Harist muncul dari ruang tengah dan menyapa Aara. Ia mengenakan kemeja santai, berbeda dari pakaian kantornya. Pak Rendy duduk di ruang keluarga, membaca koran digital di tablet. Saat melihat Aara, ia berdiri menyambut.
“Selamat datang, Aara. Senang kamu bisa datang lagi.”
“Terima kasih sudah mengundang saya, Pak.”
“Tidak usah terlalu tegang. Di rumah, panggil saja Pak Rendy seperti biasa.”
“Saya akan mencoba, Pak.”
Mamanya Harist membawa wadah srikaya ke dapur. “Buahnya bagus sekali. Nanti kita makan setelah makan siang.”
“Kalau terlalu matang, Bu, sebaiknya dimakan hari ini.”
“Baik. Terima kasih sudah memilihkannya.”
Aara duduk di ruang keluarga. Harist duduk di kursi seberang, tidak terlalu dekat. Ia tidak menguasai percakapan; Pak Rendy yang bertanya tentang pekerjaan Aara, sementara mamanya sesekali menyela dengan cerita ringan.
“Kakimu benar-benar sudah pulih?” tanya Pak Rendy.
“Sudah, Pak. Saya sudah bisa berjalan normal. Terima kasih dulu sudah membantu waktu saya cedera.”
“Harist yang membantu. Saya hanya dengar ceritanya.”
Harist mengangkat bahu. “Saya kebetulan ada di sana.”
“Kebetulan yang cukup merepotkan,” canda Aara.
“Setidaknya kamu sekarang bisa mengolok-olokku. Berarti sudah sehat.”
Mereka tertawa. Aara merasa suasana lebih mudah daripada bayangannya. Pak Rendy tidak bertanya dengan nada menginterogasi. Mamanya Harist juga tidak membuatnya merasa harus membuktikan diri.
Tak lama, mereka makan siang. Menu yang disiapkan sederhana: sayur bening, ayam panggang, sambal, dan tempe. Aara menawarkan bantuan membawa piring, tetapi mamanya meminta ia duduk saja.
“Kamu tamu kami.”
“Tapi saya bisa membantu, Bu.”
“Kalau begitu, nanti bantu saya membagi buah. Sekarang makan dulu.”
Di meja makan, obrolan awal berkisar pada buah srikaya dan kebun kecil di rumah Aara. Pak Rendy menanyakan cara ibunya merawat pohon itu. Aara menjelaskan bahwa pohonnya tumbuh di halaman, mendapat cukup matahari, dan buahnya dibungkus saat mulai besar agar tidak mudah rusak. Mamanya Harist mendengarkan dengan antusias, lalu bertanya apakah Aara ikut merawat tanaman. Aara menjawab bahwa ia membantu menyiram jika pulang lebih awal, tetapi ibunya yang paling telaten.
Mamanya berkata, “Kegiatan sederhana begitu sering membuat rumah terasa hidup.”
“Iya, Bu. Ibu suka mengajak kami bicara sambil menyiram tanaman.”
“Mungkin itu sebabnya tanaman kalian tumbuh subur,” kata Pak Rendy.
Harist tersenyum. “Jangan-jangan kalau aku bicara ke pohon, nanti buahnya juga banyak.”
“Kamu coba saja. Tapi jangan lupa disiram,” balas Aara. Harist menceritakan bahwa ia pernah melihat pohonnya saat berkunjung. Ia memuji buahnya terlalu berlebihan, membuat Aara membantah bahwa sebagian besar buah itu memiliki biji yang banyak.
“Biji banyak bukan masalah,” kata Harist. “Rasanya tetap enak.”
Pak Rendy menimpali, “Kamu memang sejak kecil suka mencari alasan untuk mendapatkan makanan yang kamu suka.”
Mamanya tertawa. “Dulu kalau tidak diberi, dia duduk di dekat meja makan sampai semua orang menyerah.”
Harist mendesah. “Cerita masa kecil yang tidak perlu dibuka.”
“Justru itu cerita yang harus diketahui tamu,” ujar mamanya.
Aara ikut tersenyum. Ia merasa melihat sisi Harist yang jarang muncul di kantor. Bukan direktur yang kaku, melainkan anak yang masih menjadi bahan cerita orang tuanya.
Setelah beberapa saat, mamanya bertanya dengan suara lebih lembut, “Aara, kamu tinggal bersama ibu dan kakakmu, ya?”
Aara mengangguk. “Iya, Bu. Saya tinggal bersama ibu dan kakak. Keponakan saya juga sering menginap.”
“Ayahmu?”
Pertanyaan itu membuat suasana berubah sedikit. Mamanya segera menambahkan, “Kalau kamu tidak nyaman menjawab, tidak apa-apa.”
Aara merapikan sendoknya. “Ayah sudah tidak tinggal bersama kami sejak lama. Saya tidak terlalu banyak membicarakan itu di rumah, tapi hubungan kami memang tidak dekat.”
Pak Rendy mengangguk, tidak meminta detail. “Saya turut prihatin.”
“Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah terbiasa. Ibu dan kakak banyak membantu kami.”
Mamanya menatapnya penuh perhatian. “Kamu anak yang kuat, tapi kamu tidak harus selalu kuat sendirian.”
Aara menelan ludah. “Saya belajar meminta bantuan, Bu. Dulu saya sering merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri.”
Harist menunduk pada piringnya. Ia tidak menyela, tidak pula menjelaskan masa lalu Aara kepada orang tuanya. Aara menghargai itu. Ia ingin ceritanya tetap miliknya.
“Kalau boleh tahu,” kata Pak Rendy, “apa yang membuatmu memilih bekerja di bidang keuangan?”
“Saya suka mencari kecocokan. Rasanya menyenangkan ketika angka yang berbeda akhirnya ketemu penyebabnya. Saya juga ingin punya penghasilan sendiri dan membantu ibu.”
“Itu alasan yang baik. Tapi jangan sampai keinginan membantu keluarga membuatmu mengabaikan dirimu sendiri.”
Aara mengangguk. Kalimat itu tidak terdengar menggurui. Ia menjawab jujur bahwa ia sedang belajar menyeimbangkan pekerjaan dan keputusan pribadi.
Mamanya mengambil piring kosong. “Terima kasih sudah bercerita seperlunya. Kamu tidak perlu menceritakan semuanya hari ini.”
“Terima kasih sudah bertanya dengan baik, Bu.”
Setelah makan, Aara membantu membagi srikaya. Mereka duduk di ruang keluarga sambil menikmati buah. Mamanya menanyakan kebun kecil di rumah Aara dan jenis tanaman lain yang tumbuh di sana. Aara bercerita tentang ibunya yang merawat tanaman sambil mengobrol dengan tetangga.
Pak Rendy mendengarkan dengan senang. Harist sesekali menambahkan detail tentang kunjungannya ke rumah Aara. Tidak ada yang memaksa Aara membicarakan hubungannya dengan Harist. Namun perhatian keluarga itu membuatnya merasa diterima, dan perasaan tersebut justru membuat hatinya semakin berhati-hati.
Mamanya bertanya apakah Aara nyaman berada di rumah mereka. Aara menjawab bahwa ia sempat gugup, tetapi kini merasa lebih tenang.
“Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat akrab,” kata mamanya. “Kami senang kamu datang dengan dirimu sendiri.”
Aara mengangguk. “Saya masih belajar untuk tidak selalu berusaha menyenangkan semua orang.”
“Belajar pelan-pelan saja,” ujar Pak Rendy. “Tidak semua hal harus selesai dalam satu hari.”
Aara merasa bahunya sedikit mengendur. Ia tidak sedang diminta memilih pihak atau menyalahkan siapa pun. Mereka menerima jawaban yang ia berikan tanpa menjadikannya bahan penilaian.
Aara menyadari ia tidak perlu menyampaikan seluruh riwayat hidupnya untuk dianggap jujur. Ia dapat membuka bagian yang siap ia ceritakan, sambil menjaga bagian lain tetap pribadi. Untuk pertama kalinya, batas itu terasa bukan seperti penolakan, melainkan cara merawat dirinya.
***
Sesudah buah srikaya dibagikan, mamanya Harist mengajak Aara melihat halaman belakang. Ada beberapa pot tanaman, termasuk cabai dan daun pandan. Aara mengenali sebagian besar tanaman itu karena ibunya juga menanamnya di rumah.
“Yang ini cabainya belum banyak,” kata mamanya. “Harist bilang ibumu punya tanaman yang lebih subur.”
Aara tersenyum. “Ibu memang rajin merawatnya. Kalau pagi, beliau menyiram sambil bicara sendiri pada tanaman.”
“Mungkin itu rahasianya.”
Mereka tertawa. Harist berdiri agak jauh, memberi ruang untuk mereka berbincang. Ia tidak menyela saat mamanya bertanya tentang kehidupan Aara. Sikap itu membuat Aara bisa menjawab tanpa merasa sedang diuji.
“Kamu dekat dengan kakakmu?” tanya mamanya.
“Dekat, Bu. Kami sering berbeda pendapat, tapi kakak selalu ada kalau saya butuh bantuan.”
“Punya keponakan juga, kan?”
“Iya, namanya Aya. Umurnya sembilan tahun. Dia suka bertanya hal-hal yang membuat saya bingung menjawabnya.”
“Anak-anak memang begitu.” Mamanya tersenyum. “Kadang pertanyaan mereka lebih jujur daripada orang dewasa.”
Aara mengangguk. Ia tidak bercerita panjang tentang keadaan keluarganya. Ia hanya menyampaikan bagian yang ia rasa aman untuk dibagikan. Ketika pertanyaan menyentuh masa lalu hubungan, mamanya tidak memaksa.
“Aku tidak ingin membuatmu merasa harus menjelaskan semuanya,” kata mamanya. “Harist pernah menyebut kamu punya pengalaman yang membuatmu berhati-hati.”
Aara menoleh kepada Harist. Ia tidak menyangka lelaki itu pernah bercerita, tetapi mamanya tidak menyebut detail. Harist menyambut tatapannya dengan ekspresi meminta maaf.
“Aku hanya bilang kamu pernah menghadapi hal yang tidak mudah,” katanya. “Aku tidak menceritakan apa pun yang bukan hakku.”
Aara memercayainya. “Saya pernah terlibat dalam hubungan yang seharusnya tidak saya jalani. Saya menyakiti orang lain dan diri saya sendiri. Saya menyesal, tapi saya sedang berusaha tidak mengulanginya.”
Mamanya mengangguk pelan. “Semua orang punya masa lalu. Yang penting kamu bertanggung jawab atas pilihanmu dan belajar darinya.”
“Saya masih merasa bersalah.”
“Rasa bersalah bisa mengingatkan kita, tapi jangan sampai membuatmu menghukum diri selamanya.”
Aara menarik napas. “Saya sedang mencoba memaafkan diri sendiri, Bu. Tapi saya juga tidak ingin melupakan orang yang pernah terluka.”
“Itu sikap yang bijak. Kamu boleh menjaga jarak kalau itu yang terbaik bagi semua orang.”
Harist tetap diam. Ia tidak berkata bahwa Aara tidak perlu merasa bersalah, tidak pula menjanjikan akan menyelesaikan masalah untuknya. Ia membiarkan jawaban itu menjadi milik Aara.
Pak Rendy bergabung dengan mereka di halaman. Ia bertanya tentang pekerjaan, lalu bercerita bahwa ia dulu memulai perusahaan dengan tim kecil. Percakapan bergeser dari masa lalu ke pengalaman kerja.
“Harist keras pada dirinya sendiri,” kata Pak Rendy. “Kadang ia membawa cara itu ke orang lain.”
“Ayah,” protes Harist.
“Saya hanya menjelaskan. Di perusahaan, aturan dan tanggung jawab penting, tetapi orang juga perlu diberi ruang.” Pak Rendy menoleh kepada Aara. “Kalau ada keputusan yang membuatmu tidak nyaman, kamu berhak menyampaikannya.”
Aara mengangguk. “Saya akan berusaha bicara, Pak.”
“Bagus. Saya lebih suka mendengar langsung daripada membiarkan orang diam lalu menanggung semuanya sendiri.”
Harist mengusap tengkuk. “Aku sedang belajar soal itu.”
“Belajar itu tidak cukup kalau tidak dipraktikkan,” kata Pak Rendy.
Ucapan itu membuat Harist terdiam. Aara menangkap ketegangan ringan di antara ayah dan anak tersebut, tetapi tidak ikut campur. Mamanya mengalihkan pembicaraan dengan menawarkan teh.
Mereka kembali ke ruang keluarga. Aara membantu membawa cangkir, kali ini mamanya membiarkannya. Mereka berbicara tentang makanan yang disukai dan tempat membeli buah. Aara tidak merasa harus menjaga penampilan setiap detik. Ia bahkan sempat tertawa saat Harist mengaku pernah salah mengira srikaya mentah sudah matang.
“Kamu mengupasnya juga?” tanya Aara.
“Tentu.”
“Terus rasanya?”
“Keras. Sangat keras.”
Mamanya tertawa. “Dia tetap memakannya karena tidak mau mengaku salah pilih.”
“Aku masih kecil waktu itu.”
“Kamu sudah kuliah,” balas mamanya.
Aara tertawa lepas. Untuk beberapa saat, ia tidak memikirkan pesan Dhanis maupun ketakutan lamanya. Ia menikmati sore itu sebagai tamu yang disambut baik.
Ketika matahari mulai turun, Aara bersiap pulang. Mamanya membungkuskan beberapa potong srikaya untuk dibawa. Aara menolak halus, tetapi mamanya bersikeras bahwa buah itu harus dibagikan dengan keluarganya.
“Sampaikan salam untuk ibu dan kakakmu,” katanya.
“Baik, Bu. Terima kasih untuk makan siangnya.”
Pak Rendy ikut mengantar sampai teras. “Senang kamu datang. Kapan-kapan datang lagi kalau kamu mau.”
Aara mengangguk. “Terima kasih, Pak.”
Harist menawarkan untuk mengantarnya pulang. Aara menerima karena hari sudah sore, tetapi ia meminta berhenti di jalan besar dekat rumah. Ia tetap ingin menjaga batas dan tidak membuat keluarganya terkejut melihat Harist datang sampai halaman.
“Aku antar sampai tempat yang kamu pilih,” kata Harist.
Mereka berangkat. Dalam mobil, Aara memegang bungkusan buah di pangkuan. Ia merasa lega sekaligus semakin banyak berpikir. Keluarga Harist begitu baik, tetapi kebaikan mereka tidak boleh membuatnya berasumsi tentang perasaan Harist.