Hari kedua sejak Aara kembali bekerja dimulai dengan kaki Aara yang terasa lebih baik, walau perban masih melingkari pergelangan. Ia tiba di kantor dengan tongkat lipat di tas dan berjalan lebih pelan. Aqila melihatnya dari meja.
“Kalau hari ini sakit, jangan pura-pura kuat.”
“Aku tidak pura-pura. Aku cuma berjalan lambat.”
“Bagus. Kita punya tumpukan pekerjaan, bukan lomba lari.”
Niken menyerahkan satu map. Ia sempat menatap Aara seolah hendak bertanya tentang foto, lalu mengurungkan niat. “Ini berkas yang kemarin tertunda. Kalau kamu butuh bantuan, bilang.”
Aara menerima map itu. Mereka menyamakan angka dari dua laporan dan menemukan bahwa tanggal pencatatan satu transaksi tertukar. Niken mencari salinan bukti pembayaran, sementara Aara memeriksa catatan bulan sebelumnya. Setelah data cocok, ia memperbaiki entri dan meminta Niken memeriksa ulang.
“Untung kita cek bersama,” kata Niken. “Kalau tidak, bagian audit akan mengembalikannya.”
Aara tersenyum. “Aku lebih suka menemukan kesalahan sekarang daripada menjelaskannya nanti.”
Okta datang sebelum makan siang. Ia menawarkan untuk membagi pekerjaan yang mengharuskan Aara berjalan ke ruang arsip. Aara menerima bantuan itu, tetapi meminta agar tugas administrasi yang bisa ia kerjakan dari meja tetap diberikan kepadanya.
“Saya tidak mau karena sedang cedera, semua pekerjaan saya diambil,” katanya.
“Tidak ada yang mengambil pekerjaanmu. Kita hanya mengatur ulang sementara,” jawab Okta. “Kalau sudah pulih, pembagiannya kembali seperti biasa.”
Aara merasa lega mendengar batasnya jelas. Ia bisa menerima bantuan tanpa khawatir orang menganggapnya tidak mampu.
“Bu, kalau ada orang terus menyebarkan foto itu di grup kerja, saya harus bagaimana?” tanyanya.
“Catat kapan dan di mana kamu melihatnya. Kalau ada komentar yang mengganggu pekerjaan atau membuatmu merasa tidak aman, laporkan melalui saluran yang tersedia. Kamu tidak perlu menanggapi setiap pesan sendiri.”
“Saya tidak ingin masalah ini dibesar-besarkan.”
“Melaporkan sesuatu bukan berarti membesar-besarkan. Kamu bisa menjelaskan faktanya dan membiarkan pihak yang bertanggung jawab menilai. Tapi kamu juga boleh menunggu kalau belum merasa perlu.”
Aara menyimpan saran itu. “Terima kasih. Saya ingin urusan pekerjaan tetap dinilai dari hasil kerja.”
“Itu memang seharusnya begitu,” jawab Okta. “Dan kalau pembagian tugas berubah karena kakimu, kita catat alasannya. Biar tidak ada yang menebak-nebak.”
Aara menyetujui cara itu. Ia tidak ingin perlakuan khusus, hanya ingin keadaan sementara tidak dianggap sebagai kelemahan atau kedekatan pribadi.
***
Menjelang siang, Aara membantu Aqila mencari satu dokumen yang salah masuk ke folder bulan sebelumnya. Mereka membuka lemari arsip bersama-sama. Aara berjalan pelan dan sesekali bersandar pada meja, tetapi ia tidak perlu memaksakan langkah.
“Teman-teman lain masih membicarakan fotomu?” tanya Aqila.
“Mungkin. Tapi aku tidak dengar karena aku tidak ikut membaca unggahannya.”
“Kamu benar-benar tidak mau tahu komentarnya?”
“Aku sudah cukup tahu mereka melihatnya. Membaca komentar satu per satu tidak akan mengubah kejadian.”
Aqila mengangguk. “Kalau begitu kita selesaikan berkas ini dan makan.”
Mereka menemukan dokumen yang dicari dan kembali ke meja. Saat makan siang, obrolan mereka berkisar pada tugas dan rencana akhir pekan Aqila. Tidak ada yang menyebut Harist. Aara menikmati jeda itu, meski ia tahu satu jam tanpa gosip tidak berarti semua orang sudah berhenti membicarakan foto.
Selesai makan, ia membuka folder “Pertimbangan Kerja”. Draf surat resign masih tersimpan. Ia membaca bagian pembuka, lalu berhenti. Kalimat-kalimat itu ditulis saat ia merasa seluruh kantor sedang menatapnya. Ia tidak ingin mengirim surat yang dibuat dalam keadaan panik.
Aara menutup dokumen dan mengirim satu pesan kepada dirinya sendiri: “Tinjau lagi setelah kaki pulih dan suasana lebih tenang.” Ia tidak menghapus draf itu. Ia juga tidak mengubahnya menjadi ancaman untuk Harist. Keputusan untuk bekerja atau pergi akan tetap menjadi miliknya.
***
Di ruang kerjanya, Harist menyelesaikan laporan bersama Alvyan. Ia beberapa kali melirik ponsel, tetapi tidak mengirim pesan kepada Aara. Alvyan menangkap gerakannya.
“Lo mau minta maaf soal ancaman blacklist itu?”
Harist berhenti mengetik. “Aku memang harus minta maaf.”
“Kalau begitu, lakukan ketika dia punya ruang untuk mendengar. Jangan kirim pesan panjang cuma supaya rasa bersalah lo reda.”
“Aku tidak akan mengganggunya.”
“Bukan berarti pura-pura tidak terjadi. Lo harus mengaku bahwa candaan itu kelewatan, apalagi lo atasannya.”
Harist menutup berkas. “Aku tahu. Aku ingin dia tetap bekerja karena dia mau, bukan karena takut pada ancamanku.”
“Bagus. Itu yang seharusnya lo pikirkan dari awal.”
Harist tidak membantah. Ia mengingat cara Aara memandangnya ketika ia mengucapkan soal denda. Ia memang bermaksud bercanda, tetapi jabatan membuat kata-katanya memiliki bobot yang tidak sama dengan candaan biasa. Ia mencatat untuk membicarakan prosedur kerja dengan Pak Rendy, bukan untuk membuat Aara berutang kepadanya.
Sore harinya, Aara menyerahkan map yang sudah diperiksa kepada Okta. “Angkanya sudah cocok. Saya lampirkan catatan koreksinya.”
“Terima kasih. Kamu bisa pulang tepat waktu.”
Aara membereskan meja. Ketika ia berjalan ke lift, Harist berada di ujung koridor bersama Alvyan. Ia tidak menghampiri Aara, hanya memberi salam formal.
“Sampai besok, Pak,” kata Aara.
“Sampai besok.”
Aara masuk lift tanpa menunggu pertanyaan lain. Ia belum siap mengubah hubungan mereka menjadi pembicaraan pribadi di kantor. Namun, ia tidak lagi merasa harus pergi hanya untuk menghentikan rasa malu.
Di rumah, ibunya bertanya apakah ia akan masuk lagi keesokan hari. Aara menjawab bahwa ia akan mencoba, selama kakinya tidak bertambah sakit. Ia belum mencoret surat resign dari pikirannya, tetapi ia tidak akan mengirimkannya malam itu.
Kakaknya duduk di ujung meja. “Kalau tidak ada foto itu, kamu masih ingin bekerja di sana?”
Aara memikirkannya. “Iya. Aku suka bagian keuangan. Aku suka saat angka yang semula tidak cocok akhirnya ketemu sumbernya. Aku juga sudah belajar banyak sejak mulai bekerja.”
“Berarti kamu punya alasan untuk bertahan yang tidak ada hubungannya dengan Pak Harist.”
“Benar. Tapi aku tetap perlu memastikan urusan pribadi tidak mengganggu pekerjaanku.”
Ibunya meletakkan piring di rak. “Kamu boleh menjaga dua hal sekaligus: pekerjaanmu dan batasmu. Kamu tidak harus mengorbankan salah satunya hari ini.”
Aara merasa lebih lega. Ia mengakui bahwa yang membuatnya ingin pergi bukan hanya gosip, melainkan takut tak lagi dipandang sebagai pekerja yang mampu. Ibunya mengingatkan bahwa pendapat orang tidak menghapus kemampuannya.
“Besok kamu boleh menilai lagi,” kata ibunya. “Tidak semua keputusan harus dibuat hari ini.”
Aara mengangguk. Ia membuka kembali folder “Pertimbangan Kerja”, memeriksa draf yang tersimpan, lalu menutupnya. Setelah itu ia menutup layar dan membantu ibunya menyiapkan meja makan.
Foto itu mungkin masih beredar, dan orang-orang mungkin masih bertanya. Namun, setidaknya kali ini Aara tidak membiarkan rasa malu menentukan langkahnya. Ia akan datang bekerja lagi esok hari, lalu memutuskan sendiri apa yang paling baik baginya.