Pagi itu, Aara berdiri di tepi jalan sambil memeriksa pesan di ponselnya. Kakinya sudah jauh lebih baik, meski sesekali masih terasa tertarik ketika ia berjalan terlalu cepat. Ia sengaja berangkat lebih awal agar tidak perlu terburu-buru mengejar angkutan umum. Draf surat pengunduran dirinya masih tersimpan di laptop, tetapi ia berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengambil keputusan saat sedang malu atau marah.
Sebuah mobil berhenti di dekatnya. Kaca jendela turun, memperlihatkan Harist di balik kemudi.
“Mau ikut?” tanyanya.
Aara memandang mobil itu, lalu jalan yang masih lengang. “Kamu mau menurunkanku di warung lagi?”
Harist terdiam sejenak. Dulu Aara yang meminta turun jauh dari kantor agar pertemanan mereka tidak diketahui. Ia malah mendebat dan mengabaikan kegelisahannya. Kali ini ia tidak ingin memaksa Aara bersembunyi maupun memaksanya tampil dekat. Ia perlu menawarkan pilihan yang sungguh bisa ditolak.
“Tidak,” jawabnya. “Aku akan mengantarmu sampai lobi.”
Aara mengernyit. “Sampai lobi?”
“Iya. Kamu tidak perlu berjalan lebih jauh dari yang nyaman untuk kakimu.”
“Kalau ada yang melihat?”
“Mereka akan melihat atasan mengantar karyawannya yang kakinya belum pulih sepenuhnya. Itu saja.” Harist menahan napas sebelum menambahkan, “Dan kalau kamu tidak nyaman, bilang. Aku tidak akan memaksa.”
Aara menimbang tawaran itu. Ia tidak ingin terus bersembunyi, tetapi juga tidak ingin orang kantor membuat cerita baru dari hal sederhana. Yang paling penting, ia harus bisa bekerja tanpa merasa hubungan mereka menguasai setiap ruang.
“Aku ikut,” katanya akhirnya. “Tapi ada syarat.”
“Apa?”
“Begitu masuk kantor, kita kembali bersikap formal. Kamu Pak Harist, aku Aara. Tidak ada obrolan pribadi di ruangan, tidak ada panggilan akrab, dan tidak ada keputusan tentang hubungan kita yang dibuat atas namaku.”
Harist menatapnya serius. “Baik. Aku setuju.”
“Kamu tidak perlu membela diri kalau orang bertanya. Cukup bilang kamu memberi tumpangan karena kakiku belum benar-benar pulih.”
“Kalau begitu, aku memang akan menjawab begitu. Itu faktanya.”
Aara membuka pintu dan duduk di kursi penumpang. “Jangan membuatku menyesal.”
“Aku akan berusaha.”
Mobil melaju. Mereka tidak mengisi perjalanan dengan percakapan pribadi. Harist bertanya apakah kaki Aara masih sakit, dan Aara menjawab bahwa rasa nyerinya tinggal sedikit. Setelah itu mereka membahas cuaca dan jalan yang sedang diperbaiki. Kesederhanaan itu membuat Aara lega. Harist tidak mencoba mengubah tumpangan tersebut menjadi kesempatan untuk meminta maaf atau menuntut kedekatan.
Ketika gedung BEST Hawwan Tbk mulai terlihat, Aara merasakan kembali kegugupan yang ia kira sudah lewat. Harist memperlambat kendaraan, lalu berhenti tepat di depan pintu lobi. Beberapa pegawai baru saja turun dari kendaraan mereka. Seorang petugas keamanan mengenali Harist dan membukakan pintu utama.
“Terima kasih,” kata Aara.
“Sama-sama. Hati-hati turun.”
Ia membuka pintu sendiri dan turun tanpa dibantu. Kakinya terasa mantap menyentuh trotoar. Harist tidak keluar dari mobil dan tidak memanggilnya dengan nama kecil. Ia hanya mengangguk singkat sebelum melanjutkan ke area parkir.
Aara masuk ke lobi. Ia menangkap dua pasang mata yang sempat memperhatikan, tetapi tidak ada yang menghentikannya. Ia menyapa petugas keamanan, lalu menuju lift bersama beberapa karyawan lain.
Di ruang keuangan, Aqila mengangkat alis ketika Aara tiba. “Kamu datang bareng Pak Harist?”
Aara meletakkan tas di kursi. “Beliau memberi tumpangan. Kakiku masih kadang terasa nyeri kalau berjalan jauh.”
“Oh.” Aqila tidak memaksa bertanya. “Yang penting kamu tidak memaksakan diri.”
Niken datang membawa berkas, disusul Okta yang mengecek jadwal rapat. Mereka menyapa Aara seperti biasa. Tak ada yang menyebut foto atau membahas hubungan. Aara tahu mungkin itu karena semua memilih menjaga perasaan, tetapi ia menghargai keputusan mereka.
Beberapa menit kemudian, Harist muncul di pintu ruang keuangan. Semua orang berdiri atau menyapanya. Aara ikut mengangguk formal.
“Pagi, Pak,” ucapnya.
“Pagi. Aara, setelah laporan kemarin selesai, tolong kirim rekap pembayaran vendor sebelum pukul sebelas.”
“Baik, Pak. Saya kirim setelah pemeriksaan akhir.”
Harist mengangguk dan melanjutkan ke ruangannya. Tak ada tatapan lama, tak ada senyum yang hanya mereka berdua pahami. Justru karena itu, Aara merasa kesepakatan mereka sungguh dijalankan.
Sore hari, Aara menyelesaikan rekap dan memeriksa daftar tugas esok. Ia merapikan meja sebelum pulang. Harist keluar dari ruangannya tepat ketika ia berjalan ke lift, tetapi tidak menawarkan tumpangan lagi di depan rekan-rekannya.
“Sampai besok, Pak,” kata Aara.
“Sampai besok.”
Di luar gedung, Aara melihat mobil Harist berhenti di sisi jalan. Jendela terbuka sedikit.
“Aku menunggu jawabanmu,” katanya. “Kalau tidak, aku pergi.”
Aara memandang lalu lintas sore. Kakinya masih baik, tetapi perjalanan pulang akan lebih mudah jika ia ikut. Ia teringat syaratnya, juga jawaban Harist yang tidak memaksa.
“Aku ikut,” ucapnya.
Harist membuka kunci pintu. Aara duduk, lalu menutupnya pelan. Hari itu mereka berhasil menjaga batas yang disepakati. Namun di layar ponselnya, ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak pernah benar-benar ia hapus.
***
Hari kedua dimulai dengan gerimis tipis. Aara berdiri di bawah kanopi rumah, memeriksa tali sepatunya sebelum melangkah. Kakinya sudah kuat menapak, tetapi ia masih berhati-hati saat melewati jalan yang licin. Ketika mobil Harist datang, ia tidak lagi terkejut. Mereka telah sepakat bahwa tumpangan itu boleh diterima selama ia sendiri merasa nyaman.
“Pagi,” sapa Harist dari balik kemudi.
“Pagi. Jalan licin, ya.”
“Iya. Kita pelan-pelan saja.”
Perjalanan berlangsung lebih tenang daripada hari sebelumnya. Harist tidak bertanya tentang pesan di ponsel Aara. Ia pun tidak menyebut soal siapa pun yang melihat mereka di lobi. Mereka berbicara sebentar tentang laporan yang harus diselesaikan dan perubahan jadwal rapat. Aara merasa obrolan itu cukup.
Mobil berhenti di tempat yang sama, di depan lobi BEST Hawwan. Kali ini, beberapa orang sedang berteduh di dekat pintu masuk. Harist tidak menurunkan kaca atau memanggil Aara setelah ia keluar. Ia menunggu sampai Aara masuk ke dalam gedung, baru kemudian mengarahkan mobil ke parkiran.
“Kalian datang bareng lagi?” tanya seorang pegawai dari bagian pemasaran yang kebetulan berada di lift.
Aara menjawab datar, “Saya diberi tumpangan karena kaki saya belum sepenuhnya pulih.”
Pegawai itu mengangguk. “Oh, baguslah. Hati-hati kalau masih sakit.”
Tidak ada pertanyaan lanjutan. Aara mengembuskan napas kecil. Ia mengerti bahwa orang akan melihat dan mungkin bertanya, tetapi ia tidak harus menjelaskan lebih dari fakta yang mereka ketahui.
Di ruang keuangan, ia segera membuka komputer dan memeriksa daftar pekerjaan. Ada laporan pengeluaran perjalanan dinas yang harus dibandingkan dengan kuitansi. Ia menyusun dokumen berdasarkan tanggal, lalu menandai dua kuitansi yang tintanya hampir pudar.
“Aara, boleh minta bantuan?” panggil Okta dari meja seberang. “Berkas yang perlu dibawa ke arsip ini cukup banyak. Kamu mau ikut atau aku minta Niken?”
Aara memeriksa kakinya sejenak. “Saya bisa ikut, Bu. Tapi mungkin saya bawa sebagian saja.”
“Boleh. Jangan mengangkat terlalu berat.”
Ia mengumpulkan berkas yang ringan dan berjalan bersama Okta menuju ruang arsip. Mereka menata map berdasarkan kode, memastikan labelnya terbaca, lalu kembali ke ruang kerja. Tak ada yang memperlakukan Aara seperti orang sakit, tetapi mereka juga tidak mengabaikan kondisinya.
Sekitar pukul sepuluh, Harist datang membawa daftar koreksi. Ia berdiri di dekat meja Aara dan meletakkan dokumen tanpa menyentuh barang-barangnya.
“Tolong cocokkan nominal di halaman tiga dengan bukti pembayaran,” katanya dalam nada resmi.
“Baik, Pak. Saya akan periksa.”
Harist menunggu beberapa detik. “Kalau ada angka yang tidak cocok, jangan langsung ubah. Konfirmasi dulu ke bagian pengadaan.”
“Saya paham.”
Ia berbalik pergi. Aara mengerjakan pemeriksaan, lalu menemukan satu angka yang berbeda. Ia menghubungi bagian pengadaan melalui kanal kantor, meminta salinan bukti yang lebih jelas, dan mencatat waktu konfirmasi. Setelah jawaban diterima, ia memperbaiki laporan dengan alasan yang terdokumentasi.
“Selesai, Pak,” kata Aara ketika Harist kembali melewati ruang keuangan. “Perbedaan ada di bukti nomor 204. Saya lampirkan konfirmasi dari pengadaan.”
Harist memeriksa berkas. “Baik. Terima kasih sudah mencatat sumber koreksinya.”
“Sama-sama, Pak.”
Percakapan itu singkat dan bersih dari basa-basi. Aara merasa lebih nyaman daripada saat mereka dulu berusaha menyembunyikan pertemanan. Ada sesuatu yang sedikit kaku, tetapi kekakuan itu melindungi pekerjaannya dan pilihannya sendiri.
Menjelang siang, Aqila bertanya apakah Aara akan turun ke kantin. Mereka berencana makan bersama Niken. Aara setuju, lalu menyimpan pekerjaan yang belum selesai.
“Kamu kelihatan tidak terlalu tegang hari ini,” kata Aqila saat mereka berjalan ke lift.
“Aku sedang mencoba menganggap semuanya sebagai rutinitas.”
“Soal tumpangan?”
“Soal semua hal. Aku tidak bisa mengatur siapa yang melihat, tapi aku bisa mengatur bagaimana aku bekerja.”
Aqila tersenyum. “Itu terdengar seperti kamu.”
Di kantin, mereka menemukan tempat duduk dekat jendela. Niken bercerita bahwa ia harus mengurus dokumen rumah sebelum akhir pekan. Aara mendengarkan sambil menyantap makan siang. Ia tidak memperhatikan meja Harist sampai sebuah gelas diletakkan di kursi kosong dekat mereka.
Harist tidak duduk. Ia hanya berhenti untuk menyampaikan bahwa rapat sore dipindah ke pukul tiga.
“Baik, Pak,” jawab Niken.
“Terima kasih informasinya,” kata Aara.
Harist mengangguk dan kembali ke meja rekan-rekannya. Aqila menatap Aara, mungkin memastikan ia tidak keberatan. Aara menggeleng kecil. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan.
Rapat sore berlangsung hampir satu jam. Aara diminta menjelaskan penyebab koreksi laporan. Ia menyampaikan urutannya dengan jelas: bukti awal tidak terbaca, konfirmasi diminta, lalu angka diperbaiki berdasarkan salinan resmi. Harist mendengarkan tanpa memotong.
“Terima kasih, Aara. Catatan seperti ini membantu audit,” katanya setelah penjelasan selesai.
Pujian itu ditujukan pada pekerjaannya. Aara menerimanya dengan anggukan, tanpa merasa harus merendahkan diri atau menebak maksud lain.
Saat rapat usai, beberapa staf bergegas keluar. Aara membereskan laptop. Harist menunggu sampai semua orang pergi sebelum berbicara, tetapi ia tetap menjaga jarak di ruang rapat yang pintunya terbuka.
“Soal tumpangan tadi pagi, kalau kamu berubah pikiran, tidak perlu sungkan. Aku bisa mengatur cara lain.”
Aara menutup laptop. “Aku akan bilang kalau tidak nyaman. Untuk sekarang, aku tidak keberatan.”
“Baik.”
“Tapi kesepakatannya tetap sama.”
“Formal di kantor.”
“Dan keputusan tentang hidupku tetap milikku.”
“Aku mengerti.” Harist berhenti sejenak. “Aku minta maaf karena dulu membuat keputusan seolah-olah aku tahu yang terbaik untukmu.”
Aara menatapnya. Permintaan maaf itu tidak panjang, tidak memaksa, dan tidak meminta balasan. “Aku dengar. Kita buktikan lewat sikap saja.”
“Setuju.”
Mereka keluar dari ruang rapat dengan jarak yang wajar. Aara kembali ke mejanya dan menyelesaikan catatan rapat. Menjelang pulang, Harist bertanya dari ambang pintu apakah ia ingin diantar lagi. Aara menjawab ya, tetapi meminta berhenti di depan lobi agar tidak perlu berjalan jauh ke tempat parkir.
“Tentu,” kata Harist.
Dalam perjalanan, hujan mereda. Aara memandangi jalanan yang berkilau terkena air. Ponselnya bergetar lagi, menampilkan nama yang sama seperti sebelumnya. Kali ini ia melihat pratinjau pesannya: “Ra, aku cuma ingin menjelaskan.”
Ia mengunci layar tanpa membuka percakapan. Ada masa lalu yang belum selesai, tetapi ia belum tahu apakah mendengar penjelasan akan membantu siapa pun.