Rabu pagi, Harist datang ke ruang keuangan untuk membahas hasil pemeriksaan transaksi. Ia membawa daftar koreksi dan meminta Aara menjelaskan satu angka yang belum cocok. Aara menunjukkan dokumen sumber, membandingkan tanggal, lalu menerangkan alasan perubahan.
“Saya akan kirim catatan lengkap setelah konfirmasi bank diterima,” katanya.
“Baik. Jangan buru-buru menutupnya sebelum ada bukti.”
“Saya tidak akan.”
Harist mengangguk. “Terima kasih.”
Ia pergi ke ruangannya. Aara memeriksa kembali berkas. Sikap Harist tetap sesuai batas formal, membuatnya mudah menyelesaikan tugas tanpa memikirkan apa pun di luar pekerjaan.
Menjelang siang, Alvyan datang ke ruang keuangan membawa dokumen untuk Harist. Ia berhenti di samping meja Aara.
“Semua baik-baik saja setelah kemarin?” tanyanya.
“Iya. Terima kasih sudah menepati janji.”
“Saya belum melakukan apa-apa selain tidak bicara.”
“Kadang itu yang paling dibutuhkan.”
Alvyan tersenyum. “Harist bertanya apa yang saya katakan. Saya bilang saya minta maaf dan menyampaikan pendapat saya. Saya tidak bilang kamu harus percaya.”
Aara menatapnya. “Terima kasih karena tidak membuat percakapan itu jadi tekanan.”
“Kamu yang menentukan sendiri. Saya hanya temannya.”
Alvyan menyerahkan dokumen kepada Harist dan kembali ke ruangannya. Aara merasa lega karena ia tidak sedang dijadikan bahan percakapan di antara dua sahabat itu.
Setelah makan siang, Harist meminta Aara mengantarkan rekap ke ruang rapat. Ia sedang meninjau dokumen bersama Pak Rendy. Aara menyerahkan map, menjelaskan satu halaman yang masih menunggu konfirmasi, lalu menyampaikan kapan ia akan melengkapinya.
“Terima kasih,” kata Pak Rendy. “Jangan lupa istirahat kalau matamu lelah.”
“Baik, Pak.”
Saat Aara hendak keluar, Pak Rendy menambahkan, “Saya senang kamu bisa menjaga pekerjaan tetap rapi di tengah banyak hal yang terjadi.”
Aara tersenyum sopan. “Saya berusaha, Pak.”
Ia kembali ke ruang keuangan. Pujian itu membuatnya merasa dinilai berdasarkan pekerjaannya, bukan foto atau kedekatannya dengan Harist. Ia kembali pada laporan, menyelesaikan konfirmasi, dan menulis catatan audit.
Sore hari, Harist menawarkan tumpangan. Aara menerima karena hujan turun deras. Mereka berbicara tentang lalu lintas, kemudian diam cukup lama. Aara menyadari ia tidak perlu mengisi setiap jeda dengan kata-kata.
“Kamu sudah bicara dengan Alvyan tentang ucapannya?” tanya Aara ketika mobil berhenti di lampu merah.
“Sudah. Aku bilang dia tidak perlu menjelaskan perasaanku.”
“Dia juga bilang begitu.”
“Aku tidak ingin kamu merasa harus percaya karena orang lain bilang aku berbeda.”
“Aku juga tidak mau memutuskan hanya dari satu kalimat.”
“Aku mengerti.”
Aara memandang hujan di kaca. “Kadang aku takut kalau aku berhati-hati, kamu mengira aku tidak peduli.”
“Aku tidak akan menganggap batasmu sebagai penolakan yang harus kulawan.”
Aara menoleh. Harist tetap fokus pada jalan. Ia tidak menunggu pujian atau jawaban manis. “Bagus. Karena aku memang belum tahu apa yang kurasakan.”
“Kamu tidak perlu tahu sekarang.”
Lampu berubah hijau. Percakapan berakhir tanpa kesimpulan, tetapi Aara merasa tidak dikejar.
***
Di rumah ibunya, Naomi menyiapkan tas kecil berisi kartu berobat, hasil pemeriksaan sebelumnya, dan sebotol air. Ibunya duduk di sofa, mengenakan kerudung sederhana. Jadwal kontrol mereka pukul sepuluh, tetapi Naomi ingin berangkat lebih awal agar tidak terburu-buru.
“Obatnya sudah dimasukkan?” tanya Naomi.
“Sudah, Nak. Kamu yang memeriksa tiga kali.”
“Aku tidak mau ada yang tertinggal.”
Ibunya tersenyum lemah. “Kamu selalu cemas kalau urusanku.”
Naomi tidak menjawab. Selama dua tahun terakhir, ia sering memilih menjauh dari tempat yang mengingatkannya pada Harist. Ia berpindah kota, menghindari teman lama, dan berusaha mengubur malam yang membuatnya merasa bersalah. Namun, ibunya tetap berada di rumah itu dan membutuhkan bantuan. Naomi tidak bisa terus menghindar hanya karena takut bertemu seseorang.
Di rumah sakit, Devan sudah menunggu dekat ruang pendaftaran. Ia membawa map berisi salinan hasil pemeriksaan yang pernah diminta dokter.
“Kamu tidak perlu datang,” kata Naomi ketika melihatnya.
“Ibu minta aku membantu mengurus berkas. Aku tidak keberatan.”
“Aku bisa mengurusnya sendiri.”
“Aku tahu. Tapi bukan berarti aku tidak boleh membantu.” Devan menoleh kepada ibunya Naomi. “Bu, bagaimana kabarnya hari ini?”
“Lebih baik. Terima kasih sudah mengantar hasil pemeriksaan kemarin.”
Naomi memperhatikan mereka. Ibunya tampak nyaman berbicara dengan Devan. Ia tahu laki-laki itu selama ini sering mengunjungi ibunya dan memastikan kebutuhan rumah terpenuhi. Devan tidak pernah menggunakan kebaikan itu untuk menuntut Naomi kembali. Namun, melihatnya tetap membuat kenangan lama bergerak di pikirannya.
Mereka menunggu giliran. Naomi duduk di sisi ibunya, sementara Devan berdiri untuk mengambil nomor antrean. Ketika ibunya merasa lelah, Naomi membantu mengatur posisi duduk dan membukakan air. Devan tidak mengambil alih. Ia hanya menunggu jika diminta.
“Kamu sudah makan?” tanya ibunya kepada Naomi.
“Nanti setelah kontrol.”
“Kamu selalu bilang nanti.”
Devan menyodorkan roti dalam kantong kertas. “Saya membeli dua. Kalau Naomi tidak mau, saya bisa makan sendiri.”
Naomi menatapnya. “Kamu memang selalu punya alasan untuk menyelipkan makanan.”
“Aku belajar dari Ibu. Kalau tidak dibawa, kalian berdua lupa makan.”
Ibunya terkekeh. Naomi akhirnya menerima roti itu, meski hanya makan separuh.
Saat pemeriksaan selesai, dokter mengatakan kondisi ibunya stabil, tetapi ia perlu rutin minum obat dan kembali kontrol bulan depan. Naomi menanyakan apakah ibunya boleh berjalan agak jauh dan kapan ia harus segera kembali ke rumah sakit. Dokter memberi petunjuk umum serta mengingatkan agar mereka menghubungi klinik bila gejala berubah. Naomi mencatat semuanya dan meminta ibunya mengulang jadwal obat agar tidak ada yang terlewat. Ibunya tertawa karena Naomi terdengar seperti sedang menguji pasien, tetapi ia menjawab semua pertanyaan dengan sabar. Naomi lega saat dokter memastikan tidak ada perubahan mendesak pada perawatan. Devan membantu mengambil obat dari apotek, sedangkan Naomi menemani ibunya duduk.
“Kamu harus pulang ke kota tempat kerjamu,” kata ibunya setelah mereka keluar dari ruang dokter. “Jangan menunda hidupmu karena terus mengawasi Ibu.”
“Aku akan tinggal sampai Ibu benar-benar sehat.”
“Ibu sudah membaik. Devan juga sering membantu. Kamu tidak perlu merasa semua tanggung jawab ada di pundakmu.”
Naomi menunduk. “Aku ingin ada di sini.”
“Ibu tahu. Tapi jangan jadikan rasa bersalah sebagai satu-satunya alasan.”
Ucapan itu menyentuh bagian yang Naomi hindari. Ibunya tidak hanya bicara soal kontrol, tetapi juga tentang semua keputusan yang ia buat karena merasa tidak pantas kembali ke kehidupan sebelumnya.
Devan berdiri beberapa langkah dari mereka, memberi ruang. Setelah ibunya masuk mobil, ia bertanya kepada Naomi apakah ia ingin langsung pulang.
“Iya. Ibu perlu istirahat.”
“Baik. Aku akan ikut mobil di belakang. Kalau ada yang dibutuhkan, kabari.”
Naomi menatapnya. “Kamu tidak harus melakukan semua ini.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
Devan terdiam sesaat. “Karena aku peduli pada Ibu. Dan karena aku tidak ingin membuatmu merasa sendirian saat kembali.”
Naomi tidak menjawab. Ia masuk ke mobil bersama ibunya. Sepanjang perjalanan, ia memikirkan ucapan itu dan masa lalu yang belum mampu ia hadapi. Devan tidak meminta jawaban, tetapi kehadirannya membuat Naomi semakin sulit berpura-pura bahwa semuanya sudah selesai.
Di rumah, Naomi membantu ibunya berbaring dan menaruh obat di meja samping. Ia mencatat dosis yang harus diminum malam itu. Ibunya memperhatikan kesibukannya.
“Kamu boleh duduk dulu. Ibu tidak akan ke mana-mana.”
“Aku cuma memastikan obatnya dekat.”
“Devan tadi juga sudah memastikan semuanya. Kamu tidak harus menggantikan semua yang dia lakukan.”
Naomi meletakkan kotak obat. “Aku anak Ibu. Wajar aku mengurus Ibu.”
“Tentu. Tapi jangan mengurus Ibu hanya karena merasa harus menebus sesuatu.”
Naomi diam. Ibunya tidak tahu semua yang terjadi antara dirinya dan Devan, tetapi ia bisa melihat bahwa putrinya menyimpan rasa bersalah yang lebih besar daripada urusan kontrol.
“Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap padanya,” kata Naomi akhirnya.
Ibunya tidak bertanya siapa yang dimaksud. “Kamu tidak perlu langsung akrab. Kamu juga tidak harus membenci seseorang selamanya supaya kesalahanmu terasa serius.”
Naomi memalingkan muka. Ia masih menganggap dirinya bersalah karena membuka pintu bagi Devan pada malam yang seharusnya tidak pernah terjadi. Namun, ia juga tahu bahwa menyalahkan Devan seorang diri tidak membuat hatinya lebih ringan. Ia belum siap membicarakannya, tetapi setidaknya ia mulai berani mengakui bahwa kisah itu lebih rumit daripada yang ia ceritakan kepada dirinya sendiri.