Devan membuka lemari kecil untuk mencari mangkuk, lalu berhenti ketika Naomi mengulurkan tangan ke rak yang sama. Mereka sama-sama menarik tangan.
“Silakan,” kata Devan.
“Kamu dulu saja. Aku tahu letaknya.”
Devan mengambil dua mangkuk dan menyerahkannya. “Ibumu bilang soto ini kesukaanmu. Bibimu mengirim cukup banyak, jadi aku membantu menghangatkannya.”
Naomi mengaduk kuah perlahan. “Ibu memang suka menyuruh orang memasak berlebihan. Katanya, makanan yang kurang lebih mudah dimaafkan daripada tamu yang pulang lapar.”
“Kalau begitu, aku aman. Aku datang sebagai tamu dan pembantu dapur.”
“Kamu tidak perlu membantu. Aku bisa menyelesaikannya sendiri.”
“Aku tahu. Aku membantu karena memang ingin, bukan karena menganggapmu tidak mampu.”
Naomi meliriknya. Kalimat itu membuatnya terdiam sesaat. Devan selalu seperti itu, mengerti kapan harus menawarkan bantuan tanpa membuatnya merasa kecil. Namun, ingatan lama juga selalu muncul bersama rasa nyaman itu. Naomi mengalihkan pandangan ke panci.
“Kalau begitu, tolong iris daun bawangnya. Tipis saja.”
“Siap.”
Mereka bekerja berdampingan. Devan mengiris daun bawang, sementara Naomi mencicipi kuah. Ia menambahkan sedikit garam, lalu meminta Devan mengambilkan jeruk nipis. Tidak ada percakapan panjang. Hanya pertanyaan sederhana tentang letak sendok, apakah api perlu dikecilkan, dan apakah ibunya sudah minum obat. Kesopanan di antara mereka terasa lebih canggung daripada keheningan, sebab keduanya tahu ada banyak hal yang sengaja tidak disebut.
Dari kamar, ibu Naomi memanggil, “Sudah matang belum? Ibu mencium bau sotonya dari sini.”
“Sebentar lagi, Bu,” jawab Naomi.
Devan mematikan api. “Kita bawa sekarang?”
Naomi mengangguk. Ia mengambil nampan, tetapi mangkuk kuah terlalu panas untuk diangkat bersamaan. Devan menawarkan diri membawanya. Naomi sempat hendak menolak, lalu membiarkan ia mengangkat nampan itu. Mereka berjalan menuju kamar dengan langkah hati-hati.
Ibu Naomi sudah duduk bersandar. “Wah, lengkap sekali. Terima kasih, Devan. Kamu masih ingat Ibu suka soto dengan jeruk nipis banyak.”
“Masih ingat, Tante. Tapi yang memutuskan jumlahnya Naomi. Saya hanya mengikuti perintah koki.”
Naomi meletakkan sendok. “Jangan berlebihan. Aku cuma bilang tambahkan jeruk nipis.”
Ibunya tertawa kecil. “Kalian masih bisa bercanda. Ibu senang.”
Naomi tidak menjawab. Ia menuangkan kuah untuk ibunya, lalu mengambil porsi sendiri. Devan duduk di kursi kecil dekat jendela. Ia tidak berusaha mengambil tempat di sisi ranjang. Mereka makan pelan, sesekali membicarakan rasa soto dan cuaca yang gerah. Ibu Naomi bertanya apakah pekerjaan Devan sedang sibuk. Devan menjawab seperlunya dan tidak mengalihkan pembicaraan kepada Harist.
Naomi memperhatikan hal itu. Sejak tadi Devan tampak ingin bertanya sesuatu, tetapi setiap kali ia membuka mulut, pertanyaan itu berubah menjadi hal lain. Ia tidak tahu apakah harus berterima kasih karena Devan menahan diri, atau merasa kesal karena ia masih bisa menebak isi pikirannya.
“Kalau ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja,” kata Naomi akhirnya.
Devan meletakkan sendok. “Aku ingin bertanya tentang banyak hal. Tapi aku tidak mau membuat Tante merasa harus mendengar pembicaraan yang belum siap kamu lakukan.”
“Aku tidak sedang menyuruhmu bertanya di depan Ibu.”
“Aku tahu.” Devan memandangnya dengan tenang. “Aku hanya ingin kamu tahu aku tidak akan memaksamu menjelaskan apa pun.”
Ibu Naomi memandang mereka bergantian. “Ibu tidak keberatan kalau kalian bicara. Tapi jangan sampai soto keburu dingin.”
Naomi tersenyum tipis. Ibunya selalu berhasil memotong ketegangan tanpa berpura-pura tidak melihatnya. Mereka kembali makan. Setelah selesai, Naomi merapikan nampan. Devan menawarkan mencuci piring, tetapi Naomi berkata ia bisa melakukannya. Kali ini Devan tidak mendesak.
“Aku pamit dulu, Tante. Semoga lekas sehat.”
“Terima kasih sudah menemani Ibu. Jangan kapok datang ke sini.”
Devan berdiri. Naomi mengantarnya sampai ambang pintu kamar. Di lorong, ia berhenti sebelum masuk ke dapur.
“Terima kasih sudah membantu menyiapkan makanan,” katanya.
“Sama-sama.” Devan tidak mendekat. “Aku tidak akan bertanya soal Harist hari ini.”
Naomi mengangkat alis. “Kamu memang ingin menanyakannya?”
“Ya. Tapi itu bukan berarti kamu wajib menjawab.”
Naomi menghela napas. “Aku belum tahu apa yang akan kukatakan kalau kamu bertanya.”
“Kalau begitu, aku bisa menunggu sampai kamu tahu. Atau tidak bertanya sama sekali.”
Jawaban itu membuat Naomi kehilangan kalimat balasan. Devan pamit kepada ibunya lalu keluar. Naomi tetap berdiri beberapa detik di lorong, mendengar langkahnya menjauh.
Ibunya memanggil dari kamar. “Naomi, piringnya jangan lupa direndam.”
“Iya, Bu.”
Naomi kembali ke dapur. Ia mencuci piring satu per satu sambil mengingat bahwa sopan santun Devan tidak menghapus luka mereka, tetapi setidaknya hari ini ia tidak menggunakan kedekatan sebagai jalan pintas untuk meminta maaf. Ia belum memaafkannya. Ia juga belum tahu apakah ingin melakukannya. Untuk saat ini, ia bisa menerima bantuan mengiris daun bawang dan membiarkan percakapan berakhir tanpa pertengkaran.
Malam itu, ibunya bertanya apakah Devan akan datang lagi. Naomi menjawab ia tidak tahu. Ibunya tidak memaksa menebak. Mereka lalu berdoa bersama sebelum tidur. Dalam doanya, Naomi meminta hati yang lebih lapang, tetapi ia tidak berjanji kepada siapa pun bahwa esok ia akan melupakan masa lalu.
***
Aara duduk di tepi ranjang sambil mengikat rambut. Kaki kirinya masih terbalut perban tipis, dan setiap kali ia menapakkan tumit, rasa nyeri menyengat sampai ke betis. Ia mengembuskan napas, mencoba memasang sepatu kerja tanpa membungkuk terlalu jauh.
Ia berhenti dan melihat jam. Sejak bangun, ia sudah tiga kali mengganti rencana: berangkat pagi, menunggu sampai siang, lalu kembali memutuskan berangkat pagi. Foto yang beredar membuatnya malu, tetapi lebih dari itu ia takut setiap orang di kantor akan menganggap kedekatannya dengan Harist sebagai alasan ia diperlakukan berbeda.
Ponselnya menyala. Aqila mengirim pesan, “Kalau kakimu belum kuat, aku bisa bawakan berkas ke rumah.”
Aara mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi. “Aku akan coba masuk. Jangan bilang siapa-siapa dulu.”
Aqila membalas dengan tanda jempol dan satu pesan lagi: “Aku tidak akan tanya kalau kamu belum mau cerita.”
Aara tersenyum kecil. Ia merasa bersyukur, sekaligus makin sadar bahwa teman-temannya sudah melihat foto itu. Ia menaruh ponsel di samping tas dan memastikan surat resign yang semalam ia ketik masih berupa draf. Ia belum tahu apakah akan mengirimkannya. Ia hanya tahu bahwa ia tidak ingin keputusan itu lahir dari rasa malu.
“Kamu yakin mau masuk hari ini?” tanya ibunya dari pintu.
“Petugas yang memeriksa lukaku bilang aku boleh berjalan pelan. Kalau cuma duduk bekerja, harusnya tidak masalah.”
“Kamu juga bilang begitu sebelum nekat menerobos banjir.”
Aara mengangkat kepala. “Kami sama-sama keliru memaksakan jalan itu, Bu. Lain kali aku akan menunggu atau mencari tempat menginap, bukan mengandalkan siapa yang membonceng.”
“Justru itu. Kalian berdua sama-sama keras kepala.”
Kakaknya muncul sambil membawa kotak bekal. “Aku sudah buatkan makanan. Jangan sok kuat dan jangan jalan cepat-cepat. Kalau sakit, bilang.”
“Lukanya tidak terlalu dalam.”
“Kaki kamu dibalut, Ra. Itu bukan aksesori.”
Aara tertawa pelan. Ia menerima bekal itu dan memeriksa isi tas. Ponselnya bergetar. Pesan dari Aqila muncul, bertanya apakah ia jadi masuk. Aara membalas bahwa ia akan datang setelah ibunya mengizinkan.
Ibunya memandang dengan dahi berkerut. “Kalau kamu belum siap, tidak perlu memaksakan diri demi foto yang beredar itu.”
“Justru aku tidak mau semua orang mengira aku kabur karena foto itu.” Aara berdiri perlahan. “Aku juga tidak mau resign hanya karena malu.”
Kakaknya tersenyum kecil. “Nah, itu baru adikku.”
“Aku belum bilang tidak jadi resign. Aku cuma mau menunggu sampai kepalaku dingin.”
“Bagus. Keputusan besar jangan dibuat ketika sedang panik.” Ibunya mengusap bahu Aara. “Tapi ingat, pekerjaanmu juga penting. Jangan biarkan Pak Harist atau siapa pun membuatmu merasa tidak punya pilihan.”
Aara mengangguk. Ia teringat ancaman Harist tentang denda dan daftar hitam. Saat itu ia tahu laki-laki itu sengaja membuatnya kesal, tetapi mengingatnya lagi membuat perutnya mengencang.
“Aku akan bicara dengannya kalau dia mengulang soal denda itu.”
“Bicara baik-baik,” kata ibunya. “Dia atasanmu.”
“Aku tahu, Bu.”
Ibunya menawarkan mengantar sampai kantor, tetapi Aara menolak. Ia memesan kendaraan dan memastikan bisa turun dekat lobi tanpa harus berjalan jauh. Sebelum berangkat, ia berjanji mengirim kabar kepada ibunya setelah sampai. Kakaknya menggodanya sebentar, lalu mengingatkan agar kabar itu jangan terlupa.
***
Harist sudah berada di ruangannya ketika pesan Aara masuk: ia datang hari ini, tetapi kakinya masih sakit dan ia ingin masuk sendiri. Harist membaca pesan itu dua kali. Ia ingin menawarkan jemputan, tetapi tahu bahwa ia tidak boleh menjadikan kekhawatirannya sebagai alasan untuk mengatur keputusan Aara.
Ia membalas singkat, “Baik. Kalau butuh bantuan, bilang.”
Alvyan, yang sedang duduk di seberang meja, menangkap perubahan ekspresi Harist. “Aara masuk?”
“Katanya begitu.”
“Lo mau turun menunggu di lobi?”
“Enggak.”
“Tumben bisa menahan diri.”
Harist meliriknya. “Dia bilang mau masuk sendiri.”
Alvyan mengangkat kedua tangan. “Bagus. Pertahankan. Lo kan atasan. Jangan sampai perhatian lo malah bikin dia serasa diawasi.”
Kalimat itu membuat Harist mengingat foto yang beredar. Ia tidak menyesal menolong Aara, tetapi ia juga tahu gambar itu bisa membuatnya menjadi bahan pembicaraan. Ia meminta Alvyan memastikan para kepala divisi tidak menyebarkan foto dari grup kantor. Alvyan berkata ia akan mengingatkan tanpa menyebut Aara sebagai sumber masalah.
“Dan jangan bikin pengumuman besar,” kata Harist. “Dia belum nyaman.”
“Gue paham. Lo mau membela dia atau mau mengendalikan gosipnya?”
Harist terdiam. “Aku mau mereka berhenti memperlakukan hidupnya sebagai bahan hiburan.”
“Berarti dengarkan dulu apa yang dia inginkan.”
Harist kembali menatap berkas. Ia tidak memberi perintah lain. Di luar, jam kerja dimulai seperti biasa, tetapi ia beberapa kali melihat ke arah pintu lift. Ia memaksa diri menyelesaikan laporan sebelum berdiri. Bila Aara datang, ia tidak ingin membuat semua orang merasa ada sesuatu yang harus mereka saksikan.