Hari ketiga, Aara tiba di kantor tanpa hujan. Harist sudah menunggu di mobil ketika ia keluar dari rumah. Ia membawa dua gelas kopi, tetapi tidak menyodorkan satu pun sebelum bertanya.
“Kamu mau?”
Aara melihat gelas itu. “Kopi tanpa gula?”
“Iya. Kalau tidak mau, tidak apa-apa.”
“Aku mau. Terima kasih.”
Harist memberikan gelas itu setelah Aara duduk. Mereka kemudian berangkat. Aara menikmati kopi sambil memperhatikan jalan. Tidak ada pembicaraan tentang perasaan, rumor, atau masa lalu. Harist hanya mengingatkan bahwa ia punya rapat dengan bagian operasional, sementara Aara perlu menyerahkan laporan mingguan sebelum sore.
“Kalau rapatmu selesai lebih cepat, jangan menungguku,” kata Aara. “Aku mungkin perlu menyelesaikan rekonsiliasi.”
“Aku tidak akan menunggu kalau kamu tidak meminta.”
Jawaban itu sederhana, tetapi Aara merasa lega. Ia tidak ingin setiap tindakan kecil berubah menjadi kewajiban di antara mereka.
Di lobi, mereka turun berurutan. Seorang resepsionis menyapa Harist lalu Aara. Aara menjawab salam dan melanjutkan ke lift. Kali ini ia tidak lagi menundukkan kepala karena takut dilihat. Ia tahu batas yang mereka sepakati, dan ia tahu alasan ia berada di gedung itu: pekerjaannya.
Saat makan siang, ia turun bersama Aqila dan Niken. Mereka membeli makanan, lalu mencari meja. Beberapa menit kemudian, Harist dan Alvyan masuk ke kantin. Alvyan membawa nampan dan melihat mereka. Ia mengangkat tangan menyapa, kemudian memilih meja tidak jauh dari sana.
Aara sempat mengira Alvyan akan mendekat, tetapi lelaki itu hanya berbicara dengan Harist. Dari kejauhan, ia melihat Alvyan tersenyum lebar dan Harist memutar mata. Percakapan mereka terdengar samar, tertutup suara kantin yang ramai.
“Pak Harist sering makan di sini?” tanya Niken.
“Kadang,” jawab Aqila. “Kalau tidak ada tamu atau rapat.”
Aara fokus pada makanannya. Ia tidak ingin menafsirkan setiap gerakan mereka. Namun saat berdiri untuk mengambil air, ia berpapasan dengan Harist di dekat dispenser.
“Laporanmu rapi,” kata Harist, masih dalam nada profesional.
“Terima kasih, Pak.”
“Kalau ada transaksi yang belum jelas, jangan ragu meminta konfirmasi.”
“Baik.”
Alvyan muncul di belakang Harist. “Wah, di kantor formal sekali. Saya sampai tidak tahu kalian kenal.”
Aara membeku sesaat. Harist segera menoleh kepadanya. “Alvyan sedang bercanda. Kami memang bekerja bersama.”
“Aku tahu,” kata Aara singkat. Ia mengambil gelas dan kembali ke meja sebelum percakapan berkembang.
Alvyan tidak mengejarnya. Aara kembali duduk bersama Aqila dan Niken, yang sedang membicarakan menu makan malam. Ia menenangkan diri dengan mengingat bahwa Alvyan memang suka menggoda Harist. Namun, ia tidak ingin candaan itu menjadi sumber rumor baru. Ia mengingatkan dirinya bahwa batas yang ia minta sudah didengar dan dihormati.
Setelah makan siang, ia melanjutkan rekonsiliasi. Menjelang pukul dua, Alvyan datang ke ruang keuangan untuk menyerahkan dokumen kepada Harist. Ia berhenti sejenak di dekat meja Aara.
“Maaf soal tadi,” katanya pelan. “Aku kadang bicara sebelum berpikir.”
Aara menatapnya. “Tidak apa-apa. Tapi jangan membuat orang mengira ada sesuatu yang harus mereka tebak.”
“Paham. Aku tidak akan mengulanginya.”
“Terima kasih.”
Alvyan mengangguk dan pergi. Aara menghargai bahwa ia meminta maaf tanpa membuatnya merasa harus tertawa atau pura-pura tidak terganggu.
Ia juga menyadari sesuatu: Alvyan tidak meminta Aara menjaga rahasia untuk melindungi Harist, melainkan menghormati permintaannya sendiri. Perbedaan itu penting baginya. Ia tidak ingin kembali ke keadaan ketika semua keputusan dibuat diam-diam, seolah-olah kedekatan harus selalu disembunyikan agar orang lain nyaman.
Sore itu, Harist mengirimkan revisi jadwal rapat melalui surel. Ia tidak memanggil Aara ke ruangannya. Aara menanggapi dengan konfirmasi singkat dan menyimpan dokumen sesuai prosedur. Ketika pekerjaan selesai, ia mengecek keadaan kakinya. Tidak ada nyeri berarti.
Harist bertanya apakah ia ingin diantar pulang. Aara menerima, dengan syarat mereka berhenti di dekat rumah agar tetangga tidak mengira ia selalu dijemput. Harist menyanggupi tanpa komentar.
Sebelum berangkat, Aara memastikan semua berkas yang ia gunakan kembali ke tempatnya. Ia membuat catatan kecil tentang transaksi yang perlu dipantau esok hari, lalu mengirimkannya kepada Niken dan Aqila. Ia ingin mereka bisa melanjutkan pekerjaan tanpa menebak-nebak apa yang sudah dilakukan. Ketelitian itu membuatnya merasa kembali memegang kendali atas hari-harinya.
Sebelum berangkat, mereka melihat Alvyan berdiri di lobi. Ia mengangkat kedua tangan seperti menyerah.
“Tenang saja, saya tidak akan menggoda lagi,” katanya.
Harist menggeleng. “Fokus urusanmu sendiri.”
“Siap, Pak Direktur.”
Aara tertawa kecil meskipun berusaha menahannya. Harist memandangnya, tetapi tidak memanfaatkan tawa itu untuk mendekat. Mereka berjalan ke mobil dengan suasana yang lebih ringan.
Ketika Aara sampai rumah, pesan dari nomor lama itu kembali muncul. Kali ini ada dua baris tambahan: “Aku tahu kamu mungkin tidak ingin bicara. Mila juga tidak ingin aku mengganggumu. Tapi aku merasa kamu berhak tahu.”
Aara membaca kalimat itu lama-lama. Nama Mila membuat dadanya mengencang. Ia belum membuka ruang balas, tetapi tangannya berhenti di atas layar.
***
Hari keempat mereka berbagi tumpangan dimulai dengan langit cerah dan suasana yang lebih ringan. Aara datang bersama Harist seperti dua hari sebelumnya. Ia masih menjaga sikap di lobi, tetapi tidak lagi merasa setiap pasang mata adalah ancaman. Orang-orang memiliki pekerjaan sendiri; sebagian besar tidak peduli siapa yang datang bersama siapa selama urusan mereka selesai.
Harist menurunkannya di depan pintu utama. “Kakimu bagaimana?”
“Baik. Hari ini aku bisa berjalan lebih jauh.”
“Kalau begitu, nanti kamu bisa pulang tanpa tumpangan.”
Aara tersenyum tipis. “Bisa. Tapi aku belum bilang menolak.”
“Aku hanya memastikan kamu tidak merasa harus ikut.”
“Aku tahu.”
Mereka memasuki gedung dengan jarak wajar. Di lift, seorang staf operasional bertanya kepada Harist tentang jadwal rapat. Harist menjawab dan kemudian meminta Aara mengirim salinan laporan yang sudah diperbaiki. Semua terasa biasa dan profesional.
Pagi itu, ruang keuangan menerima permintaan mendadak dari bagian audit internal. Mereka perlu mengumpulkan bukti transaksi tertentu sebelum akhir hari. Aara membagi daftar transaksi dengan Niken dan Aqila. Ia bertugas mencari bukti transfer, sementara Niken mencocokkan kuitansi dan Aqila mengecek persetujuan atasan.
“Kalau kita bagi begini, selesai sebelum makan siang,” kata Aara.
“Asal sistemnya tidak lambat,” jawab Niken.
Mereka mulai bekerja. Sesekali Aara harus berjalan ke printer, tetapi kakinya tidak lagi mengganggu. Ia menandai setiap dokumen yang sudah ditemukan agar tidak ada berkas yang tertinggal. Pada pukul sebelas, mereka mengirim sebagian besar data. Dua transaksi masih menunggu konfirmasi dari bank.
Harist datang untuk mengecek kemajuan. “Ada kendala?”
“Dua bukti transfer belum muncul di arsip digital. Kami sudah meminta salinan dari bank dan akan menyusulkan begitu diterima,” jawab Aara.
“Baik. Jangan mencantumkan perkiraan sebagai bukti. Catat saja statusnya.”
“Sudah, Pak.”
“Terima kasih.”
Harist pergi tanpa menanyakan hal lain. Aara merasa ia mulai memahami bahwa perhatian Harist pada pekerjaannya dapat berdiri sendiri, terpisah dari kedekatan mereka.
Sesudah mengirim pembaruan sementara kepada audit, Aara makan bersama Aqila dan Niken. Mereka membicarakan urusan sehari-hari, kemudian kembali untuk menyiapkan rapat sore.
Rapat sore diadakan untuk membahas dokumen audit. Aara menyampaikan status dua bukti yang belum diterima dan mengusulkan agar mereka mengirim pembaruan sementara tanpa menyimpulkan apa pun. Pak Rendy, yang mengikuti rapat lewat panggilan video selama pemulihan, menyetujui cara itu. Harist tidak menginterupsi atau mengganti usulannya.
“Kita lanjutkan besok setelah bank mengirim salinannya,” kata Pak Rendy. “Terima kasih, Aara.”
“Sama-sama, Pak.”
Sepulang rapat, Harist memeriksa kalendernya. “Besok aku ada rapat pagi. Kalau kamu masih mau tumpangan, aku bisa berhenti di lobi seperti biasa.”
“Boleh. Kalau rapatmu lebih awal, jangan menunggu.”
“Aku akan kabari.”
Aara pulang dengannya. Di tengah perjalanan, Harist bertanya apakah candaan Alvyan membuatnya kesal.
“Sedikit malu, tapi tidak sampai kesal. Yang membuatku khawatir itu kalau orang mulai menyimpulkan hubungan kita.”
“Aku mengerti. Aku juga tidak ingin kamu menanggung akibat dari candaan orang.”
“Kita memang harus hati-hati. Tapi aku tidak mau semua hal terasa seperti rahasia.”
Harist mengangguk. “Aku akan mengikuti batas yang kamu tentukan.”
Jawaban itu tidak menyelesaikan semua kekhawatiran Aara. Ia masih harus membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia bisa dekat dengan seseorang tanpa kehilangan suara. Namun, untuk pertama kalinya setelah foto itu tersebar, ia merasa tidak perlu memilih antara bersikap ramah dan menjaga harga dirinya. Ia bisa melakukan keduanya.
Malamnya, Aara membuka pesan Dhanis sekali lagi. Ia belum membalas. Ia tahu bahwa mengabaikan pesan tidak menyelesaikan perasaan bersalahnya, tetapi menjawab juga bisa membuka pintu yang sudah ia tutup demi Mila.