Matahari sore bergerak perlahan di balik pepohonan. Aara dan Naomi melanjutkan obrolan sambil menghabiskan jajanan. Ibu Naomi mulai terlihat lebih segar setelah duduk. Laki-laki yang datang bersama mereka berdiri tak jauh, sesekali menanyakan apakah ibunya membutuhkan air.
“Kamu tinggal dekat sini?” tanya Naomi.
“Tidak terlalu dekat. Saya biasa melewati taman ini kalau pulang kerja.”
“Saya dulu sering datang ke sini. Sudah lama sekali.”
“Apa yang membuatmu kembali?”
Naomi diam sebentar. “Ibu saya sedang membutuhkan saya. Saya tidak bisa terus tinggal jauh hanya karena ada beberapa tempat yang ingin saya hindari.”
Aara mendengar nada yang berbeda di balik jawaban ringan itu. Ia tidak mendesak. “Kadang pulang memang tidak sesederhana menemukan alamat.”
Naomi menatapnya, seolah menemukan seseorang yang mengerti. “Kamu pernah merasa begitu?”
Aara menyeka remah kue dari jarinya. “Saya pernah merasa harus memulai ulang sesuatu, tapi takut bertemu orang yang mengingatkan saya pada kesalahan lama.”
“Lalu kamu berhasil?”
“Belum sepenuhnya. Tapi saya belajar bahwa menghindar tidak membuat semuanya hilang.”
Naomi tersenyum tipis. “Saya juga sedang belajar.”
Ibunya menyimak sambil memegang gelas air. “Kalian bicara seperti sudah kenal lama.”
“Kami hanya punya pengalaman yang mirip sedikit, Bu,” jawab Aara.
“Tidak semua cerita harus sama untuk saling memahami,” ujar ibunya.
Aara mengangguk. Ia teringat pesan ibunya sendiri tentang tidak harus menyelesaikan semua hal hari itu. Mungkin itulah alasan ia tidak merasa perlu bertanya lebih jauh kepada Naomi. Perempuan itu tampak sedang menjaga sesuatu di dalam dirinya, sama seperti Aara.
Naomi menanyakan apakah Aara tinggal bersama keluarga. Aara menjawab bahwa ia tinggal bersama ibu dan kakaknya, serta sering menghabiskan waktu dengan keponakannya. Naomi berkata ia tinggal bersama ibunya sementara waktu. Mereka berbicara tentang kebiasaan ibu masing-masing, makanan yang disukai, dan betapa sulit membujuk orang tua untuk beristirahat.
“Ibu selalu bilang tidak lelah,” kata Naomi. “Padahal baru saja selesai kontrol.”
“Ibuku juga begitu. Kalau capek, tetap bilang masih kuat.”
“Jadi kita harus jadi polisi istirahat.”
“Saya sering kalah.”
Naomi tertawa. “Saya juga.”
Devan—laki-laki yang menemani mereka—menyodorkan air kepada ibu Naomi. “Minum dulu, Bu.”
“Terima kasih, Nak.”
Naomi memperhatikan sikapnya. “Dia sering membantu Ibu,” katanya, lalu menyadari ia tidak memperkenalkan nama laki-laki itu. “Ini Devan, teman keluarga.”
Aara mengangguk sopan. “Saya Aara.”
Devan membalas salam. “Senang berkenalan.”
Ia tidak menjelaskan hubungan mereka lebih jauh, dan Aara tidak bertanya. Ada kesan bahwa Naomi tidak ingin hubungan itu diberi label tertentu. Mereka kembali berbicara tentang taman dan jajanan.
“Dulu ada pohon besar di dekat sana,” kata Naomi sambil menunjuk sisi lain taman. “Saya pernah duduk lama sekali di bawahnya.”
“Sekarang masih ada, tapi bangkunya diganti,” jawab Aara. “Saya juga sering duduk di situ.”
“Mungkin kita pernah berpapasan.”
“Bisa jadi.”
Mereka tersenyum. Aara tidak menyebut bahwa ia sering duduk bersama Harist. Naomi tidak menyebut bahwa tempat itu mengingatkannya pada lelaki yang pernah ia tinggalkan. Tidak ada kebohongan; hanya ada bagian cerita yang belum perlu dibuka.
Ponsel Aara bergetar. Pesan Harist mengatakan rapatnya selesai dan ia akan tiba sekitar sepuluh menit lagi. Aara membalas bahwa ia menunggu di bangku taman.
“Orang yang menjemputmu?” tanya Naomi.
“Iya. Atasan saya.”
“Atasanmu?” Naomi tersenyum menggoda. “Kedengarannya serius.”
“Dia memang atasan saya. Kami juga berteman.”
“Semoga dia tidak membuatmu menunggu lama.”
Aara terkekeh. “Kalau terlambat, saya akan menghabiskan semua jajanan.”
Naomi tertawa lagi. Ia tidak tahu betapa dekat kata-kata itu dengan hidup Aara. Di jalan masuk taman, sebuah mobil mulai melambat. Aara belum melihat siapa yang berada di dalamnya.
***
Harist belum tiba, dan mobil yang melambat di pintu taman ternyata hanya mencari tempat parkir. Aara menyimpan ponsel. Ia tidak ingin membuat Naomi merasa harus mengakhiri percakapan hanya karena ia menunggu seseorang.
“Kamu bilang pernah membuat kesalahan,” kata Naomi setelah jeda. “Apa kamu bisa memaafkan dirimu sendiri?”
Aara menatap bungkus kue di tangannya. Pertanyaan itu terlalu dekat dengan sesuatu yang belum selesai, tetapi cara Naomi bertanya tidak terasa menghakimi.
“Belum sepenuhnya. Saya berusaha bertanggung jawab tanpa terus menghukum diri sendiri.”
“Bagaimana caranya?”
“Saya menjaga jarak dari hal yang bisa mengulang luka. Saya juga mencoba mengakui bagian kesalahan saya, bukan menyalahkan orang lain.”
Naomi terdiam. “Itu terdengar sulit.”
“Memang. Tapi kalau saya terus lari, orang yang pernah terluka mungkin tidak pernah mendapat ketenangan. Dan saya sendiri tidak akan belajar.”
Naomi menunduk. Ibunya menyentuh tangannya pelan, memberi dukungan tanpa berkata apa-apa.
“Kamu juga punya sesuatu yang ingin kamu perbaiki?” tanya Aara.
Naomi mengangguk. “Saya ingin berhenti menghindar. Ada orang yang pernah saya sakiti. Saya tidak tahu apakah dia mau mendengar penjelasan saya, atau bahkan apakah saya pantas meminta maaf.”
Aara tidak tahu siapa orang itu. “Meminta maaf bukan berarti kamu berhak dimaafkan. Tapi kalau kamu tulus dan tidak memaksa, setidaknya kamu sudah berhenti bersembunyi.”
Naomi memandangnya lama. “Kamu bicara seperti pernah memikirkan itu berkali-kali.”
“Saya memang pernah.”
Mereka tidak menyebut nama orang-orang dalam cerita masing-masing. Di antara mereka, ada rasa percaya kecil yang tumbuh dari kejujuran seperlunya. Aara merasa nyaman berbicara tanpa perlu membuat Naomi menyukai atau membenarkannya.
Ibu Naomi mulai merasa dingin. Aara menawarkan selendang tipis yang ada di tasnya, tetapi Naomi menolak dengan sopan.
“Terima kasih, tapi saya bawa jaket.” Ia mengambil jaket dari tas dan membantu ibunya mengenakannya.
“Kamu selalu siap,” ujar Aara.
“Saya belajar setelah beberapa kali lupa membawa sesuatu.”
“Saya juga sering begitu.”
Devan menanyakan apakah mereka ingin pulang. Ibu Naomi menjawab ia masih kuat duduk sebentar. Devan mengangguk dan kembali ke tempatnya. Ia tidak mendesak, sama seperti ketika Naomi menolak tawarannya membayar jajanan.
“Dia sabar,” kata Aara tanpa maksud menggali.
Naomi memandang Devan. “Iya. Kadang saya tidak tahu bagaimana membalas semua kebaikannya.”
“Mungkin dia tidak mengharapkan balasan.”
“Mungkin.”
Aara sendiri sedang belajar bahwa menerima kebaikan tidak otomatis membuatnya berutang. Ia pernah merasa harus membalas perhatian dengan kedekatan, padahal seseorang tidak berhak menentukan batasnya. Ia berharap Naomi menemukan cara yang sama tanpa harus menyalahkan dirinya terus-menerus.
Langit mulai berubah warna. Bu Jum merapikan beberapa baki, lalu menyapa mereka.
“Masih mau tambah, Nak?”
Naomi melihat Aara. “Kamu mau?”
“Saya sudah cukup. Kalau kamu mau, silakan.”
Naomi membeli satu lemper lagi untuk ibunya. Bu Jum membungkusnya, lalu berkata bahwa taman lebih ramai pada akhir pekan. Naomi tersenyum, mengatakan mungkin ia akan kembali lain kali.
Ponsel Aara bergetar lagi. Harist mengatakan ia sudah hampir sampai. Aara merasa waktunya dengan Naomi segera berakhir. Ia berharap mereka bisa bertemu lagi, meski tidak tahu apakah kesempatan itu akan datang.
“Senang bisa ngobrol denganmu,” kata Aara.
“Saya juga. Semoga perjalanan pulangmu lancar.”
“Semoga ibumu tetap sehat.”
Naomi tersenyum. “Amin.”
Di jalan, mobil Harist berbelok menuju taman. Naomi tidak melihatnya, karena sedang membantu ibunya memegang bungkusan. Aara berdiri dari bangku dan merapikan tasnya. Ia belum tahu bahwa beberapa detik lagi, wajah Naomi akan berubah.