Pada pagi berikutnya, Harist datang sedikit lebih awal. Ia punya rapat dengan Pak Rendy, tetapi tetap bertanya apakah Aara membutuhkan tumpangan. Aara keluar rumah sambil membawa tas kerja dan sebuah bekal kecil.
“Kamu tidak terlambat?” tanyanya ketika masuk.
“Masih ada waktu. Rapatnya baru mulai pukul sembilan.”
“Kalau begitu, kita bisa berhenti untuk sarapan?”
“Bisa, asal kamu tidak keberatan sampai kantor sedikit lebih dekat ke jam masuk.”
Aara membuka bekalnya. “Aku bawa roti. Tidak perlu berhenti.”
Harist tersenyum. “Kamu selalu siap.”
“Aku belajar dari pengalaman. Kalau menunggu semua orang menentukan jadwalku, bisa-bisa aku tidak sempat makan.”
Mereka tertawa kecil. Aara menyadari bahwa tawa itu tidak membuat mereka melanggar kesepakatan. Mereka bisa berbincang sebagai dua orang yang saling mengenal, lalu kembali formal saat tiba di kantor.
Di depan lobi, Harist menurunkan kecepatan dan berhenti. “Kamu yakin kakimu sudah cukup kuat untuk masuk sendiri?”
“Yakin. Kalau terasa sakit, aku akan minta bantuan.”
“Baik. Sampai nanti.”
“Sampai nanti, Pak.”
Ia masuk ke gedung. Beberapa karyawan melihat, tetapi tidak ada yang bertanya. Aara menyapa resepsionis, lalu menuju ruang keuangan. Ia mulai memeriksa surel dan menemukan salinan bukti transfer yang ditunggu dari bank. Ia meneruskan dokumen itu kepada Niken untuk dicocokkan.
“Akhirnya masuk,” kata Niken.
“Cocokkan nomor rekening dan tanggalnya, ya. Kita jangan hanya melihat nominal.”
“Siap.”
Mereka memeriksa bukti bersama. Nominal sesuai, tanggal transaksi pun cocok. Aara mengirim pembaruan kepada audit internal dan menyimpan salinan pada folder yang benar. Pekerjaan selesai sebelum rapat siang.
Saat makan, Alvyan datang membawa nampan. Ia berhenti di dekat meja mereka, tetapi kali ini tidak menggoda.
“Boleh duduk?” tanyanya.
Aqila menggeser kursi. “Silakan.”
Alvyan menceritakan bahwa Harist harus meninjau presentasi sore. Obrolan berjalan santai, membahas menu kantin dan kemacetan. Harist baru muncul beberapa menit kemudian, setelah menyelesaikan satu panggilan. Ia duduk di samping Alvyan, berhadapan dengan Aara.
“Audit sudah menerima dokumennya?” tanya Harist.
“Sudah, Pak. Mereka akan memberi catatan kalau masih ada yang perlu dilengkapi.”
“Bagus. Terima kasih.”
Percakapan berakhir di sana. Aara kembali berbicara dengan Aqila tentang rencana akhir pekan. Ia merasa senang karena perhatian pada pekerjaannya tidak membuat suasana berubah menjadi canggung. Hubungan profesional mereka berjalan dengan wajar.
Setelah makan siang, Aara kembali ke mejanya. Ponsel pribadinya bergetar di dalam tas. Ia menunggu sampai menyelesaikan satu berkas sebelum memeriksanya. Ada pesan baru dari Dhanis.
“Ra, aku ingin menjelaskan tentang pertemuan kita dan keadaan di rumah sakit. Aku tidak meminta kamu kembali. Aku hanya tidak ingin kamu mengira aku sengaja menyakitimu.”
Aara membaca pesan itu sekali, lalu menaruh ponsel. Ia mencoba menyelesaikan pekerjaan, tetapi kalimat-kalimatnya muncul kembali di kepala. Ia ingat Bhakti Husada, bau antiseptik, dan wajah Mila yang pucat di ranjang rumah sakit. Ia ingat tangan Mila yang menggenggam tangannya dan suara yang bergetar ketika meminta Aara menjaga jarak dari Dhanis.
“Aku takut dia kembali ke kamu,” kata Mila waktu itu. “Aku baru saja kehilangan bayi kami. Aku tidak sanggup kehilangan Dhanis juga.”
Saat itu Aara tidak menjawab cepat. Ia tahu perasaan Mila bukan tuduhan kosong. Aara dan Dhanis pernah saling menyimpan rasa, dan ia sendiri telah membuat kesalahan dengan berharap laki-laki itu memilihnya. Ia tidak ingin membuka kembali luka lama hanya karena Dhanis merasa perlu menjelaskan.
Ia mengunci layar ponsel.
“Ra, kamu baik-baik saja?” tanya Aqila dari meja sebelah. “Kamu kelihatan pucat.”
Aara mengangguk kecil. “Aku cuma menerima pesan yang membuatku kepikiran. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.”
“Mau istirahat sebentar?”
“Nanti. Aku selesaikan laporan ini dulu.”
Aara menuntaskan pekerjaan, memeriksa ulang angka, lalu mengirimkannya kepada Okta. Ia tidak ingin keputusan yang berkaitan dengan masa lalunya mengganggu tanggung jawab hari ini. Setelah berkas terkirim, ia berdiri untuk mengambil air. Ia mengatur napas dan mengingat bahwa tidak membalas sekarang bukan berarti ia harus membalas nanti. Ia berhak menentukan batas.
Menjelang pulang, Harist keluar dari ruangannya. “Kamu mau ikut? Kalau tidak, aku bisa minta sopir mengantar sampai halte.”
Aara menggeleng. “Aku ikut denganmu. Kakiku baik-baik saja, tapi perjalanan sedang macet.”
“Baik.”
Mereka keluar melalui lobi. Harist tidak bertanya tentang wajah Aara yang sempat berubah siang tadi. Ia menunggunya memasang sabuk pengaman dan mulai menyetir setelah Aara siap.
Di jalan, Aara akhirnya berkata, “Dhanis mengirim pesan.”
Harist tidak langsung menjawab. “Kamu ingin membicarakannya?”
“Tidak sekarang. Dia ingin menjelaskan sesuatu, tapi aku teringat Mila. Dia pernah memintaku menjaga jarak.”
“Kamu tidak wajib membalas hanya karena dia meminta penjelasan.”
“Aku tahu. Tapi aku juga tidak ingin menghindar karena merasa bersalah. Aku hanya tidak mau mengulang hal yang bisa menyakiti Mila.”
“Itu keputusanmu. Apa pun pilihanmu, sebaiknya kamu ambil saat pikiranmu tenang.”
Aara memandang ke luar jendela. “Untuk sekarang, aku tidak akan menjawab.”
“Baik.”
Harist tidak menambahkan nasihat. Ia membiarkan Aara memiliki keputusannya sendiri. Sikap itu membuat Aara merasa dihormati, bukan dijaga seperti seseorang yang tidak mampu memilih.
Sepanjang sisa perjalanan, mereka membicarakan hal-hal sederhana: harga cabai yang naik, lampu lalu lintas yang mati, dan rencana Harist memindahkan jadwal rapat. Aara tidak merasa harus menghiburnya atau menutupi kegelisahannya. Ia bisa diam beberapa saat tanpa suasana berubah tegang. Ketenangan kecil itu terasa berbeda dari hubungan yang pernah ia jalani dengan Dhanis, ketika ia selalu menunggu tanda bahwa dirinya dipilih.
Ketika mobil berhenti dekat rumah Aara, ia mengucapkan terima kasih. Harist membalas singkat. Mereka berpisah tanpa janji untuk bertemu malam itu atau membahas perasaan mereka. Aara masuk ke rumah, meletakkan tas, lalu duduk di tepi ranjang.
Pesan Dhanis masih menunggu di layar. Ia mengetik, “Aku sudah membaca pesanmu,” lalu berhenti. Kalimat itu terasa seperti membuka percakapan. Ia menghapusnya. Ia tidak mengetik penolakan, tidak juga mengirim kemarahan. Ia hanya mematikan layar dan meletakkan ponsel di meja.
Untuk sementara, diam adalah jawaban yang paling jujur. Namun, ketika ia hendak bangkit, sebuah pesan lain masuk dari nomor yang sama: “Mila tahu aku menghubungimu. Dia ingin bicara denganmu sendiri.”