena aku tahu dia adalah laki laki baik yang tidak pernah mungkin akan menyakitiku. kuperhatikan jam dinding yang sedang berdetak ternyata sudah menunjukkan pukul empat subuh.
"sayang ayo bangun sholat subuh" bisikku pada suamiku yang sedang tertidur lelap
"hmmm" jawabnya sambil mengucak matanya.
kamipun melaksanakan sholat subuh berjamaah .
sudah sebulan kami menjadi sepasang suami istri dan dia selalu bersikap romantis , ya meskipun kadang kadang sedikit menaikkan nada suaranya ketika sudah membahas tentang ibunya.
meskipun aku sudah menjadi seorang istri tapi aku tidak ingin keluar dari pekerjaan yang sudah membuatku nyaman karena untuk menjadi seorang manager aku telah menguras usaha dan pikiranku .
"selama kejadian dipernikahan itu aku tidak pernah lagi melihat Rendi, apakah dia sudah tidak pernah datang lagi kekantor ?" gumam ku dalam hati sambil berjalan menyusuri lorong menuju ruangannya, aku ingin memastikan apakah dia ada atau tidak. ku intip ruangnya dan ternyata dia ada disana, namun kenapa dia tidak pernah menemui ku sekalipun ? apakah dia mengikuti semua apa yang sudah aku ucapkan saat itu ?
"tok tok tok" ku ketuk pintu ruangannya
"masuk" ucapnya dari dalam ruangan. akupun masuk dan menghampirinya
"ada apa?" tanya nya dengan dingin
"aku merindukanmu" jawabku menggoda
"bukan kah kamu memintaku untuk menjauhimu?" tanyanya dengan ketus . iya memang benar aku pernah mengatakan itu, tapi bukankah dia seharusnya tau bahwa saat itu aku hanya emosi ?
"iiih baperan" jawabku menggoda , meskipun dia pernah memukul suamiku namun aku sudah tidak ingin mempermasalahkan hal itu
"baikan yuk" ajakku sambil menunjukkan jari kelingkingku. sejak kecil ketika kami sedang bertengkar dia selalu mengajakku berbaikan dengan menunjukkan jari kelingkingnya
dan dia hanya tersenyum sambil membalas jari kelingkingku, akhirnya kami berbaikan dan bisa bercanda seperti sedia kala.
"oke kalau begitu aku keruanganku dulu ya bos Rendi" godaku
" aduh kepalaku" tiba tiba kepalaku terasa pusing dan ruangan berputar putar dan akhirnya akupun pinsan
***
setelah aku membuka mata ternyata aku sedang berada dirumah sakit
"kamu sudah sadar?" tegur Rendi, dialah yang membawaku kerumah sakit ketika aku pinsan.
"aku panggil dokter dulu ya" sambungnya sambil berlari keluar memanggil dokter, tidak lama kemudian diapun kembali bersama seorang dokter.
"bagaimana perasaanya Bu Salwa?" tegur Bu dokter
"Alhamdulillah sudah enakan dokter" jawabku.
"selamat ya pak sebentar lagi bapak akan menjadi seorang ayah" ucap dokter kepada Rendi sambil menyodorkan kertas hasil pemeriksaan.
"maaf dok saya bukan suaminya, saya hanya sahabatnya. tapi maksud dokter apa ya?" jawab Rendi
"oh bukan suaminya ya, saya minta maaf kalau begitu ya" ucap dokter
"jadi begini, Bu Salwa saat ini sedang mengandung, dan usia kandungannya sudah 14 hari atau dua Minggu. aku yang mendengar kabar itu merasa sangat bahagia, saking bahagianya aku meraih tangan Rendi agar diapun dapat merasakan apa yang aku rasakan saat ini.
"benarkah dok?" tanyaku seakan tidak percaya
"iya Bu Salwa, selamat ya" jawab dokter. akupun tidak sabar ingin segera pulang dan memberikan kabar bahagia ini kepada suamiku.
" ayo aku antar pulang" ucap Rendi
" ayo" jawabku dengan penuh semangat.
~sesampainya dirumah~
"istirahat saja dulu dirumah kalau sudah sehat betul baru kembali kekantor" kata Rendi kepadaku, dia memang adalah bos sekaligus sahabat yang pengertian
"insya Allah besok aku masuk kerja, kerjaan sudah numpuk dikantor" jawabku, aku memang sudah terlalu banyak ijin ketika mempersiapkan pernikahan bulan lalu sampai sampai pekerjaanku terhambat karenanya.
akupun turun dari mobil dan masuk kedalam rumah
"assalamualaikum" sapaku ketika memasuki rumah dan kebetulan ada ibu mertuaku yang sedang asik menonton tv.
"wa Alaikum salam" jawabnya sambil menoleh ke arahku
"kok pulang cepet" sambungnya
"iya ma lagi gak enak badan" ucapku, aku belum ingin memberitahukan kabar bahagia ini kepada mertuaku karena aku ingin suamiku lah yang harus mendengarnya terlebih dahulu
"aku masuk dulu ya ma" pamitku kepada mertuaku
"eh Salwa tunggu" kata mertuaku.
"kenapa ma?" tanyaku
" sebentar sore mama mau arisan, tapi sandi belum kasih mama uang, dia kasih uangnya ke kamu semua ya?" tanya mertuaku curiga
"enggak ma, mas sandi belum kasih aku uang" jelasku, karena memang sebetulnya sejak kami pertama kali menikah sampai sekarang dia belum pernah memberiku uang sepeserpun, justru aku yang setiap hari selalu memberikan ibunya uang untuk sekedar membeli ini dan itu. namun aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu karena mungkin saja dia belum gajian, apalagi terakhir kali uangnya sudah diberikan semua kepada ibunya.
"jadi dia juga belum kasih kamu uang?" tanya mertuaku memperjelas
"iya ma" jawabku singkat
"oh iya, sebentar sore mama mau arisan tapi sandi belum kasih mama uang, mama minta uang ya untuk bayar arisan nanti" pinta mertuaku . beliau memang sudah terbiasa meminta uang kepadaku dan akupun tidak segan untuk memberikannya karena bagiku ibu suamiku adalah ibuku juga walaupun ibu kandungku sendiri tidak pernah meminta uang kepadaku kecuali aku memberikannya
"berapa ma ?" tanyaku
"satu juta saja kok" jawab mertuaku . akupun memberikan uang kepadanya
"kalau begitu aku masuk kamar ya ma, kepalaku pusing sekali" ucapku
"ok makasih" ucap mertuaku
"mau mama buatkan teh tidak" tawar mertuaku kepadaku . beliau memang seperti itu, ketika aku menuruti permintaannya barulah dia bersikap manis kepadaku tapi mungkin itu sudah menjadi perangainya sehingga aku tidak mempermasalahkan .
malam pun tiba dan mobil suamiku sudah terdengar memasuki garasi rumah, aku semakin tidak sabar memberikan kabar bahagia ini
"assalamualaikum" sapanya sambil membuka pintu kamar
" walaikum salam" jawabku semangat
"kenapa kok seprtinya bahagia sekali" ucap suamiku melihat ekspresi bahagiaku
"aku punya kejutan" bisikku
"apa? tanyanya penasaran
"surprise " teriakku sambil menunjukkan kertas hasil USG. dia pun mengambil kertas itu dan membacanya dengan seksama
"kamu hamil?" tanya nya terkejut, namun dengan raut wajah yang tidak sesuai harapanku
" iya kamu bahagia juga kan ?" tanyaku penasaran dengan jawabnya
" Salwa sejujurnya aku belum siap untuk mempunyai anak" jawabnya dengan lesu. hatiku seakan terpukul mendengar jawaban dari suamiku , aku pikir dia akan sangat bahagia mengetahui kabar ini namun kenyataanya justru berbeda.