Sore itu, setelah ibunya beristirahat sepulang kontrol, Naomi menyiapkan air dan tisu dalam tas kecil. Ia menulis jadwal kontrol bulan depan di kalender rumah agar mudah terlihat. Ibunya memandangnya dari meja makan.
“Kamu tidak harus mengatur semuanya sampai sekecil itu.”
“Kalau tidak dicatat, nanti Ibu lupa.”
“Ibu masih bisa mengingat.”
“Aku tahu. Tapi aku lebih tenang kalau semuanya tertulis.”
Ibunya tersenyum sedih. “Kamu selalu mencari sesuatu untuk dikerjakan supaya tidak perlu memikirkan dirimu sendiri.”
Naomi berhenti menutup kotak obat. “Aku tidak tahu harus mulai dari mana.”
“Mulai dari menerima bahwa kamu sudah pulang. Tidak semua orang yang menunggu di sini akan menyakitimu.”
Naomi menunduk. Ia tahu ibunya sedang membicarakan Devan, meski tidak menyebut nama. Ia tidak ingin ibunya berpikir bahwa ia masih mencintai Devan. Perasaannya jauh lebih rumit daripada itu. Ada rasa bersalah, luka, dan kenangan yang belum selesai.
Beberapa saat kemudian, Devan datang kembali untuk memastikan keadaan ibunya. Ia bertanya apakah mereka ingin keluar sebentar ke taman dekat persimpangan.
“Ke mana?”
“Taman dekat persimpangan. Tidak lama. Ibu bisa duduk di bangku, menghirup udara luar. Kalau beliau lelah, kita langsung pulang.”
Naomi ragu. Taman itu berada di kawasan yang sering ia datangi sebelum pergi. Ia pernah duduk di sana bersama teman-temannya, dan tahu tempat itu juga dekat dengan beberapa ruas jalan yang biasa dilewati Harist.
“Kalau kamu tidak nyaman, kita tidak usah pergi,” kata Devan, seakan mendengar jeda panjangnya.
Ibunya menyahut dari ruang tengah, “Ibu ingin keluar sebentar. Sudah lama tidak melihat taman.”
Naomi menatap ibunya. “Kalau Ibu kuat, kita pergi. Tapi jangan terlalu lama.”
“Baik.”
Mereka berangkat setelah ibunya beristirahat. Devan mengemudi, Naomi duduk di belakang bersama ibunya. Ia memilih duduk di sana agar ibunya mudah dibantu jika merasa tidak nyaman. Jalanan cukup lengang, dan matahari tidak terlalu terik.
Saat mobil mendekati persimpangan, Naomi mengenali deretan toko dan bangku taman dari kejauhan. Perutnya terasa kencang. Ia melihat bangku yang pernah menjadi tempatnya menunggu Harist dulu. Waktu terasa seperti berputar, tetapi kali ini ia datang bersama ibunya dan Devan.
“Kita bisa kembali kalau kamu tidak nyaman,” kata Devan melalui kaca spion.
Naomi menarik napas. “Aku baik-baik saja. Ibu ingin ke taman.”
“Kita duduk sebentar saja,” ujar ibunya. “Tidak ada yang perlu ditakuti.”
Devan memarkir mobil di sisi jalan. Ia membantu ibunya turun, sementara Naomi mengambil tas dan botol air. Mereka berjalan perlahan menuju taman. Beberapa pedagang kecil berada di sisi jalan, tetapi Naomi belum berhenti. Ia mengarahkan ibunya ke bangku yang teduh.
Ibunya duduk dan menghela napas lega. “Udara di sini enak.”
Naomi duduk di sebelahnya. Devan berdiri sebentar, lalu bertanya apakah mereka ingin minum.
“Air yang kita bawa cukup,” kata Naomi.
“Baik. Aku hanya akan melihat apakah ada tempat yang lebih nyaman untuk Ibu kalau nanti ingin pindah.”
Devan berjalan beberapa langkah, tidak jauh dari mereka. Naomi memperhatikannya sesaat. Ia ingin berterima kasih karena laki-laki itu membantu tanpa menuntut apa pun, tetapi kata-kata itu terasa berat. Ia belum tahu bagaimana menghadapi Devan tanpa kembali mengingat kesalahan mereka.
Ibunya menyentuh punggung tangannya. “Kamu tidak perlu memutuskan apa pun hari ini. Cukup duduk dan bernapas.”
Naomi mengangguk. Ia menatap jalan yang membelah taman. Di sisi lain persimpangan, kendaraan berlalu-lalang. Tempat itu tampak biasa, tetapi bagi Naomi setiap sudut menyimpan bayangan masa lalu. Ia berusaha memandangnya sebagai taman saja, bukan panggung untuk pertemuan yang ia takutkan.
Ketika Devan kembali, ia membawa kabar bahwa bangku dekat pohon lebih teduh. Ibunya setuju pindah. Naomi membantu berdiri, lalu mereka berjalan pelan ke sana. Ia belum melihat Harist, dan ia tidak mencari-carinya. Ia hanya ingin menemani ibunya menikmati udara luar.
***
Hari itu Aara pulang sedikit lebih awal setelah menyerahkan laporan bulanan. Harist mengirim pesan bahwa ia harus menyelesaikan rapat di gedung lain dan baru bisa menjemputnya menjelang sore. Aara tidak keberatan menunggu. Ia memilih taman dekat persimpangan, tempat yang pernah menjadi ruang istirahat mereka sebelum hubungan kerja membuat segalanya terasa rumit.
Ia duduk di bangku dekat pohon, menjaga tas tetap di pangkuan. Taman tidak terlalu ramai. Beberapa orang berjalan pulang, sementara seorang pedagang mendorong gerobak kecil berisi jajanan pasar. Aara mengenali Bu Jum dari beberapa kali ia membeli lemper dan kue cucur di sana.
“Bu, jajanan masih banyak?” tanya Aara.
“Masih, Nak. Mau lemper atau kue cucur?”
“Saya ambil dua lemper dan satu kue cucur.”
Bu Jum menyiapkan pesanan dalam bungkus kertas. “Kamu yang biasanya datang sama laki-laki tinggi itu, ya?”
Aara tertawa kecil. “Kadang, Bu. Dia sedang ada urusan.”
“Tidak apa-apa. Jajanan ini tetap enak dimakan sendiri.”
Aara membayar dan kembali duduk. Ia baru membuka bungkus ketika melihat seorang perempuan datang bersama seorang perempuan yang lebih tua dan seorang laki-laki. Perempuan muda itu berjalan perlahan, menyesuaikan langkah dengan ibunya. Laki-laki yang menemani mereka membantu menggeser kursi di dekat bangku lain.
Aara menggeser tasnya agar bangku di sebelahnya kosong. Perempuan muda itu menoleh.
“Boleh duduk di sini sebentar?” tanyanya.
“Tentu. Bangkunya cukup panjang.”
Perempuan itu membantu ibunya duduk di ujung bangku, lalu duduk di sisi lain. Laki-laki yang datang bersama mereka berdiri beberapa langkah, memberi ruang bagi ibu dan anak itu.
“Terima kasih,” kata perempuan muda tersebut. “Ibu saya perlu duduk sebentar.”
“Tidak masalah. Taman ini memang tempat yang enak untuk istirahat.”
Ibunya tersenyum. “Kami baru selesai kontrol. Saya hanya ingin menghirup udara luar.”
Aara mengangguk. “Semoga hasil kontrolnya baik, Bu.”
“Alhamdulillah, cukup baik. Tinggal rutin minum obat.”
Bu Jum mendekat menawarkan jajanan. Perempuan muda itu memilih beberapa kue cucur dan lemper. Aara memperhatikan ia membawa dompet kecil, sementara laki-laki tadi menawarkan untuk membayar.
“Biar aku saja,” kata laki-laki itu.
“Tidak usah. Aku bisa bayar sendiri,” jawab perempuan itu.
“Aku hanya menawarkan.”
“Dan aku menolak dengan sopan.”
Laki-laki itu tertawa pelan dan mundur. Bu Jum menyerahkan bungkusan kepada perempuan muda itu.
“Kamu tegas juga, Nak,” kata Aara.
Perempuan itu tersenyum. “Kalau tidak tegas, nanti orang mengira kita selalu membutuhkan bantuan.”
“Benar. Tapi menerima bantuan juga tidak salah.”
“Saya tahu. Saya hanya ingin memilih sendiri kapan menerimanya.”
Jawaban itu terasa akrab bagi Aara. “Saya juga sedang belajar begitu.”
Mereka memperkenalkan diri dengan nama depan. Perempuan itu menyebut dirinya Naomi, sedangkan Aara menyebut namanya. Mereka tidak bertanya nama lengkap atau pekerjaan. Percakapan terasa ringan, seperti dua orang yang kebetulan berbagi bangku dan jajanan sore.
Naomi menunjuk bungkusan Aara. “Kue cucur itu enak?”
“Saya belum coba. Tapi Bu Jum selalu bilang masih hangat.”
“Kalau begitu, kita coba bersamaan.”
Aara menyerahkan setengah bagiannya. Mereka mencicipi kue cucur yang manis dan masih sedikit renyah di pinggirnya. Naomi tersenyum puas.
“Bu Jum benar,” katanya. “Masih hangat.”
“Saya harus mengakui penjual biasanya lebih tahu.”
Ibunya Naomi ikut mencicipi lemper. Ia berterima kasih kepada Aara karena sudah berbagi tempat dan makanan. Aara menjawab bahwa jajanan itu memang terlalu banyak untuk dirinya sendiri.
Laki-laki yang menemani Naomi kembali mendekat. “Ibu sudah cukup istirahat?”
“Sebentar lagi,” kata ibunya. “Anginnya enak.”
“Kami tidak buru-buru,” ujar Naomi.
Aara memandangi taman. “Saya juga sedang menunggu seseorang menjemput. Jadi tidak apa-apa duduk lebih lama.”
Naomi mengangguk. “Kadang menunggu sambil duduk begini malah menyenangkan.”
“Asal orangnya tidak terlambat terlalu lama.”
Mereka tertawa. Aara tidak tahu siapa Naomi, dan Naomi tidak tahu siapa Aara dalam kehidupan Harist. Untuk sementara, mereka hanya dua perempuan yang menikmati jajanan di bangku taman.