Aara turun dari kendaraan di depan lobi BEST Hawwan Tbk. Ia membawa tongkat lipat kecil yang dipinjamkan kakaknya, tetapi belum membukanya. Perban pada kakinya tertutup celana panjang. Ia menarik napas, menyapa petugas keamanan, lalu berjalan perlahan ke lift.
Belum sampai mejanya, Aqila sudah berdiri dari kursi.
“Ra! Kamu benar-benar masuk?”
“Kelihatannya begitu.”
Aqila menatap perban yang sedikit terlihat di bawah ujung celana. “Kakimu masih sakit. Kenapa tidak istirahat dulu?”
“Kalau aku istirahat terus, nanti semua pekerjaanmu yang menumpuk.”
“Pekerjaanku memang sudah menumpuk.” Aqila tertawa sebentar, lalu merendahkan suara. “Tapi aku serius. Kamu baik-baik saja setelah kemarin?”
Sebelum Aara menjawab, Niken menghampiri sambil membawa berkas. “Aku mau tanya juga, tapi takut dibilang kepo. Foto itu benar-benar cuma karena banjir?”
Aara membuka tas dan mengeluarkan laptop. “Iya. Kakiku terluka setelah melewati banjir, lalu Pak Harist menolong. Tidak ada cerita lain.”
“Terus kenapa beliau ikut menginap di rumahmu?” tanya Niken, lalu segera berkata, “Maaf, itu pertanyaan pribadi.”
“Karena jalan banjir dan kami baru tiba setelah malam. Ibu mengizinkan beliau menunggu sampai ada kendaraan yang bisa lewat. Itu saja.”
Okta datang dari ruang arsip. Ia menaruh map di meja dan melihat Aara dengan wajah lega. “Syukurlah kamu sudah kembali. Saya sempat khawatir kamu harus istirahat lama.”
“Terima kasih, Bu Okta. Kaki saya masih sakit sedikit, tapi saya bisa bekerja.”
Okta menatap dua rekan lain yang masih hendak bertanya. “Kalau Aara sudah bilang hanya ditolong, cukup sampai di situ. Jangan minta dia membuktikan hal pribadi kepada kita.”
Aqila langsung mengangguk. “Benar. Aku cuma khawatir.”
“Aku tahu,” kata Aara. “Aku juga kaget fotonya tersebar. Tapi aku tidak mau urusan itu jadi bahan rapat kantor.”
Niken meminta maaf karena ikut bertanya. Ia menjelaskan bahwa foto itu dibagikan banyak orang dan sebagian menambahkan cerita sendiri. Aara menahan keinginan untuk mengambil ponsel dan membaca semua komentar. Ia sudah melihat cukup banyak semalam.
“Kalau ada yang perlu kutanggapi, aku akan bicara sendiri,” katanya. “Untuk sekarang, aku ingin kerja.”
Okta menepuk meja pelan. “Itu keputusan yang baik. Kita punya laporan yang harus selesai.”
Aqila menarik kursi dan membantu meletakkan berkas di sisi Aara yang tidak sakit. Ia tidak lagi bertanya soal Harist. Mereka membahas angka anggaran, lalu sesekali Aara harus berhenti untuk mengubah posisi kaki. Rasa nyeri mengganggu konsentrasinya, tetapi pekerjaan membuat pikirannya tidak terus kembali pada foto.
***
Menjelang siang, Aara menerima surel dari Harist tentang laporan yang perlu ia periksa. Pesannya formal dan hanya menyebut tugas. Ia merasa lega, meski ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin tahu apakah Harist akan menanyakan keadaan kakinya.
Ia mengetik balasan singkat, melampirkan dokumen, lalu menekan kirim. Beberapa menit kemudian Harist muncul di area kerja bersama seorang manajer. Ia membahas tenggat laporan dengan tim tanpa menyebut kejadian kemarin. Ketika matanya bertemu Aara, ia hanya mengangguk kecil sebagai salam profesional.
Aara membalas dengan cara yang sama.
Setelah rapat selesai, manajer itu pergi. Harist tetap berdiri beberapa langkah dari meja Aara.
“Dokumenmu sudah saya terima,” katanya dengan nada kantor. “Terima kasih.”
“Sama-sama, Pak.”
“Kalau posisi dudukmu membuat kaki sakit, minta kursi tambahan ke bagian umum.”
Aara sempat menatapnya, lalu menjawab, “Saya akan urus sendiri. Terima kasih.”
Harist mengangguk dan pergi. Tidak ada pertanyaan yang bisa membuat rekan kerja menoleh. Aara menyadari bahwa ia menghargai usaha itu, sekaligus masih ingin menjaga jarak. Keduanya bisa benar pada saat yang sama.
Aqila mencondongkan badan. “Dia sengaja formal, ya?”
“Bagus, kan? Di kantor memang sebaiknya begitu.”
“Aku tidak bilang tidak bagus.” Aqila mengangkat alis. “Aku cuma bilang kamu memperhatikan.”
Aara menatap layar. “Kerjakan laporanmu.”
Aqila tertawa dan kembali ke mejanya. Aara mencoba tersenyum, tetapi ponselnya bergetar dengan pemberitahuan dari akun lokal yang mengunggah ulang foto tersebut. Ia membalik ponsel menghadap meja tanpa membukanya. Hari itu ia datang untuk bekerja. Ia ingin mempertahankan keputusan itu setidaknya sampai jam pulang.
***
Saat jam makan siang, Aara memilih tetap di meja karena kakinya nyeri setelah berjalan ke ruang arsip. Aqila menawarkan membelikan makanan. Aara menerima, lalu menitipkan uang. Niken ikut memesan, sementara Okta mengingatkan mereka agar tidak membahas foto itu di kantin.
“Orang-orang tetap akan membicarakannya,” kata Aara. “Aku hanya tidak ingin mendengar setiap versi.”
Aqila meletakkan kotak makan di samping laptop. “Kamu sudah lihat komentar yang paling parah?”
“Sudah cukup untuk tahu ada yang menganggap aku sengaja mencari perhatian.”
Niken mengerutkan dahi. “Padahal kakimu terluka.”
“Aku tahu. Tapi kadang orang lebih suka cerita yang ramai daripada kejadian sebenarnya.”
Okta menutup map. “Kalau ada yang mengganggu pekerjaanmu atau melecehkanmu, laporkan. Tapi kamu tidak wajib menjelaskan hal pribadi kepada seluruh kantor.”
Aara berterima kasih. Ia makan perlahan dan berusaha tidak membebani kaki. Obrolan kemudian beralih ke pekerjaan, harga makanan di sekitar kantor, dan rencana Aqila pulang kampung. Aara merasa lebih ringan karena teman-temannya tidak terus meminta detail.
Setelah makan, ia membuka folder dokumen pribadi. Berkas surat resign masih ada di sana, belum ditandatangani. Ia memandangi nama dokumen itu beberapa detik, lalu menutup folder. Ia belum siap menghapusnya, tetapi juga tidak ingin mengirimkannya saat panik.
“Kalau kamu memang ingin keluar, aku dukung,” kata Aqila pelan setelah Niken kembali bekerja. “Tapi jangan karena komentar orang yang bahkan tidak tahu apa yang terjadi.”
“Aku juga tidak mau bertahan cuma karena atasanku melarang.”
“Bagus. Berarti keputusan itu milikmu.”
Aara tidak menjawab. Kalimat sederhana itu membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Ia menutup laptop dan kembali memeriksa laporan.
***
Menjelang sore, lift terbuka dan Harist keluar bersama Alvyan. Mereka baru pulang dari rapat di lantai lain. Aara sedang berdiri untuk mengambil air minum ketika nyeri menusuk kakinya. Ia menahan meja agar tidak kehilangan keseimbangan.
Harist bergerak refleks, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya. “Kamu baik-baik saja?”
Aara menarik napas. “Iya. Kaki saya cuma sakit.”
“Perlu dibantu?”
“Tidak, Pak. Saya bisa.”
Harist mundur setapak. Alvyan memperhatikan percakapan itu dan segera mengajaknya melanjutkan ke ruangannya. Tidak ada yang tertawa atau menggoda. Aara mengambil air sendiri dan kembali duduk.
Beberapa menit kemudian, pesan internal dari Harist masuk: “Kalau rasa sakitnya bertambah, silakan pulang lebih awal. Saya setujui izinmu.”
Aara menjawab, “Terima kasih, Pak. Saya akan menyelesaikan berkas ini dulu.”
Ia tidak tahu apakah pesan itu dikirim karena ia karyawan yang sedang cedera atau karena Harist mengkhawatirkannya. Kali ini ia memilih tidak menebak. Ia menyelesaikan satu berkas, menyerahkannya kepada Okta, lalu mematikan komputer sesuai jam pulang.
Di lobi, ia melihat Harist berdiri dekat pintu kaca bersama Alvyan. Harist tidak mendekat. Ia hanya memastikan kendaraan jemputan Aara sudah tiba dari kejauhan. Aara memberi salam kecil dan masuk ke mobil. Sikap itu membuatnya merasa diperhatikan tanpa harus berutang percakapan.
***
Di rumah, ibu Aara sudah menyiapkan teh dan bantal kecil untuk menyangga kakinya. Kakaknya ikut duduk di ruang tengah setelah selesai mengajar.
“Bagaimana harimu?” tanya ibunya.
Aara menceritakan pertanyaan rekan kerja, cara Okta menghentikan pembicaraan, dan betapa sulitnya berjalan dengan kaki masih terbalut.
Kakaknya menyimak. “Ada yang menyalahkan kamu?”
“Tidak langsung. Tapi ada yang mengira aku dan Pak Harist sengaja bikin foto itu terlihat mesra.”
“Padahal kakimu terluka,” kata kakaknya.
“Iya. Kalau aku menjelaskan berkali-kali, rasanya seperti aku minta mereka percaya.”
Ibunya menyodorkan cangkir. “Kamu tidak perlu memaksa semua orang memahami. Yang penting, kamu tahu apa yang terjadi dan tetap menjaga dirimu.”
Aara mengaduk teh. “Aku juga tidak mau terlihat seperti memanfaatkan beliau karena dia atasanku.”
“Karena itu, batas di kantor harus jelas,” kata kakaknya. “Kalau ada keputusan kerja, pastikan alasannya tertulis dan berlaku untuk semua. Jangan biarkan kamu merasa harus menerima sesuatu hanya karena dia menolongmu.”
Aara terdiam. Ia belum tahu bagaimana menjaga batas itu tanpa membuat hubungan mereka menjadi dingin. Namun, ia tahu ibu dan kakaknya tidak sedang memintanya menjauhi Harist. Mereka hanya ingin ia tetap memiliki pilihan.
“Besok aku akan mencoba bekerja seperti biasa,” katanya. “Kalau ada yang bertanya lagi, aku jawab secukupnya. Setelah itu aku tidak mau membahasnya.”
Kakaknya mengangkat cangkir. “Kesepakatan yang bagus.”
Ibunya tersenyum. “Dan kalau kakimu masih sakit, kamu pulang. Jangan membuktikan apa pun kepada kantor.”
Aara menatap perbannya. “Aku belum memutuskan mau resign atau tidak. Tapi hari ini aku tidak jadi mengirim suratnya.”
“Karena kamu ingin bertahan atau karena takut pada ancaman Pak Harist?” tanya ibunya.
Pertanyaan itu membuat Aara berpikir. “Aku ingin memutuskan sendiri. Aku cuma belum tahu keputusan akhirnya.”
Ibunya menerima jawaban itu tanpa memaksanya memilih. Kakaknya lalu bercerita tentang murid yang terlambat datang, mengubah suasana menjadi lebih ringan. Aara ikut tertawa dan menyadari ia masih bisa menikmati malam tanpa harus menuntaskan semua persoalan sekaligus.
Sebelum tidur, ia membuka draf surat resign di laptop. Ia mengganti nama berkas menjadi “Pertimbangan Kerja”, lalu menyimpannya. Ia belum menghapusnya, sebab ia ingin mengingat bahwa pilihan itu tetap ada. Namun, ia juga tidak akan mengirimkannya hanya untuk melarikan diri dari rasa malu.