Afa masih tidak habis pikir dengan kenyataan yang ada, setelah ia keluar dari rumah sakit tempat ia di rawat ,barulah ia menyadari dunia nya sudah berbeda. Bahkan letak kota,jalan,tanaman semua berbeda. Afa bahkan tidak tau dimana letak lokasi persis arah rumahnya.
Afa masih mencerna dan berharap ini semuanya hanya mimpi dari komanya saja, sebenarnya ada apa dan kenapa. Semua nya tidak masuk akal . Seingatnya ia hanya kecelakaan dan dibawa kerumah sakit setelah itu Afa tidak ingat lagi ,tapi yang Afa tau sebelum kecelakaan itu terjadi ia sempat memutar mutar jam yang jatuh kepadanya dari 20:26 menjadi 19:02 ,Afa tidak ada maksud apa apa,ia hanya bosan menunggu motornya.
Apa semua karena keajaiban dari jam weker tersebut, sehingga ia melakukan perjalanan waktu yang tidak masuk akal ini.
Rasa percaya Afa jika diri nya benar benar berada di tahun 1992 yang bahkan Afa belum lahir saat itu adalah ketika ia melihat orang orang mengantre untuk telepon umum di depannya,yang bahkan di jamannya dimana saja bisa melakukan panggilan. Orang orang yang sedang fokus membaca koran untuk mengetahui segala informasi, sebagian menggunakan sepeda dan beberapa lagi ada yang mengayuh becak dan masih menggunakan cara tradisional.
Sebenarnya kenapa dia ada di sini,apa tujuannya,kenapa harus diri nya ,bukan orang lain. Dan bagaimana diri nya akan makan mengingat uang yang dibawa di dalam saku nya uang kertas baru yang baru di cetak dan baru saja berlaku di jamannya , tidak akan laku dan akan membuat orang orang disini curiga padanya.
Sangat tidak masuk akal hanya karena sebuah jam kuno membuat diri nya masuk kembali ke dunia yang seharusnya Afa tidak disini.
Bugh!!!
"Heh jalan hati hati dong ".
Gadis remaja dengan rambut lurus dan bando bunga bunga itu berkacak pinggang, umurnya bahkan empat tahun lebih muda dari Afa.
Jelas jelas gadis itu yang menabraknya.
Afa sudah siap melayangkan ocehan kepada gadis berseragam putih abu abu ini,hingga nametag di d**a nya membuat dirinya termenung.
"Saraswati"
Afa terkejut dan mengguncang bahu gadis di depannya.
"Ibuuu" tangis Afa pecah memeluk wanita di depannya.
"Kamu siapa?" Tanya Saras melihat Afa dari atas sampai bawah.
Afa teringat ,ini bukan tahun 2026 ,wajar ibu tidak mengenalinya ternyata ibu yang muda adalah versinya yang sekarang,Afa tersenyum.
"Saras,kamu kemana ?"
Afa memperhatikan kedua orang ini. namun, laki laki itu bukan ayahnya waktu Afa kecil ayah pernah menunjukkan foto muda nya dan orang tersebut tidak mirip sama sekali dengan ayah.
"Teman mu" tanya laki laki itu, "kalian mirip" ucapnya sambil tertawa kecil.
Iya,semua orang juga ngomong begitu, tapi ibu versi muda terlihat mungil dibanding diri ku.
Dengan sedikit cerita dicampur dengan kebohongan agar kedua orang ini percaya jika Afa dari masa depan. awalnya mereka tidak percaya ,tidak masuk akal,bahkan Afa dianggap gila karena karangan ceritanya ,padahal yang di ceritakan Afa itu benar ,walaupun Afa mengubah sedikit penyebab kenapa dia berada disini.
Saras tidak mudah begitu saja percaya. Ia yakin Afa hanya ingin menumpang dan mengarang bebas.Namun,anehnya setelah Saras bercerita dan berharap ibu nya gak percaya dengan cerita bohong Afa namun diluar dugaan justru ibu nya langsung percaya dan memperbolehkan Afa untuk tinggal dirumahnya,sekali lagi tinggal.
Saras beberapa kali meyakinkan ibu nya kalau semua cerita itu gak masuk akal, namun beberapa kali pun Saras bercerita ibu nya tetap percaya kepada Afa.
"Bu,aku masih muda mana mungkin aku punya anak apalagi seperti dia". Kasar memang.
Afa yang sedang menyantap makanan di depannya menoleh tidak setuju,aku anaknya,bahkan anak dan ibu ini memiliki fitur wajah yang sama.
Nenek hanya tersenyum, entah apa yang membuatnya percaya jika Afa itu cucu nya di masa depan.
Nenek tiada sejak Afa berumur lima tahun , Afa tersenyum melihatnya,nenek orang yang baik. Sebagai informasi, kakek telah lama tiada sewaktu ibu kecil maka dari itu nenek bekerja di sawah dan membiayai hidup mereka berdua.
........
Bangunan megah,dan lampu kelap kelip tidak terlihat di desa ini hanya suara jangkrik,daun dan rumput yang perlahan bergoyang mengikuti arah angin malam ini.
Rumah rumah juga terlihat sederhana ,bahkan banyak sebagian rumah masih menggunakan papan dan tongkat kayu dibawahnya.
Afa tersenyum,pemandangan yang jarang terlihat di perkotaan tempat yang ia tinggal.
Anak kecil yang ramai berlari di malam hari dan ibu ibu yang masih memotong kecil lidi kelapa ,Afa tau kegunaan nya apa.
Saras?
Ibu nya sedang duduk di teras bersama laki laki yang sedang mengobrol dengan ibunya. Afa tidak suka, jika ibu menikah dengannya maka dari itu ia dan adik nya tidak akan lahir.
Afa mengenakan gaun biru muda khas orang orang jaman dulu,dan ada renda di leher nya,baju yang sangat cantik.
Afa berjalan kecil mengelilingi desa yang bagi nya penuh dengan kenangan , tidak buruk baginya,Afa bisa mengetahui kehidupan desa,kehidupan ibu nya dan paling penting berjumpa kembali bersama nenek nya, waktu itu Afa masih terlalu kecil untuk mengingat kenangan bersama neneknya. Afa hanya ingat ketika neneknya memberi uang saku secara diam diam ketika Afa menangis di belakang rumah karena ibu tidak mewujudkan keinginannya untuk membeli coklat ,ibu nya tidak tau,kalau tau uangnya akan disimpan dengan ibu.
Kring!!!!
Afa menoleh ke arah persawahan, bunyi yang Afa kenal. Afa memasuki persawahan tidak peduli dengan baju dan kaki nya yang kotor karena lumpur.
"Nak,sedang apa malam malam begini " ucap bapak bapak yang Afa perkirakan berumur lima puluh tahun itu sambil memegang cangkul berjalan pelan.
Ia menatap aneh ke Afa , gadis itu dengan tergesa gesa berlari hingga beberapa sawah diinjaknya.
Afa terkejut campur bingung,ia baru menyadari jika tindakannya merusak sawah ini.
"Maaf pak,barang saya jatuh" alibi Afa,tidak mungkin dia berkata yang sebenarnya.
Bapak itu mengangguk heran, barang apa sampai tergesa gesa untuk mencarinya.
Afa mengutuk diri nya sendiri, suara itu suara yang ia kenal,jam itu.
...............The Passage Of Time...........
"Bangun, jangan karena ibuku berbaik hati,kau bisa seenaknya" itu ibunya saras.
Afa mengerjapkan matanya pelan, ibu masa lalu dan masa depan sama sama cerewet,beda sekali dengan nenek yang lembut.
Saras mengambil sesuatu dari lemari dan memberi pakaian lengkap seragam putih abu abu nya.
"Aku sekolah?".
"Terus,mau diam saja dirumah , kau beruntung karena ibu ku percaya". Saras memasang wajah tidak bersahabat nya.
"Ras,ibu udah bilang berapa kali,dia anakmu,kalian juga terlihat mirip" nenek datang dengan nampan di tangannya membawa nasi goreng kampung yang biasa ibu buat untuk kami sekeluarga sarapan.
Nasi goreng putih tanpa bumbu hanya bawang merah dan putih serta sedikit cabai enak sekali.
"Ibu, Saras juga udah bilang,dia itu berbohong biar bisa numpang dirumah kita,lagian mana ada mesin waktu" .
Sekali lagi nenek hanya tersenyum,entah apa yang membuat nenek nya percaya semua dengan ceritanya. Jika Afa berada di posisi ibu nya juga tidak akan percaya begitu saja.
Melihat tidak ditanggapi,Saras menatap Afa sinis.
Selama perjalanan Afa terus menerus bertanya,bagaimana diri nya bisa masuk ke sekolah ibu nya tanpa Ada tidak mengetahui dan bagaimana Semuanya terlihat mudah bagi Afa. Bertemu ibu,dan nenek yang begitu saja langsung percaya.
"Bilang saja,kau sepupu ku,dan jangan panggil aku ibu" ucap Saras merapikan rambutnya ketika di depan kelasnya.
Lucu saja,Afa sudah berumur 24 tahun namun kembali lagi ke enam tahun lagi yaitu 18 tahun.
Seluruh pasang mata menatap seseorang dibelakang Saras berjalan mengikuti.
Afa tersenyum menyapa teman teman ibu yang keheranan, wajar wajah baru di depan mereka.
"Nima " ucap gadis dengan rambut sebahu dan tampilan yang kurang lebih mengikuti perkembangan zaman,bahkan fashion yang ia pakai menggambarkan gadis remaja di tahun Afa.
"Alifa, sepupu sa..Saras" gugup Afa menyebutkan nama ibu nya.
"Wah,pantes kalian mirip" ucap Nima tertawa kecil.
Nima ini bukan teman dekat ibu,ia hanya kenalan yang sekelas bersama ibu, ibu juga tidak menyukainya, sifatnya yang tidak mau kalah dari siapa pun itu yang membuat sebagian penghuni kelas tidak begitu menyukainya. kecuali, satu murid cowok yang tidak peduli dengan sekitar,ia hanya peduli dengan buku buku matematika di depannya. Kata ibu,Nima menyukai nya. Afa melihat sosok tampan penghuni meja belakang dengan masker dan tatapan yang sulit diartikan, Afa terus memperhatikan wajahnya tidak asing,Afa seperti pernah melihat laki laki itu,tapi dimana, sungguh Afa tidak bisa dengan jelas melihatnya karena wajah dan tatapannya selalu menunduk kebawah dan masker hitam yang tidak pernah ia buka itu.
Setelah basa basi dan banyak cerita, Nima sebenarnya yang banyak bercerita tentang diri nya ,Nima dipanggil oleh teman beda kelas nya dan pamit untuk pergi. Satu hal yang Afa tangkap dari wajah ibu ,ibu terlihat malas mendengar percakapan tadi antara Afa dan Nima ,beberapa kali ibunya mendengus kasar.
Afa mencuci tangannya setelah kembali dari kantin sekolah, ibu yang sedari tadi tampak gelisah sesekali matanya menoleh ke arah jam dinding. ibu menunggu jam pulang.
" habis ini jalan yuk"
gadis di depan yang sudah Afa kenal sejak pagi menoleh kearah Afa dan ibu nya.
"gak,aku langsung pulang" ucap ibu ,tampak sekali ibu malas menjawab.
Nima yang melihat itu mendengus kecil, Afa hanya mengikuti apa kata ibu nya. ia tidak tau tentang kota ini.
"woy ayo, tukang foto datang" teriak murid laki laki dengan kancing atas seragam yang dibiarkan terbuka begitu saja.
sekitar 34 murid satu persatu bergegas keluar kelas melihat kesempatan yang bahkan itu sesuatu yang penting. ibu juga tidak kalah histeris,padahal lima menit yang lalu ibu ingin cepat pulang.
ibu menarik tangan Afa cepat namun pandangan Afa tertuju kepada Nima dan murid cowok yang menelungkupkan wajahnya tanda tidak tertarik, sedangkan Nima ,ia juga tidak bergerak sama sekali dari tempat duduk nya.
"ya elah , gitu doang heboh" ceplos ku.
ibu menatap tajam ke arahku,aku baru teringat ini bukan jaman ku.
"apaan,kamu dari tadi ngomongnya aneh " ucap gadis dengan rambut panjang yang sedikit bergelombang.
"ia dari luar kota ,baru saja pindah maka dari itu gaya ucapannya sedikit berbeda".ibu tersenyum kecil.
Dan untungnya gadis itu percaya dan berlari kecil mengikuti kerumunan murid murid yang mau berfoto berbaris. Ibu memperingati Afa untuk tetap menjaga ucapan atau pun tindakan yang mencurigakan .
kata ibu ,Nima adalah orang paling pengen nomor satu disekolah,tapi setelah aku,ibu dan teman sekelas berfoto banyak sekali Nima tidak bergerak sama sekali dari kelas.bahkan, ketika kami semua masuk kembali kekelas,Nima hanya fokus dengan dandanannya dan matanya sekali kali melihat ke arah cowok di bangku belakang.
Teng teng!!
bel diketuk dua kali tanda pelajaran hari ini selesai . Afa menyuruh ibu nya untuk kembali terlebih dahulu,sedangkan Afa ia ingin ke perpustakaan,ada buku yang ia cari .
Afa bersenandung kecil menuju perpustakaan yang berada di ujung, tiba tiba Afa menarik tubuhnya untuk bersembunyi.
cowok yang ia kenal dan pertama kali ia kenali ,kekasih ibu nya?
"Ardhan..." gadis dengan rambut ikat satu itu berduaan bersama orang yang di panggilnya Ardhan.
Afa yang melihat nya tidak terima , Afa akan melancarkan aksinya ,hingga tangannya ditarik oleh seorang pria dengan Hoodie dan masker hitam.
"jangan ikut campur, ini bukan urusan kita ,bukan dunia kita" ucap pria di depannya tegas.
Afa melirik ke arah pria di depannya,diam dan bingung .
"Aku Arthur, Kita pernah satu sekolah ditahun 2021".
Afa terkejut .
"ini semua gila"
................ The Passage Of Time...........