Mobil Harist berhenti di tepi taman. Aara melihatnya dan melambaikan tangan kecil. Harist turun, lalu berjalan ke arahnya. Wajahnya yang semula biasa berubah kaku ketika pandangannya jatuh kepada Naomi.
Naomi membeku. Bungkusan jajanan di tangannya terlipat karena genggamannya mengencang. Ibunya memandang putrinya, lalu mengikuti arah matanya. Devan yang baru kembali dari gerobak Bu Jum ikut terdiam.
“Naomi,” kata Harist.
Suaranya dingin dan singkat. Ia tidak bertanya bagaimana kabar Naomi, tidak juga menyapa ibunya. Hanya nama itu yang keluar, seperti memastikan bahwa perempuan di depannya benar-benar orang yang selama ini ia hindari.
Naomi berdiri perlahan. “Harist.”
Aara menatap mereka bergantian. Ia merasakan perubahan suasana, tetapi belum mengerti sebabnya. “Kalian saling kenal?”
Harist tidak menjawab. Ia berdiri di samping Aara dan menyentuh ringan lengannya. “Kita pulang sekarang.”
Aara mengerutkan kening. “Sebentar. Aku sedang bicara dengan Naomi.”
“Aara, ayo.”
Nada Harist tegas, tetapi tidak keras. Aara tetap tidak bergerak. “Kamu tidak bisa tiba-tiba menarikku pergi tanpa menjelaskan.”
Harist melepaskan lengannya. Ia menatap Naomi sekali lagi, lalu berkata, “Kita bicara lain kali.”
Naomi tidak menjawab. Wajahnya pucat, tetapi ia menahan diri agar tidak menangis di depan ibunya. Ia tidak menyangka akan bertemu Harist begitu cepat setelah kembali. Ia juga tidak menyangka perempuan yang baru saja berbagi jajanan dengannya adalah orang yang sekarang bersama Harist.
“Harist, kamu bisa menunggu sebentar,” kata Aara. “Naomi baru selesai kontrol dengan ibunya. Mereka tidak mengganggu kita.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, kenapa kamu bicara seperti itu?”
Harist mengalihkan pandangan. “Aku belum siap.”
Jawaban itu membuat Aara semakin bingung. “Belum siap untuk apa?”
Harist diam. Ia tampak menahan sesuatu, entah marah atau terluka. Namun sikap dinginnya kepada Naomi terasa jelas. Aara tidak ingin memaksanya bercerita di depan orang banyak, tetapi ia juga tidak bisa pura-pura bahwa tidak ada apa-apa.
“Aara,” ulang Harist. Kali ini suaranya lebih rendah. “Tolong. Kita pergi dulu.”
Aara melihat Naomi. “Maaf, aku tidak tahu apa yang terjadi.”
Naomi memaksakan senyum yang hampir tidak terlihat. “Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu minta maaf.”
Ibu Naomi menggenggam tangan putrinya. “Naomi, kita duduk dulu.”
Devan berdiri di samping mereka, tidak ikut campur. Ia menatap Harist dengan wajah serius, tetapi tidak mengatakan apa pun.
Aara akhirnya melangkah, bukan karena Harist menariknya, melainkan karena ia sadar percakapan itu tidak mungkin berlangsung tenang di tempat umum. Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi kepada Naomi.
“Senang bertemu denganmu,” katanya pelan.
Naomi mengangguk. “Aku juga.”
Harist berjalan lebih dulu ke mobil. Aara mengikutinya, tetapi langkahnya melambat. Ia tidak pernah melihat Harist sedingin itu. Ia juga tidak mengerti kenapa lelaki itu memilih menghindari percakapan yang jelas-jelas penting.
Di dalam mobil, Harist menutup pintu tanpa langsung menyalakan mesin. Aara meletakkan tas di pangkuan.
“Kamu mau menjelaskan?” tanyanya.
Harist memejamkan mata sebentar. “Bukan sekarang.”
“Kamu mengenalnya.”
“Iya.”
“Siapa dia?”
Harist menatap kemudi. “Naomi.”
Aara mengingat nama itu. Harist sudah menceritakan perpisahan mereka pada malam setelah banjir. Ia belum pernah melihat wajah Naomi dan belum diberi tahu tentang kepulangannya. Kini ia memahami hubungan perempuan yang berbagi jajanan dengannya dengan masa lalu Harist.
“Itu mantanmu?” tanyanya.
Harist tidak menjawab segera. Diamnya sudah cukup untuk membuat dada Aara terasa berat.
***
Mobil bergerak meninggalkan taman. Aara memandang ke luar jendela, tetapi bayangan Naomi masih jelas di pikirannya. Perempuan itu tadi berbicara hangat, tertawa bersama ibunya, dan membagikan jajanan. Tidak ada tanda bahwa ia sedang duduk berhadapan dengan mantan Harist.
“Kenapa kamu tidak bilang dia akan ada di sana?” tanya Aara.
“Aku tidak tahu dia ada di sana.”
“Kamu tahu dia sudah kembali ke kota.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu tahu aku belum pernah melihatnya.”
Harist menghela napas. “Aku tidak menyangka kalian akan bertemu.”
“Itu tidak menjawab kenapa kamu menyuruhku pergi begitu saja.”
Harist memegang kemudi lebih erat. “Aku tidak bisa bicara dengannya sekarang.”
“Kamu bahkan tidak menyapa ibunya.”
“Aara, aku tidak mau membahas ini di dalam mobil.”
Aara diam. Ia tidak ingin memaksa Harist membuka luka di tengah jalan, tetapi ia juga tidak mau menerima perlakuan seolah-olah ia tidak pantas tahu siapa Naomi. Harist berhak belum siap bicara; Aara berhak merasa terluka karena ditinggalkan dengan pertanyaan.
“Aku tidak akan memaksamu menjelaskan sekarang,” katanya. “Tapi jangan berharap aku pura-pura tidak melihat apa yang terjadi.”
“Aku tidak berharap begitu.”
“Bagus.”
Sisa perjalanan berlangsung dalam diam. Ketika mobil berhenti dekat rumah Aara, Harist tidak langsung pergi. Ia tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya berkata, “Maaf karena membawa kamu pergi seperti itu.”
Aara menatapnya. “Aku bisa menerima permintaan maaf. Tapi aku tetap ingin tahu.”
“Aku akan menjelaskan. Beri aku waktu.”
“Aku tidak bisa menjanjikan berapa lama.”
Harist mengangguk. “Aku mengerti.”
Aara turun dan membawa tasnya masuk. Ia tidak membanting pintu atau menangis di hadapan Harist. Namun setelah tiba di kamar, ia duduk lama di tepi ranjang, mencoba memahami kenapa hatinya terasa sesak.
Ia tidak cemburu karena melihat Harist bertemu mantan kekasihnya; setidaknya ia belum tahu apakah itu cemburu. Yang membuatnya sakit adalah menyadari bahwa Harist punya masa lalu yang begitu besar, sementara ia baru mengenal sebagian kecilnya. Ia pernah merasa nyaman dan mulai berharap. Kini ia takut hanya menjadi tempat Harist beristirahat sebelum menghadapi Naomi.
Di taman, Naomi masih duduk bersama ibunya. Devan meletakkan jajanan yang dibelinya di samping mereka.
“Kamu mau pulang?” tanyanya.
Naomi memandang jalan tempat Harist pergi. “Sebentar lagi.”
“Baik.”
Ibu Naomi menggenggam tangannya. “Kamu tidak harus membicarakannya sekarang.”
“Aku tahu, Bu.”
“Kamu sudah kembali. Mungkin suatu saat kalian perlu bicara, tapi bukan berarti harus hari ini.”
Naomi mengangguk. Ia sudah menyiapkan banyak hal untuk diucapkan kepada Harist, tetapi saat melihatnya, semua kata menghilang. Ia juga merasa bersalah karena perempuan yang baru saja ia kenal harus ikut terseret dalam luka lama mereka.
“Aara tidak tahu siapa aku,” katanya pelan.
“Dia tidak bersalah atas masa lalu kalian,” jawab ibunya.
“Aku tahu.”
Devan berdiri tak jauh, mendengar tanpa menyela. Naomi akhirnya menoleh kepadanya.
“Kita pulang saja.”
Devan membantu ibunya berdiri, sementara Naomi membawa tas dan sisa jajanan. Mereka berjalan menuju mobil dengan perlahan. Naomi tidak menangis, tetapi ia merasa kepulangannya kini tidak bisa lagi ditunda-tunda. Harist sudah melihatnya, dan suatu saat ia harus menjelaskan apa yang selama ini ia hindari.
Di rumah, Aara membuka ponsel. Ada pesan dari Harist: “Aku tahu kamu berhak mendapat penjelasan. Aku belum siap malam ini, tapi aku akan bicara.”
Aara membaca pesan itu beberapa kali. Ia tidak membalas. Ia tidak ingin menenangkan Harist sebelum dirinya sendiri memahami rasa kecewa yang muncul. Nama Naomi tertinggal di kepalanya seperti pertanyaan yang tidak bisa ia singkirkan.
Malam itu, Aara membantu ibunya menyiapkan makan. Ia beberapa kali salah mengambil bumbu karena masih memikirkan kejadian di taman. Kakaknya memperhatikan, lalu mengambil alih pisau yang dipegang Aara.
“Kamu sedang memikirkan sesuatu.”
“Aku bertemu perempuan yang ternyata mantan Harist.”
“Harist yang memberitahumu?”
“Iya. Dia menyebut namanya, lalu diam.”
Kakaknya meletakkan sayur ke dalam mangkuk. “Kamu ingin tahu ceritanya?”
“Tentu. Tapi aku tidak mau memaksanya bercerita kalau belum siap.”
“Kamu juga boleh berkata bahwa sikapnya tadi menyakitkan. Meminta waktu bukan alasan untuk memperlakukanmu seperti orang asing.”
Aara mengangguk. Ia akan mengingat itu, tetapi tidak ingin malam tersebut berubah menjadi keputusan besar. Ia belum tahu apa yang terjadi di antara Harist dan Naomi. Ia hanya tahu ia tidak ingin menjadi bagian dari segitiga yang tidak ia pahami.
Di rumah Naomi, ibunya bertanya apakah ia ingin membicarakan pertemuan tadi. Naomi menjawab belum. Devan tidak ikut menekan; ia hanya memastikan obat dan jadwal kontrol sudah berada di tempatnya. Naomi berterima kasih dan meminta waktu untuk menenangkan diri.
“Aku tidak akan memaksamu,” kata Devan. “Kalau kamu ingin bicara, aku ada.”
“Aku tahu.”
Naomi mengingat wajah Harist saat menyebut namanya. Dingin dan terluka. Ia tidak bisa menyalahkan Harist karena belum siap menyambutnya, tetapi ia juga tahu bahwa ia tidak bisa terus menghindari percakapan itu. Pertemuan di taman membuat kepulangannya nyata bagi semua orang.