Pagi setelah bertemu Naomi, Aara kembali ke BEST Hawwan dengan pikiran yang belum sepenuhnya tenang. Ia berharap Harist akan menjelaskan apa yang terjadi, tetapi ia juga tidak ingin mengejarnya. Mereka sudah sepakat bahwa ia berhak mengetahui hal yang memengaruhi hubungan mereka, sementara Harist berhak meminta waktu untuk menyusun ceritanya.
Di lobi, Harist datang lebih dulu. Ia menyapa Aara singkat, lalu menuju lift bersama Pak Rendy. Tidak ada tawaran tumpangan hari itu. Aara tidak mempermasalahkannya; ia datang bersama Aqila yang kebetulan searah.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Aqila saat mereka masuk ruang keuangan.
“Aku hanya kurang tidur.”
“Kalau ada yang mau kamu ceritakan, aku dengar.”
Aara tersenyum. “Terima kasih. Nanti kalau aku siap.”
Pagi itu berjalan sibuk. Aara mengerjakan laporan pengeluaran dan memeriksa dokumen yang belum disetujui. Ia beberapa kali melihat Harist melewati ruang keuangan, tetapi lelaki itu tidak berhenti di mejanya. Saat mengirim permintaan data, ia menyertakan Harist melalui surel, seperti biasanya.
Tak lama, balasan datang: “Terima kasih. Tolong kirim versi final setelah konfirmasi diterima.” Tidak ada sapaan tambahan. Aara tahu mereka memang sepakat menjaga formalitas di kantor, tetapi sikap Harist hari itu terasa lebih dingin daripada biasanya.
Menjelang makan siang, Aara mengantarkan berkas ke ruang rapat. Harist sedang membahas jadwal dengan dua manajer. Ia menerima map tanpa melihat Aara lama-lama.
“Ini berkas yang diminta, Pak.”
“Letakkan di meja. Terima kasih.”
“Baik, Pak.”
Aara keluar. Ia tidak ingin memaksa bicara di depan orang lain. Namun, ia merasa seperti kembali menjadi orang asing setelah pertemuan di taman. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa Harist hanya membutuhkan ruang, tetapi rasa cemburu kecil tetap menyelip: mungkin Naomi masih memiliki tempat yang begitu penting hingga Harist tak sanggup bersikap biasa.
Saat makan siang, Aara duduk bersama Aqila dan Niken. Ia tidak banyak bicara. Aqila menyadari itu, tetapi tidak bertanya lagi. Mereka membahas pekerjaan dan jadwal pelatihan. Aara berusaha hadir dalam percakapan, meski pikirannya kembali pada wajah Naomi yang berubah pucat ketika Harist datang.
Sore hari, ia mengirim laporan final kepada Harist. Balasan datang beberapa menit kemudian: “Diterima.” Aara menutup surel dan bersiap pulang. Di koridor, ia bertemu Harist yang sedang berjalan ke arah ruangannya.
“Pak Harist, boleh bicara sebentar?”
Harist berhenti. “Tentang pekerjaan?”
Aara terdiam. “Bukan.”
“Kalau begitu, nanti saja. Aku ada rapat.”
“Aku tidak akan lama.”
“Aara, aku belum siap membicarakannya.” Suaranya rendah, tapi tegas. “Tolong jangan di kantor.”
Aara mengangguk perlahan. “Baik. Aku tidak akan memaksa.”
“Terima kasih.”
Harist melanjutkan langkahnya. Aara berdiri beberapa detik, lalu menuju lift. Ia bisa menghormati permintaan itu, tetapi tidak bisa menghapus rasa tersisih yang timbul. Ia juga tidak tahu apakah Harist menjaga jarak karena tidak ingin menyakitinya, atau karena masa lalunya dengan Naomi terlalu rumit untuk dibagikan.
Dalam perjalanan pulang, ia mengingat Dhanis dan Mila. Ada bagian lain dalam hidupnya yang belum ia bereskan. Dhanis mengirim pesan bahwa Mila ingin bicara. Aara belum menjawab, tetapi kini ia sadar bahwa ia tidak bisa terus menunda permintaan maaf yang seharusnya ia berikan.
Di rumah, ia membuka lagi pesan lama Dhanis. Ia mengetik beberapa kalimat, menghapusnya, lalu mencoba kembali. Ia tidak ingin membuat pesan itu terdengar seperti membuka hubungan mereka. Akhirnya ia menulis: “Aku bersedia bertemu Mila jika dia masih ingin bicara. Tolong sampaikan, aku datang untuk meminta maaf dan mendengar dia.”
Pesan terkirim. Aara meletakkan ponsel dan menutup mata. Ia tidak sedang memilih Dhanis atau melupakan Harist. Ia hanya ingin bertanggung jawab atas bagian masa lalu yang menjadi miliknya.
Sepanjang malam, Aara tidak membuka kembali percakapan dengan Dhanis. Ia mencoba tidur lebih awal, tetapi pikirannya berpindah antara Naomi dan Mila. Dua perkara itu berbeda, dan ia tidak ingin menjadikan rasa bersalah kepada Mila sebagai alasan untuk menuntut Harist segera membuka masa lalunya.
Malam itu Aara memberi tahu ibunya bahwa ia ingin meminta maaf kepada seorang teman bernama Mila. Ia belum sanggup menjelaskan siapa Dhanis dan bagaimana hubungannya dengan pasangan itu. Ibunya hanya tahu putrinya pernah patah hati sesudah meninggalkan pekerjaan lama. Aara menyadari bahwa cerita yang belum lengkap itu juga harus ia sampaikan suatu hari, tanpa memakai rasa malu sebagai alasan untuk terus menghindar.
***
Balasan Dhanis datang keesokan paginya, sebelum Aara berangkat kerja. Ia membaca pesan itu sambil duduk di meja makan.
“Mila bersedia bertemu. Dia sudah di rumah dan kondisinya membaik. Katanya kamu boleh datang kapan saja setelah jam kerja.”
Aara menarik napas panjang. Ia mengirim pesan singkat bahwa ia akan datang sore itu, lalu memastikan waktu yang disepakati. Ia menatap ponsel beberapa saat sebelum memasukkannya ke tas.
Ibunya mengamati dari seberang meja. “Kamu akan bertemu temanmu untuk meminta maaf?”
Aara mengangguk. “Iya. Aku ingin meminta maaf langsung.”
“Kamu sudah memikirkan apa yang ingin kamu katakan?”
“Aku akan jujur. Aku tidak mau membela diri atau meminta dia menghiburku.”
Ibunya mengangguk. “Itu sudah cukup. Minta maaf bukan cara untuk memaksa orang memaafkan.”
Di kantor, Harist kembali bersikap formal. Ia memimpin rapat pagi, memberi instruksi kepada tim, lalu meminta Aara mengirim pembaruan sebelum pukul tiga. Aara memenuhi permintaan itu tanpa mencoba mencari celah untuk berbicara tentang Naomi.
Saat menyerahkan laporan, ia melihat Harist berbicara melalui telepon di ruangannya. Wajah lelaki itu tampak lelah. Aara tidak tahu apakah pembicaraan itu berhubungan dengan Naomi, tetapi ia tidak ingin menebak. Ia menutup pintu setelah meletakkan map dan kembali ke mejanya.
Menjelang sore, Aqila menawarkan untuk pulang bersama. Aara berkata ia ada urusan sebentar.
“Urusan keluarga?”
“Semacam itu. Aku akan kabari kalau pulangnya terlambat.”
Aqila menatapnya dengan perhatian. “Hati-hati, ya.”
“Iya.”
Aara keluar kantor dan naik kendaraan umum menuju rumah di seberang taman yang telah diketahuinya. Dalam perjalanan, ia menyusun kalimat di kepala. Ia ingin mengakui bahwa ia pernah berharap Dhanis memilihnya. Ia juga ingin mengatakan bahwa ia tahu harapan itu telah melukai Mila, meski mereka tidak pernah secara terbuka membicarakannya saat itu.
Ia tidak akan berkata bahwa semua kesalahan terjadi karena Dhanis. Ia ikut memilih berada dalam hubungan yang tidak semestinya. Ia juga tidak ingin meminta Mila menyimpan rahasia atau memaafkannya demi membuat Aara merasa lebih baik.
Rumah Mila berada di lingkungan yang tenang. Aara berhenti di depan pagar, memeriksa alamat sekali lagi, lalu mengirim pesan bahwa ia sudah tiba. Dhanis membukakan pintu. Wajahnya tampak lebih kurus daripada terakhir kali mereka bertemu di rumah sakit.
“Terima kasih sudah datang,” katanya.
“Mila yang mengizinkan. Aku datang untuk bicara dengannya.”
“Iya. Dia menunggu di ruang tengah.” Dhanis memberi jalan, tetapi tidak mencoba menyentuh Aara atau memperpanjang sapaan.
Mila duduk di sofa dengan selimut tipis menutupi kakinya. Wajahnya sudah lebih segar, meski masih tampak lelah. Ia bangkit sedikit ketika melihat Aara.
“Duduk saja,” kata Aara. “Kamu tidak perlu berdiri.”
“Aku baik-baik saja.”
Aara duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Dhanis berdiri dekat pintu ruang tengah, tidak ikut duduk.
“Terima kasih sudah mau bertemu,” kata Aara. “Aku sudah lama ingin meminta maaf.”
Mila tidak langsung menjawab. Ia memegang ujung selimut dan menarik napas beberapa kali.
“Aku juga ingin bicara,” katanya. “Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana.”
“Kamu boleh mulai dari bagian yang paling ingin kamu sampaikan. Aku akan dengar.”
Mila menatap Aara. “Aku pernah takut Dhanis kembali kepadamu. Waktu aku kehilangan bayi, aku merasa semua hal yang kupegang bisa hilang.”
Aara mengangguk. “Aku ingat. Dan aku minta maaf karena pernah menjadi bagian dari ketakutan itu.”
Mila menunduk. Air matanya mulai berkumpul, tetapi ia belum menangis. Aara tidak buru-buru mengisi diam itu. Ia datang untuk mendengarkan, bukan untuk mengatur bagaimana Mila seharusnya merasa.
Sebelum Mila menjawab, Aara menjelaskan satu hal lagi. “Aku tidak datang untuk meminta kamu menyimpan rahasia atau melindungi perasaanku. Kalau kamu ingin marah, kamu boleh. Kalau kamu belum bisa memaafkan, aku juga akan menerima.”
Mila mengangkat wajahnya. “Aku tidak tahu apakah aku masih marah. Kadang aku hanya takut. Setiap kali Dhanis lama pulang, aku membayangkan dia pergi ke tempat lain. Setiap kali ponselnya berbunyi, aku takut namamu muncul.”
Aara menahan napas. “Aku mengerti kenapa itu bisa terjadi. Aku tidak akan meminta kamu langsung percaya padaku.”
“Kamu tidak pernah mengirim pesan kepadanya sejak aku meminta?”
“Aku hanya membalas untuk mengatur pertemuan ini dengan persetujuanmu. Aku juga tidak akan menemui dia sendiri setelah ini. Kalau ada hal yang perlu dibicarakan, aku akan memastikan kamu tahu.”
Mila mengusap pipi. “Aku tidak ingin mengatur hidupmu. Aku hanya ingin merasa aman dalam rumah tanggaku.”
“Itu wajar.”
Untuk sesaat mereka diam. Aara tidak berusaha mengisi ruang itu dengan janji berlebihan. Ia ingin Mila menilai tindakannya dari waktu ke waktu, bukan dari satu kunjungan.
Mila meminta waktu untuk berpikir sebelum melanjutkan percakapan. Aara mengangguk dan tidak mendesaknya. Ia tahu permintaan maaf bukan transaksi yang harus dibalas dengan penerimaan.
“Aku akan menjawab kalau ada hal yang ingin kamu tanyakan,” kata Aara. “Kamu juga boleh menyampaikan batas yang membuatmu merasa aman.”
Mila meremas ujung selimutnya. “Untuk sekarang, aku ingin Dhanis tidak menghubungimu diam-diam. Aku tidak mau mengawasi dia, tapi aku perlu kejujuran.”
“Aku setuju. Aku tidak akan membalas pesan pribadi darinya. Kalau ada urusan yang memang penting, aku akan memastikan kamu tahu.”
Dhanis mengangguk dari dekat pintu. “Aku juga akan menghormati itu.”
Aara memandang Mila, bukan Dhanis. “Kamu tidak harus memutuskan sekarang apakah kita akan berteman. Aku hanya ingin kamu tahu aku mendengar permintaanmu.”
Mila menarik napas panjang. “Terima kasih. Aku ingin mencoba bicara tanpa terus menyimpan ketakutan.”
Aara tetap duduk, memberi Mila waktu menentukan apakah percakapan mereka akan berlanjut.