Perjalanan pulang dari rumah Harist terasa lebih sunyi daripada perjalanan sebelumnya. Aara memandang bungkusan srikaya di pangkuannya. Ia mengingat pertanyaan mamanya Harist, jawaban yang ia berikan, dan cara keluarga itu menerima ceritanya tanpa mengorek lebih jauh.
“Kamu kelihatan sedang memikirkan banyak hal,” kata Harist.
Aara menoleh. “Aku sedang mencerna obrolan tadi.”
“Ada yang membuatmu tidak nyaman?”
“Tidak. Mamamu bertanya dengan baik. Aku hanya tidak biasa bercerita tentang keluarga dan masa lalu di depan orang yang baru kukenal.”
“Aku senang kamu merasa cukup aman untuk menjawab.”
“Aku juga senang mereka tidak memaksaku cerita lebih banyak.”
Harist mengangguk. “Mama memang begitu. Dia ingin mengenal orang, tapi tidak suka memaksa.”
“Pak Rendy juga baik. Di kantor beliau kelihatan tegas sekali.”
“Dia memang tegas, terutama kalau urusan pekerjaan. Tapi di rumah dia lebih banyak bercanda.”
Aara tersenyum. “Aku mulai percaya.”
Mobil melaju melewati jalan yang mulai ramai. Harist tidak menyalakan musik. Mereka membiarkan suasana tenang, sesekali berbicara tentang tanaman di halaman dan rasa srikaya yang dibawa pulang.
“Ibuku pasti senang dapat buah ini,” kata Aara. “Dia suka srikaya, tapi jarang membeli karena katanya harus memilih yang tepat.”
“Kalau begitu, mama memilihkan yang matang untuk dibawa.”
“Sampaikan terima kasihku.”
“Akan kusampaikan.”
Harist menggenggam kemudi sedikit lebih erat. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi belum tahu bagaimana menyusunnya tanpa membuat Aara merasa terdesak. Ia bisa mengakui bahwa ia senang Aara datang; bisa juga mengakui bahwa mendengar Aara bercerita membuatnya ingin lebih dekat. Namun, ia tidak ingin kebaikan keluarganya menjadi alasan bagi Aara untuk membalas perasaan yang belum tentu ia miliki.
“Aara,” katanya setelah beberapa saat.
“Ya?”
“Tadi waktu kamu cerita soal masa lalumu, aku—”
Ponselnya berdering. Nama Alvyan muncul di layar mobil. Harist mengerutkan kening. Ia mengaktifkan pengeras suara.
“Rist, maaf mengganggu. Ada masalah di kantor,” kata Alvyan cepat. “Sistem pembayaran vendor tidak bisa diakses, dan beberapa transaksi yang dijadwalkan Senin belum mendapat status. Pak Rendy minta kita cek sekarang sebelum persiapan pembayaran hari Senin dituntaskan.”
Harist langsung berubah serius. “Sudah ada yang menghubungi bagian teknologi?”
“Sudah. Mereka menduga ada gangguan server, tapi belum memastikan. Aku sedang di kantor.”
“Jangan ubah atau kirim transaksi manual sebelum ada konfirmasi. Simpan tangkapan layar dan daftar nomor transaksi.”
“Sudah. Aku menunggumu untuk memutuskan langkah berikutnya.”
Harist melirik Aara. “Aku akan kembali ke kantor. Aara, maaf. Aku bisa mengantarmu dulu atau kamu ingin turun di sini dan pulang sendiri?”
Aara melihat jalan. Ia tidak keberatan menunggu sebentar di rumah Harist, tetapi tidak ingin menjadi beban. “Antar aku ke halte besar saja. Dari sana aku bisa pulang. Kamu perlu ke kantor.”
“Yakin?”
“Yakin. Aku akan kabari ibu.”
Harist memberi tahu Alvyan bahwa ia sedang menuju kantor dan meminta tim keuangan menyiapkan daftar transaksi tertunda. Setelah menutup panggilan, ia meminta maaf lagi karena percakapan mereka terputus.
“Tidak apa-apa. Ini urusan mendesak.”
“Tadi aku ingin bilang bahwa aku—” Harist berhenti, lalu menggeleng kecil. “Nanti saja. Aku tidak mau mengatakannya terburu-buru.”
Aara menatapnya. Ia menangkap bahwa ada sesuatu yang ingin Harist sampaikan, tetapi ia tidak bertanya. “Kalau nanti kamu ingin bicara, bicaralah saat tidak sedang dikejar urusan kantor.”
“Baik.”
Mobil berhenti di halte besar. Harist memastikan Aara turun dengan aman dan memberikan nomor taksi langganan jika kendaraan umum terlalu penuh. Aara berterima kasih dan mengirim pesan kepada ibunya bahwa ia sedang dalam perjalanan.
Harist berangkat menuju kantor. Sebelum mobilnya menjauh, ia menurunkan kaca. “Kabari aku kalau sudah sampai rumah.”
Aara mempertimbangkan permintaan itu. “Aku kabari lewat pesan. Tapi kamu fokus dulu ke kantor.”
“Siap.”
Aara naik angkutan dan duduk dekat jendela. Ia memikirkan kalimat Harist yang tidak selesai. Barangkali itu hanya ucapan terima kasih atau komentar tentang kunjungan. Ia tidak ingin mengarang makna sendiri. Ia pernah melakukan kesalahan dengan berharap terlalu jauh dari sikap seseorang; ia tidak akan mengulangi pola itu.
Di kantor, Harist bertemu Alvyan dan tim teknologi. Mereka memeriksa transaksi yang tertunda satu demi satu. Gangguan berasal dari pemeliharaan server bank, bukan kesalahan internal. Harist memastikan tidak ada pembayaran terkirim ganda, lalu memberi tahu Pak Rendy bahwa transaksi dapat dilanjutkan pada hari kerja berikutnya.
“Kamu tadi pulang bersama Aara?” tanya Alvyan ketika mereka menutup daftar pemeriksaan.
“Aku mengantarnya setelah makan di rumah.”
“Kamu sempat bilang sesuatu?”
Harist menghela napas. “Belum. Teleponmu masuk.”
“Mungkin memang belum waktunya.”
“Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.”
“Kalau begitu, jangan membuatnya jadi kalimat yang menuntut jawaban. Ceritakan saja yang kamu rasakan, lalu biarkan dia menentukan.”
Harist mengangguk, tetapi ia belum yakin. Ia takut Aara menolak, lebih takut lagi bila ia membuat perempuan itu merasa berutang setelah keluarganya mengundang makan.
Malamnya, Aara mengirim pesan singkat bahwa ia sudah sampai rumah. Harist membalas terima kasih dan meminta maaf sekali lagi soal panggilan mendadak. Aara menjawab bahwa tidak ada yang perlu dimaafkan.
Ia meletakkan ponsel dan membagikan buah srikaya kepada ibu serta kakaknya. Mereka bertanya tentang rumah Harist dan keluarganya. Aara bercerita bahwa Pak Rendy dan mamanya menyambutnya dengan hangat, lalu berhenti sebelum membicarakan percakapan pribadi.
Aara mengingat bahwa undangan itu tidak menjanjikan apa pun. Ia datang karena ingin memenuhi janji tentang buah srikaya dan karena ia menghormati keluarga yang telah menerimanya. Apa pun yang Harist rasakan, ia harus mengatakannya sendiri dengan jelas. Aara tidak ingin menebak dari tatapan atau perhatian kecil, lalu kecewa pada harapan yang ia bangun sendiri.
Di sisi lain kota, Harist menatap pesan Aara yang sederhana. Ia hampir mengatakan perasaannya dalam perjalanan tadi, tetapi urusan kantor memotong kesempatan itu. Kini ia sadar bahwa mungkin jeda tersebut memberinya waktu untuk menyusun kata-kata dengan benar. Ia hanya berharap tidak terlalu lama menunggu sampai Aara mengira ia tidak pernah sungguh-sungguh ingin bicara.
Malam itu, ia membuka kembali catatan pekerjaan untuk memastikan tidak ada transaksi yang tertunda. Semua nomor transaksi sudah dicatat untuk diperiksa kembali sebelum pembayaran dilanjutkan pada hari kerja. Ia lalu menyusun kalimat di kepala, menimbang cara bicara yang jujur tanpa menekan Aara. Sampai larut, ia belum mengirim pesan. Ia ingin percakapan itu terjadi ketika keduanya punya waktu dan ruang untuk mendengar jawaban apa pun.