Pesan terakhir Dhanis masih tersimpan di layar ketika Aara bangun pagi. “Mila tahu aku menghubungimu. Dia ingin bicara denganmu sendiri.” Aara membacanya sekali lagi, lalu meletakkan ponsel tanpa membalas. Ia tidak ingin menjadikan diam sebagai hukuman. Ia hanya belum siap membuka percakapan yang bisa menyeret Mila kembali pada rasa takutnya.
Di meja makan, ibunya melihat Aara beberapa kali melamun.
“Ada masalah di kantor?”
Aara menggeleng. “Tidak. Cuma ada pesan dari teman lama.”
“Kamu mau membalas?”
“Belum tahu. Aku tidak mau mengambil keputusan karena panik.”
Ibunya mengangguk. “Kalau begitu, jangan terburu-buru. Kamu boleh memilih waktu yang tepat.”
Aara menyimpan ponsel ke dalam tas dan berangkat. Harist sudah menunggu di mobil. Selama perjalanan, ia tidak mengungkit wajah Aara yang tampak murung. Mereka membicarakan laporan mingguan dan jadwal kerja. Namun, saat mobil berhenti di lobi BEST Hawwan, Harist berkata pelan, “Kalau ada sesuatu yang mengganggu, kamu boleh cerita. Kalau belum ingin, juga tidak apa-apa.”
“Terima kasih. Aku belum ingin membahasnya.”
“Baik.”
Hari kerja berjalan sibuk. Aara menuntaskan revisi data pembayaran dan memastikan semua lampiran tersimpan. Ia merasa lebih baik ketika bisa memusatkan perhatian pada tugas. Aqila sempat meminta bantuannya menelusuri nomor faktur yang hilang. Aara mencari melalui folder bulan berjalan, lalu menghubungi bagian pengadaan untuk meminta salinan. Setelah berkas ditemukan, mereka mencatat prosesnya agar tidak mengulang pencarian yang sama. Rutinitas itu membuat pikiran Aara tidak terus kembali ke pesan Dhanis.
“Kamu masih berniat memenuhi undangan keluarga Pak Harist?” tanya Aqila saat mereka memeriksa dokumen bersama.
“Mungkin Sabtu siang kalau mereka berkenan. Aku masih agak gugup.”
“Wajar. Tapi kamu tidak perlu membuat mereka terkesan. Mereka mengundangmu karena ingin bertemu.”
Aara mengangguk. Ia tahu Aqila benar, meski gugupnya belum hilang. Menjelang makan siang, Pak Rendy datang ke ruang keuangan untuk meminta laporan dari Harist. Dokter telah mengizinkannya berkunjung singkat selama pemulihan. Ketika melewati meja Aara, ia berhenti.
“Kakimu sudah pulih, Aara?” tanyanya ramah.
“Sudah jauh lebih baik, Pak. Terima kasih.”
“Bagus. Jangan lupa tetap hati-hati.”
Pak Rendy melanjutkan langkah ke ruangan Harist. Aara kembali bekerja, tetapi pertanyaan singkat itu membuatnya teringat percakapan di taman. Harist pernah bilang ayah dan mamanya ingin ia datang lagi, sambil membawa buah srikaya dari rumahnya.
Sore hari, setelah laporan dikirim, Harist menghampiri mejanya. Ia tetap berdiri di depan meja dan berbicara dengan nada yang bisa didengar rekan lain.
“Aara, ayah dan mama bertanya apakah kamu bersedia datang ke rumah akhir pekan ini. Mereka ingin mengundangmu makan. Kalau kamu tidak nyaman, tidak perlu memaksakan diri.”
Aara membeku sejenak. “Mereka benar-benar mengundang saya?”
“Iya. Dan mama masih ingat buah srikaya dari pohon di depan rumah ibumu yang pernah kuceritakan.”
“Saya sudah berjanji akan membawanya.”
“Kamu tidak perlu datang hanya karena janji itu.”
Aara menatapnya. Ia mengerti Harist sedang memberi ruang untuk menolak. Namun, ia juga tahu ayah dan mamanya pernah bersikap baik kepadanya. “Saya bersedia datang. Tapi saya akan membawa buahnya, sesuai permintaan.”
“Baik. Nanti kamu bisa memilih waktunya.”
“Sabtu siang mungkin cocok. Saya akan kabari setelah memastikan dengan ibu.”
Harist mengangguk. “Aku sampaikan ke mama.”
Percakapan berakhir di sana. Aara tidak merasakan kewajiban, hanya sedikit gugup. Ia belum pernah datang ke rumah Harist dalam keadaan benar-benar sadar bahwa ia akan bertemu keluarganya sebagai dirinya sendiri, bukan sekadar tamu yang kebetulan singgah saat keadaan darurat.
Di rumah, ia meminta pendapat ibunya. Ibunya tersenyum tipis.
“Kamu ingin datang?”
“Iya. Tapi aku takut tidak tahu harus bicara apa.”
“Kamu tidak perlu menjadi orang lain. Datanglah sebagai Aara.”
Kakaknya ikut nimbrung dari ruang tengah. “Kalau bingung, tanya saja resep masakan. Orang tua biasanya senang kalau ada yang bertanya soal masakan.”
Aara tertawa. “Aku belum tentu bisa memasak.”
“Tidak harus langsung memasak. Mendengarkan saja juga cukup.”
Malam itu, Aara membalas Harist dengan pesan singkat bahwa ia sudah mendapat izin keluarga dan akan datang pada Sabtu sore. Harist menjawab bahwa ia akan memberi tahu Pak Rendy dan mamanya. Ia tidak mengirim pesan tambahan, tidak bertanya apakah Aara datang karena dirinya, dan tidak membuat undangan itu terasa lebih berat.
Aara menaruh ponsel. Pesan Dhanis tetap belum ia jawab. Ia mencoba tidur, tetapi pikirannya beralih antara kunjungan Sabtu dan Mila. Ia ingin menjaga jarak seperti yang pernah diminta Mila, namun pesan bahwa Mila ingin bicara sendiri membuatnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin disampaikan.
***
Selasa pagi, Aara datang ke kantor dengan daftar tugas yang sudah ia susun di rumah. Harist sedang menghadiri rapat saat ia tiba. Ia bekerja bersama Niken dan Aqila untuk menyelesaikan rekonsiliasi pembayaran. Rangkaian angka yang berbeda membuat mereka perlu membandingkan dokumen dari tiga bagian.
“Bagian pengadaan belum membalas,” kata Niken.
“Kita kirim pengingat lewat kanal resmi,” jawab Aara. “Sambil menunggu, periksa nomor dokumennya sekali lagi.”
Mereka membagi tugas. Aara menelusuri arsip, Niken menyusun daftar transaksi, sedangkan Aqila menghubungi bagian pengadaan. Sebelum pukul sebelas, mereka menemukan bahwa satu berkas diberi nama bulan yang keliru. Kesalahan kecil itu hampir membuat mereka mengira ada pembayaran ganda.
“Untung ketemu,” ujar Aqila. “Kalau tidak, kita bisa menghabiskan setengah hari mencari transaksi yang sebenarnya benar.”
“Makanya semua harus punya catatan,” kata Aara. “Biar nanti kalau diperiksa, kita tahu jalurnya.”
Harist kembali dari rapat dan memeriksa hasilnya. Ia memberi beberapa catatan tentang urutan lampiran, tetapi tidak mengubah temuan Aara. Setelah pekerjaan disepakati, ia mengucapkan terima kasih di depan tim. Aara menerima pujian itu tanpa merasa ada pesan tersembunyi.
Menjelang makan siang, Harist mengirim pesan kantor menanyakan apakah Sabtu siang masih cocok. Aara menjawab bahwa ia sudah memastikan kepada keluarganya. Ia menambahkan bahwa ia akan memilih hasil panen halaman rumahnya mendekati hari kunjungan.
Harist membalas, “Kamu yang tahu buah dari rumahmu paling enak. Kalau tidak ada, tidak usah dipaksakan.”
Aara tersenyum kecil melihat layar. Ia menjawab bahwa ia akan memilih buah menjelang akhir pekan. Setelah itu ia menyimpan ponsel dan turun ke kantin bersama Aqila dan Niken.
“Kamu sedang menyiapkan apa untuk akhir pekan?” tanya Aqila.
Aara hampir menyebut srikaya, lalu ingat bahwa ia tak perlu merahasiakan hal sederhana. “Mau memilih srikaya dari halaman rumah. Keluarga Pak Harist mengundang saya makan Sabtu.”
Niken menatapnya penasaran. “Kamu pernah bertemu keluarganya?”
“Pernah sebentar. Pak Rendy dan mamanya baik. Mereka ingin saya datang lagi.”
Aqila tersenyum. “Berarti mereka suka sama kamu.”
“Mereka bahkan belum banyak mengenalku.”
“Justru itu. Mereka ingin mengenalmu.”
Aara menunduk pada makanannya. Kata-kata Aqila membuatnya kembali gugup. Ia tidak tahu apakah kunjungan itu sekadar memenuhi undangan atau awal dari sesuatu yang lebih besar. Ia tidak mau menyimpulkan sendiri. Harist pun tidak pernah mengatakan bahwa keluarganya mengharapkan hal tertentu.
Rabu, Kamis, dan Jumat berjalan dengan kesibukan kantor. Pada Rabu, ia membantu Niken memeriksa klaim perjalanan yang terlambat masuk. Kamis, ia menyelesaikan rekap bulanan bersama Aqila. Jumat, ia menutup daftar dokumen audit dan memastikan tidak ada berkas yang tertinggal. Kesibukan itu membantunya menjaga rutinitas, meski sesekali pikirannya kembali kepada pesan Dhanis. Ia mengingat bahwa Mila ingin bicara, tetapi belum membalas karena ia ingin memahami maksudnya tanpa terburu-buru.
Aara menjaga komunikasi dengan Harist tetap formal saat bekerja. Di luar kantor, mereka hanya membicarakan waktu kunjungan dan memastikan alamat. Harist menawarkan untuk menjemput, tetapi Aara meminta agar ia datang sendiri dengan kendaraan umum sampai dekat komplek. Ia ingin tetap punya kendali untuk pulang kapan pun ia merasa perlu.
“Aku bisa mengantarmu pulang nanti,” kata Harist saat mereka membahasnya melalui telepon.
“Kalau aku nyaman, aku akan bilang. Tapi aku tidak ingin bergantung pada satu rencana.”
“Itu masuk akal. Aku tidak akan memaksakan.”
“Terima kasih.”
Jumat sore, Aara dan ibunya memilih srikaya yang matang dari pohon di depan rumah. Mereka menyisihkan beberapa buah yang utuh, membungkusnya agar tidak memar, lalu menaruhnya dalam wadah. Malamnya Aara menyetrika pakaian sederhana yang akan dikenakannya untuk kunjungan.
Sebelum tidur, ponselnya bergetar. Pesan Dhanis belum berubah. Tidak ada tambahan, tidak ada panggilan. Aara menatapnya sebentar lalu membalik ponsel. Ia akan tetap menjaga jarak sampai tahu apa yang diinginkan Mila. Ia tidak akan membiarkan kebingungan itu merusak kunjungan yang sudah ia pilih sendiri.
Sabtu siang, ibunya mengingatkan agar Aara tidak lupa membawa buah. Kakaknya menyelipkan doa supaya perjalanan lancar. Aara menaruh wadah srikaya dalam tas kain, memeriksa alamat sekali lagi, lalu berangkat.
Ketika ia tiba di depan rumah Harist, langkahnya melambat. Rumah itu tampak tenang, dengan halaman yang tertata rapi. Ia menarik napas, memastikan wadah buah tidak miring, lalu menekan bel.
Pintu terbuka. Mamanya Harist menyambutnya dengan senyum hangat. “Aara, akhirnya datang juga. Masuk, Nak. Kami sudah menunggu.”
Aara menyerahkan buah itu. “Saya membawa srikaya seperti yang dijanjikan, Bu.”
Mamanya tersenyum lebih lebar. “Wah, Harist benar. Katanya buah dari rumahmu memang manis.”
Dari dalam rumah terdengar suara Harist, “Jangan percaya semua yang dia bilang, Ma. Dia suka membesar-besarkan.”
Aara tertawa gugup. Kunjungan itu akhirnya dimulai, dan rasa takutnya perlahan memberi jalan pada rasa ingin tahu.
Mamanya Harist mengambil tas kain dari tangan Aara dan menawarkan sandal rumah. Aara melepas sepatunya, lalu mengikuti tuan rumah ke ruang keluarga. Ia sempat melihat foto keluarga di atas meja kecil: Pak Rendy dan mamanya Harist berdiri di sisi Harist dalam sebuah acara perusahaan. Ia memilih tidak mengamati terlalu lama.
“Kamu tadi datang sendiri?” tanya mamanya.
“Iya, Bu. Saya naik angkutan sampai jalan besar.”
“Harist tidak menjemput?”
“Dia menawarkan, tapi saya lebih nyaman datang sendiri. Nanti kalau pulang sudah terlalu sore, saya akan minta diantar sampai halte.”
“Bagus kamu tahu apa yang membuatmu nyaman,” kata mamanya. “Rumah ini terbuka untukmu, tapi kamu tetap boleh mengatur waktumu.”
Aara tersenyum. Kalimat itu mengurangi kegugupannya lebih dari sekadar basa-basi.